Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 148. Duren Mateng


__ADS_3

Rania mulai membuka amplop yang ada di tangannya. Ia terkejut menatap isi amplop tersebut yang ternyata adalah uang tunai. Di dalamnya, ia juga menemukan secarik kertas yang terselip di dalam amplop tersebut.


Rania mengambil kertas yang ada di sana, lalu kemudian mulai membaca kertas yang berisi tulisan tangan itu.


Rania, ini adalah uang yang aku pinjam kemarin. Mungkin jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pemberian suamimu, akan tetapi aku berjanji akan mengembalikan uangnya dengan cara mencicil.


Di desa, aku sudah mempunyai sebuah usaha kecil-kecilan. Ini semua berkat bantuan kalian berdua. Aku ucapkan beribu terima kasih, dan mendoakan kalian agar selalu dimurahkan rejeki dan menjadi keluarga yang harmonis.


Dion.


Rania kembali melipat kertas tersebut setelah membacanya. Ia menghela napasnya sejenak, lalu kemudian mengembangkan senyumnya seusai membaca surat yang dikirimkan oleh mantan kekasihnya terdahulu.


"Kapan dia memberikan ini?" tanya Rania.


"Kemarin dia datang ke klinik langsung. Dia sempat ingin menemuimu di apartemen, tetapi katanya kamu sudah pindah. Dia datang ke klinik, rupanya ku juga sudah tidak bekerja lagi," jelas Hilda sembari menyantap camilan yang dihidangkan di atas meja.


"Kenapa? Apakah isi suratnya menyinggungmu?" lanjut Hilda seraya mengunyah makanannya.


"Tidak, dia tidak sedikit pun menyinggungku. Hanya menyampaikan beberapa pesan saja dan aku sangat senang mendengar bahwa dia sudah bangkit dari keterpurukannya," tutur Rania memasukkan kembali surat tersebut ke dalam amplop yang berukuran besar.


Setelah Alvaro pulang bekerja, ia langsung menunjukkan surat itu pada sang suami. Rania tak ingin menutupi hal sekecil apapun pada suaminya, terutama jika hal tersebut menyangkut mantan kekasihnya.


"Sepertinya dia pria yang baik, kenapa kamu melepaskannya dulu? Bukankah karirnya juga baik. Dia seorang kepala di rumah sakit terkenal kan? Kalau tidak salah, kamu waktu menceritakannya kepadaku," ujar Hilda yang merasa penasaran dengan masa lalu Rania.


"Dia memang pria yang baik, tetapi dulunya dia tempat tersesat. Dan sekarang, ia bukanlah lagi kepala rumah sakit seusai bercerai dengan istrinya," ucap Rania memberitahukan hal tersebut pada Hilda.


Hilda mengangguk paham, ia sudah mengerti mengapa Rania berpisah tanpa dijelaskan lebih lanjut oleh temannya itu.


"Ya begitulah takdir, kita tak bisa menduganya. Terkadang jika dipikir-pikir agak sedikit tidak masuk akal. Yang dulunya saling mencintai tiba-tiba berpindah hati. Namun, jika tidak ada pengkhianatan dari pria terdahulu, mungkin saat ini kamu tidak berjodoh dengan si duren mateng," ujar Hilda sembari mengerlingkan matanya.


"Loh, kok suamiku disamakan dengan duren mateng?" Rania mencebikkan bibirnya.


Hilda kembali meraih gelas jusnya, mendorong makanan yang terasa tersangkut di kerongkongan.


"Maksudku duren mateng itu singkatan untuk suamimu, Bu Dokter. Yang artinya duda keren, mapan, dan ganteng. Aku tidak munafik, pas awal bertemu di kencan buta, aku cukup terkesima melihatnya. Seolah wajahnya itu memancarkan cahaya seterang matahari," jelas Hilda mengingat awal pertama kali ia bertemu dengan Alvaro.


Rania terkekeh geli mendengar perumpamaan Hilda yang terlihat begitu berlebihan. "Lantas, sekarang di matamu suamiku masih seterang mentari?" tanya Rania mengulum senyum.


"Ah, tentu tidak. Cahayanya mulai redup dan tergantikan oleh calon suamiku. Intinya suamiku adalah pria paling tampan sedunia," ujar Hilda membanggakan calon suaminya.


