
Sesampainya di kantor, Alvaro langsung menuju ke ruangannya diikuti oleh sang asisten yang berada di belakangnya.
Sejak dari kemarin, ia memperhatikan raut wajah Juni. Tampaknya ekspresi pria itu lebih bersahabat dari sebelumnya. Jika kemarin-kemarin sang asisten selalu memasang wajah yang kaku dengan rahang yang mengeras. Namun, tidak untuk kali ini. Juni terlihat lebih ramah.
"Apakah kamu baru saja memenangkan jackpot dengan tangkapan yang besar? Wajahmu tampak bersinar layaknya mentari pagi," sindir Alvaro.
"Bisa dikatakan seperti itu, Pak." Juni berceletuk seraya mengulum senyumnya.
"Apakah ada sesuatu yang terlewatkan, yang tidak aku ketahui?" tanya Alvaro melipat kedua tangannya ke depan, menelisik sang asisten dengan tatapannya.
"Ti-tidak ada yang terlewatkan? A-apa yang dilewatkan oleh Pak Alvaro?" tanya Juni dengan nada bicara yang terbata-bata.
"Kamu mencurigakan! Baiklah, aku akan mencari tahunya sendiri nanti," ujar Alvaro masuk ke dalam lift. Sang asisten juga mengekor di belakang pria itu.
"Bagaimana kerja sama dengan Pak Tirta? Sepertinya beliau sangat marah karena Pak Alvaro meninggalkannya secara tiba-tiba," tanya Juni.
"Dia terlalu angkuh, aku sangat tidak menyukainya. Aku tidak akan bekerja sama dengan orang yang meragukan kinerjaku. Suatu saat nanti, aku akan membuktikan bahwa proyek yang aku garap kali ini benar-benar berhasil. Aku akan membuatnya menyesal karena sempat meremehkanku," ujar Alvaro.
Pintu lift terbuka, kedua pria tampan itu pun keluar dari ruangan sempit tersebut. Saat berjalan menuju ke ruangan, mereka melewati meja kerja Shinta terlebih dahulu. Alvaro melirik ke arah Shinta, ia mendapati gadis tersebut menyelipkan rambut ke telinganya. Lalu pandangan Alvaro mengarah pada sang asisten yang tampak tersenyum simpul ke arah Shinta.
Alvaro sedikit menjengit melihat interaksi keduanya . Shinta menundukkan kepala, memberikan penghormatan kepada atasannya itu.
"Apakah ada sesuatu diantara kalian?" tanya Alvaro menaikkan alisnya sebelah.
"Hah?!" Shinta dan Juni langsung tercengang. Secara bersamaan keduanya langsung menyanggah ucapan Alvaro.
"Ti-tidak! Tidak ada yang terjadi diantara kami," ucap Shinta dan juga Juni.
Alvaro hanya mengangguk paham, akan tetapi jangan diharap jika ia akan percaya dengan ucapan keduanya. Karena dari gerak-gerik mereka, Alvaro sudah bisa menebak jika keduanya memiliki sesuatu yang coba untuk disembunyikan.
"Kalian menyembunyikannya dariku, akan tetapi kalian juga lah yang membuatnya terlihat sangat jelas," batin Alvaro.
"Ya sudah, kalau begitu lanjutkan pekerjaan kalian," titah Alvaro.
"Baik, Pak." Keduanya serentak berucap dan menundukkan kepala.
"Sepertinya kalian berjodoh, sedari tadi terus melakukan hal yang sama," celetuk Alvaro yang kemudian berjalan masuk ke dalam ruangannya.
Di tempat itu, tinggalah Shinta dan Juni. Kedua orang tersebut menatap pintu yang ada di depan mereka telah tertutup. Shinta dan Juni saling melirik lalu kemudian mengulum senyumnya.
__ADS_1
"Ucapan Pak Alvaro tadi ... aku mengaminkannya di dalam hati," ucap Juni.
"Aku juga," balas Shinta hingga kedua orang tersebut pun terkekeh geli.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan kembali ke meja kerjaku," ucap Shinta.
"Selamat bekerja," ujar Juni.
"Kamu juga." Shinta tersenyum, lalu kemudian berbalik menuju ke meja kerjanya. Gadis itu masih melirik sang kekasih yang juga perlahan melangkah pergi.
Juni, entah pria itu seakan merasakan pubertas kedua kalinya. Jika dulu, ia merasakan jatuh cinta pada Sela, akan tetapi kali ini agak sedikit berbeda. Ia bersikap sedikit kekanak-kanakan. Mungkin karena efek dari cinta yang cukup lama terpendam. Hingga membuat dirinya menjadi sebutan budak cinta seperti yang dikatakan oleh anak-anak jaman sekarang.
Saat berjalan menuju ke meja kerjanya, Juni berpapasan dengan pria yang pernah menjadi rivalnya dulu. Pria tersebut tersenyum ke arah Juni, lalu kemudian berjalan berlalu dari hadapan Juni.
Juni mengendikkan bahunya, ia kembali melangkah seperti tak terjadi apa-apa. Namun, suara dari belakang menghentikan langkah kakinya.
"Tunggu!"
Mendengar hal tersebut, Juni memberhentikan langkahnya, ia berbalik menatap pria yang tadi baru saja mencegahnya.
"Ada apa?" tanya Juni.
"Baiklah. Kapan?" tanya Juni.
"Saat jam makan siang. Apakah tidak apa-apa jika aku menyita waktumu sebentar," ujar Daren.
