
Juni dan Shinta saat ini kembali menempati kursi panjang tadi. Keduanya menjatuhkan bokongnya di kursi tersebut. Juni menyerahkan kantong belanjaannya tadi, mengambil air mineral dan juga kopi yang menjadi pilihannya tadi.
"Kamu minum kopi, terus minum air mineral juga?" tanya Shinta menatap Juni sembari menahan tawanya karena merasa geli dengan keanehan Juni kali ini.
"Aku tidak bisa meminum kopi tanpa air putih. Rasanya agak sedikit nyangkut di tenggorokan dan itu menggangguku," jawab Juni membuka kaleng minumannya.
"Sebenarnya aku sudah membuat kopi tadi, akan tetapi setelah melihatmu berjalan sendirian, aku meninggalkan kopiku yang belum tersentuh sama sekali," ungkap Juni sembari menenggak minumannya itu. Pria tersebut menyeka sudut bibirnya yang sedikit basah.
"Jadi kamu membiarkan kopimu dingin begitu saja?" tanya Shinta sembari terkekeh.
"Tak mengapa kopiku menjadi dingin. Asalkan jangan sikap wanitaku yang dingin. Aku tidak menyukai hal itu dan tentunya akan mengganggu keseharianku," ujar Juni.
"Dasar Juni lebay!" ejek Shinta.
"Lebaynya Juni karena siapa?" tanya pria itu menatap kekasihnya.
"Karena Shinta," timpal gadis tersebut menunjuk dirinya, memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Shinta membuka minumannya, lalu kemudian mengambil salah satu makanan ringan, rasa kentang yang merupakan camilan favoritnya.
"Jun, bagaimana jika nanti kita terpisah," ujar Shinta yang mencoba mencari topik pembicaraan.
"Jangan mengatakan hal itu, aku tidak mau membahasnya. Kita tidak akan berpisah, Shinta. Aku cinta kamu, dan aku akan menghindari permasalahan diantara kita. Intinya kita jangan sampai pisah, titik!" tegas Juni.
Sebenarnya Shinta sengaja membuka topik pembicaraan tersebut. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Juni. Namun, setelah melihat respon dari Juni, sepertinya Shinta lebih baik mengurungkan niatnya itu.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Apakah kamu berniat meninggalkan aku? Atau ... kamu sudah tertarik pada pria lajang yang lainnya, yang ketampanannya berada di bawahku?" tanya Juni yang masih dengan penuh percaya dirinya menyebut bahwa dia adalah pria tertampan di muka bumi ini.
"Haha iya ... iya ... kamu memang paling tampan. Tidak ada yang bisa menandingi ketampanan seorang Juniarta Bastian," ujar Shinta sembari mengulum senyumnya.
"Tentu saja. Tidak ada yang bisa mengalahkan ketampananku meskipun aku adalah seorang duda," balas pria tersebut yang masih membanggakan dirinya sendiri.
Shinta hanya mencebikkan bibirnya mendengar ucapan kekasihnya itu. "Iya kan saja, biar kamu senang," celetuk Shinta.
"Memang kenyataannya, Shin."
"Iya Juni, iya! Nih, supaya tidak mengoceh terus," ucap Shinta mengambil camilan yang ada di tangannya, lalu kemudian menyuapkan makanan tersebut ke mulut kekasihnya itu. Menyumpalnya agar tidak berbicara meninggi lagi.
"Langit kok tidak ada bintangnya sama sekali ya?" tanya Juni dengan mulut yang penuh. Mencoba mengubah topik pembicaraan.
__ADS_1
"Biasanya kalau tidak ada bintang di malam hari, itu tandanya akan turun hujan," timpal Shinta.
"Kalau begitu, mau pulang sekarang?" tanya Juni.
"Nanti saja. Lagi pula kan tempat tinggal kita tidak jauh dari sini. Nanti kalau hujan tinggal lari lagi saja," ujar Shinta.
"Masih sanggup lari?" tanya Juni.
"Sanggup tak sanggup masih disanggupin," timpal Shinta terkekeh.
Mereka pun kembali terdiam, sibuk dengan lamunannya masing-masing. Menikmati makanan atau pun minuman yang ada. Mata mereka menangkap sepasang suami istri yang tampak tengah berjalan kaki sehabis berbelanja di minimarket tadi.
Mereka saling menggenggam tangan anaknya, berjalan bersama disertai dengan tawa dan canda.
"Kamu tahu, apa yang paling aku inginkan di dunia ini?" tanya Juni.
"Apa?" Shinta menatap kekasihnya dengan seksama, menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir pria itu.
"Yang paling aku inginkan di dunia ini adalah sebuah keluarga. Terkadang, aku merasa iri dengan orang-orang yang mengandeng tangan anaknya sembari tertawa bersama dengan keluarga kecilnya. Karena seusiaku dulu, aku tidak pernah merasakan hal itu," papar Juni.
"Dulu, saat bertemu dengan Sela, aku merasakan kehangatan akan cinta yang terpancar dari wanita itu. Dia membawaku, memperkenalkan ku dengan keluarganya, membuatku merasa benar-benar bahagia. Beberapa bulan berpacaran dengannya, aku langsung menikahinya, karena saat itu modalku sudah cukup untuk menikahi Sela. Tentunya dengan mahar yang tak membuat harga dirinya jatuh," ucap Juni mengenang masa-masa lalu.
