
"Bima? Jadi akun ini milik ...." Rania menutup mulutnya tak percaya. Gadis itu pun kembali menggulir layar ponselnya, melihat postingan tersebut satu persatu.
Mata Rania tertuju pada sebuah postingan lima tahun yang lalu, dengan kata-kata yang begitu menyayat hati.
Perjuanganmu telah sampai di titik ini. Namun, aku mencintaimu tak sampai di sini. Beristirahat lah dengan tenang, Istriku. Aku mencintaimu hari ini, esok, dan hingga nanti.
Tiba-tiba ada rasa penyesalan dalam diri Rania karena telah berburuk sangka selama ini. Alvaro bukanlah pria pengecut seperti pria yang lainnya. Melihat pria itu yang masih sekarang menduda hingga sekarang, menandakan bahwa ia memang pria yang baik, yang tak tergiur dengan mudah godaan wanita di sekelilingnya. Meskipun, dalam hitungan detik saja Alvaro bisa mendapatkan wanita manapun.
"Aku sudah salah menilainya. Ternyata dia adalah pria yang baik. Astaga, kenapa aku sangat bodoh sekali menyia-nyiakannya. Bukankah kemarin aku yang mengejarnya? Di saat dia dekat denganku, justru aku yang terlihat acuh padanya," gumam Rania.
Ia kembali menggulir layar ponselnya, lalu kemudian melihat beberapa foto postingan Alvaro dengan mendiang istrinya terdahulu.
"Istrinya cantik sekali," lirih Rania yang masih menggulir layar ponselnya hingga sampai postingan Alvaro yang terakhir.
Gadis itu melihat akun yang diikuti Alvaro hanya ada dua. Ia pun merasa penasaran, mengklik angka pengikut tersebut. Ada akunnya dan satu lagi akun bernama Diara00.
Rasa keingintahuan Rania yang tinggi, membuat gadis itu juga mengklik akun tersebut. Namun, sayangnya akun itu dikunci oleh pemiliknya, hingga Rania tak bisa m lihat postingan yang ditampilkan di akun tersebut.
"Yah ... dikunci," gumam Rania.
Gadis itu beranjak dari posisinya, lalu berjalan menuju ke meja rias, memperbaiki rambutnya yang sedikit acak-acakan. Ia pun langsung keluar dari kamarnya, mencoba untuk meminta maaf secara langsung kepada tetangganya itu. Karena dalam beberapa hari ini, Rania selalu saja bersikap kasar pada Alvaro.
Rania keluar dari unitnya, gadis itu berada di depan pintu Alvaro. Awalnya ia ragu, akan tetapi Rania memberanikan dirinya untuk menekan bel rumah Alvaro.
Beberapa kali Rania menekan bel pintu rumah tersebut. Namun, tetap saja tak ada jawaban sama sekali.
"Apakah dia belum pulang?" gumam gadis itu.
Rania melihat jam yang ada di ponselnya, menunjukkan waktu 22:00.
"Sudah jam sepuluh malam," gumam Rania.
Rania pun memilih untuk berjalan menuju lift yang mengantarkannya ke lantai dasar. Gadis tersebut ingin memastikannya, dengan melihat mobil Alvaro di parkiran.
__ADS_1
Setibanya di parkiran, Rania menatap ke segala penjuru. Namun, ia tak menemukan mobil milik duda anak satu itu.
"Ternyata dia benar-benar belum pulang," gumam Rania.
Rania memilih untuk menunggu kepulangan Alvaro di dalam mobilnya saja. Saat ia merogoh saku jaketnya, gadis itu tak menemukan kunci mobil tersebut di dalam sakunya.
"Astaga, aku memang meninggalkan kuncinya di rumah," ucap Rania sembari menepuk keningnya.
Alhasil, gadis itu kembali ke rumahnya terlebih dahulu untuk mengambil kunci mobil tersebut, dan setelahnya kembali ke lantai dasar, menunggu Alvaro di dalam mobil.
Sementara di lain tempat, Alvaro tengah berada di ruang utama. Gurat kekhawatiran muncul di wajahnya saat mengetahui bahwa Alvira jatuh pingsan setelah menghadiri sidang perceraiannya tadi siang.
Saat ini, Alvira tengah tertidur. Dokter menyarankan pada ibu hamil tersebut untuk banyak-banyak beristirahat dan tidak terlalu banyak pikiran.
"Apakah pria itu mengatakan sesuatu pada Alvira, Ma. Apakah Andre mengancam Alvira?" serentetan pertanyaan dilayangkan Alvaro kepada Arumi.
