Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 201. Tas Mewah


__ADS_3

Bolehkah aku ke rumahmu malam ini?


Alvira memandangi layar ponselnya. Wanita tersebut tengah membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Arjuna.


"Malam ini aku akan pergi ke rumah Varo bersama mama dan papa. Apakah aki tidak jadi pergi saja ya dan bertemu dengan Arjuna. Atau ... aku ajak saja dia sekalian ke rumah Varo, berkumpul di sana," gumam Alvira yang tengah bimbang mengambil keputusan.


"Tapi ... jika aku mengajak Juna ke sana, aku merasa malu dengan kedua orang tua Rania. Ck! Aku jadi bingung sendiri," lanjut janda beranak satu itu bermonolog.


Ceklek ....


Pintu terbuka, Arumi pun masuk ke kamar Alvira sembari menggendong cucunya. Terlihat Abian yang tengah menghisap empengnya, membuat bayi laki-laki tersebut terlihat sangat menggemaskan.


"Ada apa?" tanya Arumi menyadari ekspresi wajah putrinya yang tampak tak bersahabat. Seperti tengah menghadapi sesuatu yang sulit ia pecahkan.


"Ini Ma, ... si Juna nanti malam niatnya mau ke rumah. Tapi kan nanti malam kita kumpul di rumah Alvaro. Apakah aku ajak Juna saja ke sana?" tanya Alvira yang tampaknya bimbang menentukan pilihannya.


"Ya sudah, ajak saja dia ke sana. Lagi pula kan Juna juga bukan satu kali atau dua kali saja ke rumahnya Alvaro," ujar Arumi sembari membaringkan cucunya di atas tempat tidur.


"Tapi Ma, ... aku malu sama orang tuanya Rania. Ya bagaimana pun juga, aku dan Juna kan hanya sebatas berpacaran. Sebenarnya orang tua Rania tidak akan berpikiran macam-macam sih, tetapi aku saja yang merasa malu jika harus membawa Juna dan mempertemukannya dengan orang lain. Apalagi Juna kan bukanlah suami Vira," papar wanita tersebut.


"Ya sudah, kalau begitu jadikan suami saja. Beres kan?" celetuk Arumi yang langsung membuat Alvira membulatkan matanya.


"Ih Mama! Bukan begitu juga maksud Vira, Ma. Lagi pula mama main jadiin suami saja. Butuh waktu untuk Vira menentukan hal itu, Ma." Wanita tersebut mencebikkan bibirnya.


"Ya sudah, kalau begitu terserah kamu saja. Kalau minta saran dengan mama, mama hanya bisa menyarankan satu hal itu saja padamu." Arumi menatap putrinya sekilas, lalu kemudian mengulum senyumnya. Ia sudah tak sabar, melihat Alvira menikah dengan pria pilihannya.


"Kamu kalau mau pergi dengan Juna atau tetap tinggal di sini, tidak apa-apa. Mama akan membawa Abian ikut bersama mama. Toh lagian biar tidak mengganggu obrolan kalian. Takutnya, saat kalian sedang serius berbincang-bincang, Abian merengek minta makan sama ibunya," celetuk Arumi sembari terkekeh geli. Ia membuka popok cucunya yang sudah basah, dan mengganti popok Abian dengan yang baru.


Alvira ikut terkekeh mendengar ucapan ibunya barusan. Dan ia tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi. Pasti wanita itu akan merasa malu luar biasa.


"Ya sudah, kalau begitu Vira tinggal saja. Mama dan yang lainnya pergi saja ke rumah Varo." Alvira pun sudah mengambil keputusan untuk tetap tinggal di rumah. Ia akan menunggu kedatangan Arjuna di rumah utama.

__ADS_1


"Besan hari ini bikin pempek. Pempek buatan besan sangat enak. Sayang sekali kamu tidak bisa datang," ujar Arumi mengangkat kedua alisnya, sengaja membuat bimbang putrinya.


"Bungkusin Ma," ucap Alvira menyenggol lengan ibunya, berusaha membujuk Arumi agar membawakan juga untuknya di rumah.


"Pempeknya kenyal, ikannya berasa, apalagi kuah cukonya ... hmmmm ... pokoknya jempol deh buatan besan." Arumi kembali membuat Alvira menjadi semakin menginginkan makanan khas Palembang tersebut.


"Ma ... minta sama Rania ya Ma. Bilang sama iparku minta dibungkus kan untukku di rumah," rengek Alvira. Wanita ini memang sangat menyukai makanan tersebut. Mendengar ucapan ibunya, membuat Alvira semakin menginginkan makanan itu.


