
Malam itu, Arumi sibuk bersiap-siap untuk datang ke rumah Alvaro. Mendengar bahwa Bu Isna berkunjung ke sana, membuat Rania pun ingin menemui besannya itu.
Alvira melihat ibunya yang tengah bersiap-siap, membuat wanita itu pun bertanya-tanya. "Mama mau kemana?" tanya Alvira sembari menggendong buah hatinya.
"Ke rumah Varo, besan hari ini sedang ada di sana," timpal Arumi sembari menorehkan lipstik di bibir tipisnya.
"Mama berangkat dengan siapa?" tanya Alvira lagi.
"Dengan papamu. Memangnya kenapa?" Arumi balik bertanya pada putrinya.
"Aku boleh ikut tidak?"tanya Alvira.
"Kamu mau ikut? Ya sudah bersiap-siap lah sana!" ujar Arumi.
Alvira pun langsung keluar dari kamar Arumi, bergegas menuju ke kamarnya dan bersiap-siap untuk ikut dengan kedua orang tuanya, ke rumah saudara kembarnya, karena sekali pun Alvira belum pernah berkunjung ke sana.
Sepeninggal Alvira, Arumi segera meraih ponselnya yang ada di meja rias. Wanita itu langsung menghubungi putra semata wayangnya.
"Nak, mertuamu menginap di sana kan?" tanya Arumi berbicara pada putranya dari seberang telepon.
"Iya, Ma."
"Baiklah, kalau begitu mama akan segera menuju ke sana. Oh iya, kamu coba hubungi Juna, dan katakan akan pada Juna untuk datang ke rumahmu sekarang juga," ucap Arumi.
"Juna? Kenapa?" tanya Alvaro dari seberang telepon. Ia merasa janggal dengan ucapan ibunya yang meminta dirinya untuk menghubungi Juna.
"Alvira akan ikut ke rumahmu. Jadi, kamu hubungi Juna. Cari alasan tentang mengobrol masalah pekerjaan atau apapun itu," ucap Arumi.
"Apa hubungannya Alvira dengan Arjuna?" tanya Alvaro.
"Astaga Alvaro! Supaya bisa menemani Alvira di sana nanti. Apakah kamu ingin adikmu terus-terusan menyandang status janda?" geram Arumi menjelaskan hal tersebut kepada anaknya.
"Mama ingin menjodohkan Juna dengan Alvira?" tanya Alvaro.
"Kamu banyak bertanya, Varo. Sebaiknya hubungi saja Arjuna. Nanti mama yang atur," ujar Arumi yang langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia benar-benar kesal, Alvaro yang banyak bertanya seperti ini.
Sementara di waktu yang bersamaan, Alvaro mengernyitkan keningnya mendapati ibunya yang langsung menutup telepon begitu saja.
"Ternyata mama tidak berubah sama sekali. Alvira, siap-siap kamu bernasib seperti ku kemarin," gumam Alvaro.
Ia segera mencari kontak Arjuna, menuruti permintaan ibunya untuk menghubungi pria tersebut. Alvaro menempelkan benda pipih itu di salah satu telinganya.
"Halo ...." terdengar suara yang menyambut panggilannya dari seberang telepon.
"Juna, bisakah kamu ke sini?" tanya Alvaro.
"Ke sana? Memangnya ada apa?" tanya Juna.
"Alvira akan ke rumah. Apakah kamu mau menemaninya?"Alvaro mengucapkan tujuannya secara langsung tanpa berbasa-basi, karena ia tahu jika Arjuna sangat menyukai saudara kembarnya.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan segera ke sana," timpal Arjuna tanpa ragu-ragu. Terdengar dari suaranya bahwa pria tersebut sangat senang mendapatkan tawaran langsung dari Alvaro.
"Aku akan tunggu kedatanganmu," ucap Alvaro lalu kemudian menutup sambungan teleponnya.
"Bukankah sangat mudah membuatnya kemari? Kalau memang pria menyukai wanita, tidak perlu mengatakannya dengan alasan yang berlebihan. Ia pasti akan menyusul dengan sendirinya jika mengetahui wanita yang ia sukai berada di sini," gumam Alvaro kembali menyimpan ponselnya di dalam saku.
