Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 190. Gara -Gara Secangkir Kopi


__ADS_3

Alvaro tiba di kantor. Ia melihat sang asisten yang telah menunggu dirinya di depan. Melihat mobil Alvaro, Juni langsung mendekat dan membukakan pintu untuk atasannya. Alvaro menatap wajah Juni sekilas, kali ini wajah tersebut agak muram.


"Apakah kamu sedang bertengkar dengan kekasihmu?" celetuk Alvaro mencoba menebak.


"Hah?!" Juni tidak mendengar dengan jelas ucapan atasannya, meminta pada bosnya untuk mengulangi pertanyaan yang baru dilontarkannya tadi.


"Ck! Lupakan. Aku malas mengulanginya lagi," ujar Alvaro masuk terlebih dahulu ke dalam gedung pencakar langit yang ada di hadapannya.


Juni menelengkan kepalanya, mencoba untuk mengulangi apa yang ia dengar. "Apa tadi kata Pak Alvaro? Kasihmu? Aku hanya mendengar ujungnya saja," gumam Juni menyusul langkah sang atasan.


Mereka berjalan beriringan. Beberapa pegawai yang berpapasan dengan Alvaro langsung menundukkan kepala hormat serta memberi salam. Kedua pria berparas tampan itu masuk ke dalam lift.


"Bagaimana kabar Pak Tirta? Apakah beliau masih menghubungi untuk mengajak kerja sama?" tanya Alvaro.


"Ah iya. Kemarin beliau kembali menghubungi, Pak. Dia meminta kembali tawaran kerja sama yang pernah Pak Alvaro ajukan kemarin," jelas Juni.


"Minta diajukan kembali? Hah! Lucu sekali dia," ujar Alvaro tersenyum remeh. Pria itu mengangkat dagunya seraya mengusapnya pelan.


"Tolak saja dia. Sekarang kita memiliki hak akan hal itu. Lagi pula beliau terlalu angkuh dan meremehkan kemampuan orang lain. Dan sekarang, lihatlah! Bagaimana dia mengemis meminta kembali tawaran tersebut. Ckckck! Sungguh memalukan," cecar Alvaro.


Melihat Alvaro tersenyum remeh, Juni pun ikut serta mengembangkan senyumnya. Memang benar, hidup di dunia ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah tidak menganggap manusia lainnya sebelah mata. Roda terus berputar dan kita sendiri tidak tahu kedepannya akan menjadi seperti apa.


Wajar jika Alvaro menolak Pak Tirta, karena dulunya beliau terlalu merendahkan kemampuan Alvaro saat diajak kerja sama. Menganggap bahwa proyek yang nantinya dikelola oleh Alvaro tidak membuahkan hasil.


Dan sekarang, setelah Alvaro berhasil, Pak Tirta seperti menjilat ludahnya sendiri. Membujuk Alvaro beberapa kali untuk melakukan kerja sama tersebut melalui sang asisten.


Lift terbuka, kedua pria tampan itu pun keluar dari ruangan sempit itu. Alvaro berjalan lebih dulu, sementara Juni berada tepat di belakang pria tersebut.


"Langsung saja ke meja kerjamu, tidak usah mengantarku ke ruangan," ucap Alvaro.


"Tidak apa-apa, Pak. Tidak enak jika saya langsung pergi begitu saja tanpa harus mengantarkan Pak Alvaro ke sana. Lagi pula, bukankah itu menjadi rutinitas saya sehari-hari?" ujar Juni mencoba menjelaskan.


Namun, tujuan utamanya bukan karena hal itu, melainkan ingin melihat sang kekasih yang tengah bekerja di pagi hari ini. Walaupun tadi telah bertemu dan sarapan bersama, akan tetapi itu saja tidak cukup. Juni ingin setiap menit dan detiknya menatap wajah cantik Shinta. Serta memastikan, apakah gadis itu baik-baik saja setelah sempat terjadi adu mulut di meja makan tadi.


"Merasa tidak enak? Katakan saja jika kamu memiliki tujuan lain. Juni ... Juni ... modus mu terlalu jelas," gumam Alvaro pelan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tentu saja ucapannya tidak terdengar oleh Juni, karena pria itu berucap setengah berbisik.


Alvaro dan juga Juni tiba tepat di depan ruangan CEO. Shinta tengah menatap layar komputernya. Ia melihat sang atasan tiba, membuat gadis tersebut langsung beranjak dari tempat duduknya dan menunduk hormat pada Alvaro.