"Pria itu tidak mengatakan apapun. Mungkin selama ini Alvira terlalu menyimpan beban pikirannya, hingga membuatnya jatuh pingsan," jawab Arumi.
"Kamu tidak perlu khawatir, adikmu sudah tidak apa-apa," lanjut Arumi.
Arumi tersenyum, Alvaro memang terlihat seperti acuh kepada Alvira. Namun, sebenarnya pria tersebut sangat menyayangi adiknya. Terlebih lagi, saat ini Alvira tengah mengandung, sementara Andre dengan tega mengkhianati Alvira.
"Kamu baru pulang dari kantor. Sekarang beristirahatlah dulu, Nak. Biarkan mama yang menjaga Alvira," ucap Arumi.
"Varo akan menginap di sini, Ma. Sampai Vira benar-benar sembuh. Varo tidak mau terjadi sesuatu dengan Vira dan anak yang ada di dalam kandungannya," ujar Alvaro yang kemudian melangkah pergi dari ruangan tersebut menuju ke kamarnya.
Bima menghampiri ayahnya, lalu kemudian menggandeng tangan Alvaro.
"Pa, kita menginap di rumah nenek ya?" tanya Bima.
"Iya, Sayang. Kita tidur di sini dulu, tidak apa-apa kan?" tanya Alvaro pada putranya.
"Tidak apa-apa, Pa. Bima senang bisa menginap di tempat nenek. Bima mau temani Tante Vira. Tante Vira baik-baik saja kan, Pa?" tanya Bima lagi.
__ADS_1
Alvaro membuka kenop pintu, lalu kemudian membawa masuk putra semata wayangnya ke dalam kamar tersebut.
"Tante Vira baik-baik saja, Nak. Sekarang Bima tidur dulu ya, hari sudah malam." Alvaro berjongkok, tangannya mencubit pelan pipi gembul anaknya.
"Pa, Bima boleh kan tidur di kamar Tante Vira. Bima mau menemani Tante Vira malam ini. Lagi pula besok kan libur sekolah, Pa." Bima meminta izin kepada ayahnya.
Alvaro tersenyum lalu kemudian menganggukkan kepala. "Boleh Nak, tapi tidurnya jangan malam-malam ya, nanti Bima sakit kalau kurang tidur," ujar Alvaro.
"Baik, Pa. Terima kasih karena sudah mengizinkan Bima."
"Iya, Nak. Sama-sama."
Dengan wajah yang gembira, Bima pun langsung berlari keluar dari kamar tersebut. Menutup kembali pintu yang sudah ia buka.
Sepeninggal Bima, Alvaro langsung berjalan menuju meja nakas. Ia mengeluarkan ponselnya yang ada di dalam sakunya. Mengisi daya karena benda canggih tersebut kehabisan baterai.
Alvaro pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, membersihkan dirinya terlebih dahulu.
....
Cukup lama Rania menunggu Alvaro yang tak kunjung menampakan diri. Bahkan, gadis itu membawa bantal dan selimutnya, memilih untuk tidur di mobil menunggu kepulangan Alvaro.
Sudah jam sebelas malam, Alvaro masih belum terlihat. Rania mengotak-atik ponselnya, melihat kontak yang dinamainya tutup panci tersebut.
Ia hendak menghubungi Alvaro, akan tetapi Rania merasa ragu. Ia malu jika menghubungi Alvaro hanya untuk menanyakan dimana keberadaan pria tersebut, sementara dirinya hanyalah tetangganya saja, bukan kekasihnya.
"Telepon, tidak, telepon, tidak," Rania bergumam sembari menimbang-nimbang langkah apa yang ia lalukan selanjutnya.
Setelah cukup lama berpikir, Rania pun memiliki ide. Menelepon Alvaro untuk mengucapkan kata maaf pada pria tersebut, karena beberapa hari ini ia tampak mengacuhkan Alvaro.
Rania langsung mendial kontak tersebut, menempelkan benda pipih itu ke salah satu telinganya.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
__ADS_1
Mendengar suara wanita yang tak lain adalah operator, membuat Rania mendengkus kesal. Gadis itu melemparkan ponselnya ke jok samping. Namun, tak lama kemudian, gadis itu pun kembali mengambil ponselnya. Meletakkannya di atas dashboard mobil dan kembali menatap ke arah depan, menunggu kedatangan Alvaro yang sampai saat ini belum juga datang.
Bersambung ...