"Saat Sela meninggalkan aku, duniaku kembali hancur. Semuanya runtuh seketika. Satu tahun kami menjalani pernikahan ini, tak ada adu mulut sama sekali. Namun, aku memang sedari awal merasa aneh dengan tingkah istriku, yang tiba-tiba meributkan suatu hal yang menurutku itu agak tidak masuk akal. Tetapi ... memang salahku juga yang tidak jujur padanya hingga membuat kecurigaan itu muncul," jelas Juni panjang lebar.
Shinta hendak menepuk punggung kekasihnya itu. Akan tetapi, ia sadar, jika tangannya sedang kotor terkena bumbu camilan tadi. Membuat gadis itu pun mengelap tangannya di celana sejenak, lalu kemudian menepuk pelan belakang Juni.
"Shin ...."
"Iya, Jun."
"Tadi itu kamu lap tangannya di celana?" tanya Juni.
"Iya, tadi kotor jadi aku lap sebentar di celanaku, laku kemudian menepuk bahumu," jelas Shinta.
"Itu sekalian juga kan ?" tanya Juni.
"Sekalian apanya Jun?" Shinta mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu. Namun, sesaat kemudian, ia paham apa yang dimaksudkan oleh Juni.
"Ah iya, sekalian. Tuh, lihat! Bajumu terkena bumbunya. Hahaha ...." Shinta tertawa keras, ia sengaja mengerjai Juni seperti ini. Tujuannya agar pria tersebut tak terlalu lama berlarut dalam kesedihannya.
__ADS_1
"Tuh kan Shinta. Bajuku jadi bau barbeque gara-gara kamu," ujar Juni menarik sedikit bajunya, melihat ada noda atau tidak di bajunya itu.
"Cuma sedikit, Jun. Tidak banyak. Nanti aku cuci deh!" ucap Shinta.
Juni pun langsung mengembangkan senyumnya, menatap gadis yang ada di sampingnya itu. "Duh, baik sekali calon istriku," celetuk Juni.
"Calon istri ... calon istri ... kapan mau diresmikan?" ujar Shinta mengerucutkan bibirnya.
"Sabar ya, Sayang. Tunggu aku ada cukup uang, setelah itu kita menikah."
"Pernikahan yang sederhana saja, Jun. Tidak usah yang terlalu mewah," ucap Shinta.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku sanggup kok! Lagi pula ini kan momen seumur hidup. Kan sudah aku katakan sebelumnya, kalau aku ingin membuat orang tuamu, dan kamu bahagia." Juni berucap pada kekasihnya itu, membelai rambut Shinta dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku takut jika orang tuamu tidak bisa menerimaku, Shin. Karena statusku seorang duda, sedangkan kamu masih menjadi seorang gadis," ujar Juni.
"Orang tuaku tidak seperti itu, Jun. Mereka ikut bahagia asalkan putrinya bahagia. Lagi pula, buat apa menjalin hubungan dengan seorang perjaka jika mereka tak bisa membuatku senang. Tentunya, aku akan lebih memilih hidup bersama duda yang satu ini saja. Duda yang memiliki ketampanan yang luar biasa di muka bumi," ucap Shinta panjang lebar, membuat Juni pun terkikik geli mendengar akhir kalimat itu.
Padahal, kalimat itu berawal dari dirinya. Entah mengapa saat Shinta yang mengucapkannya, membuat Juni merasa tergelitik.
"Jun sebenarnya aku ...." Shinta ingin jujur akan masalah rencana kepindahannya itu. Namun, tiba-tiba saja hujan turun, membuat ucapan Shinta pun langsung terpotong.
Juni langsung melepaskan jaket yang dikenakannya, laku kemudian mengajak Shinta untuk pergi dari tempat itu.
Mereka sedikit berlarian kecil meninggalkan kursi panjang tersebut. Shinta memeluk kantong plastik yang berisikan cemilan yang mereka beli tadi. Tak ingin meninggalkannya begitu saja.
Setelah cukup lama berlarian, akhirnya kedua pasangan sejoli itu pun memasuki area gedung apartemen. Keduanya berteduh dan sedikit mengeringkan pakaiannya.
"Tadi ... kamu ingin mengatakan apa?" tanya Juni.
"Yang tadi? Entahlah! Aku melupakannya," ujar Shinta sembari mengendikkan bahunya. Bukan melupakan, lebih tepatnya ia tak sanggup melihat raut wajah sedih kekasihnya itu jika dia berterus terang.
" Kalau begitu, sebaiknya kita masuk dan tidur. Lagi pula bajumu juga sangat basah," ajak Shinta melihat Juni yang tampak basah kuyup karena pria tersebut melepaskan jaketnya untuk melindungi Shinta.
"Baiklah," timpal Juni.
Kedua orang itu pun berjalan masuk ke dalam lift. Setelah itu pulang ke unit masing-masing untuk mengganti pakaian mereka yang basah akibat terkena air hujan.
Bersambung ....
__ADS_1