Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 92. Tetangga Meresahkan


__ADS_3

Suara demi suara terdengar saat tengah melakukan penyatuan, hingga akhirnya mereka pun terhenti ketika tongkat sakti mandraguna Alvaro telah memuntahkan sari patinya.


Alvaro beranjak dari kasur, langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu pula dengan Rania yang ikut bergabung bersama dengan suaminya itu.


"Kapan Bima mengatakannya?" tanya Alvaro di bawah guyuran air shower tersebut.


"Tadi, saat aku menemaninya belajar. Aku mengatakan padanya, jangan sungkan untuk meminta sesuatu dariku. Dan ternyata ... dia meminta seorang adik," ucap Rania menjelaskannya pada Alvaro.


Alvaro terkekeh mendengar cerita dari istrinya itu. "Asal kamu tahu, Bima itu jarang sekali meminta sesuatu. Jika.memang dia berkata menginginkan ini atau menginginkan itu, tentunya dia benar-benar menginginkannya. Sama seperti saat dia meminta dicarikan ibu pengganti, lalu meminta aku untuk menikahimu, itu semua atas keinginan Bima dan keinginanku juga. Termasuk hal yang tadi," ujar Alvaro panjang lebar.


Kedua orang tersebut saling berpandangan sembari tertawa geli, menertawakan permintaan Bima. Sungguh, Rania tidak habis pikir dengan permintaan Bima.


Alvaro mengusap perut rata Rania, keduanya berdiri di bawah pancuran air shower sembari saling menatap satu sama lain.


"Memiliki anak darimu bukanlah hanya permintaan Bima saja. Aku juga menginginkannya," ucap Alvaro.


"Semoga saja setelah ini kita mendapatkan kabar yang baik ya, Mas." Rania mengulas senyumnya menatap wajah tampan sang suami.


"Iya, semoga saja."


Setelah cukup lama berada di dalam kamar mandi, mereka pun keluar dari sana secara bersamaan. Keduanya mengganti pakaian mereka, lalu kembali naik ke atas ranjang untuk tidur.


"Mas, nanti kamu mau anak laki-laki atau perempuan?" tanya Rania sembari memeluk Alvaro.


"Aku tidak memilih, apapun itu aku terima asalkan istri dan anakku tetap sehat,"ucap Alvaro.


Rania semakin membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Ia merasa sangat beruntung, diberikan dua pria tampan berbeda generasi yang sangat mengerti dirinya .


"Ayo tidur! Kamu pasti lelah. Besok mau masuk kerja kan?" tanya Alvaro.


Rania menganggukkan kepalanya,."Mas juga kan?" tanya Rania.


"Iya, Sayang."


Keduanya pun mulai memejamkan mata mereka dan larut ke dalam alam mimpi.


....


Keesokan harinya, seluruh orang yang ada di rumah tampak tengah bersiap-siap. Hari ini, Rania dan Alvaro akan kembali melanjutkan aktivitasnya, pergi bekerja.

__ADS_1


Namun, meskipun begitu, Rania tak melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu sekaligus istri. Ia menyiapkan perlengkapan Bima, dan memasak. Kali ini, Rania memasak sesuatu yang lain dari pada omelette. Saat di waktu libur kemarin, ia cukup banyak belajar dari Alvaro, dan kini Rania menguasai beberapa masakan tanpa harus Alvaro yang memasak di pagi hari.


Aroma nasi goreng buatan Rania tercium sangat lezat. Bahkan Bima keluar dari kamarnya sembari mengendus-endus menggunakan hidungnya sampai ke dapur.


"Ada apa, Nak?" tanya Rania meletakkan nasi goreng yang telah ia wadahi menggunakan piring ke atas meja.


"Nasi gorengnya enak, Ma. Wanginya sampai ke kamar, lezat sekali sampai-sampai Bima mau makan," ujar Bima sembari memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Maka buat nasi gorengnya, mama berikan banyak sosis karena Bima menyukainya," tutur Rania.


"Asik! Bima suka nasi goreng yang banyak-banyak sosis," ucap Bima dengan sangat antusias.


"Ya sudah, kalau begitu duduklah di kursi. Mama ke kamar dulu, panggil papa untuk ikut gabung sarapan bersama kita," ujar Rania sembari tersenyum simpul.


Bima menganggukkan kepalanya. Ia melihat Rania yang pergi dari hadapannya menuju ke kamar. Sesampainya Rania di kamar, ia melihat sang suami tengah memakai dasi di depan cermin yang berukuran besar.


Rania langsung mengambil alih dasi tersebut. Dengan sangat telaten, Rania mulai menyimpulkan dasi itu. Sementara Alvaro, memanfaatkan hal tersebut untuk memandang lekat wanita cantik yang ada di hadapannya.