"Begitu pula denganku," ucap Rania hingga membuat tawa mereka pun pecah.


Banyak hal-hal yang diperbincangkan oleh keduanya. Rasa kantuk yang menyerang Rania, kini perlahan pergi setelah kehadiran Hilda.


"Aku sedikit deg-degan menjelang hari pernikahan," ujar Hilda.


"Sama, aku juga begitu. Kemarin sempat panas dingin apalagi sebelum melalukan ritual unboxing," celetuk Rania yang mulai membahas hal-hal yang sedikit nyeleneh.


"Nah ini dia yang membuatku sedikit gugup, momen yang itu ...." Hilda menekuk sedikit bibirnya ke dalam, pertanda bahwa gadis itu malu jika akan melakukan hal tersebut.

__ADS_1


"Mama ...." Terdengar suara Bima dari kejauhan.


Mereka pun menghentikan percakapan tersebut saat mendengar suara Bima. Rania mengarahkan pandangannya ke sumber suara, melihat putranya datang menghampiri dengan begitu riangnya.


"Eh, anak mama sudah pulang. Salim Tante Hilda dulu, Nak." Rania menyuruh anaknya untuk meyalami Hilda.


Hilda tersenyum saat Bima meraih punggung tangannya dan kemudian menciumnya. "Bima sekarang semakin tampan. Nanti kalau sudah besar jadi anak menantu Tante saja, Bima mau?" tanya Hilda yang seolah menganggap Bima itu adalah sebuah barang, takut dipesan terlebih dahulu karena banyak peminatnya.


"Anak menantu itu apa, Ma?" tanya Bima menatap ke arah ibu sambungnya.


"Sudah, tidak usah didengarkan. Nanti Bima akan mengetahuinya setelah dewasa. Sekarang Bima pergi ke kamar dan ganti bajunya ya, Nak. Setelah itu kita makan bersama dengan Tante Hilda," ujar Rania menyuruh putra sambungnya.


"Baik, Ma."


Bima langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Rania dan Hilda menatap anak laki-laki tersebut menaiki anak tangga.


"Bima sangat anak yang sangat patuh. Kamu sangat beruntung berada di tengah-tengah mereka," ucap Hilda.


"Iya. Aku bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Contohnya kamu," ujar Rania.


"Jangan membuatku tersipu malu, Bu Dokter." Hilda menutupi kedua pipinya.


"Aku serius," ujar Rania meyakinkan temannya.


Sesaat kemudian, Bima kembali menemui ibunya dengan mengenakan pakaian santainya. Rania beranjak dari tempat duduk, mengajak Hilda untuk menikmati makan siang di rumahnya.


"Dengan senang hati. Aku akan menyambut kedatanganmu," ucap Rania menuju ke meja makan bersama dengan yang lainnya.


Setibanya di sana, berbagai hidangan pun telah disajikan. Ketiga orang tersebut langsung menempati kursi mereka masing-masing, Memakan makanan yang tersaji dengan tenang.


Tak terasa, waktu telah menunjukkan sore hari. Hilda cukup lama berada di rumah Rania untuk memperbincangkan banyak hal. Rania pun juga merasa senang karena ditemani oleh Hilda.


Hilda berpamitan pulang. Gadis itu melambaikan tangannya pada Rania dan mulai masuk ke dalam taksi. Mobil yang membawa Hilda pun perlahan meninggalkan hunian Rania.


...****************...


Malam harinya, Rania menunggu sang suami yang tengah membersihkan diri di kamar mandi. Ia tidak mungkin membicarakan masalah Dion sementara Alvaro baru saja pulang bekerja. Setidaknya mengajak makan malam atau saat beristirahat adalah waktu yang tepat untuk membicarakan semuanya.


Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan seorang pria tampan yang tengah mengenakan kain handuk sebatas pinggang, rambut yang terlihat basah,. meneteskan beberapa bulir air yang membasahi area bahu Alvaro.


Rania, meskipun sudah sering melihat roti sobek Alvaro, akan tetapi wanita itu selalu saja menelan salivanya setiap kali menatap tubuh kekar milik sang suami tercinta.


"Tutup mulutmu yang sedikit menganga," ucap Alvaro sembari terkekeh.


