Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 53. Rumit


__ADS_3

Keesokan harinya, Alvaro telah menyiapkan sarapan. Pria itu memasak makanan kesukaan Rania, yaitu sup kepiting jagung. Setelah meletakkan semuanya di atas meja, Alvaro berjalan menuju keluar, hendak memanggil tetangganya itu. Menagih hutangnya yang kemarin.


"Pa, mau panggil Bu Dokter?" tanya Bima. Alvaro langsung menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan.


"Ikut, Pa." Bima berjalan menghampiri ayahnya, menggenggam tangan Alvaro. Kedua pria berbeda generasi tersebut langsung berjalan keluar dari rumahnya.


Alvaro dan Bima berada di depan unit Rania. Alvaro menekan Bel, tak lama kemudian Bu Isna membukakan pintu untuk mereka.


"Selamat pagi, Bu." Alvaro menyapa Bu Isna.


"Iya, Pagi. Ada apa, Nak? Cari Rania ya?" tanya Bu Isna tanpa berbasa-basi lagi.


Alvaro menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Bu Isna. "Saya ingin mengundang Bu Isna dan Rania untuk sarapan bersama," jelas Alvaro.


"Oh, tunggu sebentar ya. Ibu panggilkan Rania dulu. Kalian silakan masuk!" Bu Isna membuka pintunya lebar-lebar, mempersilakan kepada kedua tamunya itu untuk masuk ke dalam.


Alvaro kembali menganggukkan kepala. Ia masuk ke dalam rumah tersebut. Sementara Bu Isna, menuju ke kamar Rania untuk memanggil putrinya.


"Ada apa, Ma?" tanya Rania saat melihat ibunya masuk ke dalan kamar.


"Cepatlah pakai riasanmu! Ada seseorang yang menunggumu di depan. Tamu yang sangat penting," ujar Bu Isna yang tampak antusias.


"Siapa?" tanya Rania.


"Kamu lihat sendiri saja," jawab Bu Isna.


Rania pun meletakkan kembali bedak yang ia pakai, lalu kemudian mengaplikasikan lipstik ke bibir ranumnya. Gadis itu langsung beranjak dari tempat duduknya, dan kemudian berjalan menuju keluar kamar.


Saat ia berjalan ke ruang tengah, Rania berdecak sebal karena tamu yang dimaksudkan oleh ibunya itu tak lain adalah tetangganya sendiri.


"Tamu penting apaan!" gerutu Rania.


Gadis itu hendak kembali ke kamarnya, akan tetapi dengan cepat Bu Isna menarik tangan Rania dan membawanya untuk menemui Alvaro.


"Setidaknya hargai dia! Jangan sok jual mahal! Untung saja dia tertarik padamu yang kurus dan lurus seperti papan triplek," ujar Bu Isna yang mencecar anaknya.


Rania menghela napasnya, memutar kedua bola matanya dengan malas. Gadis itu pasrah dibawa oleh ibunya sendiri.


"Mau sarapan bersama kan?" tanya Bu Isna.


Alvaro kembali menganggukkan kepalanya. Bu Isna pun sedikit mendorong anaknya ke arah Alvaro, membuat Rania jatuh ke dalam pelukan pria tersebut.

__ADS_1


"Mama!" protes Rania, akan tetapi Bu Isna tidak menghiraukan ucapan putrinya.


"Kalian sarapanlah! Ibu sudah membuat makanan," ujar Bu Isna seraya tersenyum.


"Bima," panggil Bu Isna pada pria kecil uang ada di samping Alvaro.


"Iya, Nenek." Bima menimpali ucapan Bu Isna.


"Nenek buat cake coklat, apakah Bima mau?" tawar Bu Isna. Bima mengangguk, bak kucing yang dipancing dengan ikan segar.


"Kalau begitu, Bima sarapan dengan nenek ya. Biarkan Tante dan papamu sarapan bersama," ujar Bu Isna.


Bima melirik ke arah ayahnya sejenak, seolah meminta izin kepada sang ayah melalui tatapan mata saja. Alvaro yang mengerti akan kemauan anaknya pun langsung mengangguk setuju. Ia bersyukur, karena Bu Isna benar-benar pengertian, memberikan waktu pada mereka hanya berdua saja.


Rania berdecak sebal. Bagaimana tidak? Ibunya seolah sangat merestui dirinya dengan Alvaro. Ditambah lagi dengan memancing Bima dengan menawarkan cake coklat, yang membuatnya harus berduaan menikmati sarapan bersama dengan Alvaro.


"Kalian pergilah sana! Makanlah sarapan kalian, nanti dingin. Mama dan Bima akan sarapan di sini saja," ujar Bu Isna yang langsung membawa Bima menuju ke meja makan.


"Ayo!" ajak Alvaro.


Dengan raut wajah yang masam, Rania pun mengikuti langkah kaki Alvaro dengan gontai. Masuk ke dalam rumah tetangganya itu. Alvaro menarikkan kursi untuk Rania. Gadis tersebut langsung menjatuhkan bokongnya di kursi itu, tanpa mengucapkan apapun.


