Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 81. Peperangan Berdarah


__ADS_3

Bukan area bocil yang masih bau kencur bisa di skip aja ya🙈


Alvaro mengangkat tubuh Rania. Pria tersebut membaringkan istri tercinta di atas kasur. Rania mengerjapkan matanya beberapa kali, sungguh ia benar-benar gugup menghadapi peperangan berdarah yang akan terjadi siang ini.


Kini Rania berada di bawah kungkungan Alvaro. Pria tersebut merapikan anak rambut yang mengganggu di wajah sang istri .


"Apakah kamu sudah siap untuk yang selanjutnya, Sayang?" tanya Alvaro dengan suara beratnya.


"T-tapi ... ini masih siang, Mas." Rania terbata-bata menjawab ucapan Alvaro.


"Kalau masih siang namanya bukan malam pertama, tapi siang pertama," lanjut wanita tersebut yang sukses membuat Alvaro terbahak-bahak.


"Memangnya ada apa dengan malam pertama dan siang pertama? Apakah kita harus menyiapkan ritual sebelum melakukannya?" tanya pria tersebut sembari menaik turunkan alisnya.


"Bukan begitu, Mas. Kalau siang agak sedikit aneh," ucap Rania.


"Kenapa? Apa karena siang hari panas dan malam hari terasa dingin?" tanya Alvaro lagi.


"Jika kamu mengkhawatirkan hal tersebut, masih ada AC. Aku akan mengaturnya hingga menjadi lebih dingin. Sudah lah! Cukup semalam saja, kali ini aku tidak ingin menundanya lagi."


Alvaro kembali mencium bibir ranum istrinya. Pria itu memagutnya, seakan memberi kode bahwa dia ingin lebih dari ini. Tangannya menggapai sesuatu dari balik busana yang dikenakan oleh Rania.


Rania yang baru saja merasakan hal ini, sentuhan kulit dari Alvaro membuat wanita itu bak disengat listrik. Alvaro mulai memainkan aksinya, tanpa sadar Rania mengeluarkan suara yang begitu indah terdengar di telinga Alvaro.


Alvaro semakin bersemangat, bak seorang pendaki yang tangguh, menggapai sesuatu yang ingin hendak ia gapai, bukan sebuah prestasi, akan tetapi untuk mencapai kenikmatan yang hakiki.


Setelah sibuk menggapai, atau pun meraih mainan baru dari balik busana itu, Alvaro pun mulai mengeluarkan senjata, pertanda bahwa ia sudah siap untuk melakukan peperangan berdarah di siang hari.


Rania terkejut saat melihat tongkat sakti mandraguna itu. Sejenak ia memalingkan wajahnya, membayangkan tongkat sakti yang akan mengoyak kulitnya nanti.


"Ada apa?" tanya Alvaro.


"Sedikit terlihat mengerikan," ujar Rania tanpa ragu.


Alvaro kembali terkekeh mendengarkan ucapan istrinya. "Aku memperkenalkannya terlebih dahulu supaya kamu tidak terkejut nantinya," ucap Alvaro.


"Tapi aku sudah terkejut, Mas."


"Tidak apa-apa, santai saja. Nanti kamu akan terbiasa. Aku melakukannya dengan perlahan," ujar Alvaro.

__ADS_1


"Janji ya." Rania seolah menaruh keraguan pada suaminya.


"Iya, Mas janji." Alvaro meyakinkan Rania.


Pria itu kembali memberikan beberapa sentuhan kepada Rania, membuat Rania lagi dan lagi merasa terbang ke langit ke tujuh dan singgah sejenak di mars untuk melihat para manusia yang jomblo tak memiliki pasangan. (Maaf ya😆)


Alvaro memulai permainan intinya, pergerakan perlahan itu membuat Rania meringis dan mencakar punggung pria itu. Kuku-kuku Rania menimbulkan luka pada punggung Alvaro. Namun, pria itu seakan tak merasakan rasa perihnya. Ia lebih memilih fokus menggiring bolanya agar bisa masuk ke dalam gawang.


Dengan penuh perjuangan, akhirnya bola pun berhasil di giring menuju ke gawangnya. Terdengar suara merdu yang dikeluarkan oleh Rania, suara-suara yang hanya perlu di dengar oleh Alvaro, membuat Alvaro semakin memacu laju bolanya untuk masuk ke dalam gawang tersebut.


Hingga akhirnya, setelah penuh perjuangan, dengan tetesan demi tetesan keringat yang keluar, menghasilkan sebuah kenikmatan yang tiada tara, mencapai puncak dari permainannya.


