Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 206. Tak Ingin Jauh


__ADS_3

Malam ini, Shinta tak bisa tidur. Masalah kepindahannya tetap saja mengganggu pikirannya. Beberapa kali gadis tersebut memejamkan matanya, akan tetapi lagi-lagi ia merasa gelisah. Seakan ingin rasanya ia berteriak bahwa dirinya tidak suka dengan situasi ini. Ingin tetap bekerja satu atap dengan Juni dan menolak untuk dipindahkan.


"Sadar diri kamu, Shinta! Memangnya perusahaan itu punya nenek moyangmu? Bukankah aku hanya dipindahkan saja? Kami hanya berpisah saat bekerja, bukan berpisah untuk selamanya!" ujar Shinta yang seakan merutuki dirinya sendiri. Memiliki sikap yang terlalu berlebihan.


Gadis itu kembali memiringkan tubuh, mencoba untuk memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Namun, ia menyerah. Shinta memilih beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan keluar untuk menghirup udara segar.


Shinta mengenakan jaketnya, karena udara di luar sangatlah dingin. Ia ingin berjalan-jalan, mencoba untuk membuat dirinya lelah. Setelah itu, ia bisa tidur dengan lelap tanpa memikirkan apapun lagi.


Shinta keluar dari unitnya. Ia melihat pintu sebelahnya, yang merupakan unit sang kekasih. Awalnya Shinta hendak mengetuk pintu tersebut. Namun, ia mengurungkan niatnya. Memilih untuk tidak mengganggu Juni. Siapa tahu pria itu sudah tertidur. Dan Shinta tak ingin mengganggu tidur kekasihnya hanya untuk menemaninya jalan-jalan.


Shinta berjalan masuk ke dalam lift, yang akan mengantarkannya ke lantai paling bawah. Gadis itu sedikit mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai, menekuk bibirnya menunggu pintu baja itu terbuka.


Tinggg ...


Pintu lift terbuka, Shinta langsung keluar dari ruangan sempit itu. Berjalan keluar untuk mencari udara segar.


Di waktu yang bersamaan, Juni juga tidak bisa tidur. Pria itu membawa secangkir kopi panas dan memilih duduk di balkon untuk mencari angin.


Namun, saat ia melihat ke bawah, pria tersebut mendapati Shinta yang sedang berjalan keluar dari gedung apartemen itu. Gadis tersebut tampak santai berjalan dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket.


Melihat kekasihnya keluar di malam hari, membuat Juni pun langsung merogoh ponsel yang ada di sakunya. Mencari kontak Shinta yang diberi nama 'My Lovely' lalu kemudian langsung mendial kontak tersebut.


Shinta yang sedang berjalan santai, langsung terkejut mendapati ponsel di dalam sakunya berbunyi. Alis gadis itu berkerut saat mendapati si penelepon tak lain adalah kekasihnya. Membuat Shinta mengarahkan pandangannya tepat di balkon apartemen milik Juni, yang letaknya di lantai 7.


Dan benar saja, pria itu tengah berada di balkon menempelkan ponsel ke telinganya. Memberi isyarat pada Shinta, untuk mengangkat panggilannya itu. Karena tidak mungkin mereka akan berteriak untuk berbincang.


"Halo ....," ujar Shinta menjawab panggilan tersebut.


"Kamu mau kemana malam-malam begini?" tanya Juni.


"Aku tidak bisa tidur. Ingin mencari udara segar sembari berjalan kaki. Siapa tahu, setelah ini aku akan tertidur pulas," timpal Rania menjelaskan hal tersebut pada kekasihnya.


"Kalau begitu tunggu aku! Aku ingin ikut bersamamu," ucap Juni yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Shinta masih mendongakkan wajahnya, melihat Juni yang sudah tak lagi berada di atas balkon. Pria itu bersiap-siap hendak pergi keluar bersama dengan Shinta. Menemani kekasihnya sekaligus mencari udara segar.


Shinta memilih tetap berada di tempatnya. Gadis tersebut menendang batu-batu kecil yang ada di hadapannya. Menunggu kekasihnya datang menghampiri dirinya.


Sekitar 10 menit menunggu, akhirnya batang hidung Juni pun terlihat. Wanita itu tersenyum menatap sang kekasih yang tengah berjalan ke arahnya.


"Kenapa berjalan sendirian? Kenapa tidak meneleponku atau mengetuk pintuku?" tanya Juni sedikit lantang sembari berjalan menghampiri kekasihnya itu.


"Aku kira kamu sudah tidur. Aku tidak ingin membangunkan kamu. Maka dari itu, aku memilih keluar sendirian," jawab Shinta.


