Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 176. Bima Terjatuh


__ADS_3

Rania tampak kesulitan berjalan. Bahkan beberapa kali dirinya selalu saja dilanda dengan panggilan alam. Buang air kecil yang mengharuskannya untuk bolak balik ke kamar mandi.


"Ck! Besok-besok aku pasang kateter saja, ini benar-benar menyiksaku," gumamnya yang bersusah payah bangkit dari tempat tidurnya karena ia kembali ingin buang air kecil.


Setelah keluar dari kamar mandi, Rania memilih untuk berjalan menuju balkon. Ia merasa lelah, jika nantinya saat dia berbaring dan ternyata, panggilan alam itu kembali mengganggunya.


Rania melihat sekilas layar ponsel yang ada di genggamannya. "Sudah jam 10, Bima belum pulang juga," gumamnya yang mulai merasa bosan jika tidak ada Bima di rumah.


Lagi-lagi dirinya mendapatkan panggilan alam. Membuat ibu hamil tersebut beranjak dari tempat duduknya, dan kembali menuju ke kamar mandi.


Dari dalam kamar mandi, Rania mendengar suara sering ponselnya dari luar. Wanita tersebut memang meletakkan ponsel pintarnya di atas meja rias sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.


"Siapa pula yang menelepon di saat genting seperti ini," keluhnya beranjak dari closet.


Rania keluar dari kamar mandi, lalu kemudian menuju ke meja rias, tempat ia meletakkan ponselnya. Ia menatap layar menyala itu, senyumnya mengembang saat mengetahui si penelepon adalah suami tercinta.


"Mas, ...." Rania berucap dengan nada yang manja.

__ADS_1


"Iya, Istriku. Kenapa sepertinya kamu sedang merasa kesal?" tanya Alvaro.


"Aku sedari tadi bolak balik, Mas. Buang air kecil terus," keluh Rania.


"Gara-gara apa?" tanya Alvaro.


"Sebenarnya sih bukan karena apa-apa, Mas. Hamilanku kan sudah mulai membesar, otomatis tentunya akan menekan pada kandung kemih," jelas Rania.


"Terus bagaimana mengatasinya?" tanya Alvaro.


"Ya mungkin nanti aku akan menanyakan hal ini pada dokter," timpal Rania.


"Belum, mungkin sebentar lagi ia akan tiba di rumah," jawab Rania.


Tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang baru saja tiba. Rania menyingkap gordennya, melihat mobil yang dikendarai oleh Pak Darman baru saja tiba.


"Itu dia, Bima baru sampai," gumam Rania dengan raut wajah yang langsung bersemangat. Kepulangan Bima tentu saja membuat dirinya senang, karena adanya anak laki-laki itu, rasa bosan Rania pun perlahan pergi begitu saja. Rania senang mendengar celotehan maupun kalimat yang lucu dilontarkan oleh anak laki-laki berambut ikal itu.

__ADS_1


"Syukurlah kalau Bima sudah pulang. Ya sudah, kalau begitu Mas tutup teleponnya ya. Kamu jangan lupa makan siang dan minum susu ibu hamil yang Mas belikan," ujar Alvaro.


"Iya, Mas. Mas juga jangan lupa makan," ucap Rania.


Belum juga Alvaro menjawab ucapan sang istri, tiba-tiba Rania langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Ia segera keluar dari kamar dengan membawa perutnya yang besar, untuk menyambut kepulangan putra sambungnya seusai menuntut ilmu di sekolah.


"Mama ...." Bima bergegas menaiki tangga demi menghampiri sang ibunda.


"Awas Nak, jangan lari-larian di tangga," tegur Rania.


Bima tak mengindahkan ucapan Rania. Anak laki-laki itu ingin segera sampai dan memeluk ibu sambungnya. Namun, karena kecerobohan Bima yang tak mendengarkan ucapan ibunya, membuat Bima terpeleset dari salah satu pijakan yang ada di tangga tersebut.


"Arghhh ...."


"Bima!!" Rania panik, melihat anak sambungnya yang terguling hingga ke bawah. Badan Rania bergetar hebat, ditambah lagi darah yang mengucur di kening Bima semakin membuat ibu hamil tersebut gusar.


"Bima!!!" teriak Rania seraya menuruni anak tangga.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2