Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 186. Berterus Terang


__ADS_3

Sore itu, Rania dan juga Bima tengah duduk di depan teras. Rania merangkul putra sambungnya, sesekali mengusap bahu Bima dengan lembut.


"Ma, apakah besok Bima sudah bisa masuk sekolah? Lama di rumah membuat Bima merindukan suasana sekolah," ucap anak laki-laki itu.


"Tapi kan Bima belum benar-benar sembuh, Nak." Rania menatap putranya dengan khawatir.


"Bima sudah merasa sembuh, Ma."


"Jahitan di kepala Bima masih basah, Nak. Tunggu sedikit mengering ya. Mama takut, Bima nanti main bersama teman-teman Bima dan lukanya kembali berdarah," ujar Rania.


"Baiklah, Ma." Bima memilih untuk menuruti ucapan ibunya. Tidak ingin jika sesuatu yang tak diinginkan kembali terjadi.


"Asalkan Bima rutin minum obatnya, pasti lukanya akan cepat sembuh," ucap Rania memberikan nasihat pada putranya. Bima pun menanggapi ucapan ibunya itu dengan menganggukkan kepala.


Tak lama kemudian, ponsel Rania berbunyi. Ia melihat layar menyala tersebut, melihat kontak yang dinamai ' Mama' tertera di layar. Rania pun langsung menerima panggilan tersebut.


"Halo, Nak." Terdengar suara Bu Isna dari seberang telepon.


"Halo, Bu," Rania menimpali ucapan ibunya.


"Mama mendapat kabar dari besan, kalau kemarin Bima jatuh dari tangga," ucap Bu Isna dengan nada yang terdengar khawatir.


"Iya, Ma. Bima tergelincir di tangga saat hendak berjalan ke arahku," jelas rania.


"Ya ampun, cucuku ... Lalu bagaimana kondisi Bima sekarang, Nak?"


"Bima sudah agak mendingan. Hanya mendapat luka ringan di bagian kepala saja," tutur Rania.


"Kenapa kalian tidak memberitahukan kabar ini pada mama. Setelah mendengar cerita dari besan tadi, jantung mama serasa hendak loncat dari tempatnya. Lain kali jika terjadi apapun, beritahukan juga pada kami di kampung. Kejadian seperti ini jangan sampai terulang lagi," ujar Bu Isna memberi peringatan kepada putrinya.

__ADS_1


"Iya, Ma. Maafkan Rania dan juga Alvaro karena tak memberitahukan hal ini pada mama dan papa," ucap Rania. Ia sengaja tak memberitahukan hal ini sampai ke kampung karena takut jika nanti orang tuanya merasa khawatir.


Namun, memang yang dilakukan oleh Rania adalah hal yang salah. Bagaimana pun keadaannya, keluarga jauh harus tahu cerita tersebut. Setidaknya mereka telah berterus terang dengan apa yang terjadi.


"Ma, Bima ingin berbicara dengan nenek," bisik Bima menyenggol lengan Rania.


Rania menganggukkan kepalanya, " Ma, Bima ingin berbicara dengan mama," ucap Rania.


"Mana cucuku? Berikan ponselmu padanya," ujar Bu Isna.


Rania pun menyerahkan ponsel pintarnya pada putranya. Bima tersenyum, ia langsung menempelkan benda pipih tersebut di salah satu daun telinganya.


"Nenek," panggil Bima dengan nada yang sedikit merengek. Tampaknya anak laki-laki itu hendak bermanja-manja dengan sang nenek.


"Iya cucuku tampan. Bima terjatuh? Apakah lukanya masih sakit?" tanya Bu Isna.


Bima menimpali pertanyaan neneknya dengan anggukan kepala. Padahal, sang nenek hanya bisa mendengar suaranya, tanpa bertatap wajah secara langsung.


"Mungkin lusa nenek dan kakek akan ke sana. Bima tunggu nenek ya, Sayang. Nanti nenek yang tiup-tiup luka Bima supaya cepat sembuh," ucap Bu Isna.


"Asyik! Nenek akan ke sini. Bima sangat senang. Nenek jangan bohongi Bima ya, Nek. Bima akan selalu menunggu kedatangan nenek. Bima ingin bermain dengan nenek," ujar anak laki-laki tersebut.


