
Rania baru saja tiba sepulang dari klinik. Wanita itu menggunakan taksi. Wanita tersebut meregangkan sedikit otot-otot bahu dan lehernya yang terasa kram.
Ia berjalan masuk ke dalam lift. Ekor matanya melihat Mila yang juga hendak masuk ke dalam lift. Rania pun bergeser sedikit, memberikan ruang pada wanita tersebut.
"Mba Rania baru pulang kerja ya?" tanya Mila.
"Iya, Mba Mila." Rania menimpali disertai dengan anggukan kecil.
"Ah iya, tadi Bima pergi ke rumah neneknya. Awalnya aku ingin mengajaknya pulang bersama, supaya memudahkan Mba Rania nantinya, tidak perlu repot menjemput Bima di kantor papanya," ujar Mila.
"Oh, jadi Mba Mila tahu kalau Bima sering ikut ke kantor papanya?" tanya Rania.
"Iya, saya kan lumayan dekat sama Bima." Mila seakan meninggikan dirinya bahwa ia dekat dengan putra dari pria yang ia sukai, padahal kenyataannya tidak sama sekali.
Rania cukup tercengang dengan pernyataan tetangganya itu. Bagaimana tidak? Mustahil Bima dekat dengan Mila sedangkan putri dari wanita itu saja tidak menyukai Bima sama sekali. Namun, Rania tetap memasang wajah santainya, seolah mempercayai semua yang diucapkan oleh tetangganya itu.
Pintu lift terbuka, Mila pun berjalan lebih dulu keluar dari ruangan sempit tersebut. Wanita itu berbalik menatap Rania yang ada di belakangnya.
"Ah iya, Mba Rania, kalau misalkan saya ajak Bima sesekali main ke rumah, tidak apa-apa kan? Lagi pula Febby dan Bima sudah mulai berteman," ucap Mila sembari mengulas senyum.
"Ya ... tidak apa-apa. Lagi pula saya tidak pernah melarang putra saya untuk pilih-pilih teman," balas Rania.
Mila melanjutkan langkahnya, wanita tersebut langsung masuk ke dalam unitnya. Begitu pula dengan Rania yang juga masuk ke dalam unitnya.
"Sepertinya yang dikatakan Mas Varo memang benar. Wanita itu ... seperti pepatah yang mengatakan 'Ada udang di balik batu'."
....
Rania baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita itu segera mengganti bajunya, lalu kemudian bersiap-siap untuk menjemput Bima di rumah utama. Tak lama kemudian, ponsel Rania berdering. Ia mengusap layar benda pipih tersebut, mengangkat panggilan dari sang suami.
"Iya, Mas. Ada apa?" tanya Rania.
"Mas sudah menemukan rumah yang akan dibeli. Rencananya besok Mas akan mengajak kamu untuk singgah sejenak ke sana sebelum berangkat bekerja. Mengecek rumah tersebut apakah sesuai dengan yang kamu inginkan atau tidak," ujar Alvaro dari seberang telepon.
"Baiklah, Mas. Ku rasa, kita memang harus pindah rumah saja," ujar Rania yang mulai menyadari gelagat aneh dari tetangganya itu.
"Mas masih kerja?" tanyanya.
"Iya," timpal Alvaro singkat.
"Ya sudah, Mas lanjutkan saja dulu pekerjaan Mas. Aku mau jemput Bima ke rumah mama," ujar Rania.
"Nanti Mas menyusul ke sana?" tanya Alvaro.
"Tidak usah, Mas. Lagi pula aku bawa mobil. Mungkin tidak akan lama," ujar Rania.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan. Mas tutup teleponnya ya ...."
Tak lama kemudian sambungan telepon pun terputus. Rania kembali melanjutkan aktivitasnya, bersiap untuk pergi menjemput Bima.
__ADS_1
Rania keluar dari unitnya. Saat wanita itu masuk ke dalam lift, Mila keluar dari huniannya, melihat Rania yang baru saja pergi.
"Pasti dia akan menjemput Bima," ujar Mila pelan.
Rania keluar dari lift. Wanita tersebut segera menuju ke parkiran dan masuk ke dalam mobilnya. Ia pun langsung melajukan mobil tersebut menuju ke jalanan.
Rania menghidupkan pemutar musik karena merasa sepi berkendara sendirian. Sesekali ia mengetuk-ngetukkan jemarinya di setir saat lagu kesayangannya di putar.
Setelah cukup lama menempuh jalanan malam itu, Rania pun tiba di rumah utama. Wanita tersebut memarkirkan kendaraannya di pekarangan rumah. Turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam.
Saat menginjak ruang tengah, Rania melihat Fahri tengah menonton televisi. Rania pun langsung menghampiri Fahri.
"Pa, ...." Rania mencium punggung tangan ayah mertuanya.
"Iya, Nak. Kamu datang sendiri?" tanya Fahri.
"Iya, Pa. Mas Varo masih di kantor," timpal Rania yang dibalas dengan sebuah anggukan oleh Fahri.
