
"Kenapa kamu terlalu kentara menjauhinya. Padahal kamu bisa untuk tetap bersikap biasa-biasa saja tanpa harus menunjukkannya dengan jelas," ujar Alvaro.
Juni menarik sudut bibirnya, menatap atasannya melalui kaca spion tengah. "Aku hanya tidak ingin menambah garam di atas masakan yang sudah asin, Pak."
"Perumpamaan yang kamu buat membuatku sedikit pusing," keluh Alvaro.
Juni menanggapi ucapan atasannya terkekeh geli. Ia memilih untuk tidak memperjelasnya dan hanya fokus menatap ke arah jalanan sembari mengendalikan setirnya.
Sesaat kemudian, mobil yang dikendarai oleh pria itu tiba di apartemen. Alvaro dan Juni pun langsung turun dari kendaraan tersebut.
"Terima kasih atas tumpangannya, Pak." Juni menundukkan pandangannya.
"Ya, sama-sama."
"Hati-hati di jalan, Pak. Semoga selamat sampai tujuan," ucap Juni.
Alvaro hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan, lalu kemudian menempati kursi depan, mengambil alih mengemudikan kendaraannya. Pria itu menekan klaksonnya, dan mulai membawa BMW berwarna hitam tersebut membelah jalanan.
Juni mulai berjalan masuk ke dalam gedung, menaiki lift sembari menatap pintu baja tersebut terbuka. Sesaat kemudian, pintu lift terbuka, Juni melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu. Ia merogoh kunci apartemen yang ada di sakunya, menatap ke arah unit Shinta yang mungkin belum tiba di rumah.
Ada rasa bersalah karena telah mengabaikan gadis itu. Shinta telah banyak membantu Juni disaat pria itu merasa rapuh ditinggal oleh Sela. Namun, Juni tak bisa meneruskan keakraban tersebut. Pria itu tahu, dari tatapan Shinta yang tampak berbeda menatapnya, seolah gadis itu memiliki rasa pada dirinya.
Baiklah, anggap saja Juni terlalu percaya diri. Akan tetapi, dia adalah pria yang pernah dicintai. Jadi, wajar baginya mengenali sikap wanita yang hanya sekedar akrab untuk berteman atau sudah terlanjur nyaman.
.....
Alvaro baru saja tiba di kediamannya. Memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Pria tersebut turun dari kendaraannya, berjalan masuk menuju ke dalam rumah.
Saat kakinya menginjak di ruang tengah, terlihat suasana di sana tampak sepi. Biasanya ia mendapati Rania tengah menonton televisi sembari menunggu kepulangannya. Namun, kali ini Alvaro tak melihat keberadaan sang istri di sana.
"Di mana Rania, Bi?" tanya Alvaro ketika melihat salah satu pelayan yang baru saja keluar dari dapur.
"Nyonya ada di atas Tuan, bersama dengan Den Bima," timpal pelayan tersebut.
"Oh iya, Bima kan mulai hari ini tidak dititipkan ke tempat mama lagi," ujar Alvaro sembari menepuk keningnya.
Pria tersebut membawa langkah kakinya menaiki anak tangga, untuk menemui anak serta istri tercintanya.
Ia mencari keberadaan Rania di dalam kamar mereka, akan tetapi kamar tersebut kosong. "Di mana Rania dan Bima?" gumam Alvaro meletakkan tas kerjanya, lalu kemudian melonggarkan dasi yang serasa mencekik.
__ADS_1
Ia kembali keluar, mencari keberadaan Rania di kamar Bima. Sayup-sayup ia mendengar suara Rania dan Bima yang ada di dalam kamar putranya itu. Terdengar bahwa keduanya sedang belajar.
Alvaro mengetuk pintu, lalu kemudian memutar kenop pintu tersebut. Mendapati Rania yang sedang mengajari Bima. Keduanya menatap ke arah Alvaro saat mendengar suara pintu yang dibuka.
"Kamu baru pulang, Mas?" tanya Rania.
"Iya. Tadi lumayan banyak pekerjaan di kantor," timpal Alvaro seraya melangkahkan kakinya mendekat pada dua orang tersebut.
"Kalian belajar apa?" tanya Alvaro.
"Belajar berhitung, Pa." Anak laki-laki berambut ikal itu menimpali ucapan Alvaro.
"Ya sudah, kalau begitu kalian belajar saja. Papa mau mandi dulu," ucap Alvaro.
"Baik, Pa." Bima menimpali.