Alvaro menghentikan langkahnya tepat di depan meja sang sekretaris. Ia melirik sejenak ke arah asistennya yang sedang menatap wanita bersurai panjang itu tanpa berkedip. Entah mengapa, Alvaro menjadi memiliki niat, sengaja memanas-manasi Juni dengan menyuruh sekretaris untuk melakukan beberapa hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


"Apakah kamu sibuk pagi ini?" tanya Alvaro seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Tidak, Pak. Ada apa? Apakah ada yang perlu saya bantu?" tanya Shinta dengan lembut.


"Tolong buatkan kopi untuk saya ya!" titah Alvaro.

__ADS_1


"Kopi? Apakah Bu Darti tidak masuk? Biasanya tugas Bu Darti sebagai office girl membuatkan kopi untuk Pak Alvaro," ujar Juni yang merasa heran.


"Bu Darti atau pun Shinta semuanya sama saja. Lagi pula Shinta sedang tidak ada kerjaan, jadi apa salahnya membuatkan kopi untuk saya," ucap Alvaro.


"Tapi ... sepertinya Shinta sibuk, Pak. Biarkan saya saja yang membuatkan kopinya," ujar Juni yang tak membiarkan kekasihnya melakukan tugas tersebut.


"Jun, ada apa denganmu? Aku tidak menyuruhmu, aku menyuruh Shinta. Sebaiknya kamu kembali ke meja kerjamu dan urus pekerjaanmu saja," tegas Alvaro.


"Kata Pak Alvaro benar, sebaiknya Pak Juni melanjutkan pekerjaan saja. Biarkan saya yang membuatkan kopinya untuk Pak Alvaro," ujar Shinta menimbrung pembicaraan kedua pria tampan yang ada di hadapannya.


Juni sedikit kesal dengan perintah Alvaro. Dan ia juga merasa kesal karena Shinta yang mengiyakan perintah Alvaro begitu saja.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Juni memperlihatkan rahangnya yang tampak mengeras. Meskipun Juni bersikap sewajarnya, akan tetapi Alvaro bisa menebak bahwa sang asisten tengah marah, tetapi ia tahan.


Juni pergi meninggalkan kedua orang tersebut. Kini tinggal lah Shinta dan juga Alvaro yang ada di sana. Alvaro mengulum senyumnya, melihat Juni yang bersikap seperti itu. Bahkan pria tersebut menawarkan dirinya sendiri untuk membuat kopi, padahal tidak disuruh oleh Alvaro.


"Sepertinya kekasihmu marah padaku," celetuk Alvaro berbicara pada Shinta.


"Hah?!" Shinta terkejut, mendengar Alvaro menyebut Juni sebagai kekasihnya. Namun, mengingat Juni yang tak ingin hubungannya di ketahui oleh orang lain, membuat gadis tersebut mengelak.


"Bukan, Pak. Dia bukan kekasih saya. Kami hanya sebatas rekan kerja saja, tidak lebih," jelas Shinta.


"Benarkah?" selidik Alvaro yang masih memancing kejujuran dari Shinta.


"Iya Pak, benar. Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Juni. Masalah rumor kemarin, itu hanya omong kosong belaka," ujar Shinta yang kembali berbohong.


"Hehehe ... seseorang yang terlihat dekat belum tentu berpacaran, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu, hendak melaksanakan tugas yang Pak Alvaro perintahkan tadi," ujar Shinta berlalu dari hadapan Alvaro.


Gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya. Wajahnya memanas saat diinterogasi oleh atasannya secara mendadak.


"Ck! Lagi pula kenapa Juni berperan menjadi pahlawan kesiangan. Harusnya dia bersikap biasa saja. Bukankah dia sendiri lah yang meminta agar hubungan ini disembunyikan dari orang lain? Sungguh! Aku tidak mengerti dengan sikapnya yang selalu berubah-ubah," gerutu Shinta.


Sepeninggal Shinta, Alvaro masuk ke dalam ruangannya. Ia terkekeh geli karena dua pegawainya berusaha mati-matian menutupi hubungan mereka.


"Aku berharap, suatu saat nanti kalian kedapatan olehku. Dan tidak bisa ku bayangkan, ekspresi keduanya akan seperti apa," tutur Alvaro berjalan menuju meja kebesarannya.


