
"Kalau yang satu ini bayinya berjenis kel*min perempuan. Selamat, anda mendapatkan anak kembar sepasang," ujar dokter tersebut memberikan selamat kepada Alvaro dan juga Rania.
Alvaro benar-benar tak bisa berkata-kata. Rasa bahagianya kian membuncah. Namun, melihat istrinya terkulai lemas dengan wajah yang sedikit pucat, membuat pria itu ketakutan.
"Sayang, ...." Alvaro membelai wajah sang istri dengan lembut. Ia menyeka keringat Rania yang membasahi wanita yang telah menjadi seorang ibu itu.
Rania tahu, gurat kekhawatiran sang suami. Ia pun menggelengkan kepalanya sembari berucap," Tidak apa-apa, Mas. Aku baik-baik saja."
Kedua sudut bibir Rania yang sedikit pucat, perlahan terangkat. Membentuk sebuah lengkungan yang semakin mempermanis wajahnya.
Setelah dibersihkan, kedua bayi tersebut di dekatkan pada Rania. Wanita itu tak kuasa menahan air matanya, melihat buah hatinya berhasil ia bawa ke dunia ini dengan sebuah pengorbanan yang luar biasa. Mendengar suara tangis bayi kembar tersebut membuat perjuangan Rania terbayarkan sudah.
"Sepasang, Mas. Sama seperti kamu dan Alvira," ucap Rania.
Alvaro mengangguk, sembari mengembangkan senyumnya. Ia menggendong salah satu bayi perempuannya, menatap si mungil kemerah-merahan itu dengan penuh rasa kasih sayang.
"Wajahnya cantik sepertimu," ujar Alvaro.
"Yang ini juga tampan seperti Mas Varo," balas Rania.
Tak lama kemudian, beberapa keluarga pun datang. Bu Isna dan juga Bu Arumi sangat antusias ingin segera melihat kedua cucu mereka. Ditambah lagi dengan Bima, anak laki-laki itu sedari tadi ingin sekali masuk ke dalam ruangan ini. Namun, karena pintunya belum terbuka, membuatnya harus menunggu sedikit lama.
"Papa ... itu adik Bima ya?" tanya Bima dengan wajah polosnya.
"Iya, Sayang. Adik Bima yang ada di dalam perut mama. Sekarang Bima sudah bisa melihatnya dengan jelas," jawab Alvaro.
"Asyik! Bima tidak akan main sendirian lagi. Bima ada temannya. Bima sangat senang, Papa!" serunya sedikit meninggikan suara. Sontak Alvaro pun meletakkan jarinya di depan bibir, mengisyaratkan pada putranya untuk tidak boleh bersuara terlalu keras.
"Ngomongnya jangan terlalu keras ya, Nak. Ini rumah sakit, tempat orang-orang yang merasa kesakitan. Nanti kalau Bima berbicara terlalu kuat, orang-orang yang sedang beristirahat akan terganggu dengan suara Bima," jelas Alvaro dengan lembut.
"Baiklah, Pa. Maafkan Bima ya," ujarnya dengan raut wajah yang merasa bersalah.
"Iya, Sayang. Tidak apa-apa. Jangan diulangi lagi ya, Nak." Alvaro mengulas senyumnya. Bima pun menanggapi ucapan sang ayah dengan menganggukkan kepala.
Bu Arumi langsung mendekat pada putranya, mencoba menggendong cucunya yang cantik. Alvaro pun menyerahkan anaknya pada ibunya, membiarkan gadis kecilnya itu digendong oleh sang nenek.
Sementara Bu Isna, ia juga tidak ingin kalah dari besannya. Wanita itu menggendong cucu tampannya. Ia tersenyum melihat wajah cucu yang ada di dalam gendongannya tersebut.
Bu Isna berjalan mendekat pada Bu Arumi, melihat kedua wajah mereka yang tidak terlalu mirip.
"Mereka ini kembar tidak identik," ucap Bu Isna.
__ADS_1
"Iya iya. Sama seperti Alvaro dan juga Alvira," celetuk Bu Arumi.
"Nenek, Bima mau lihat adek bayi," pinta anak laki-laki itu.
Kedua neneknya pun sedikit menunduk, memperlihatkan bayi mungil tersebut kepada Bima. Bima menciumi kedua adiknya satu persatu.
"Ma, Pa, siapa nama adik Bima?" tanya Bima melihat ibu dan ayahnya secara bergantian.
Alvaro dan juga Rania mengulas senyumnya. Kedua orang tersebut saling menatap, telah menyepakati nama yang akan dipakai jika anak tersebut kembar sepasang perempuan, atau sepasang laki-laki. Dan mereka juga menyiapkan nama jika bayi tersebut perempuan dan laki-laki. Kali ini, pilihan terakhir lah yang akan mereka sebutkan. Dengan bersamaan, Alvaro dan juga Rania pun mengucapkan nama tersebut.
"Dilan Adicandra Aryaduta dan juga Delani Adikirana Aryaduta," ujar keduanya serentak.
"Wah keren sekali," ucap Bima mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Berarti ... yang ini namanya Dilan," ujar Bu Isna.
"Dan yang ini namanya Delani," sambung Bu Arumi.
