Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 21. Ajaran Nenek


__ADS_3

Alvira saat ini tengah berada di food court bersama dengan Yeni. Seusai melihat-lihat pakaian anak-anak tadi, keduanya memutuskan untuk mengobrol lebih banyak lagi di tempat ini.


"Kenapa kamu menikah tidak mengundangku?" tanya Alvira menyesap jus jeruk yang dipesannya tadi.


"Kami tidak menggelar pesta besar-besaran. Hanya mengundang keluarga besar saja," timpal Yeni sembari mengulas senyumnya.


"Aku tidak tahu jika kamu menikah. Jika aku tahu, aku pasti akan menghadirinya," ucap Alvira.


Yeni tak merespon ucapan Alvira. Wanita tersebut memandang wajah anaknya yang berada dalam gendongannya.


"Oh iya, nama anakmu siapa?" tanya Alvira.


"Raffa," jawab Yeni singkat.


"Halo Rafa, nanti kalau dedek yang ada di perut Tante sudah lahir, kamu ke rumah Tante ya, ajak dedeknya main," ujar Alvira yang terlihat begitu senang dengan Rafa.


Yeni hanya menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyumnya. Ia menatap teman lamanya itu dengan cukup lama, lalu kemudian beralih menatap ke arah putranya.


Setelah cukup lama berbincang-bincang serta menghabiskan makanan yang mereka pesan, keduanya pun memilih untuk memutuskan kembali ke rumah masing-masing.


.....


Malam harinya, Arumi mengajak Fahri untuk datang ke rumah Alvaro, mendengar cucu kesayangannya itu sedang sakit, membuat mereka cemas.


Pasangan suami istri itu sudah berdiri di depan pintu. Arumi memencet bel yang ada di pintu tersebut. Namun, pandangannya sesekali menatap ke arah unit yang berseberangan dengan tempat tinggal Alvaro.


"Ada apa?" tanya Fahri bingung, sesekali pria tersebut mengikuti arah pandang sang istri.


"Tetangganya Varo, calon menantu kita, Mas." Arumi terkekeh geli sembari menutup mulutnya.


"Benarkah?" tanya Fahri memastikan.


"Benar. Si Varo masih jual mahal, makanya susah dapet istri," gerutu Arumi.


Tak lama kemudian, Alvaro pun membuka pintu. Pria itu menatap heran kedua orang tuanya, karena mereka saat ini tengah berdiri di depan pintu Alvaro, akan tetapi pandangan keduanya tertuju pada pintu rumah Rania.


"Papa dan mama mau bertamu di sini atau ke rumah tetangga sebelah?" celetuk Alvaro menanyai kedua pasutri yang telah dimakan usia itu.

__ADS_1


Fahri dan Arumi langsung berbalik menatap ke arah putra tampannya. "Mama hanya penasaran, dia sedang apa sekarang," ucap Arumi sembari tersenyum.


"Iya mana ku tahu. Lagi pula dia bukanlah urusanku," timpal Alvaro acuh yang memilih untuk melangkah lebih dulu ke dalam rumah. Menghindari pertanyaan-pertanyaan tentang tetangga depan rumahnya itu yang membuat pusing kepala.


"Lihatlah! Tingkah anakmu itu sangat mirip denganmu. Sok jual mahal yang akhirnya luluh juga," bisik Arumi pada suaminya. Wanita tersebut mengingat bagaimana ia mengejar Fahri dan menjadikanmu pria lima ratus jutanya dulu.


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Arumi melenggang masuk terlebih dahulu, meninggalkan suaminya.


"Tapi tetap saja, keras kepalanya sama seperti mu," balas Fahri yang tak ingin kalah dari istrinya. Pria itu ikut masuk ke dalam hunian putranya, dan menutup kembali pintu rumah itu.


Saat melihat kedatangan kakek dan neneknya, Bima tampak sangat senang. Bocah kecil itu langsung menghambur ke pelukan keduanya.


"Nenek khawatir, kata papa tadi Bima sakit gigi," ujar Arumi berjongkok mensejajarkan dirinya dengan tinggi cucunya itu.


Bima mengangguk, " Iya, Nek. Gigi belakang Bima sakit. Kata Bu dokter jangan terlalu banyak makan coklat ...." pria kecil itu berpikir, mengingat kembali larangan yang Rania ucapkan pagi tadi.


"Ah iya, jangan terlalu banyak makan permen juga. Terus harus sikat gigi sebelum tidur," sambungnya.


"Bima harus menuruti apa kata Bu Dokter. Nenek dan Kakek sangat sedih mendengar Bima sakit." Kini Fahri lah yang membuka suara. Tangan pria itu mengusap puncak kepala cucunya.


"Sudah tidak lagi, Nek. Tadi Bima sudah minum obat yang diberikan oleh dokter. Gigi Bima sudah sembuh," racau pria kecil tersebut.


