Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 204. Orang Yang Berbeda


__ADS_3

Mendengar penuturan dari Arjuna, membuat Alvira mengerjapkan matanya beberapa kali. Entah mengapa ia melihat jika rahang Arjuna tampak mengeras saat dirinya membahas tentang Andre.


"Aku tahu kamu belum sepenuhnya bisa menerimaku. Mungkin juga hatimu masih sedikit menyimpan rasa cinta pada pria terdahulu. Namun, tidak bisakah kamu sedikit mempercayaiku? Aku dan dia adalah dua orang yang berbeda," ucap Arjuna.


"Maafkan aku jika pertanyaan yang aku ajukan tadi menggiring opini yang salah. Sungguh! Aku tidak bermaksud membandingkan kamu dengan Andre," jelas Alvira yang langsung kelimpungan. Baru kali ini, melihat Arjuna tampak kecewa.


"Jika kamu memang benar ingin tahu, mengapa alasanku hingga saat ini masih melajang, ya itu semua karena aku tidak bisa melupakanmu. Aku bukanlah pria yang pengecut, menerima wanita lain hanya untuk terlepas dari bayang-bayang mu dan pada akhirnya, aku akan menyakiti hatinya," ujar Arjuna.


"Percaya atau tidak, itulah jawaban dariku atas pertanyaanmu itu. Dan jika kamu tidak percaya dengan ucapanku, tidak masalah bagiku karena itu adalah hakmu. Namun, ku harap kamu tidak menutup matamu itu, berpura-pura tidak melihat bagaimana perjuanganku. Aku bersungguh-sungguh atas dirimu, Alvira. Bukan hanya sekedar kata-kata yang berujung pada kebohongan belaka," lanjut Arjuna panjang lebar.


Ia mengungkapkan semua rasanya pada Alvira. Dengan tujuan agar wanita itu ingin membuka matanya, tidak membandingkan dirinya dengan Andre. Bagaimana pun juga, Arjuna juga manusia, yang memiliki hati. Sedikit kata-kata yang terlontar dari mulut Alvira tadi, cukup menyayat hatinya.


"Iya, aku percaya padamu. Maafkan aku karena telah berucap begitu," ujar Alvira, meminta maaf pada kekasihnya agar pria tersebut tak lagi marah padanya.


"Aku berusaha untuk tidak marah, tetapi aku juga tidak bisa menahan semua yang ada di dalam rongga dadaku ini. Jika terus menerus aku tahan, lama-lama membuatku terasa sesak dan ini sungguh menyakitkan," ucap Arjuna.


"Iya ... iya ... aku kan sudah minta maaf, tidak usah dibahas lagi tentang itu. Aku ingin kisah selanjutnya hanya kita saja, tanpa harus kembali menoleh ke belakang dan membahas orang-orang lama," tutur Alvira dengan serius.


Mendengar kesungguhan dari Alvira, membuat Arjuna pun merasa lega. Apalagi saat wanita tersebut mengatakan bahwa dirinya tidak ingin kembali berurusan dengan orang lama, membuat Arjuna sedikit mendapatkan celah untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi.


"Cicipi juga camilannya. Ini rasanya manis, sama seperti kamu yang sedang tersenyum," ujar Alvira mencoba merayu Arjuna, agar kekasihnya itu tak lagi memperlihatkan wajah tak bersahabat.


Mendengar ucapan Alvira, sontak membuat Arjuna pun tertawa. Ia tak bisa menahannya, apalagi Alvira berucap seperti itu dengan ekspresi wajah yang sangat menggemaskan. Membuat Arjuna, ingin memakan wanita itu bulat-bulat. (Jangan ngadi-ngadi Juna🙄)


Arjuna pun akhirnya menyerah dengan dirinya. Ia kembali mengembangkan senyum, mengambil camilan yang ada di dalam toples kaca tersebut, lalu mencicipi makanan yang memiliki tekstur garing dengan rasa yang manis itu.


"Menurutku ini kurang manis," ucap Arjuna.


"Benarkah? Tapi menurutku ini sudah sangat manis loh." Alvira kembali mengambil camilan tersebut.


"Menurutku tidak. Yang paling manis adalah dirimu."


Blusshhh ...


