
"Kenapa kamu datang ke sini!" ketus Rania yang menatap pria tersebut dengan tatapan menusuk.
Hilda yang ada di sana pun sedikit bingung saat menyaksikan Rania berucap kasar pada pria tersebut.
"Hei! Ada apa denganmu?" tanya Hilda yang sedikit berbisik.
Rania mengacuhkan pertanyaan dari Hilda, gadis itu memilih untuk pergi dan tak melayani pria tadi. Sementara Hilda, ia hanya bisa tersenyum kikuk melihat pria yang baru saja datang.
"Maafkan sikap teman saya," ucap Hilda.
"Tidak apa-apa, aku bisa memahaminya,"timpal pria tersebut.
"Kalau begitu, saya permisi," lanjutnya yang kemudian memilih untuk meninggalkan tempat itu.
Hilda hanya mengangguk sembari mengulas senyumnya. Gadis itu tak memahami sikap yang ditunjukkan oleh Rania terhadap salah satu pasiennya.
Hilda menemui Rania yang berada di dalam ruangannya. Gadis itu tengah menatap ke arah luar jendela. Mengenang kepingan masa lalu yang pernah terjadi. Bahkan sampai sekarang, Rania masih merasakan sakit hati saat melihat pria yang merupakan bagian dari masa lalunya yang pahit. pengkhianatan yang dibuat oleh pria tersebut seakan tak termaafkan olehnya. Saat menyadari Hilda menghampirinya, dengan cepat Rania pun menyeka air matanya.
"Ada apa?" tanya Hilda mengernyitkan kening, melihat jejak air mata di wajah Rania.
"Tidak apa-apa," ucap Rania.
"Kenapa kamu bersikap seperti itu pada salah satu pasien?" tanya Hilda.
"Apakah kamu pikir dia seorang pasien? Dia adalah seorang kepala di rumah sakit ternama. Jika memang dia ingin melakukan pemeriksaan, dia bisa mencari dokter gigi terbaik di rumah sakitnya tanpa harus datang ke klinik kecil ini," ujar Rania yang sedikit meninggikan suaranya.
"Lantas, jika dia ke sini bukan untuk memeriksakan giginya, apakah dia ke sini untuk melihatmu?" celetuk Hilda.
"Entahlah! Berhenti membahas tentang pria itu. Aku juga minta kepadamu agar tidak menerimanya sebagai pasien," ucap Rania.
"Ran, jangan memasukkan kepentingan pribadimu. Kamu adalah dokter, tanganmu ditugaskan untuk menyembuhkan mereka yang sedang sakit. Jika kamu pilih-pilih menyembuhkan orang seperti ini, apakah kamu layak disebut dokter?"
Mendengar ucapan Hilda, seketika membuat Rania tersadar. Sebagai seorang dokter, ia sudah seharusnya tidak boleh memilih pasien yang layak atau tidaknya untuk dia tangani. Sudah seharusnya ia juga tak terbawa suasana hatinya meskipun orang tersebut merupakan orang yang ia benci.
"Maafkan aku," lirih Rania tertunduk.
Hilda maju beberapa langkah, lalu kemudian memeluk tubuh temannya itu. "Maaf jika ucapanku sedikit kasar, setidaknya kamu mengingat sumpahmu sebagai seorang dokter. Aku berbicara seperti ini karena aku bukan hanya menganggapmu sebagai rekan kerja saja, kamu adalah temanku dan tugasku adalah mengingatkanmu disaat kamu melakukan kesalahan," tutur Hilda dengan lembut seraya mengusap punggung Rania.
__ADS_1
"Terima kasih ... terima kasih karena telah mengingatkan aku," ucap Rania.
....
Hari mulai gelap, Alvaro tengah bersiap untuk pulang ke rumah. Pria tersebut berjalan keluar, melihat Shinta yang masih berdiri di depan sembari menunggu taksi yang lewat.
"Kamu baru pulang?" tanya Alvaro, sontak membuat Shinta terkejut karena tak menyadari keberadaan atasannya yang ada di belakangnya.
"Ah iya, Pak. Saya baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan," timpal Shinta sembari mengelus dadanya karena kaget.
"Maaf jika aku mengejutkanmu," ucap Alvaro.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya memang orangnya mudah terkejut," balas Shinta.
Sejak bekerja di tempat ini, dan penolakan yang diberikan oleh Alvaro, membuat gadis itu tak lagi berani terhadap pria tersebut. Apalagi mengingat Alvaro saat ini adalah atasannya, membuat Shinta lebih menghormati Alvaro dan tak ingin membuat ulah jika ia tidak mau kehilangan pekerjaannya.
"Ada jemputan?" tanya Alvaro.
"Tidak, Pak. Saya naik taksi," jawab Shinta.
"Kalau begitu masuklah! Aku akan mengantarkanmu pulang," tawar Alvaro.
Alvaro menggelengkan kepalanya menimpali ucapan sekretarisnya itu. Shinta pun mengikuti langkah kaki atasannya, masuk ke dalam mobil pria tersebut. Alvaro pun melajukan kendaraannya menuju ke jalanan.