Rania tak menghiraukan ucapan Alvaro. Gadis itu bersedekap, menatap Alvaro dengan tatapan tajamnya.


"Bisakah kamu berhenti melakukan hal seperti ini? Aku bahkan berpikir kamu sedikit mempermainkan aku karena sikapmu yang seperti ini," tutur Rania yang mencoba untuk memberitahukan kepada pria di hadapannya, kekesalan yang dirinya rasakan saat ini.


"Aku tidak mempermainkanmu," timpal Alvaro singkat, yang sibuk menyantap hidangan di hadapannya.


"Jika memang tidak mempermainkanmu? Lantas apa semua ini? Kamu tahu, wanita akan luluh dengan perhatian-perhatian kecil seperti ini," tukas Rania.


Alvaro meletakkan alat makannya, lalu kemudian mencoba menatap ke dalam manik mata Rania. Mata keduanya bertemu pandang, membuat Rania sedikit kikuk dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Berhenti menatapku seperti itu!" gerutu Rania yang tak berani menatap mata Alvaro. Tatapan pria tersebut sedikit tajam, akan tetapi membuat jantungnya berdebar tak karuan.


"Kita akan lanjutkan obrolan kita, tapi bisakah untuk menikmati makanannya terlebih dahulu? Tidak sopan ribut saat makan," ujar Alvaro.


Kali ini, Rania menuruti ucapan Alvaro. Gadis itu mulai mencicipi hidangan yang tersaji di atas meja. Melihat Rania yang menurut, membuat Alvaro tersenyum samar. Dan mereka pun menikmati sarapannya dengan tenang.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Alvaro membereskan piring kotor, lalu meletakkannya di wastafel. Rania turut serta membantu, karena tidak mungkin jika ia hanya bisa menyaksikan saja. Gadis itu masih meminta penjelasan dari tetangganya yang bungkam itu.


"Bisakah aku mendapatkan jawaban atas pertanyaanku tadi?" tanya Rania.

__ADS_1


"Nanti kamu akan mendapatkan jawabannya," celetuk Alvaro.


"Hah?!" Rania tercengang.


"Kamu benar-benar ...." Rania kesal, gadis itu menghentakkan kakinya sebelah, lalu kemudian mempercepat langkahnya, meletakkan piring kotor tersebut dan memilih pergi meninggalkan Alvaro.


Rania berharap Alvaro akan menahannya, akan tetapi dirinya seakan hanya berharap dengan sebuah batu besar, yang tak akan melakukan apapun. Dan hal itu kembali membuat Rania menjadi bertambah kesal.


Alvaro hanya bisa menatap punggung Rania yang semakin lama semakin menjauh. Pria itu menundukkan pandangannya, seolah bingung antara ingin mengejar atau membiarkan gadis itu pergi begitu saja.


"Kamu benar-benar seorang pengecut, Varo." Pria itu bergumam, meletakkan piring kotor yang ada di wastafel, membiarkan piring itu dicuci oleh pelayan yang akan datang ke apartemennya sebentar lagi.


Alvaro pun bersiap pergi ke kantor, membawa tas anaknya, melangkah keluar dari huniannya itu.


Alvaro menemui Bima di rumah Rania. Pria kecil itu sudah berada di depan pintu bersama dengan Bu Isna. "Terima kasih atas makanannya, Nenek." Pria kecil tersebut berucap sembari memperlihatkan gigi susunya.


"Sama-sama, Sayang. Lain kali, kalau nenek ada di sini, Bima mau kan menemani nenek sarapan lagi?" tanya Bu Isna. Dengan cepat Bima pun menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, saya dan Bima berangkat dulu, Bu."


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan."


Alvaro menyalami Bu Isna, membuat wanita itu terenyuh akan sikap sopan yang ditunjukkan oleh Alvaro. Menambah nilai plus di mata Bu Isna akan kesopanan yang ditunjukkan oleh duda anak satu itu.


"Tampan, kaya, sopan lagi. Kamu harus menjadi menantuku. Aku akan membujuk putriku sampai dia benar-benar mau. Putriku yang bodoh, mau cari laki-laki seperti apa lagi. Sedangkan yang di depan mata sudah bisa dikatakan sempurna," batin Bu Isna.


Bu Isna tersenyum melihat Alvaro dan Bima secara bergantian. Kedua pria berbeda generasi itu pun mulai melangkahkan kakinya, pergi dari hadapan Bu Isna.


Sesekali Bima menengok ke belakang, membuat Bu Isna melambaikan tangannya menatap pria kecil itu. Sementara Bima tersenyum manis, seraya membalas lambaian tangan Bu Isna.


Mereka memasuki lift. Bima langsung mendongak menatap papanya. "Di mana Bu Dokter, Pa?" tanya Bima menatap ayahnya.


"Bu Dokter sudah pergi terlebih dahulu," timpal Alvaro.


"Apakah papa dan Bu Dokter bertengkar?" tanya Bima lagi.


Alvaro hanya menanggapi ucapan putranya itu dengan tersenyum.


"Ternyata, orang dewasa itu sangat rumit," gumam pria kecil itu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2