
"Nenek, .... kue coklat yang nenek bawa sudah habis," ujar Bima sembari mengangkat toples yang telah kosong.
"Sudah habis ya? Kalau begitu nanti nenek buatkan lagi ya," ucap Bu Isna.
"Iya, Nenek. Bima sangat suka kue buatan nenek," ujar anak laki-laki tersebut tampak sangat antusias.
"Tapi Bima jangan lupa untuk sikat gigi ya, Sayang. Supaya gigi Bima tidak berlubang. Nanti kalau berlubang, gigi Bima pasti akan sakit," ucap Bu Isna.
"Iya, Nek. Bima selalu sikat gigi. Mama sering bilang ke Bima, kalau gigi Bima bersih, gigi Bima tidak berlubang, nanti senyum Bima pasti akan menawan," jelas anak laki-laki berambut ikal tersebut.
"Nah! Itu Bima tahu. Oh iya, ngomong-ngomong, mama Bima kemana?" tanya Bu Isna yang sedari tadi tak melihat keberadaan putrinya.
"Tadi mama bilang mau ke kamar mandi, Nek." Bima menimpali. Ia juga heran, jika hanya ke kamar mandi saja, mengapa ibunya sangat lama sekali.
Bu Isna pun panik, ia segera beranjak dari tempat duduknya. Begitu pula dengan Bima. Semula nenek dan cucu itu tengah bercerita di ruang tengah. Namun, mereka pun segera menuju ke kamar untuk menyusul Rania.
Di waktu yang bersamaan, Rania tengah terduduk sembari memegangi perutnya. Wanita tersebut melihat darah yang sudah mengalir di serang kakinya.
"Tolong ...." Rania berusaha untuk meminta tolong, akan tetapi suaranya tercekat karena menahan sakit yang luar biasa. Di tambah lagi dengan orang-orang yang tak berada di dalam kamarnya, membuat suara wanita tersebut tak terdengar oleh siapa pun.
"Tolong ... arghhh ...." Rania berusaha untuk bangun, akan tetapi ia benar-benar tak sanggup. Di dalam kamar mandi, ia memekik sendiri, menahan rasa sakit yang benar-benar luar biasa.
Tak lama kemudian, Rania mendengar suara dari arah luar. Langkah kaki yang tampak tergesa-gesa mendekat ke arah pintu kamar mandi.
"Rania ... Rania ... kamu tidak apa-apa kan, Nak?" tanya Bu Isna sembari menggedor-gedor pintu. Ia merasa sangat khawatir karena sedari tadi Rania tak kunjung keluar dari kamar mandi tersebut.
"Ma .... hiks, tolongin Rania, Ma. Rania kesakitan!" seru Rania dari dalam.
"Kesakitan?" gumam Bu Isna.
Bu Isna semakin menggedor-gedor pintu tersebut. Ia mencoba mendobrak pintu, akan tetapi karena kekuatannya sudah lapuk dimakan usia, membuat wanita itu tak dapat membuka pintu tersebut.
Melihat neneknya yang panik, serta ibunya yang meminta pertolongan di dalam, membuat Bima pun memiliki inisiatif untuk memanggil orang lain, meminta pertolongan.
__ADS_1
Bima bergegas keluar dari kamar ibunya. Ia berlari, lalu kemudian terhenti tepat di depan anak tangga. Rasa traumanya untuk turun dengan cepat di tangga, belum hilang sempurna. Namun, anak laki-laki itu memejamkan matanya, dan berusaha untuk meyakinkan diri, bahwa ia harus segera menolong ibunya.
Bima pun mulai menginjakkan kakinya di anak tangga tersebut. Ia berusaha lebih cepat untuk turun dari sana, hingga akhirnya ia pun tiba di anak tangga paling terakhir.
"Bima, bukankah sudah kakek katakan untuk tidak berlarian saat menuruni anak tangga," tegur Pak Hendrawan yang melihat cucunya tampak berlarian.
"Kakek, mama ...."
"Mama kenapa, Sayang?" tanya Pak Hendrawan mengerutkan keningnya.
Tak lama kemudian, ia mendengar suara Bu Isna yang baru saja keluar dari kamar putrinya. Wanita tersebut terlihat sesegukkan sembari bersuara dengan keras.
"Mas, Rania di kamar mandi Mas! Anak kita meminta pertolongan!" seru Bu Isna.
