
"Tante, mama dan nenek kapan pulangnya?" tanya Bima yang sedari tadi menunggu kedatangan kedua wanita tersebut.
"Mungkin sebentar lagi. Bima tunggu saja," timpal Alvira.
"Tapi dari tadi siang, Bima menunggu dan mereka belum juga pulang. Sekarang sudah sore, Tante." protes Bima.
Alvira mencoba untuk menghubungi ibunya. Namun, tak ada jawaban dari wanita tersebut. Ia juga beralih menghubungi Rania, dan kakak iparnya itu pun tak merespon panggilannya.
"Tidak diangkat," gumam Alvira sembari menjauhkan ponsel dari telinganya.
Alvira melirik jam yang ada di ponselnya, telah menunjukkan pukul 4 sore, sedangkan keduanya keluar dari tadi pagi.
"Apakah kita perlu menelepon papa, Tante?" tanya Bima.
"Sebentar, Tante coba menghubungi Pak Dadang, supir yang bersama nenek dan mamamu. Mungkin saja Pak Dadang akan mengangkat panggilan dari Tante," ujar Alvira yang langsung menghubungi supir tersebut.
"Halo ...."
"Pak Dadang, kenapa belum pulang?" tanya Alvira, ia tampak khawatir karena ibu dan kakak iparnya tidak ada kabar sama sekali.
"Sebentar, Nyonya. Nyonya Arumi dan Nyonya Rania masih berada di dalam," timpal Pak Dadang.
"Memangnya kalian berada di mana?" tanya Alvira lagi.
"Di tempat karaoke, Nyonya."
Mendengar hal tersebut, spontan Alvira menepuk keningnya. Ia benar-benar tidak habis pikir jika ibu dan kakak iparnya menghabiskan waktu seharian dengan bersenang-senang.
Di lain tempat, Rania dan Arumi memegang mikrofon masing-masing. Mereka tampak senang menyanyikan lagu dan sesekali berpelukan.
Andaikan kau datang kembali, jawaban apa yang kan ku beri~
Keduanya menyanyikan lagu tersebut secara bersamaan. Jika lagu yang dibawakan sedikit melow, maka mereka akan berekspresi sedih untuk menghayati lagu tersebut. Namun, jika lagu yang dibawakan ceria, mereka akan menyanyikannya dengan sedikit keras dan berteriak.
Lagu yang mereka nyanyikan pun berakhir. Rania meletakkan mikrofonnya di atas meja, dengan napas yang sedikit tersengal akibat terlalu bersemangat menyanyikan lagu tersebut.
"Masih mau menyanyi?" tawar Arumi.
"Tidak, Ma. Sudah cukup," timpal Rania sembari mengulas senyumnya.
Arumi juga meletakkan mikrofonnya. Wanita itu mengecek ponselnya dan terkejut saat melihat panggilan dari Alvira yang terlewatkan.
__ADS_1
"Alvira menelepon, sepertinya kita terlalu asyik bernyanyi hingga dering ponsel pun tak terdengar sama sekali," ujar Arumi.
Melihat hal tersebut, Rania juga ikut mengecek ponselnya. Dan benar saja, Alvira juga meneleponnya. "Alvira juga meneleponku," ucap Rania.
"Hari sudah lewat dari jam 5 sore. Ayo, Nak! Kita pulang sekarang. Nanti papamu dan Alvaro marah-marah," ajak Arumi.
"Iya, Ma."
Keduanya keluar dari tempat karaoke tersebut. Ia pun segera menuju ke parkiran, melihat Pak Dadang yang tengah terlelap di dalam mobil.
"Pak Dadang!" Arumi mengetuk kaca mobil mencoba membangunkan Pak Dadang. Tak ada sahutan dari pria berperawakan kecil dengan sedikit jenggot tersebut.
"Pak Dadang!!" Arumi lebih keras lagi mengetuk jendela kaca tersebut. Hingga akhirnya, Pak Dadang pun terbangun dan segera membukakan pintu untuk majikannya.
"Maaf, Nyonya. Saya ketiduran," ujar Pak Dadang meminta maaf karena telah membuat Arumi sedari tadi menunggunya.
"Tidak apa-apa, Pak. Kalau begitu ayo kita pulang. Para suami pasti sudah menunggu kedatangan kami," ucap Arumi.
Ponsel Arumi kembali berdering, saat itu Fahri yang meneleponnya. "Astaga, papamu menelepon mama. Angkat atau tidak ya?" gumam Arumi.