Rania yang ada di samping Alvaro hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah suaminya.
"Seharusnya Mas Varo merahasiakannya terlebih dahulu. Bukankah mama menyuruh Mas untuk membuat alasan?" protes Rania.
"Istriku ... kamu tidak mengetahui bagaimana kami para lelaki. Kode yang seperti itu sekalipun tidak akan berlaku jika memang prianya tidak menginginkan wanita tersebut. Beda halnya dengan lelaki yang sudah benar-benar tergila-gila oleh wanita itu," ujar Alvaro.
"Yah ... terserah Mas saja," ucap Rania yang kemudian beranjak dari tempat tidurnya.
"Ayo turun ke bawah! Bima dan mama pasti sedang menunggu kita," lanjut Rania yang kemudian melangkahkan kakinya, keluar dari kamar terlebih dahulu untuk menemui ibu dan juga anaknya.
Alvaro pun mengendikkan bahunya, melangkahkan kakinya menyusul sang istri menuju ke ruang tengah.
....
Di waktu yang bersamaan, Bima tengah berbincang dengan neneknya. Banyak cerita yang ia sampaikan pada wanita tersebut. Dengan sangat antusias Bima menceritakan kesehariannya pada Bu Isna.
Bu Isna menjadi pendengar yang baik, mendengarkan cerita anak laki-laki tersebut sembari mengusap puncak kepalanya. Sesekali ia bertanya, memancing Bima agar lebih banyak lagi bercerita.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Rania datang sembari mengulas senyumnya saat melihat Bima sangat menempel dengan ibunya.
"Wah, sepertinya Bima sangat senang ya nenek berada di sini," ujar Rania yang datang menghampiri wanita tersebut.
"Kalau nenek tinggal di sini, terus siapa yang mengurus kakek di kampung?" tanya Bu Isna.
"Kakek suruh datang ke sini saja, Nek. Kita tinggal bersama-sama supaya rumah lebih ramai," timpal Bima.
"Kalau kakek juga tinggal di sini, siapa yang akan mengurus kebun teh kita?" pancing Bu Isna lagi.
"Iya juga ya. Kalau begitu, kebun teh nya langsung dibawa ke sini saja, Nek."
Rania dan juga Bu Isna langsung terikik geli mendengar ucapan anak laki-laki itu. Alvaro baru saja menuruni anak tangga. Pria itu langsung bergabung bersama dengan yang lainnya di ruang tengah.
"Sepertinya obrolan kalian sangat asyik," celetuk Alvaro yang menjatuhkan bokongnya di samping sang istri.
"Ini loh, Mas. Si Bima minta mama dan papa tinggal di sini," jelas Rania.
"Ya sudah, tinggal di sini saja, Ma." Alvaro mengarahkan pandangannya pada sang mertua.
"Tidak bisa, Nak. Mama dan Papa tidak mungkin meninggalkan rumah yang ada di kampung. Ya ... meskipun tidak setiap hari berada di sini, kami akan sering mengunjungi kalian nantinya," balas Bu Isna. Wanita itu tidak ingin memberatkan menantunya, tinggal bersama mereka. Alvaro cukup menafkahi anak dan istrinya saja.
"Mama mertua sedang dalam perjalanan menuju kemari. Ia sangat ingin bertemu dengan Mama," ucap Rania.
"Benarkah? Wah! Mama juga sangat ingin bertemu dengan besan," ujar Bu Isna.
__ADS_1
"Apakah Tante Alvira dan Abian juga akan datang ke sini, Ma?" tanya Bima.
"Iya, mereka berdua juga datang kemari." Rania menimpali ucapan Bima sembari mengembangkan senyumnya.
Bima pun bersorak gembira. Ia benar-benar senang jika di rumahnya ramai. Apalagi jika kedatangan Abian, tentunya ia akan bermain sepuasnya dengan putra dari Alvira itu.
Mereka cukup lama menunggu kedatangan Arumi dan lainnya di teras sembari berbincang-bincang. Sementara Bima, ia berlari ke sana dan kemari, sibuk bermain sendiri seraya menunggu kedatangan Abian dan akan bermain sepuasnya dengan adik kecilnya itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang mulai memasuki pekarangan rumah mereka. Bima langsung bersorak gembira saat mengetahui bahwa mobil tersebut tak lain adalah milik neneknya.