Mendengar hal tersebut, membuat Pak Hendrawan pun bergegas menuju ke atas, untuk menyelamatkan putrinya yang sedang dalam keadaan darurat.
Bima menatap kakeknya yang sudah berjalan menaiki anak tangga. Saat anak laki-laki itu berbalik, ia mendapati Pak Darman yang baru saja hendak masuk ke dalam rumah, untuk meletakkan cangkir kopinya yang telah kosong.
"Pak, bisakah menolong mamaku di atas? Mama sedang menangis kesakitan di kamar mandi," ujar Bima dengan suara yang bergetar.
Mendengar hal tersebut, Pak Darman pun langsung meletakkan cangkir kopinya di meja depan terlebih dahulu, lalu bergegas naik untuk membantu. Bima, anak laki-laki itu kembali ke atas setelah di rasa kali ini sudah banyak yang ikut menolong.
Di dalam sana, terlihat pintu kamar mandi telah terbuka. Pak Darman dan Bu Isna pun langsung masuk, mendapati anak perempuannya yang tengah terduduk sembari menangis tersedu memegangi perutnya.
"Pa, anak kita mau melahirkan," ujar Bu Isna.
"Kalau begitu, ayo! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!" ucap Pak Hendrawan yang berusaha mengangkat Rania. Melihat hal tersebut, Pak Darman pun segera turun untuk menyiapkan mobil.
Bu Isna sedari tadi melihat suaminya tampak berusaha mengangkat Rania. "Ada apa, Pa?" tanya Bu Isna.
"Putri kita cukup berat, Ma." Pak Hendrawan pun menimpali ucapan Bu Isna.
Di sela-sela kesakitan yang ia rasakan, Rania tak bisa menahan tawanya sembari sesegukkan mendengar ucapan sang ayah bahwa dirinya cukup berat.
__ADS_1
"Kalau berat, telepon Mas Varo saja, Ma. Doa pasti akan langsung pulang," ujar Rania.
Bima kembali memiliki inisiatif itu. Ia segera mengambil ponsel yang biasa ia gunakan untuk bermain game atau pun menonton video. Menekan tombol 1 yang dengan cepat langsung terhubung ke nomor ayahnya.
"Halo, Nak. Ada apa?" terdengar suara Alvaro menyambut telepon putranya dengan nada suara yang lembut.
"Pa, mama mau melahirkan," ucap Bima yang mencoba mengingat ucapan sang nenek sebelumnya.
"Melahirkan? Baiklah. Papa akan segera pulang."
Alvaro langsung menutup teleponnya saat mendengar kabar tersebut dari putranya itu.
Di waktu yang bersamaan, Pak Hendrawan masih kekeuh untuk menggendong putrinya.
"Tidak ada waktu lagi, Nak. Papa pasti kuat untuk meng ... ngangkat mu," ujar Pak Hendrawan setelah berhasil menggendong putrinya.
Ia pun langsung bergegas membawa Rania keluar dari kamar tersebut.
"Hati-hati, Pa!" Tegur Bu Isna memperingatkan kepada sang suami untuk lebih berhati-hati.
Pak Hendrawan berhasil menuruni anak tangga dengan penuh hati-hati. Ia pun segera menuju ke luar, melihat mobil yang sudah disediakan oleh Pak Darman.
Pak Darman membuka pintu mobil tersebut, pak Hendrawan pun mendudukan Rania tepatnya di kursi penumpang. Bu Isna menggandeng Bima, mengajak cucunya untuk masuk ke dalam mobil. Sementara Pak Hendrawan, ia duduk di kursi depan.
Rasa panik pun menyelimuti semua orang, melihat Rania yang sedari tadi memegang perutnya sembari meringis kesakitan, membuat Pak Hendrawan sedikit mendesak Pak Darman untuk mempercepat laju kendaraannya. Namun, Bu Isna melarangnya karena jika Pak Darman gugup, maka hal tersebut membahayakan semua orang yang ada di dalam mobil tersebut.
Sementara Bima, ia sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia merasa ngeri dan juga kasihan, melihat ibunya yang benar-benar tampak kesakitan.
"Ternyata melahirkan anak bayi itu sangat menyakitkan. Mamaku, sedari tadi menangis terus tak berhenti," batin Bima.
Bersambung ...
Gengs, kemarin aku ulang tahun loh😌 kali aja ada yang mau traktir kembang atau pun kopi buat akuðŸ¤
__ADS_1