"Lain kali jangan begitu! Bagaimana jika kamu hilang? Bagaimana jika kamu diculik? Aku tidak tahu keberadaanmu, aku tidak bisa menemukanmu! Bagaimana jika kamu ...." Seketika ucapan Juni terhenti saat Shinta memeluknya.


"Kan aku ada di sini Aku tidak diculik, Jun. Lagi pula aku sudah dewasa, aku bisa menjaga diriku. Kamu tidak perlu takut," ucap Shinta yang mencoba menenangkan kekasihnya itu.


"Tetap saja, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. Aku tidak ingin berpisah darimu walaupun hanya sedetik saja. Maka dari itu, kalau ingin kemana-mana langsung kabari aku. Supaya aku bisa menemanimu tanpa harus merasa khawatir lagi," jelas Juni membalas pelukan kekasihnya.

__ADS_1


Mendengar penuturan dari Juni, membuat Shinta berpikir. Bagaimana cara memberitahukan pada kekasihnya itu bahwa dirinya akan dipindahkan ke kantor cabang. Pasti Juni akan keberatan dan memohon pada Alvaro untuk membatalkan rencana Alvaro. Dan Shinta tidak ingin membuat Juni memohon pada atasannya untuk dirinya.


"Udara yang seperti ini memang momen yang pas untuk berpelukan," celetuk Juni.


Sontak Shinta langsung melepaskan pelukan kekasihnya itu. Sedikit mendorong tubuh Juni untuk sedikit menjauh darinya.


"Dasar piktor!!" tukas Shinta mengatai kekasihnya itu.


"Apa itu piktor?" tanya Juni.


"Piktor itu pikiran kotor. Dan yang sedang kamu bayangkan itu adalah hal-hal yang kotor kan. Mengaku saja kamu!" cecar Shinta seraya memajukan bibirnya sekitar dua centi. Ia sengaja berpura-pura merajuk, mengalihkan pikirannya tentang rencana kepindahannya itu.


"Mana ada? Aku hanya mengatakannya saja. Jangan-jangan kamu yang mempunyai pikiran kotor itu. Ayo mengakulah!" tunjuk Juni mengolok Shinta.


Sontak gadis tersebut langsung mencubit lengan Juni dan juga memberikan beberapa pukulan di dada kekasihnya. "Aku tidak piktor!! Aku tidak piktor!!" tegas Shinta.


"Ayo mengakulah, Shinta. Kamu yang lebih dulu mengatakan seperti itu," ujar Juni yang tak henti-hentinya mengolok Shinta.


"Kamu yang piktor, Juni! Kamu!!" balas Shinta yang tak mau kalah. Ia melihat Juni berlari, membuat gadis itu mengejar kekasihnya. Ia tak ingin dikatakan mesum. Baginya, Juni lah yang berpikiran mesum.


Juni semakin kencang berlari, sementara Shinta terengah-engah mengejar pria itu. Ia benar-benar kewalahan. Lari Juni begitu cepat, Shinta tak bisa mengejarnya.


"Aku menyerah!!" ujar Shinta memilih untuk duduk di sebuah bangku panjang. Napasnya tersengal sementara wajahnya berkeringat. Shinta benar-benar merasa gerah akibat berlarian mengejar Juni.


Sementara Juni, melihat kekasihnya yang tak lagi mengejarnya, membuat pria itu pun langsung menghampiri Rania dengan langkah lebarnya. Napasnya juga tersengal, karena berlarian tadi.


Juni menjatuhkan bokongnya tepat di samping Shinta . Keduanya saling menatap dengan napas yang saling tersengal, lalu kemudian melemparkan senyuman.


Gadis itu mengernyitkan keningnya, lalu kemudian melemparkan tatapan tajam ke arah sang kekasih. "Kamu membohongiku lagi? Tidak ada bintang di langit malam ini," geram Shinta.


Juni langsung terkekeh geli. Kini hobinya menjadi bertambah, yaitu membuat Shinta kesal. Dengan memperlihatkan wajah kesalnya, Juni merasa gembira dan gemas melihat ekspresi wajah gadis tersebut.


"Mau minum?" tanya Juni sembari menatap ke arah minimarket yang tak jauh dari tempat mereka berada.


"Mau minum, mau jajan juga," ujar Shinta yang langsung tersenyum menatap kekasihnya. Seakan amarahnya tadi menguap begitu saja setelah ditawari jajan oleh Juni.


Juni beranjak dari tempat duduknya. Ia mengulurkan tangannya, membantu Shinta untuk bangkit dari posisinya.