"Iya, Cucuku. Nanti nenek akan buatkan kue coklat kesukaan Bima. Obat dari nenek agar Bima cepat sembuh," balas Bu Isna.


"Kenapa harus lusa, Nek? Coba besok saja nenek ke sini. Atau hari ini saja," ujar Bima yang tampaknya tak sabar ingin bertemu dengan neneknya.


"Sabar, Cucuku. Nenek harus menunggu kakek menyelesaikan pekerjaannya dulu. Tunggu dua hari lagi ya." Bu Isna mencoba membujuk cucunya.


"Baiklah, Nek. Bima akan menunggu nenek," balas Bima .

__ADS_1


Rania mendengar hal tersebut langsung mengulum senyumnya. Ia merasa sangat senang. Bima yang akrab dengan kedua orang tuanya di kampung. Dan bahkan putra sambungnya itu mudah bergaul saat di bawa ke kampung halamannya.


Panggilan telepon itu pun diakhiri oleh Bu Isna. Bima seraya tersenyum mengembalikan ponselnya pada Rania.


"Ma, kita masak yang enak-enak ya untuk menyambut kedatangan nenek dan kakek," ujar Bima.


"Tentu saja, Sayang." Rania mengangguk seraya menyunggingkan senyumnya.


"Memangnya Bima ingin mama memasak apa?" tanya Rania.


"Apa saja yang bisa mama masak. Masakan mama kan sangat enak," puji Bima sembari mengacungkan ibu jarinya.


"Mama belum terlalu banyak menguasai tentang masakan. Mungkin nanti bibi yang akan membantu mama," ujar Rania seraya mengulas senyumnya.


Setelah berucap hal tersebut ibu dan anak itu pun terdiam sejenak, tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing. Tak lama kemudian, Bima kembali membuka suara.


"Ma, kira-kira bagaimana ya keadaan Febby. Sudah lama Febby pergi akan tetapi dia tidak ada kabarnya sama sekali," tutur Bima yang kembali mengingat akan gadis kecil yang pernah menjadi tetangganya saat mereka masih tinggal di apartemen.


"Mama juga kurang tahu bagaimana kabarnya sekarang. Tetapi, mama yakin, Febby akan baik-baik saja tinggal bersama dengan ayahnya. Dia pasti sudah bahagia dan tidak murung lagi," jelas Rania yang mencoba membangkitkan kembali semangat putranya.


Bima memang masih kecil, akan tetapi anak laki-laki itu memiliki tingkat kepedulian yang begitu tinggi. Jika saja hal itu terjadi pada anak lain, mungkin ia tidak akan kembali membahas temannya yang satu itu. Atau mungkin tidak ingin berteman pada Febby, karena awalnya gadis kecil tersebut yang memusuhi Bima. Memperlakukannya dengan tidak baik.


Namun, saat menyadari alasan Febby melakukan hal tersebut, membuat Rania juga memakluminya. Niat anak perempuan itu baik. Ia tidak ingin jika ibunya mengkhianati ayahnya karena sempat menyukai Alvaro, atau bisa dikatakan tergila-gila pada ayahnya Bima.


"Ma, apakah mama membenci ibunya Febby?" tanya Bima dengan memperlihatkan wajah polosnya. Bima juga sempat mengetahui, bahwa ibu Febby yang menyukai ayahnya Ia teringat akan ucapan Febby yang meminta agar Bima dan keluarganya untuk segera pindah dari apartemen itu.


Mendengar pertanyaan Bima, membuat Rania bingung harus bagaimana menjelaskannya pada putranya itu. Jika ditanya benci atau tidaknya, tentu saja Rania sangat membencinya. Apalagi saat kedapatan oleh Rania, dimana Mila menerobos masuk begitu saja dan mencoba merayu suaminya. Tentu saja membuat Rania marah besar.


Namun, di hadapan Bima, tidak seharusnya Rania memperlihatkan rasa benci itu pada putranya. Yang pada akhirnya, menggiring anak kecil tersebut juga memiliki rasa benci kepada orang lain nantinya.

__ADS_1


"Jika ibunya Febby meminta maaf atas kesalahannya, mama akan memaafkannya, Nak." Kali ini, jawaban inilah yang aman untuk Bima. Agar tak mendorong anak laki-laki itu untuk memiliki rasa benci atau pun dendam pada orang lain.


Bersambung ....


__ADS_2