"Tak biasanya kamu menggunakan bahasa yang formal kepadaku saat berada di luar kantor," celetuk Alvaro yang membuka pembicaraan.
"Itu karena Pak Alvaro sekarang adalah atasan saya. Saya tidak ingin dipecat karena bersikap kurang ajar kepada bapak," ucap Shinta.
"Apakah Pak Alvaro ingin kembali ku goda?" tawar Shinta seraya mengerlingkan matanya dengan nakal.
"Tidak! Aku tidak menyukainya! Aku lebih suka jika gadis lain yang menggodaku!" Alvaro tanpa sadar berucap demikian. Shinta yang mendengarnya pun langsung mengulas senyum sembari memberikan tatapan menyelidik.
"Aku menjadi penasaran dengan gadis yang dimaksudkan oleh Pak Alvaro, wajar saja aku ditolak, ternyata Pak Alvaro sudah memiliki gadis idaman lain," ucap Shinta bersedekap dan sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Ada baiknya jika kamu membuang rasa penasaranmu itu. Jika tidak, aku akan memotong gajimu lima puluh persen," tukas Alvaro memperingati sekretarisnya itu.
"Jangan dong Pak, baru juga kerja dua hari sudah dipotong setengahnya," ujar Shinta dengan raut wajah yang memelas.
__ADS_1
"Itu peringatan untukmu," tegas Alvaro.
"Baiklah."
Alvaro kembali memfokuskan pandangannya menatap ke arah jalanan yang lenggang. Membawa kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Berselang dua puluh menit, mobil yang dikendarai pria tersebut tiba di depan rumah Shinta. Sang sekretaris pun melepaskan sabuk pengamannya.
"Terima kasih atas tumpangannya, Pak."
" Hmmm ... sama-sama," timpal Alvaro sekenanya.
Setelah memastikan Shinta turun dari mobil, Alvaro pun kembali melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke rumah utama, untuk menjemput Bima.
Shinta melambaikan tangannya, menunggu mobil atasannya benar-benar menghilang dari pandangannya. Gadis itu melangkah menuju rumahnya, menutup pagar besi dan berjalan tepat di depan pintu.
Shinta hendak membuka pintunya, akan tetapi ia merasakan sesuatu yang mencurigakan. Dari jendela kaca, Shinta dapat melihat. Ada seseorang yang mengendap-endap mencoba untuk mendekatinya dari belakang.
Sontak Shinta pun langsung berbalik, menatap seorang pria yang ia kenal, yang tengah melihatnya dengan tatapan yang nyalang.
"P-pak Andre, ..." Gadis itu terbata-bata. Ia takut dengan ekspresi wajah Andre yang seakan hendak menelannya hidup-hidup.
"Kenapa ... kenapa kamu mengatakan semuanya pada Alvaro? Kamu sadar, kamu telah menghancurkan hidupku dalam hitungan detik!" geram Andre yang mulai menampakkan dirinya setelah cukup lama bersembunyi di balik kegelapan.
"Aku ...."
"Apakah kamu telah menjajakan tubuh untuk pria itu hingga mulutmu ini tak bisa membungkam rahasiaku!" ketus Andre yang semakin mendekat. Membuat Shinta beringsut mundur. Hingga tubuh wanita tersebut membentur tembok, tidak dapat bergerak kemana-mana lagi.
Peluh Shinta mulai mengucur di keningnya. Rasa takutnya semakin mendominasi, sementara tangannya mencari sesuatu untuk pertahanan jika Andre berbuat nekat.
"Kamu tahu ... aku mempekerjakanmu cukup lama karena kamu mengetahui semua rahasiaku! Sebenarnya sudah lama aku ingin menendangmu dari perusahaan. Dan sekarang, kamu sudah berani menggunakan mulutmu ini untuk memberitahukan semuanya pada iparku!" tukas Andre yang langsung mencengkram rahang Shinta dengan kuat.
Shinta berhasil meraih pena yang ada di dalam tasnya, dengan cepat gadis itu pun menusukkan pena tersebut di lengan Andre dengan kuat membuat pria itu melemah dan meringis kesakitan.
Andre memegangi kaki Shinta yang hendak berlari, dengan cepat Shinta pun memukul kepala Andre dengan heels itu, hingga menimbulkan suara nyaring.
Tanpa menggunakan alas kaki, Shinta berlari menjauh dari rumahnya. Ia mencoba menyelamatkan diri. Saat jaraknya sudah cukup jauh, Shinta merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya. Ia mencoba menghubungi salah satu kontak dan meletakkan benda pipih itu ke salah satu telinganya.
__ADS_1
"P-pak, Pak Alvaro, tolong saya. Pak Andre ... Pak Andre mendatangi saya dan mencoba untuk menyakiti saya," ujar Shinta terbata-bata, sesekali ia melihat ke belakang, dan kembali berlari ke tempat yang lebih aman.