Wajah Alvira pun berubah menjadi merah padam. Bukan karena wanita tersebut merasa marah, melainkan dirinya merasa malu karena baru saja mendapatkan rayuan dari kekasihnya. Padahal dia baru saja melemparkan rayuan yang sama kepada Arjuna. Namun, tetap saja Alvira salah tingkah saat rayuannya itu dilempar balik oleh pria yang ada di hadapannya.


"Kenapa? Wajahmu memerah seperti itu?" goda Arjuna yang sengaja berpura-pura bodoh.

__ADS_1


"Hentikan, Yang! Aku malu!" Alvira spontan memalingkan wajahnya. Sementara tangannya dikibas-kibaskan karena kedua pipinya sudah benar-benar merah bak udang rebus.


Malam itu, mereka pun melanjutkan obrolan lainnya. Sesekali Alvira tergelak tawa, saat Arjuna bercerita tentang hal-hal yang cukup menarik. Tentang kesehariannya di rumah dan juga di lingkungan kerja.


Di lain tempat, Arumi tengah menggigit pempek buatan Bu Isna. Sementara Abian, anak laki-laki itu di gendong oleh Bu Isna. Saat Rania memintanya, Bu Isna langsung melarang putrinya.


"Tidak boleh, Nak. Kamu sedang hamil. Di kampung, kalau wanita sedang hamil itu tidak boleh dekat-dekat dengan anak kecil," ujar Bu Isna.


"Loh, memangnya kenapa Bu Isna?" tanya Arumi yang merasa penasaran.


"Iya, kalau di kampung itu, wanita hamil tidak boleh berdekatan dengan anak kecil. Takutnya anak kecil itu akan sakit karena harus beradu dengan bayi yang ada di perut Rania. Sebenarnya ini hanyalah mitos, akan tetapi tidak ada salahnya jika kita juga menuruti akan hal larangan-larangan yang seperti itu," jelas Bu Isna.


"Baiklah, Ma. Sebenarnya Rania juga pernah dengar tentang mitos itu. Tetapi menurut ilmu kedokteran, mitos tidak boleh menggendong anak saat hamil itu karena nantinya nantinya akan mengalami penekanan dibagian punggung dan hal itu membuat tubuh ibu hamil semakin melemah," tutur Rania.


"Ck! Tetap saja jangan bandel! Kamu juga tidak bisa hanya mempercayai ilmu kedokteran saja. Ada kalanya ilmu turun temurun juga patut dipercayai," ujar Bu Isna.


"Iya, Ma." Rania mengangguk paham, hanya bisa melihat Abian dan memperlihatkan wajah lucunya. Sementara Arumi, mendengar penjelasan dari ibu dan anak itu hanya bisa menganggukkan kepalanya paham. Lalu kemudian, wanita tersebut kembali menyantap pempek yang ada di tangannya.


Suasana di rumah Alvaro beberapa hari terakhir tampak sangat ramai. Dengan menyatunya kedua keluarga, membuat Alvaro dan Rania merasa bahagia , terutama Bima. Anak laki-laki ini sedari tadi sibuk bersama kedua kakeknya. Sementara Abian, terlelap di pangkuan Bu Isna.


"Mamanya Abian kenapa tidak ikut, Ma?" tanya Rania.


"Dia masih ada urusan. Biasalah masalah cinta. Sejak berpacaran, Alvira seperti anak muda," ujar Arumi.


"Pubertas yang kedua kalinya," lanjut wanita tersebut sembari mengembangkan senyumnya.


"Mama ada-ada saja," ucap Rania.


"Tidak apa-apa, Bu. Yang penting dalam rumah tangga itu adalah prinsip yang selajan. Jika mereka memang ingin seperti itu, ya lebih baik lagi. Dengan begitu Abian akan mendapatkan papa baru. Iya kan, Sayang?" tanya Bu Isna yang mencoba menatap anak kecil tersebut dengan wajah lucunya. Rania pun mengangguk, membenarkan ucapan ibunya.


"Minta doanya saja ya, Bu Isna. Jika mereka menikah nanti, semoga saja mereka tetap rukun dan dapat menerima kekurangan satu sama lain," ucap Arumi.


"Tentu saja. Kami akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka," ujar Bu Isna.


"Tapi ... Alvira sempat menitipkan sesuatu pada mama," ucap Arumi.


"Sesuatu apa maksudnya Ma?" tanya Rania.