Juni pun tampak menimbang-nimbang, sesaat kemudian ia menganggukkan kepalanya, menyetujui ajakan Daren.
"Di rooftop kantor," ucap Daren yang kemudian tersenyum dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
Juni menatap punggung Daren yang semakin lama semakin mengecil. "Ck! Harusnya dia membawaku ke resto untuk mentraktirku makan," gerutu Juni seraya menggeleng-gelengkan kepala. Pria itu pun kembali melangkahkan kakinya yang sempat tertunda oleh Daren tadi.
.....
Di ruangannya, Alvaro tengah serius menatap layar komputernya. Mengecek laporan penjualan dari hari ke hari yang terbilang semakin meningkat. Kedua sudut bibirnya sedikit terangkat melihat persentase yang terus meningkat.
"Pak Tirta si tua bangka itu terlalu meremehkan aku. Bahkan proyek baru beberapa hari dijalankan pun telah menunjukkan hasil yang cukup memuaskan," ujar Alvaro tersenyum penuh kemenangan.
Atensinya teralihkan saat mendengar suara ketukan pintu. Alvaro mempersilakan pada orang tersebut untuk masuk. Ia melihat pria berperawakan tinggi dengan kumis tipis yang menjadi ciri khasnya itu.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Alvaro menatap pegawainya itu.
"Maaf karena telah mengganggu waktu Pak Alvaro. Saya ingin memberikan ini pada bapak," ucap Daren yang langsung menyerahkan sebuah map.
Alvaro pun menerima map tersebut, yang ternyata isinya adalah surat pengunduran diri Daren. Alvaro menatap Daren dengan seksama seraya meletakkan map tersebut di atas meja kerjanya.
"Kamu ingin berhenti bekerja?" tanya Alvaro.
"Iya, Pak. Saya banyak berterima kasih pada Pak Alvaro karena telah menerima saya di sini. Selama saya bekerja di perusahaan bapak, saya mempelajari banyak hal dan mendapatkan pengalaman yang berharga," jelas Daren.
"Apa yang membuat kamu ingin berhenti bekerja? Apakah ini karena sekretarisku?" tanya Alvaro yang tampaknya sudah bisa menebak keadaan yang sebenarnya terjadi.
Daren mengangkat kedua sudut bibirnya, " Saya memutuskan untuk berhenti bekerja karena saya ingin menikah," ucap Daren.
Namun, hal itu bukanlah menjadi faktor utama Daren berhenti bekerja. Alasan Daren yang sebenarnya adalah untuk menjauh dari Shinta. Ia ingin melupakan gadis itu. Jika ia bertemu terus-menerus dengan Shinta, mungkin ia akan kembali merebut Shinta dari tangan Juni. Sedangkan kebahagiaan Shinta adalah Juni. Dan Daren hanya terobsesi dengan cinta yang tak kunjung berbalas. Ia tidak ingin hal ini terulang untuk kedua kalinya.
"Baiklah, jika itu keputusanmu, saya juga tidak bisa melarangnya. Melepaskan kamu juga berat bagi saya. Karena kamu terbilang pegawai yang ulet meskipun beberapa hari kemarin kamu sempat berulah," ujar Alvaro yang membuat Daren tersenyum.
"Saya ucapkan selamat atas pernikahanmu. Selamat menempuh hidup baru dan semoga berbahagia selalu," lanjut Alvaro.
"Terima kasih banyak, Pak." Daren tersenyum.
Setelah selesai memberikan surat pengunduran dirinya, Daren pun langsung berpamitan dengan Alvaro.
Pria tersebut melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Alvaro. Matanya menangkap Shinta yang tengah melihat ke arahnya. Ingin sekali rasanya Daren menghampiri gadis itu dan memeluk Shinta dengan erat. Menyerukan kepada gadis itu bahwa keputusan yang ia ambil saat ini sangatlah berat.
Namun, meskipun Daren berteriak sekalipun di depan Shinta, hal itu tidak akan mengubah apapun. Jadi, sia-sia jika harus melakukan hal bodoh itu. Bagaimana pun juga Daren tidak akan bisa menjadi Juni, pria yang diinginkan oleh gadis yang amat ia cintai itu.
Daren mengulas senyumnya menatap ke arah Shinta. Gadis yang ada di balik meja kerjanya itu pun membalas senyuman yang dilemparkan oleh Juni untuknya.
Daren pergi begitu saja tanpa berucap sepatah kata pun. Meninggalkan Shinta begitu saja. Pria itu masuk ke dalam lift, ia mendongakkan kepalanya seraya menghembuskan pasokan oksigen yang ada di paru-parunya. Mencoba menenangkan diri dari rasa sesak yang hingga saat ini masih menghinggapi dirinya.
"Keputusan yang ku ambil adalah hal yang benar. Yakinlah, sakit ini hanya sementara saja. Nanti juga aku bisa melupakan dirinya," gumam Daren mensugesti dirinya.
Pintu lift terbuka, ia kembali ke meja kerjanya. Hari ini ia tak melakukan apapun. Mengemasi barang-barang yang ada di meja kerja, sembari menatap ke sekelilingnya. Orang-orang yang tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Setelah memasukkan barang-barangnya ke dalam kotak kardus berukuran sedang, Daren pun berjalan keluar dari gedung tersebut. Ia meletakkan barang-barangnya ke dalam mobil. Memilih berdiam diri di dalam mobil sembari menunggu waktu jam makan siang, untuk berbincang-bincang sedikit dengan pria yang pernah menjadi rivalnya.
Bersambung...
__ADS_1