Alvaro pun ambruk di atas Rania, keduanya tersengal karena merasa lelah. Ibarat membeli barang, Rania adalah barang buka kertas, masih disegel bukan barang second. Seolah Alvaro baru saja mendapatkan jackpot, tangkapan besar hasil dari mendudanya selama lima tahun.


Alvaro menyeka keringat yang ada di kening istrinya. Begitu pula dengan Rania yang juga menyeka keringat Alvaro. Keduanya pun saling melemparkan senyum dan mempertemukan kening mereka.


Sesaat kemudian, kening Rania berkerut saat melihat Alvaro kembali ke posisi awalnya.


"Ada apa?" tanya Rania mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Kita mulai ronde ke dua," ucap Alvaro dengan sangat santainya.


"Baiklah, aku akan menjadi istri yang baik. Semoga saja aku masih bisa berjalan lurus setelah ini," ucap Rania di dalam hati.


....


Di lain tempat, Bima tengah duduk sendirian sembari memperhatikan film animasi kesayangannya. Perhatian anak laki-laki itu teralihkan saat mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.


"Nenek, ..."


Arumi tersenyum, mengusap puncak kepala Bima dengan penuh kasih sayang.


"Nenek, kenapa papa mengantarkan Bima ke sini? Bima kan masih ingin bermain dengan mama, tidur di dekat mama, tapi papa membawa Bima ke sini," ucap anak laki-laki tersebut sedikit menggerutu.


"Tidak apa-apa, Sayang. Lagi pula Bima kan bisa main sama Abian sepuasnya," bujuk Arumi yang mencoba menenangkan cucunya yang terlihat sedikit kecewa karena Alvaro.


Bima menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan neneknya itu.


"Terus ... papa kapan jemput Bima pulang?" tanya Bima lagi.

__ADS_1


"Tunggu sampai adiknya jadi," celetuk Arumi sembari tersenyum penuh arti.


"Papa sama Mama mau kasih Bima adik ya, Nek?" tanyanya.


"Tentu saja. Bukankah Bima ingin sekali memiliki adik kecil?"


Bima menganggukkan kepalanya menimpali ucapan Arumi.


"Nah, kalau mau punya adik kecil, biarkan mama dan papa saja. Bima tidur di tempat nenek, kita main sama Abian, jaga Abian," jelas Arumi.


"Baik, nenek." Bima mematuhi ucapan neneknya, membuat wanita tua itu langsung membawa Bima ke dalam pelukannya.


"Nenek sangat senang jika suasana rumah ini menjadi ramai dengan suara teriakan dari kalian nantinya," ucap Arumi seraya mengembangkan senyumnya.


Alvira baru saja datang sembari menggendong bayinya. Wanita itu ikut bergabung bersama dengan Bima dan juga Arumi.


"Abian sudah bangun?" tanya Arumi.


"Iya, Ma." Alvira menjatuhkan bokongnya di sofa.


"Sini gendong sama nenek." Tangan Arumi sudah siap menyambut cucunya.


Rania beranjak sejenak dari duduknya, lalu kemudian memberikan putranya kepada Arumi. Wanita dengan rambut yang sudah memutih itu pun sangat senang melihat cucunya. Ia sedikit menyentuh hidung Abian, membuat bayi tersebut sedikit menggeliat di dalam gendongannya.


"Nenek, kenapa Abian lama sekali besarnya. Bima mau mengajak Abian ke sekolah, belajar bersama, bermain robot-robotan, menonton Doraemon, dan masih banyak lagi," ujar Bima seraya memperhatikan Abian yang sedikit memperlihatkan lidahnya.


"Nanti Bang, tunggu Bian besar ya ...." Alvira menimpali ucapan anak laki-laki tersebut.


"Berati sekarang Bima sudah menjadi abang ya, Tante?" tanyanya.


"Tentu saja. Karena Abang Bima yang paling tua dari pada Abian. Jadi, nanti Abian akan memanggil Bima dengan sebutan Abang," jelas Rania.


"Nenek ... nenek ... Bima mau cium Abian," pintanya dengan sedikit menyenggol lengan Arumi.


Arumi mendekatkan Abian pada Bima. Anak laki-laki itu pun mendaratkan bibirnya di pipi gembul Abian .


Bersambung ...


Nulis perumpamaan peperangan atau pun segala macam, rupanya cukup memakan waktu juga ya 😂 Semoga aja lolos tanpa harus revisi karena aku anak yang magernya kebangetan🙈

__ADS_1


__ADS_2