Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 229. Apakah Sejahat Itu?


__ADS_3

Hari ini Arjuna datang dengan membawakan buket bunga besar untuk kekasihnya, Alvira. Pria tersebut mengulas senyumnya, melangkahkan kakinya menuju ke depan pintu dan menekan bel rumah tersebut.


Tak lama kemudian, salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah utama pun membukakan pintu.


"Pagi Bi, apakah Alviranya ada?" tanya Arjuna.


"Ada, Tuan. Silakan masuk!"


Arjuna pun menganggukkan kepalanya. Pelayan tersebut berjalan masuk untuk memanggil Alvira. Saat hendak menaiki tangga menuju ke kamar Alvira, ia melihat Arumi baru saja menaiki tangga.


"Siapa Bi?" tanya Arumi.


"Anu ... Nyonya Besar. Tuan Arjuna mencari Nyonya Alvira," timpal pelayan tersebut.


"Oh, ya sudah kalau begitu panggil Alvira," ucap Arumi yang langsung turun untuk menemui Arjuna.


Namun, sebelumnya Arumi memanggil salah satu pelayan lainnya, agar membuatkan minum untuk Arjuna.


Arjuna yang saat itu tengah duduk di sofa pun langsung kembali berdiri ketika melihat Arumi datang menghampirinya.


"Tante, ...." Arjuna langsung menyambar punggung tangan Arumi, menyalami wanita tua itu.


"Silakan duduk lagi," ucap Arumi.


"Emmm ... iya, Tante." Arjuna kembali menjatuhkan bokongnya sembari tersenyum.


Sementara menunggu Alvira datang, Arumi memanfaatkan waktu singkat tersebut untuk mengajukan beberapa pertanyaan penting pada kekasih dari putrinya itu.

__ADS_1


"Jun, ...."


"Iya, Tante."


"Apakah kamu benar-benar serius mencintai Alvira?" tanya Arumi.


"Iya, Tante. Saya sangat serius dengan Alvira. Saya tulus mencintainya, Tante."


Arumi tersenyum mendengar jawaban dari Arjuna. Tentu saja hal itu membuatnya cukup lega.


"Untuk saat ini, yang ada di kepala Tante adalah tentang Alvira. Tante takut, akan terjadi hal yang sama padanya kelak."


" Maka dari itu, Tante memberikan kepercayaan yang lebih padamu. Tolong jaga Alvira dengan baik. Dia putri Tante satu-satunya. Jika suatu saat nanti kamu memang merasa bosan atau menarik ucapanmu untuk serius pada putri Tante, tolong kembalikan saja kepada kami dan jangan menyiksa batinnya," ujar Arumi yang serius.


Dari ucapannya, tampaknya Arumi merasa pilu saat tahu jika kemarin putrinya sempat disakiti oleh Andre, yang tak lain adalah mantan suami Alvira.


"Tante, saya sangat mencintai Alvira. Saya akan menjaganya bahkan jika harus mempertaruhkan nyawa saya. Saya akan mencintai Abian layaknya putra saya sendiri. Jika saya membuat kesalahan, Om dan Tante bisa menghukum saya," papar Arjuna yang juga berucap tak kalah serius.


Arumi mengernyitkan keningnya mendengar hal tersebut. "Ditolak? Loh kenapa?"


"Mungkin sejauh ini saya belum bisa meyakinkan Alvira, Tante. Namun, saya tidak akan menyerah. Saya akan menunggu hingga Alvira benar-benar siap," ucap Arjuna.


Di tempat yang sama, tanpa sepengetahuan mereka berdua, Alvira mendengar percakapan antara ibu dan kekasihnya itu.


Benar saja, selama ini Arjuna sudah beberapa kali melamar Alvira. Namun, Alvira menolaknya karena beralasan untuk meminta waktu agar bisa memikirkannya kembali.


"Apakah aku sejahat itu, Jun?" gumam Alvira.

__ADS_1


Ia menatap putranya yang ada di gendongan. Abian tampak beberapa kali memainkan rambut panjang ibunya sembari tersenyum.


"Nak, haruskah kita menjalani kehidupan yang baru setelah ini?" gumam Alvira.


...****************...


Hari sudah menunjukkan hampir jam 3 sore, sementara Juni baru saja bangun dari tidurnya setelah semalaman tak tertidur sama sekali.


Juni menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ia meraih ponsel yang ada di atas nakas. Diliriknya jam sudah menunjukkan pukul 3 sore.


"Apakah aku sudah berubah menjadi kelelawar yang tidur di siang hari dan malam harinya aku terjaga?" ucap Juni bermonolog.


Pria tersebut memegangi perutnya yang sudah terasa lapar. Ia pun langsung bergegas ke kamar mandi, menbersihkan tubuhnya dan berencana untuk mencari makan di luar.


Dulu, Shinta sangat memperhatikan dirinya. Mengantarkan makanan padanya setiap hari, sebelum mereka berpisah.


Namun, sekarang ceritanya sudah berbeda. Juni pun harus kembali menikmati hidangannya sendirian tanpa ditemani oleh celotehan dari gadis itu.


Setelah selesai mandi dan mengenakan baju santainya. Juni langsung berjalan ke luar. Saat dirinya hendak kembali mengunci pintu, Juni mengernyitkan kening karena beberapa orang keluar dari apartemen Shinta membawa barang-barang gadis itu.


"Ini ... kenapa semuanya diangkut keluar?" tanya Juni yang mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya pada salah satu pria yang ada di sana.


"Penyewa apartemen ini akan pindah hari ini, Pak."


Deggg ....


Mendengar hal tersebut, Juni cukup terkejut. Ia menengang, dan mematung di tempatnya.

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa untuk meninggalkan komentarnya di bawah ya gengs. Hari ini, kalau masih sempat update, aku bakalan update bab selanjutnya.


__ADS_2