Shinta meraih tangan Juni, beranjak dari kursi panjang itu. Saat Shinta hendak melepaskan tangannya dari tangan Juni, justru pria itu menggenggam tangan Shinta lebih erat lagi, tak ingin jika wanita itu melepaskan genggaman tangannya begitu saja.


Shinta mengulas senyum. Ia pun meletakkan jemarinya di sela-sela tangan Juni. Agar pria itu lebih nyaman menggenggam tangannya. Kedua orang tersebut berjalan bersama menuju toserba dengan saling bergandengan tangan serta melemparkan senyum.


Tak lama kemudian, mereka pun tiba di toserba. Shinta hendak melepaskan genggaman tangannya, akan tetapi Juni tak ingin melepaskannya.


"Lepas dulu, Jun. Masuknya nanti susah. Lagi pula tidak enak jika dilihat oleh banyak orang," bisik Shinta.


"Siapa yang bilang susah. Di lubang terkecil pun aku berhasil lolos, apalagi hanya di pintu minimarket saja," celetuk pria tersebut yang langsung dihadiahi Shinta dengan cubitan di lengannya.


"Awww ... sakit, Shinta!" geram Juni sedikit berbisik.

__ADS_1


"Lepas ah! Lihat tanganku mulai berkeringat," ucap Shinta.


Juni pun mengalah, ia melepaskan genggaman tangan tersebut dari tangan Shinta. Berjalan beriringan dengan sang kekasih untuk masuk ke dalam toserba itu.


Shinta langsung berjalan menuju ke rak tempat susunan makanan ringan. Gadis tersebut mengambil beberapa makanan manis dan juga makanan dengan rasa yang gurih.


Sementara Juni, pria itu membuka lemari pendingin. Mengambil kopi dengan kemasan kaleng dan juga air mineral.


"Kamu mau minum apa? Ambillah!" tawar Juni.


Ia cukup lama menunggu Shinta, hingga membuat pria tersebut menoleh, mendapati jika Shinta tengah mengambil keranjang untuk memasukkan beberapa makanan yang diambilnya.


Gadis itu berjalan menuju ke arah Juni, lalu ke mengambil salah satu minuman kemasan rasa air kelapa muda. Lalu kemudian memasukkan benda itu ke dalam keranjang belanjaannya.


"Kamu mau beli apa lagi?" tanya Shinta menatap Juni yang hanya mengambil dua buah minuman saja.


"Aku hanya membeli ini saja," timpal Juni.


"Ya sudah, kalau begitu masukkan ke sini belanjaanmu," ucap Shinta.


Juni pun mematuhi perkataan kekasihnya itu. Ia melihat Shinta dengan cepat berjalan menuju ke kasir. Juni mengikuti langkah gadis itu.


"Delapan puluh delapan ribu tiga ratus rupiah," ujar kasir tersebut.


Shinta melemparkan pandangannya ke arah Juni. Pria itu langsung merogoh dompetnya di dalam saku, mengambil uang seratus ribu dan langsung menyerahkannya pada kasir tersebut.


"Pulsanya sekalian?" tanya kasir tersebut.


"Tidak usah," jawab Juni.


"Uangnya seratus ribu ya, Pak. Tujuh ratusnya mau disumbangkan?" tanya kasir tersebut. Ditimpali dengan sebuah anggukan oleh Juni.


Kasir itu pun memberikan struk belanjaan beserta kembaliannya. " Kembaliannya sebelas ribu rupiah ya, Pak. Terima kasih."


Juni menerima kembalian tersebut. Ia membawa kantong berisi belanjaan mereka tadi. Sementara Shinta, sudah menunggu Juni di pintu keluar. Juni meremas struk belanjaannya tadi, lalu kemudian membuangnya ke dalam kotak sampah.


"Ayo kita ke tempat tadi saja!" ajak Shinta menunjuk bangku panjang, tempat mereka duduk tadi.


"Sini aku bantu bawakan belanjaannya," tawar gadis tersebut. Langsung ditolak oleh Juni.


"Biar aku saja. Lagi pula ini hanya satu kantong plastik, bukan banyak. Dan belanjaannya juga tidak berat," ujar Juni.


"Aku kira kamu keberatan tadi," ledek Shinta.


"Jangankan belanjaannya, menggendong kamu pun aku juga sanggup. Tapi kamu sudah makan malam belum?" ucap Juni langsung mendapatkan tatapan tajam dari Shinta.


"Meskipun sudah makan malam, berat badanku tidak akan naik sampai lima kilogram," gerutu Shinta.


"Kira-kira naik berapa?" tanya Juni.

__ADS_1


"Ya ... mungkin sekitar 4,8 kilogram."


Bersambung ....


__ADS_2