Alvaro pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar putranya, kembali menuju ke kamarnya. Rania melihat Alvaro dan Bima secara bergantian.
"Nak, kamu tidak apa-apa kan belajar sendirian dulu," ujar Rania yang merasa tidak enak membiarkan suaminya begitu saja.
"Tidak apa-apa, Ma. Nanti kalau ada yang Bima tidak mengerti, Bima akan langsung menanyakannya dengan mama," ucap Bima.
Sesampainya di sana, Alvaro baru saja hendak berjalan menuju ke kamar mandi. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar. Sang istri tercinta datang menghampirinya.
"Mas mau mandi?" tanya Rania.
"Iya," timpal Alvaro.
"Sini aku siapkan air hangat untuk Mas mandi," ujar Rania yang berjalan lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi tersebut.
Alvaro sedikit tercengang, tidak biasanya Rania bersikap seperti ini, apalagi sampai menyiapkan air hangat untuknya mandi.
"Sayang, tidak usah. Sini biar aku saja," tolak Alvaro yang tak ingin sang istri kelelahan.
Gerakan Alvaro langsung terhenti saat mendapatkan tatapan tajam dari istrinya. Pria itu pun membiarkan Rania begitu saja.
"Sudah. Lagi pula menyiapkan air hangat untukmu tidak akan menguras tenaga terlalu banyak," gerutu Rania.
"Iya, Sayang. Makasih ya," ucap Alvaro memperlihatkan senyumnya yang lebar, agar sang istri tak lagi marah padanya.
__ADS_1
Rania keluar dari kamar mandi, membiarkan suaminya membersihkan tubuh terlebih dahulu. Wanita itu berjalan menuju ke lemari pakaian. Memilihkan piyama yang akan digunakan oleh sang suami nantinya.
"Yang ini saja," ujar Rania yang menetapkan pilihannya pada piyama yang ada di sebelah tangan kanannya.
Wanita itu mempersiapkan segala sesuatu untuk Alvaro. Seolah Alvaro adalah pria yang tak bisa melakukan apa-apa.
Selang 20 menit lamanya, Alvaro pun keluar dari kamar mandi tersebut dengan menggunakan kain handuk yang melilit di pinggangnya. Otot-otot di tubuhnya tercetak sangat sempurna. Apalagi dibagian perut yang terlihat layaknya roti sobek.
Pria itu menyugar rambutnya yang sedikit basah, membuat Rania cukup terpana dengan ketampanan dari pria yang merupakan suaminya itu.
"Kenapa suamiku terlihat sangat seksi malam ini?" batin Rania tercengang menatap Alvaro tanpa berkedip.
Sesaat kemudian, Rania menggeleng-gelengkan kepala, " Sadar Rania, kamu masih hamil muda. Jangan berpikiran yang tidak-tidak." Rania berucap dalam hatinya, mencoba menepis pikiran yang cukup mengganggunya.
"Ini pakailah!" ucap Rania memberikan piyama yang sedari tadi ia letakkan di atas kasur.
"Ada apa dengan istriku malam ini? Terlihat lebih perhatian dari sebelumnya," celetuk Alvaro.
"Ckckck ... Mas memang tidak pernah memperhatikannya saja," gerutu Alvaro.
Rania beranjak dari tempat duduknya, mengambil piyama tersebut dan menyodorkannya pada Alvaro dengan sedikit terpaksa.
"Cepat pakailah ini!" titah Rania.
"Aku kira kamu akan membiarkan aku tidur tanpa busana malam ini," goda Alvaro menyentuh dagu sang istri.
"Berhenti merayuku! Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu. Cepatlah pakai bajumu, Mas!"
"Apa itu?" batin Alvaro merasa penasaran akan pertanyaan yang akan diajukan oleh istrinya.
Alvaro segera memakai piyama yang diberikan oleh Rania, mengeringkan rambutnya, lalu kemudian duduk di sisi ranjang, menjatuhkan bokongnya tepat di samping sang istri.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Alvaro menatap sang istri dengan serius.
"Mas, apakah benar gosip yang menyebar di kantor? Benarkah Juni dan Shinta berpacaran?" tanya Rania dengan antusias, terlihat bagaimana cara ia menyampaikan pertanyaan tersebut seakan menuntut jawaban yang jelas dari suaminya.
"Aku kira dia akan mengajukan pertanyaan yang penting. Ternyata hanya mengajakku bergosip," batin Alvaro sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bersambung ....
__ADS_1