Meskipun tiap hari, tiap menit, dan tiap detik ia menatap Rania. Seperti ada sesuatu di wajah Rania yang membuatnya candu. Bahkan Alvaro tak merasa puas ataupun bosan saat menatap wajah sang istri terus-menerus.


"Istriku, kenapa kamu cantik sekali?" ujar Alvaro yang tak mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri.


Alvaro sontak mencubit hidung mancung Rania. Wanita itu terlalu banyak membuka sosial media, sehingga ucapan itu pun juga ikut terlontar dari mulutnya.


"Awas saja kalau kamu bilang seperti itu, Mas gigit kamu," tukas Alvaro.


"Hehe bercanda Mas, iya aku tidak akan berkata seperti itu lagi," ucap Rania.


"Selesai," ujar wanita itu setelah selesai memakaikan dasi untuk suaminya.


Alvaro melihat penampilannya dari pantulan cermin. Tak lama kemudian, Rania pun mengajak suaminya untuk keluar dari kamar.


"Ayo! Bima sudah menunggu lama di meja makan!" ajak Rania.


"Baiklah." Alvaro pun menyusul langkah sang istri yang sudah lebih dulu meninggalkannya.


Alvaro melangkahkan kakinya ke dapur, ia melihat Bima sudah menduduki kursinya, menunggu kedua orang tuanya untuk menikmati sarapan bersama.


"Sepertinya kemampuan mama memasak sudah cukup meningkat ya," celetuk Alvaro melihat hidangan yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Tentu saja karena papa yang selalu sabar mengajari mama," ucap Rania menjatuhkan bokongnya ke salah satu kursi, begitu pula dengan Rania.


"Makanlah, semoga masakanku kali ini tidak mengecewakan lidah kalian," lanjut Rania.


Alvaro dan Bima mulai mencicipi masakan tersebut. Keduanya pun langsung mengangkat ibu jari mereka bersamaan, saat nasi goreng tersebut nenyentuh lidahnya.


"Serius, kamu sekarang sudah pandai memasak," puji Alvaro.


Rania tersenyum, ia merasa bangga terhadap diri sendiri karena sidah bisa memasakkan sesuatu untuk anak dan suaminya. Dan itu cukup menyenangkan bagi Rania.


Setelah mereka menikmati sarapan bersama, ketiga orang tersebut langsung bersiap untuk berangkat. Mereka keluar dari unit tersebut, berjalan menuju lift.


Tak lama kemudian, mereka melihat Mila yang keluar bersama dengan Febby. Mila memperlihatkan wajah ramahnya, sama seperti mereka bertemu pertama kali. Namun, tidak dengan putri dari wanita itu. Febby selalu saja memperlihatkan wajah masamnya.


"Mau berangkat ke sekolah juga?" tanya Rania dengan ramah.


"Iya, apakah kami boleh ikut masuk?" tanya Mila yang ingin ikut bergabung masuk ke dalam lift tersebut.


"Tentu saja, lagi pula masih luas kok," ujar Rania.


Mila dan juga Febby ikut bergabung ke dalam lift tersebut. Rania mengusap rambut Bima dengan penuh kasih sayang.


Sementara Alvaro, ia memusatkan pandangannya pada pantulan pintu baja tersebut. Ia dapat melihat dengan jelas, bahwa Febby saat itu tengah dicekal kuat oleh Mila. Sementara wanita yang merupakan tetangga barunya itu, sibuk menatap Alvaro dengan lekat.


Alvaro mengerti akan tatapan itu. Tatapan yang diperlihatkan oleh wanita itu merupakan tatapan ketertarikan padanya. Bukan karena Alvaro yang terlalu percaya diri, akan tetapi pria itu cukup banyak berhadapan dengan wanita. Dan ketika mereka menatap Alvaro dengan lekat, pasti wanita itu tertarik dengan dirinya.


Alvaro dengan sengaja mengusap puncak kepala sang istri, seakan memberitahukan pada wanita itu, bahwa saat ini dirinya telah memiliki wanita yang istimewa di hidupnya.


Saat Alvaro kembali menatap ke arah pantulan pintu baja tersebut. Pandangan wanita yang ada di belakang Alvaro menatap ke arah Rania dengan tatapan tak suka.


"Sepertinya Rania harus lebih berhati-hati dengan wanita ini. Bisa aku tebak, bahwa ia tersenyum pada istriku hanya sekedar topeng saja untuk mendekatiku," batin Alvaro.


Pintu baja itu pun terbuka. Alvaro dengan segera mengajak anak dan istrinya untuk pergi dari tempat itu dan berjalan menuju ke mobil.


"Ada apa, Mas?" tanya Rania melihat gelagat Alvaro yang sedikit aneh.


"Tidak apa-apa, kita harus cepat karena takut Bima terlambat ke sekolah," timpal Alvaro menggunakan alasan putranya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2