
"Daren," gumam Shinta, membuat pria pemilik nama tersebut menatap ke arahnya. Pria tersebut mengembangkan senyumnya, menatap gadis yang merupakan pujaannya.
Shinta langsung menghampiri Daren. Pria tersebut menyerahkan setangkai bunga mawar yang ia bawa.
"Ini untukmu," ucap Daren menyodorkan bunga yang ada di tangannya.
Shinta mengulas senyumnya, ia sedikit ragu hendak menerima bunga pemberian Daren atau tidak. Ia menatap ke arah Juni sekilas. Pria yang baru saja keluar dari lift bersamanya tadi langsung menunjukkan wajah masam.
"Terima kasih." Shinta pun memutuskan untuk menerima bunga pemberian dari Daren.
Raut wajah Juni bertambah masam, ia berjalan menghampiri kedua orang tersebut. Menatap Daren dengan tatapan tak suka.
"Ada urusan apa kamu kemari? Lagi pula hari sudah malam. Sebaiknya kamu pulang karena besok harus bekerja!" titah Juni yang mencoba mengusir Daren.
"Iya, Pak Juni. Saya sangat tahu akan hal itu. Saya bukan anak-anak lagi yang harus diperingatkan akan hal itu. Akan tetapi, bukan kah anda baru saja berkeliaran bersama Shinta? Apakah salah jika saya menirunya?" tanya Daren. Tampaknya pria tersebut sudah mulai curiga. Seakan bisa menebak bahwa Juni memiliki rasa pada Shinta.
"Ada perlu apa mencariku, Ren?" tanya Shinta menatap Daren. Ia mencoba untuk mengajak Daren berbicara, karena dirinya sudah merasakan hawa sedikit panas dari tatapan mata kedua pria tampan yang ada di hadapannya.
"Tidak apa-apa, kebetulan aku lewat sini, jadi aku berencana untuk mampir. Aku sudah menghubungimu beberapa kali, akan tetapi kamu tidak menjawabnya," tutur Daren yang juga menatap ke arah Shinta.
Tinggal lah kini Juni bagai seonggok kotoran besar yang tak berguna. Hanya bisa mendengarkan ucapan dari keduanya, tanpa dihiraukan oleh gadis yang merupakan tetangganya itu.
"Kalau begitu ... ayo masuk dulu. Aku akan membuatkan minuman untukmu," ujar Shinta menawarkan Daren masuk. Daren pun menganggukkan kepalanya, ia sangat senang ditawarkan untuk singgah ke unit Shinta langsung.
Juni melirik jam tangannya. Saat melihat Shinta membuka pintu dan mempersilakan Daren masuk, Juni pun langsung menerobos ikut masuk ke dalam unit Shinta. Ia sedikit menyenggol bahu Daren dengan keras, lalu kemudian masuk terlebih dahulu dari pada tamu si pemilik rumah.
"Kamu ...." Daren menatap Juni dengan tatapan tajam sembari memegangi bahunya. Sementara Juni, pria itu tak menghiraukan ucapan Daren. Ia menjatuhkan bokongnya di sofa yang ada di sana.
"Kenapa dia ikut masuk?" protes Daren pada Shinta.
"Sebenarnya ... ini memang bukan waktu yang tepat untuk menerima tamu. Namun, aku tidak mungkin membiarkanmu pulang begitu saja," ucap Shinta.
"Biarkan dia berada di sini," lanjut gadis tersebut menatap ke arah Juni sekilas.
"Duduklah! Aku akan membuatkanmu minuman." Shinta mempersilakan tamunya untuk duduk.
Daren pun mengangguk, mendudukkan dirinya di sofa tersebut. Matanya tak berhenti menatap Juni yang sedari tadi bertingkah seperti manusia tak berdosa, hanya bisa mengganggu Daren saja.
"Tidak usah seperti itu, atau aku colok matamu!" tegas Juni terkesan dingin dan penuh penekanan. Tentu saja pria tersebut berucap demikian setelah Shinta berjalan menuju ke dapur.
"Bukankah besok Pak Juni harus bekerja? Kenapa masih di sini?" sindir Daren yang seolah mengembalikan ucapan yang sempat Juni katakan saat di depan tadi.
Juni melirik ke arah pria pemilik kumis tipis itu. Ia berdeham sejenak, lalu kemudian melipat kedua tangannya ke depan.
"Saya adalah tetangganya, lagi pula tidak masalah jika sesama tetangga saling mengunjungi. Bukan orang asing yang langsung masuk kemari," cibir Juni yang tak mau kalah.