"Ah iya, Bima mau cerita sama nenek dan kakek," ucapnya lagi.


"Cerita apa, Cucuku?" tanya Fahri yang mulai memasang telinganya, karena faktor usia, pendengarannya saat ini sedikit bermasalah.


Bima menarik tangan kakek dan neneknya, mengajaknya untuk duduk di sofa.


Sementara Alvaro, hanya menatap tingkah putra semata wayangnya sembari menggeleng-gelengkan kepala. Dia bisa menebak, tentang apa yang hendak diceritakan oleh putranya itu pada kedua orang tuanya. Tentu saja pembahasannya tentang tadi pagi, Rania yang mengobati giginya, hingga ia meminta untuk menjadikan Rania sebagai pengganti ibunya.


Ketiganya saling merapat, mendengarkan Bima dengan seksama, seperti ibu-ibu komplek yang tengah menggosipkan sesuatu.


"Benarkah?" tanya Arumi begitu terkejut mendengarkan berita dari Bima. Wanita itu langsung mengarahkan pandangannya pada Alvaro.


"Varo, sudah saatnya kamu mengejar tetanggamu. Bima merestuimu kali ini," ujar Arumi pada putranya itu.


Alvaro menghela napasnya, lalu kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. "Ma, sudah berapa.eanuta yang diberikan restu oleh Bima. Aku sudah banyak mengencani wanita yang ia berikan restu, dan pada akhirnya, Bima kembali memilih orang yang baru. Ucapan anak kecil jangan terlalu di dengarkan," bantah Alvaro.

__ADS_1


Bima yang mendengar ucapan Alvaro pun langsung mencebikkan bibirnya. Perlahan air mata pria tersebut jatuh membasahi pipi gembulnya.


"Nak, papa tidak bermaksud menyakitimu, Sayang."


"Papa jahat! Papa tadi sudah janji ingin mengabulkan permintaan Bima!" Bima beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian berlari ke kamar. Pria kecil tersebut mengurung diri di kamar.


Melihat cucunya merajuk, Fahri mencoba untuk menemui Bima. Sementara Alvaro saat ini tengah diceramahi oleh ibunya.


"Varo, apa susahnya kamu mewujudkan keinginan Bima. Sedari awal ku sudah berjanji, jika Bima lah yang memberikan penilaian untuk calon istrimu kelak. Sekarang, Bima sudah memilih Rania untuk menjadi ibunya di antara wanita-wanita yang kamu temui sebelumnya. Apa salahnya jika kamu mewujudkan keinginan anakmu itu!" geram Arumi, memarahi putra semata wayangnya.


"Ma, menikah itu bukanlah sesuatu yang mudah. Tidak seperti membalikan telapak tangan," sanggah Alvaro.


"Lagi pula, gadis itu tidak menyukaiku ...."


"Tidak ada salahnya kamu yang mengejarnya!" tukas Arumi memotong ucapan Alvaro.


"Apa?!" Alvaro menatap ibunya tidak percaya.


"Iya, kamu kejar gadis itu. Buat dia menyukaimu. Asal ku tahu, wanita itu seharusnya diperjuangkan. Pada hakikatnya, kami para wanita itu dikejar, bukan mengejar!" Arumi sedikit menaikkan nada bicaranya, membuat Alvaro tak lagi menjawab ucapan dari wanita yang telah melahirkannya itu.


"Pikirkan Bima, kasihan dia. Dia membutuhkan sosok seorang ibu. Kamu jangan egois karena menuruti kehendakmu saja. Kasih sayang dari kamu saja belum cukup untuknya." Arumi mencoba berbicara lembut pada Alvaro.


"Baiklah, akan aku pertimbangkan," timpal Alvaro seusai mendengarkan nasihat dari ibunya.


Sementara di dalam kamar, kedua pria berbeda generasi tersebut terlihat mengintip, menatap ke arah Arumi. Saat Alvaro lengah, Arumi mengacungkan ibu jarinya, memberikan kode bahwa Alvaro menyetujui permintaan Bima.


"Bagaimana Kek? Apakah papa setuju?" tanya Bima dengan suara yang pelan.


"Sepertinya papamu menyetujuinya," timpal Fahri yang masih mengawasi keduanya.


"Ternyata yang diajarkan nenek ada baiknya, meskipun hanya pura-pura menangis, tapi papa langsung menyetujuinya," ujar Bima.


"Itu lah nenekmu. Padahal kamu masih kecil, sudah diajarkan untuk berbohong," keluh Fahri.


"Maafkan aku Papa, karena telah berbohong pada papa. Dan terima kasih nenek, karena telah mengajariku untuk membohongi papa," celoteh pria kecil tersebut yang membuat Fahri menepuk keningnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2