"Mama dan yang lainnya kemana Pa?" tanya Rania.
"Ada, mereka lagi di kamar Alvira. Masuklah!" ujar Fahri.
"Kalau begitu, Rania permisi ke atas dulu, Pa."
"Iya, silakan!"
Rania mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar tersebut.
"Eh, ada Rania. Sini Nak, masuklah!" ujar Arumi mempersilakan anak menantunya untuk masuk.
Rania menyalami Arumi, mengecup punggung tangan wanita tersebut. Sementara Alvira, ia menyambut tangan Arumi, dan menyalami kakak iparnya itu.
"Duh, Abian. Sini Tante gendong dulu," ujar Rania yang meminta Abian dari gendongan Alvira.
Alvira menyerahkan Abian pada kakak iparnya. Rania mengedarkan pandangannya, ia tak melihat keberadaan Bima di sana.
"Bima mana, Ma?" tanya Rania.
"Itu ... lagi di dalam kamar mandi." Arumi menimpali.
Tak lama kemudian, yang dicari-cari keberadaannya pun muncul dari balik pintu kamar mandi tersebut.
"Mama, ...." Bima berlari dan memeluk ibu sambungnya.
"Pelan-pelan, Nak. Mama lagi gendong Abian," tegur Rania.
"Papa mana, Ma?" tanya Bima.
"Papa belum pulang, Nak. Masih di kantor," timpal Rania.
__ADS_1
Bima pun mengangguk paham. Anak laki-laki itu meminta agar ibunya menidurkan Abian, supaya Bima lebih leluasa bermain dengan Abian.
Rania menuruti permintaan Bima. Ia mencium pipi gembul Abian lebih dulu sebelum meletakkan bayi tersebut di atas tempat tidur.
Bima pun mulai bermain bersama Abian, memperlihatkan wajah lucu pada Abian. Saat Rania hendak mengajak Bima pulang, Bima menggelengkan kepala. Ia meminta Rania memberikan waktunya sebentar lagi, karena dirinya masih asyik bermain dengan bayi mungil tersebut.
....
Di lain tempat, Alvaro baru saja pulang dari kantor. Pria tersebut memarkirkan mobilnya, keningnya berkerut saat tak melihat keberadaan mobil sang istri di parkiran. Alvaro merogoh sakunya, mencoba menelepon Rania.
"Kamu belum pulang, Sayang?" tanya Alvaro.
"Sebentar lagi, Mas. Bima masih asyik bermain bersama Abian." Terdengar suara Rania dari seberang telepon.
"Mas sudah pulang?" tanya Rania.
"Iya, ini baru saja sampai."
"Ya sudah, Mas istirahat saja dulu. Kami sebentar lagi akan pulang," timpal Rania.
Panggilan telepon terputus secara sepihak. Alvaro mengernyitkan keningnya saat Rania memutuskan panggilannya begitu saja. Pria itu pun masuk ke dalam lift, yang mengantarkannya menuju ke unit yang ia tinggali.
Pintu lift terbuka, Alvaro pun berjalan dan masuk ke dalam unitnya. Pria itu memilih untuk segera menuju ke kamar mandi karena merasa gerah.
Saat Alvaro tengah menikmati air yang berjatuhan, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Alvaro tertegun sejenak, ia mengira jika Rania lah yang datang. Alvaro mengira bahwa wanita itu lupa membawa kunci akses apartemen mereka.
Alvaro keluar dengan memakai jubah mandinya. Sisa shampoo yang ada di kepalanya, menetes mengenai matanya, membuat mata pria tersebut perih.
Alvaro membuka pintu, tiba-tiba saja sesuatu yang mendorongnya masuk ke dalam dan terdengar suara pintu yang kembali tertutup.
Alvaro mencoba mengusap sedikit matanya. Samar-samar ia melihat bahwa yang baru saja datang dan menerobos masuk bukanlah istrinya, melainkan tetangga gila yang ada di samping unitnya.
"Kamu ...."Alvaro menunjuk tepat di depan wajah Mila.
"Mba Ranianya ada?" tanya Mila yang tampak berbasa-basi.
"Tidak ada, sebaiknya kamu pergi dari sini!" usir Alvaro.
Mila menggelengkan kepalanya, wanita tersebut tersenyum penuh arti. Ia melangkah mendekati Alvaro dengan seringaian liciknya.
"Kalau tidak ada Mba Rania, berarti hanya tinggal kita berdua," ujarnya.
"Pergi kamu!" tukas Alvaro. Pria tersebut menyeret Mila untuk pergi dari unitnya, akan tetapi langkahnya terhenti saat tali jubah mandi Alvaro ditarik begitu saja oleh Mila, membuat Alvaro pun melepaskan cekalan tangannya dari tetangganya itu.
"Uppsss," ucapnya sembari menutup mulut. Sementara pandangannya tak lepas dari tubuh Alvaro.
"Dasar wanita sinting!!"
Bersambung ....
__ADS_1