Rania kembali menormalkan ekspresi wajahnya. Ia memegangi kedua pipinya yang terasa panas akibat menahan malu karena ketahuan oleh sang suami.


"Mas, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Rania memandangi suaminya yang tengah berjalan menuju ke lemari pakaian.


"Bicarakan apa?" tanya Alvaro menautkan kedua alisnya karena merasa penasaran.

__ADS_1


"Mas pakai saja baju dulu, nanti aku akan ceritakan setelah Mas mengenakan pakaian yang lengkap," ucap ibu hamil tersebut.


Alvaro pun menuruti ucapan istrinya. Ia segera mengenakan pakaiannya dengan sedikit terburu-buru. Merasa sangat penasaran dengan apa yang hendak disampaikan oleh sang istri.


Setelah berpakaian lengkap, Alvaro meletakkan kembali handuknya ke tempat semula. Lalu kemudian duduk di sisi ranjang, tepatnya di samping Rania.


"Aku sudah selesai, sekarang bicaralah," ujar Alvaro yang sudah tak sabar mendengar cerita Rania.


Rania membuka laci nakasnya, lalu kemudian mengambil amplop berwarna coklat yang ada di dalamnya. Alvaro melihat hal tersebut langsung mengernyitkan kening.


"Apa itu?" tanya Alvaro penasaran.


Rania mengambil secarik surat yang ada di dalam amplop tersebut, dan memperlihatkan surat itu terlebih dahulu kepada suaminya.


"Bacalah!" ujar Rania menyodorkan surat tersebut pada suaminya.


Alvaro mengambil surat yang ada di tangan istrinya. Ia membuka kertas tersebut dan membaca isi dari kertas itu.


Matanya ke sana dan kemari memperhatikan setiap kata yang tertulis di kertas itu. Ia kembali melipat surat tersebut dan menatap sang istri.


"Apakah dia memberikannya langsung padamu?" tanya Alvaro.


"Tidak, Mas. Dia menitipkannya pada Hilda karena tidak tahu alamat rumah kita," timpal Rania.


"Dan ini ... uang tunai yang diberikannya," lanjut Rania memberikan amplop yang berisi uang tersebut pada Alvaro.


Alvaro menghela napasnya, entah rasanya berat untuk menerima uang itu. Apalagi tertulis di surat itu bahwa Dion baru saja membuka usaha kecil-kecilan yang berarti pendapatannya belum seberapa.


"Harusnya dia tidak bersikap seperti ini. Sudah ku bilang padanya tidak usah mengembalikan uang yang kuberikan," gumam Alvaro mengintip isi amplop tersebut.


"Mengapa kamu memperlihatkan suratnya padaku?" tanya Alvaro yang merasa penasaran dengan tujuan sang istri.


"Aku hanya tidak ingin nantinya kamu salah paham padaku, Mas. Mungkin ini adalah hal sepele, akan tetapi hal sekecil ini jika kita tidak jujur, maka akan menjadi sesuatu yang besar dan merusak rumah tangga kita," tutur Rania menjelaskan semuanya pada sang suami.


Alvaro tersenyum, ia merasa bersyukur karena istrinya selalu jujur dan tak menutupi hal sekecil apapun padanya.


"Apakah Mas cemburu Dion mengirimkan ini semua?" tanya Rania.


Alvaro menggelengkan kepalanya, "Aku sudah tidak merasa cemburu lagi padanya. Melihat isi surat yang mendoakan agar kita selalu menjadi keluarga yang harmonis, membuatku mengerti bahwa Dion telah merelakanmu sepenuhnya," ujar Alvaro mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Syukurlah kalau Mas tidak merasa cemburu lagi pada Dion. Aku berharap, Mas juga begitu. Memberitahukan padaku hal sekecil apapun tanpa harus menutupinya. Walaupun hal tersebut akan sangat menyakitkan, setidaknya aku bisa memaafkan Mas karena sudah berani jujur padaku," tutur Rania menatap sang suami dengan penuh cinta.


"Tidak ada yang aku tutupi darimu, Sayang. Aku juga tidak berniat untuk menyakitimu dengan perkataan ku," ujar Alvaro.


"Ya sudah, kalau begitu Mas bersiaplah! Kita turun untuk makan malam," ucap Rania.


Alvaro mengangguk, keduanya beranjak dari tempat duduknya, keluar dari kamar dan melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2