.....


Drrrttt ....


Shinta baru saja menyelesaikan separuh tugas yang ada di layar komputernya. Atensinya teralihkan saat mendengar suara getaran ponsel yang ada di atas meja kerjanya.


Temui aku di tempat biasa. Aku ingin berbicara denganmu. Aku menunggumu.


Pesan singkat yang dikirimkan oleh Juni tersebut, membuat Shinta menghela napasnya. Juni pasti akan mempermasalahkan tentang perintah Pak Alvaro tadi.

__ADS_1


"Apakah dia merasa cemburu? Bukankah sah-sah saja jika Pak Alvaro memerintahku seperti itu. Lagi pula aku pegawainya. Membuat secangkir kopi saja tidak akan menghabiskan banyak tenaga," gerutu Shinta.


Tangan Shinta membalas pesan singkat yang dikirimkan oleh Juni. Gadis itu beralasan sibuk karena terlalu malas menemui pria tersebut.


Aku sibuk, bicara di rumah saja.


Setelah membalas pesan singkat itu, Shinta hendak kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, lagi-lagi suara ponselnya terdengar. Kali ini bukan hanya pesan singkat saja. Pria itu langsung meneleponnya saat Shinta mengabaikan pesan yang belum ia baca.


"Astaga ... dia ini kenapa? Selalu saja memaksakan kehendaknya. Untung saja aku cinta, kalau aku tidak cinta, sudah lama ku tinggalkan dia," ketus Shinta.


Temui aku sekarang, atau aku yang akan langsung menemuimu di sana.


Pesan singkat yang dikirimkan oleh Juni kali ini membuat Shinta memutar bola matanya dengan malas . Shinta melirik jam tangannya, sebentar lagi waktunya makan siang. Ia pun mengiyakan pesan Juni, dan berencana hendak menemui kekasihnya itu di tangga darurat.


Iya, aku akan ke sana.


Setelah membalas pesan singkat itu, Shinta langsung bersiap-siap untuk pergi menemui Juni. Tak lupa, membawa beberapa berkas dengan kertas kosong di tangannya, sebagai alasan jika nanti dirinya kedapatan dengan pegawai yang lain.


Shinta mengendap-endap, melihat ke kiri dan kanan. Saat suasana aman, gadis itu pun langsung masuk ke dalam pintu yang menghubungkan ke tangga darurat tersebut.


Shinta naik satu lantai, dan dia menemukan Juni yang tengah duduk di salah satu anak tangga dengan wajah sedikit tertekuk.


"Ada apa?" tanya Shinta yang sedikit ketus.


"Apakah kamu selalu mendapatkan tugas seperti itu dari Pak Alvaro?" tanya Juni.


"Tidak juga, baru sekarang ini. Lagi pula membuatkan kopi untuknya tidak akan membuat tenagaku terkuras habis," balas Shinta.


"Jika dia menyuruhmu seperti itu, katakan saja jika kamu banyak pekerjaan. Itu bukan tugasmu!" tegas Juni.


"Sebaiknya kamu tidak usah mencampuri urusan kantor dengan masalah percintaan. Kita memang sepasang kekasih, akan tetapi kamu tidak berhak mengaturku. Lagi pula jika kamu takut hubungan kita diketahui oleh orang lain, jangan membuatnya terlalu jelas," ujar Shinta yang tak mau kalah.


"Pantry ke ruangan Pak Alvaro cukup jauh. Aku tidak ingin tanganmu ketumpahan air panas dari kopi tersebut," balas Juni.


"Ck! Tetap saja, apapun yang terjadi, kamu harus bersikap biasa. Bukankah kamu sendiri lah yang menginginkan agar hubungan ini dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi?" tanya Shinta.


"Apakah kamu merasa cemburu pada Pak Alvaro? Hingga kamu marah-marah tak jelas seperti ini?" lanjut Shinta sedikit meninggikan nada bicaranya.


Brakkk ....


Mereka pun dikejutkan dengan suara yang berasal dari atas sana. Juni dan Shinta mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang ada di sana dan menjatuhkan sesuatu secara tiba-tiba.


Keduanya langsung membelalakkan mata, saat melihat siapa yang menampakkan diri di tingkat tangga paling atas.


"Maaf, karena tak sengaja mendengar pembicaraan kalian," ucapnya seraya menyunggingkan senyum.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2