Daren sedikit mengusap kumis tipisnya. Kedua sudut bibirnya pun terangkat ke atas, menertawakan ucapan yang baru saja di lontarkan oleh pria yang ada di dekatnya.
"Lebih tidak pantas lagi jika seorang duda berkunjung ke rumah wanita lajang." Daren tersenyum remeh. Kali ini ia berhasil memberikan pukul telak pada rivalnya itu.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu diam atau aku robek mulutmu itu!" tekan Juni menatap pria yang ada di hadapannya dengan tatapan nyalang.
Daren mendecih, melihat tingkah arogan Juni yang pada akhirnya tak bisa lagi membalas ucapan dari Daren.
"Ternyata tangan kanan Pak Alvaro benar-benar memiliki mulut yang kotor," cibir Daren.
Juni baru saja hendak membalas lagi perkataan Daren, akan tetapi tiba-tiba Shinta datang sembari membawa nampan yang berisikan dua gelas kopi.
"Silakan diminum," ucap Shinta seraya meletakkan dua mug kopi secara berdekatan. Gadis tersebut memilih untuk duduk di single sofa.
"Terima kasih," ujar Daren mengembangkan senyumnya.
Daren hendak mengambil salah satu mug yang berwarna abu-abu. Namun, Shinta langsung menahan tangan Daren.
"Yang ini milikmu," ucap Shinta memberikan mug yang satunya lagi.
"Dan yang ini milik Juni," lanjut Shinta menggeser mug tersebut tepat di hadapan Juni.
Juni langsung mengangkat dagunya, tersenyum penuh kemenangan. Ia melirik Daren yang tampaknya penasaran akan alasan Shinta membedakan mug tersebut.
"Ya, kamu menjaganya dengan baik. Mug kesayanganku jangan sampai ada orang lain yang memakainya," ucap Juni.
"Iya-iya, dasar cerewet!" gerutu Shinta.
Juni menyesap kopinya, lalu kemudian mengacungkan ibu jarinya pada Shinta. "Kamu memang lebih mengerti seleraku. Dan aku juga mengerti seleramu," ujar Juni meletakkan kembali kopi tersebut ke atas meja.
Daren spontan langsung mendecih mendengar ucapan Juni yang kembali membuatnya kesal. Ingin sekali pria tersebut menyiramkan kopi panas miliknya ke wajah Juni agar rivalnya itu berhenti bersikap angkuh.
"Maksudmu?" Kening Juni langsung berkerut mendengar hal tersebut, meminta penjelasan dari gadis yang ada di hadapannya.
"Iya. Daren selalu mengirimkan makan siang ketika aku sedang sibuk. Makanan dan kopi yang tentunya adalah kesukaanku," papar Shinta.
Juni langsung mengarahkan pandangannya pada Daren. Sementara pria tersebut, mengangkat sebelah alisnya seraya tersenyum licik.
"Seharusnya kamu tidak usah menceritakannya pada Pak Juni. Sepertinya Pak Juni sangat kesal mendengar hal tersebut," pancing Daren.
"Kesal apanya? Untuk apa dia kesal. Lagi pula kami hanya berteman," balas Shinta.
Diam-diam, Juni mengepalkan tangannya dengan kuat. Ingin sekali ia memberikan pukulan bertubi-tubi pada Daren, karena pria tersebut pantas untuk mendapatkannya.
Makan siang yang diterima oleh Shinta, bukanlah dari Daren. Semua itu, Juni lah yang melakukannya. Ia sengaja mengirimi Shinta makan siang, agar gadis tersebut tak perlu makan di luar dan berbincang dan berbincang dengan Daren. Karena Juni membenci pemandangan dimana saat Shinta pergi bersama Daren.
Ia pun berinisiatif, mengirimkan makanan tersebut. Di kala Shinta tengah sibuk, Juni mengirimkan makanan itu melalui office girl, dan meminta pada wanita tersebut untuk tidak memberitahukan bahwa makanan itu dari dirinya.
Namun, tak disangka jika Daren melakukan hal yang licik. Mengakui sesuatu yang tak pernah ia lakukan sama sekali. Tentu saja membuat Juni menjadi naik pitam. Dengan begitu, nilai Daren semakin bertambah di mata Shinta. Dan bisa saja hal tersebut membuat Shinta jatuh cinta pada Daren.
"Ada apa? Mengapa kamu diam saja?" tanya Shinta menatap Juni dengan seksama.