"Kalau mau datang sendiri saja. Mama malu jika minta bawa pulang." Arumi mencebikkan bibirnya.


"Ma ... ayolah!" bujuk Alvira.


Arumi menggelengkan kepalanya, menolak permintaan putrinya itu.


"Mama mau apa? Nanti Alvira akan berikan, kecuali meminta Alvira menikah lagi. Yang satu itu, biarkan Alvira yang memutuskan," ujar Alvira yang masih berusaha membujuk ibunya.


"Baiklah. Mama tidak akan meminta yang satu itu. Tetapi mama ingin ...."


"Ingin apa?" tanya Alvira yang menunggu kalimat selanjutnya keluar dari mulut ibunya itu.


Spontan Alvira menepuk keningnya. Ternyata harga sekantong pempek dari ibunya itu seharga dengan tas mewah keluaran terbaru.


"Sebenarnya agak tidak setimpal permintaan mama dengan permintaan ku," protes Alvira.


"Ya sudah, kalau memang tidak mau, mama juga tidak akan membawakan makanan itu padamu," ancam Arumi yang tak mau kalah.


"Tetapi ... yang benar saja, Ma. Tas mewah itu sangat mahal harganya."


"Kalau begitu tidak ada pempek. Mau makan, buat saja sendiri sana!" ketus Arumi yang berpura -pura merajuk.


"Astaga nenek, jangan bikin Mama Abian langsung jatuh miskin," ucap Alvira sembari memegangi keningnya.

__ADS_1


"Ya sudah! Kalau tidak mau juga tidak apa-apa." Arumi membuang muka saat anaknya melihat Arumi dengan seksama.


"Bim, nenek kamu ini mintanya tidak tanggung-tanggung. Yang punya kantong langsung menjerit setelah ini," keluh Alvira pada putranya. Seolah bayi laki-laki tersebut mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Alvira.


"Ya tentu saja. Umur boleh tua tetapi jiwa tetap muda," ujar Arumi membanggakan dirinya sendiri.


Hal tersebut tentu saja membuat Alvira menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ibunya yang menawarkan dan berujung pemerasan.


"Iya, Nek. Iya nenek lincah. Besok kita pesan tasnya. Rambutnya mau di warnai lagi atau tidak?" tanya Alvira.


"Apakah rambut putih mama sudah terlihat?" tanya Arumi yang panik saat anaknya membahas tentang warna rambut.


"Belum, tapi sepertinya sebentar lagi. Besok-besok kalau mewarnai rambut, lebih baik mama pilih yang warna pink saja, biar terlihat seperti seorang gadis," bujuk Alvira yang sengaja menyindir ibunya yang memang hobi mempercantik diri, menutupi rambut putihnya dengan cat rambut.


"Iya, nanti mama coba," ucap Arumi yang membuat Alvira hanya mengusap dadanya, melihat kelakuan ibunya sendiri.


Sementara Fahri, ia tampaknya sudah kebal dengan kelakuan sang istri. Ia tak membatasi Arumi, membiarkan istrinya itu mempercantik dirinya asalkan Arumi tidak mengurusi hidup orang lain saja, itu sudah cukup bagi Fahri. Karena seorang wanita yang mampu menjaga lisannya itu adalah wanita yang luar biasa.


Apalagi hidup di era perjulidan yang tengah marak dikalangan para wanita. Sedikit-sedikit membicarakan hidup orang lain tanpa tahu hidupnya sendiri saja masih berantakan dan bahkan lebih parah lagi.


"Deal ya, tas mewahnya." Arumi kembali menagihnya saat Alvira tiba-tiba saja diam tak bersuara.


"Iya, Ma. Deal! Anggap saja aku sedang mencari pahala, dengan menyenangkan hati ibuku sendiri," ucap Alvira seraya menghela napasnya.


"Sering-seringlah ya Nak, melakukan hal itu. Kamu senang mama juga ikut senang," ujar Arumi girang.


"Haha iya, Ma. Alvira kan anak yang berbakti. Tetapi sepertinya cukup sekali saja, Ma. Besok-besok Alvira datang sendiri saja," ucap Alvira dengan sindiran halusnya.


Arumi terkekeh. Ia berhasil karena telah mengerjai putrinya akan hal itu. Namun, untuk tas mewah yang ia minta, Arumi menantikan bentuk nyatanya tanpa omong kosong belaka. Arumi bisa saja membeli benda tersebut dengan uangnya.


Namun, mengingat pepatah Samuel yang dulu pernah ia dengar membuat Arumi pun memilih untuk mengikuti jejak Samuel.

__ADS_1


'Jika ada yang gratisan, kenapa harus repot-repot mengeluarkan uang?'


Bersambung ....


__ADS_2