
Saat ini Juni dan juga Shinta tengah berada di rooftop. Mereka memilih tempat ini agar menghilangkan rasa canggung, sekaligus menikmati hembusan angin dari atas gedung tersebut.
"Ini ...." Shinta menyerahkan paper cup yang berisikan kopi pada Juni.
"Terima kasih," ucap Juni meraih gelas kertas tersebut.
Keduanya terdiam sejenak, mereka menatap suasana kota dari atas gedung tersebut. Hingga akhirnya, Juni pun memulai pembicaraan.
"Pak Alvaro mengira bahwa kita masih berpacaran," jelas Juni.
Shinta hanya menganggukkan kepalanya tanpa merespon lebih.
"Aku ingin mengatakan padanya, akan tetapi aku malu untuk mengakui bahwa aku adalah pria pengecut yang tidak bisa memperjuangkan cintaku," ujar Juni tersenyum dengan hati yang terasa perih.
Shinta terdiam, hatinya juga bak disayat sembilu saat mendengar penuturan dari pria yang pernah menjadi kekasihnya itu. Sungguh, tak ada yang lebih perih selain terpaksa berpisah dalam keadaan masih mencintai.
"Ini semua salahku. Andai saja aku bisa membagi waktuku dengan baik, mungkin keadaannya tidak seperti ini," ucap Shinta.
"Ini bukan salah siapa-siapa. Hanya saja ... mungkin sudah waktunya untuk kita saling merenung dengan belajar dari kesalahan masing-masing. Lagi pula jalanmu masih panjang, kamu bisa menemukan pria perjaka yang lebih baik dari pada harus berpacaran dengan seorang duda," tutur Juni.
__ADS_1
Mata Shinta memerah, tenggorokannya terasa sakit karena mencoba menahan tangisnya. Ia tak ingin memperlihatkan sisi rapuhnya di hadapan Juni.
"Perjaka atau pun duda, bagiku semuanya sama. Aku tidak pernah menilaimu lebih buruk dari pada mantan-mantanku," ucap Shinta.
"Sudahlah, tidak usah membahasnya lagi. Itu semua sudah berlalu. Antara kita, hanya tinggal kenangan saja," ujar Juni
Juni kembali menyesap kopinya, sementara Shinta hanya terdiam saat mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Juni.
"Kembalilah bekerja. Aku tidak mau menyita jam kerjamu terlalu banyak," lanjut Juni.
Juni berbalik badan mengarah Shinta. Pria itu tersenyum, kedua tangannya memegang pundak Shinta.
"Semangat! Semangat! Semangat!!" Juni mengepalkan tangannya memberikan semangat untuk mantan kekasihnya itu.
Setelah mengucapkannya, pria itu pun melangkah pergi dari hadapan Shinta. Ia tersenyum perih, ingin sekali memeluk Shinta, akan tetapi hubungan mereka tak lagi sama seperti kemarin.
Shinta hanya mematung di tempat, memandangi Juni yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya. Saat Juni benar-benar tak terlihat lagi, Shinta langsung menitikkan air mata yang sempat ia tahan sedari tadi.
Gadis itu menutup wajahnya, menangis sesegukkan. Bagi Shinta, perpisahan mereka bagaikan mimpi buruk. Shinta tak ingin memutuskan hubungannya kemarin, akan tetapi ia juga sadar dengan apa yang telah ia perbuat, memang sudah tak termaafkan lagi.
__ADS_1
Di waktu yang bersamaan, Juni mengepalkan tangannya dengan erat, membuat paper cup yang sudah kosong itu remuk tak berbentuk.
"Bagaimana ini? Mengapa rasanya sakit sekali," batin Juni.
Juni membuang paper cup tersebut ke dalam kotak sampah. Ia berjalan menuju ke ruangan Alvira, untuk segera menemui Alvaro.
Setibanya Juni di depan ruangan, tiba-tiba saja pintu terbuka. Sontak Alvaro terkejut dengan keberadaan Juni.
"Loh Jun, kenapa? Mana Shinta? Sudah ngobrol lagi saja sana," ujar Alvaro sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari keberadaan Shinta.
Tak lama kemudian, ia pun melihat Shinta yang berjalan menuju ke arah mereka.
"Itu Shinta, kenapa kamu abaikan. Ayolah! Selagi di sini, habiskan saja dulu waktumu dengannya, karena sebentar lagi aku akan mengajakmu kembali ke kantor," lanjut Alvaro.
"Ini adalah kesempatan yang langka, Jun!" Alvaro lebih berantusias mempertemukannya pada Shinta.
Juni melirik ke arah Shinta sejenak, ia pun menghela napasnya dengan berat.
"Kami sudah putus, Pak!"
__ADS_1