"Tidak apa-apa," timpal pria tersebut terkesan dingin. Tangannya kembali meraih mug kopinya, menyesap minuman tersebut dengan melirik ke arah rivalnya.
__ADS_1
Sementara yang dilirik, hanya cengengesan. Ia tak merasa takut ataupun bersalah. Seakan dirinya semakin meninggi dan mendapatkan nilai tambah dari hasilnya menipu.
Shinta lebih banyak berbincang dengan Daren. Sementara Juni, pria yang satu ini hanya berdiam diri sembari memainkan ponselnya. Namun, ia menyimak pembicaraan dari kedua orang tersebut.
Setelah cukup lama berbincang-bincang, akhirnya Daren pun berpamitan pulang. Sementara Juni bersikap acuh, masih dengan posisi nyamannya sembari memainkan ponsel yang ada di tangannya.
"Apakah Pak Juni akan tetap berada di sini? Sepertinya kurang enak dipandang jika pria dan wanita berada dalam satu ruangan apalagi mengingat hari sudah malam," celetuk Daren membuat Shinta mengarahkan pandangannya pada Juni.
"Pulang Jun! Di tegur si Daren tuh," ujar Shinta yang mencoba untuk menyuruh pria tersebut keluar dari unitnya.
"Mulut si Daren ini benar-benar berbisa," geram Juni dalam hati.
Ia pun beranjak dari tempat duduknya, berjalan terlebih dahulu keluar dari unit Shinta. Daren tersenyum smirk melihat kekesalan Juni.
"Aku pulang ya. Tidurlah, jangan begadang!" ujar Daren.
"Iya, hati-hati di jalan." Shinta membalas ucapan Daren sembari mengembangkan senyumnya.
Juni mendengar ucapan manis keduanya pun merasa ingin muntah. Pria tersebut melangkah keluar dan bersandar di dinding.
Shinta menutup pintunya setelah dua pria tersebut keluar dari unitnya. Daren berlalu begitu saja dari hadapan Juni, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Apakah kamu merasa senang? Merasa hebat karena Shinta mengira bahwa makanan tersebut adalah darimu?"
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Juni, membuat Daren pun menghentikan langkahnya. Ia mengangkat satu sisi sudut bibirnya, menyunggingkan senyum remeh.
"Oh, jadi makanan itu darimu," ucap Daren berbalik menatap rivalnya.
"Mengapa tidak berterus terang saja sendiri," lanjutnya sembari mengendikkan bahu.
Juni yang sudah tersulut emosi pun langsung mencengkram kerah baju rivalnya, lalu kemudian sedikit membenturkan tubuh pria berkumis tipis itu ke dinding.
"Sebaiknya kamu tutup mulutmu!!" tukas Juni.
"Owww ... santai brother, bukankah tidak ada yang salah dalam ucapanku? Kenapa kamu tiba-tiba merasa emosi? Apakah kamu menyukainya?" pancing Daren.
Juni semakin mencengkram kerah baju Daren. Entah mengapa pria ini semakin lama semakin membuatnya kesal. Dari kata-kata yang dilontarkannya, sedari tadi selalu saja memicu kemarahan Juni.
"Ku peringatkan sekali lagi padamu, menjauh dari Shinta atau kamu akan tahu akibatnya!!" ujar Juni yang kemudian melepaskan cengkeramannya dari kerah milik Daren.
Pria tersebut meninggalkan Daren begitu saja. Masuk ke dalam unitnya, lalu kemudian menutup pintu dengan sedikit membantingnya.
"Dia pikir dia hebat dengan berkata seperti itu? Seharusnya ku buat babak belur saja wajahnya yang jelek itu, biar semakin jelek. Melihat wajahnya saja membuat emosiku terpancing, ditambah lagi dengan ucapannya yang mengakui bahwa ia yang membelikan makanan untuk Shinta. Benar-benar pria brengs*ek!" cecar Juni.
Sementara Daren, ia melihat pintu Juni yang telah tertutup rapat. Ancaman dari Juni, tak membuatnya takut sama sekali.
"Dia pikir aku takut dengan ancamannya itu? Lihat saja. Akan ku buat Shinta lebih memilihku nantinya," tukas pria tersebut.
Daren merapikan kerah bajunya yang sedikit kusut akibat di cengkram oleh Juni. Ia pun melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
"Tunggu saja, aku akan memberikan kejutan padanya di keesokan hari. Dan akan ku pastikan ia benar-benar panik dan semakin ketakutan," gumam Daren mengembangkan senyum iblisnya.
Bersambung ....