__ADS_1


Arumi berdeham sejenak, sebelum mengutarakan keinginannya. "Dia minta dibungkus kan pempek," ucap wanita itu.


"Oh, aku kira menitipkan apa. Baiklah, aku akan langsung menyiapkannya untuk Alvira," ujar Rania yang langsung beranjak dari tempat duduknya. Ibu hamil tersebut langsung berjalan ke dapur untuk membungkus pesanan Alvira.


Kini tinggal lah Arumi dan juga Bu Isna yang berada di sana. Arumi tersenyum, sembari mengelus puncak kepala cucunya yang digendong oleh Bu Isna.


Di waktu yang bersamaan, para bapak-bapak tengah membicarakan sesuatu yang serius, ditemani oleh secangkir kopi dan juga makanan yang dibuat oleh Bu Isna yang menjadi pelengkapnya.


"Menjadi petani seperti kami ada sukanya ada dukanya," ujar Pak Hendrawan.


"Sukanya saat hasil panennya melimpah dan dukanya ketika modal yang kita keluarkan tak mendapatkan hasil yang setimpal. Contohnya saja para petani yang mengelola sawah, saat mereka menanam padi, terserang hama dan harus memberikan perawatan intensif pada tanamannya. Seperti memberinya pupuk dan juga obat untuk membasmi hama. Semua itu memerlukan biaya yang cukup besar. Namun, saat panen, harga beras langsung anjlok," ucap Pak Hendrawan yang menjelaskan tentang kehidupan para petani di desa.


"Berarti sama saja dengan usaha ya, Pak. Saya juga begitu dulunya. Pernah, saat perusahaan cabang keuangannya tidak stabil. Imbasnya kita harus mencari kembali modal untuk menutupi kekurangan-kekurangan tersebut. Berpikir keras bagaimana sih, supaya masalah ini teratasi," tutur Fahri yang baru saja selesai menyeruput kopinya.


"Ya ... intinya pada petani dan pengusaha itu bisa dikatakan memiliki tujuan yang sama. Seperti para petani yang ingin mendapatkan hasil yang sesuai dengan modal dan bahkan jika bisa lebih dari itu, para pengusaha juga seperti itu." Alvaro ikut menambahi ucapan kedua orang tersebut.


"Bedanya petani seperti kami dengan kalian itu satu. Jika kami hanya menghidupi satu kepala keluarga, sementara kalian menghidupi banyak kepala keluarga," ujar Pak Hendrawan.


Alvaro dan juga Fahri pun menganggukkan kepala seraya tersenyum, membenarkan apa yang dikatakan oleh Pak Hendrawan.


"Iya, benar apa yang dikatakan oleh Pak Hendrawan." Fahri terkekeh, dan kembali menyeruput kopinya.


Alvaro mengarahkan pandangannya pada para ibu-ibu yang tengah menempati sofa di ruang tengah. " Alvira kenapa tidak ikut, Pa?" tanya Alvaro sedikit berbisik. Tidak enak jika hal ini didengar oleh Pak Hendrawan


"Saudaramu sibuk dengan prianya. Sudah ku katakan untuk bertemu di rumah mu saja, akan tetapi ia beralasan malu karena dilihat langsung oleh mertuamu," jelas Fahri.


"Apakah kamu akan menyerahkan perusahaan cabang dengannya?" tanya Fahri.


"Iya, Pa. Dia memintanya dalam waktu dekat ini. Awalnya ia meminta padaku untuk mengelolanya kembali dia tahun ke depan. Namun, tak lama kemudian, ia kembali menghubungiku dan memintanya agar secepatnya mengurus kembali sisanya dan setelah itu ia ingin langsung terjun kembali ke dunia bisnis," papar Alvaro.


"Bukankah sudah kamu jelaskan untuk fokus ke anaknya dulu?"


"Entahlah, Pa. Alvira sulit menerima masukan ku. Mau tak mau ya sudah, aku biarkan saja dia mengurusnya kembali. Namun, aku mengirim sekretaris yang pernah bekerja di perusahaan cabang kemarin untuk membantu Alvira. Dengan begitu, aku bisa mudah mengawasi kinerja Alvira dari kejauhan," jelas Alvaro.


"Pokoknya, papa serahkan masalah saudara kembarmu itu kepadamu." Fahri menepuk pundak anaknya, dan Alvaro pun menganggukkan kepala, mematuhi ucapan ayahnya itu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2