"Ma ... Nenek sudah datang ... Nenek sudah datang ...." Bima berseru sembari berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Rania beranjak dari tempat duduknya, untuk menyambut kedatangan mertuanya. Begitu pula dengan Alvaro dan juga Bu Isna.
Arumi dan yang lainnya turun dari mobil. Rania langsung menyalami kedua mertuanya. Begitu pula dengan yang lainnya.
"Besan, apa kabar?" ujar Arumi yang terlihat sangat senang mendapati keberadaan Bu Isna yang juga ada di sana.
"Aku baik. Bagaimana denganmu sendiri?" tanya Bu Isna.
"Seperti yang Bu Isna lihat," ucap Arumi sembari mengembangkan senyumnya.
"Abian ...." Kali ini Bima lah yang bersuara menyambut kedatangan Abian. Ia benar-benar senang jika mempunyai teman bermain di rumahnya. Maka dari itu ia meminta seorang adik dengan kedua orang tuanya karena Bima merasa kesepian.
"Iya, Bang Bima." Alvira menimpali Bima sembari menirukan suara anak kecil. Seolah Abian lah yang sedang menjawab sapaan dari abangnya itu.
"Abian, ayo main sama Abang. Abang punya banyak mainan di rumah!" ujar Bima yang sangat antusias menyambut kedatangan Bima.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang memasuki pekarangan rumah Alvaro. Semua orang mengarahkan pandangannya pada mobil tersebut. Pintu terbuka, satu kaki terlihat keluar memijak tanah, disusul oleh kaki yang lainnya juga turun dari kendaraan tersebut.
Sesaat kemudian, si pengendara pun mulai menampakkan dirinya. Terlihat Arjuna yang baru saja keluar dari mobil sembari tersenyum ke arah mereka yang sedari tadi menatapnya.
Arjuna pun tersenyum, lalu kemudian menghampiri mereka dan menyalaminya satu persatu. Sementara Alvira, langsung mendelik menatap saudara kembarnya dan ibunya secara bergantian.
"A-aku mengundangnya karena ingin membahas masalah kantor," ujar Alvaro pelan dan sedikit terbata-bata.
Tiba dimana Arjuna hendak menyalami Alvira, membuat pria itu sedikit merasa kikuk berhadapan langsung dengan wanita yang ia suka.
"Hai," sapa Arjuna pada janda anak satu itu.
"Hai," balas Alvira sembari mengulas senyumnya.
"Sini ... Abian gendong sama nenek saja dulu. Biarkan ibumu berbicara lebih nyaman dengan calon papamu," celetuk Arumi. Hal itu cukup membuat mereka yang ada di sana langsung tercengang.
Sementara Alvira, ingin sekali menenggelamkan dirinya karena malu. Sungguh! Ibunya benar-benar membuatnya kehilangan muka. Tetapi antusias mereka sangat berbeda saat Alvira mengenalkan Andre pada mereka dulu.
Terlihat Alvaro yang kurang menyukai Andre sedari awal. Dan kedua orang tuanya pun tampak acuh dengan mantan suaminya dulu. Entah memang mungkin mereka sudah mempunyai firasat bahwa Andre bukanlah pria yang baik.
Beda halnya dengan Arjuna. Semua orang seolah mendorong Alvira bersama dengan pria tersebut. Dari situlah Alvira mulai membuka hatinya, mungkin dengan adanya dukungan dari orang-orang sekitar, atau pun memang hatinya yang telah menginginkan Arjuna untuk masuk ke dalam hidupnya.
__ADS_1
Namun, tidak ada salahnya untuk menerima orang baru. Bukankah semua keberhasilan itu berawal dari sebuah kegagalan? Kali ini, Alvira tidak akan menutup dirinya lagi. Membiarkan Arjuna mengisi relung hatinya yang hampa, karena pria yang bernama Andre sudah tidak memiliki harapan yang tersisa dari dalam hatinya. Kini Alvira sudah siap untuk menerima orang baru, yaitu Arjuna.
Bersambung ....