Tak lama kemudian, di ruangan itu pun kedatangan bapak-bapak yang sedari tadi tampak gusar. Siapa lagi jika bukan Pak Hendrawan dan juga Pak Fahri.
Gurat kekhawatiran yang tercetak jelas di.wajah mereka menambah keriput di beberapa sisi bagian wajah. Namun, semua itu hilang seketika setelah melihat langsung cucu yang tengah digendong oleh para ibu-ibu yang ada di sana.
"Alhamdulillah, sekarang anggota keluarga kita semakin bertambah," ucap Pak Fahri.
"Bima sangat senang, Kek. Nanti ... Bima akan menjaga adik bayi dengan sangat baik. Bima ikut membantu memberikan botol susu untuk adik, bermain bersama adik," tutur anak laki-laki yang usianya kini menginjak 6 tahun.
"Anak pintar!" Alvaro langsung mengusap puncak kepala putranya. Ia juga menggendong Bima, agar leluasa melihat kedua adiknya digendong oleh kedua neneknya.
"Pa, Bima sangat berat," ujar Bima.
"Papa kuat kok, Nak. Kamu tidak berat, hanya seringan kapas," ucap Alvaro yang membuat semua orang yang ada di sana langsung terkekeh geli.
"Papa ada-ada saja," celetuk Bima.
.....
Hari pun mulai merangkak malam. Shinta bersiap-siap hendak pulang, ia melihat ke arah ruangan Alvaro. Sedari tadi atasannya itu tak kembali setelah tergesa-gesa keluar dari ruangannya.
"Ada apa dengan Pak Alvaro? Kenapa dia tiba-tiba keluar begitu saja?" gumam Shinta bertanya-tanya.
Shinta beranjak dari tempat duduknya. Ia baru saja hendak meninggalkan meja kerjanya. Di jarak lima meter, ia melihat Juni yang tengah bersandar di dinding. Pria itu sepertinya tengah menunggu Shinta sedari tadi.
__ADS_1
Shinta hendak bersikap biasa saja. Terlalu lama bersitegang pun juga tidak baik untuk hubungannya. Bagaimana pun juga, Shinta sangat mencintai Juni.
Suara sepatu Shinta memecah keheningan, membuat Juni pun menoleh ke arah kekasihnya itu. Tak ada lagi ekspresi kemarahan yang terpancar di wajahnya. Kali ini, Juni terlihat lebih santai dan bahkan mengulas senyum pada Shinta, meskipun agak sedikit kaku. Bisa jadi malu karena ia merasa bahwa dirinyalah yang bersalah telah emosi pada Shinta.
"Kamu ... sudah selesai?" tanya Juni menarik kedua sudut bibirnya.
Shinta membalas senyuman itu. Ia pun berkata sembari menganggukkan kepala," Iya. Apakah kamu sudah lama menungguku?" tanya Shinta.
"Tidak terlalu lama," timpal Juni.
"Kalau begitu, ayo kita pulang!" ajak Shinta.
Juni tersenyum, ia membiarkan Shinta melangkahkan kakinya lebih dulu. Namun, sang kekasih tidak ingin seperti itu. Shinta justru mundur beberapa langkah agar dia bisa berjalan sejajar dengan Juni.
Keduanya masuk ke dalam lift, di ruangan sempit itu, Shinta dan Juni tak membuka obrolan apapun. Hanya saling berpandangan setelah itu melemparkan senyum.
"Bolehkah aku mengantarmu pulang?" tanya Juni membuka suara. Ia meminta izin terlebih dahulu pada sang kekasih.
Tanpa berpikir lagi, Shinta pun langsung menganggukkan kepala. Tanda menyetujui ucapan pria yang ada di sampingnya itu.
Juni senang, jika Shinta tak menolaknya, pertanda bahwa gadis tersebut tak lagi marah padanya.
Tinggg ....
Lift terbuka, kedua sejoli itu langsung keluar dari ruangan sempit itu. Mereka berjalan menuju ke mobil . Juni membukakan mobil untuk kekasihnya. Memperlakukan Shinta dengan beberapa perlakuan yang manis.
"Terima kasih," ucap Shinta setelah pintu mobil itu di buka. Gadis tersebut langsung masuk ke dalam kendaraan itu.
Juni tersenyum, lalu kemudian ikut masuk dan duduk di kursi kemudi. Pria itu menghidupkan mesin mobilnya, membawa kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.
Di dalam mobil, terpikirkan oleh Shinta hendak berkata jujur pada kekasihnya itu. Lagi pula, jika selalu ditunda-tunda, tentunya tak akan baik pula. Sudah saatnya Shinta berterus-terang, dari pada nantinya Juni akan terkejut dan marah-marah lagi.
"Jun, ..."
"Hmmmm ...." Juni menimpali, ia melirik ke arah Shinta sekilas, lalu kemudian kembali fokus ke jalanan.
"Sebenarnya ... mulai besok aku tidak akan lagi berada di kantor pusat," ucap Shinta.
Mendengar hal tersebut, Juni langsung mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti apa yang baru saja diucapkan oleh kekasihnya itu.
"Apa maksudmu?" tanya Juni.
__ADS_1
"Mulai besok, aku akan bekerja di kantor cabang."
Bersambung ....