"Angkat saja dulu, Ma." Rania memberikan saran pada sang mertua.
Alih-alih di angkat, justru panggilan tersebut langsung ditolak oleh Arumi. "Sudah, mama reject saja panggilannya," ucap Wanita tua itu.
"Papamu pasti akan memarahi mama. Dari pada mendengarkan ocehannya di telepon, lebih baik membiarkan dia marah-marah saat di rumah saja. Setidaknya mama hanya mendapat ocehan satu kali saja, tidak dua kali," ujar Arumi.
"Ah iya, yang dikatakan oleh mama benar juga." Rania menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan mertuanya itu.
Berselang beberapa saat kemudian, ponsel Rania lah yang berbunyi. Wanita itu terkejut, melihat layar ponselnya, melihat panggilan tersebut yang tak lain adalah dari Alvaro.
"Ma, Alvaro juga meneleponku," gumam Rania dengan mata yang membulat memandangi layar ponselnya.
"Mau diangkat?" tanya Arumi.
Rania menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun langsung menolak telepon dari suaminya itu, menyimpan kembali ponsel tersebut ke dalam tasnya.
"Seperti yang mama bilang tadi, lebih baik kena marah di rumah saja agar tidak mendengar ocehan yang kedua kali," ucap Rania.
"Sip Menantuku. Untuk hari ini, ayo kita bersekongkol dulu," ujar Arumi sembari memperlihatkan ibu jarinya.
Rania pun menganggukkan kepala. Mematuhi ucapan mertuanya yang masih dengan penampilan nyentrik tersebut.
__ADS_1
Di waktu yang bersamaan, Alvaro menatap layar ponselnya. Pria itu menghela napas, lalu kemudian tertawa menatap Fahri.
"Sepertinya mereka berdua bersekongkol, Pa. Panggilanku juga ditolak oleh Rania," ucap Alvaro seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pasti istrimu itu mengikuti saran dari mamamu. Nenek-nenek yang satu itu benar-benar membuat darah tinggiku kambuh," gerutu Fahri.
Alvaro dan Fahri pun menunggu kedatangan keduanya di teras rumah utama. Para suami-suami itu tampak resah karena sang istri belum juga tiba.
"Apakah Rania meminta izin padamu sebelumnya?" tanya Fahri.
"Iya, Pa. Aku juga sudah berpesan padanya untuk tidak pulang sore. Namun, ternyata dia malah pulang hampir menjelang malam," gerutu Alvaro.
"Aku hanya takut ada apa-apa dengannya. Apalagi saat ini dia tengah hamil," lanjut pria tersebut.
"Kita tunggu saja. Mungkin mereka sedang si jalan menuju kemari," ucap Fahri.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Mobil yang dikendarai oleh Pak Dadang berhenti di pekarangan rumah.
Kedua wanita tersebut keluar dari kendaraan itu, dengan membawa beberapa barang belanjaan yang ia beli di mall tadi. Keduanya berjalan menghampiri suami masing-masing dengan kepala tertunduk.
"Dari mana saja kalian?" tanya Fahri.
"Dari Mall, Mas."
"Dari tempat karaoke, Pa."
Keduanya memberikan jawaban yang berbeda, akan tetapi tidak salah, karena kedua tempat tersebut memang mereka kunjungi.
"Bagus, ada yang menjawab dari mall, ada juga yang menjawab dari tempat karaoke," ujar Fahri.
"Rania dan Alvaro, masuklah dulu ke dalam kamar!" titah Fahri.
Alvaro menatap Rania, sementara Rania menundukkan pandangannya, tidak berani bertemu pandang dengan sang suami karena merasa bersalah.
Kini tinggal lah Arumi dan juga Fahri di teras rumah tersebut. Arumi sesekali melirik Fahri, akan tetapi sedari tadi sang suami menatapnya dengan seksama, membuat Arumi pun menciut.
"Ini apa ini ...." Fahri memegangi rambut Arumi.
"Nenek-nenek berambut coklat." Fahri mencecar warna rambut Arumi. Saat di salon tadi, Arumi memang mewarnai rambutnya untuk menyamarkan rambut yang sudah mulai memutih.
Arumi hanya tertunduk. Namun, ia berusaha menahan tawanya karena telah dikatai oleh suaminya dengan sebutan 'nenek-nenek berambut coklat'.
__ADS_1
Bersambung ....