
Setelah pulang seusai menengok anak atasannya yang baru lahir, Juni dan Shinta pun kini tengah berada dalam perjalanan menuju ke rumah. Kedua orang tersebut lebih banyak diam. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Juni berusaha untuk tetap fokus mengendarai mobilnya. Meskipun berbagai macam pikirkan saat ini mengusik dirinya. Hingga akhirnya, mereka pun tiba di apartemen. Juni langsung memberhentikan mobilnya.
"Jun, apakah kamu marah denganku?" tanya Shinta menyadari sikap Juni yang sedari tadi dingin. Berbeda saat mereka berada di rumah sakit.
"Aku? Tidak. Marah karena apa?" Juni berucap sembari mengendikkan bahunya.
Ia ingin sekali marah, akan tetapi percuma. Karena bagaimana pun juga, marahnya tak akan mengubah apapun. Jadi, untuk apa Juni harus membuang tenaga jika hasilnya akan tetap sama.
"Syukurlah jika kamu tidak marah," ucap Shinta.
Gadis itu langsung turun dari mobil, begitu pula dengan Juni. Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam lift untuk menuju ke unit masing-masing.
"Dari sini ke kantor cabang akan memakan waktu yang cukup lama. Apakah kamu tetap akan tinggal di apartemen?" tanya Juni sembari menunggu pintu baja tersebut terbuka.
"Tidak apa-apa. Aku bisa berangkat lebih pagi jika tak ingin terlambat," ujar Shinta.
Tinggg ....
Pintu lift pun terbuka. Kedua orang tersebut langsung keluar dari ruangan sempit itu.
Juni berjalan menuju ke unitnya, Shinta pun melakukan hal yang sama. Sebelum keduanya masuk ke dalam unit masing-masing, mereka menyempatkan diri untuk saling memandang satu sama lain.
Juni tersenyum simpul. Ia pun memilih untuk masuk lebih dulu ke dalam unitnya. Sementara Shinta, gadis itu menatap Juni dengan tatapan sendu. Ia pun ikut masuk ke dalam huniannya itu.
Shinta melepaskan tas kerjanya, lalu kemudian menghempaskan dirinya di atas kasur. Matanya menatap langit-langit, membayangkan bagaimana ekspresi Juni saat dirinya memberitahukan keadaan yang sebenarnya.
"Maafkan aku, Jun. Ku harap kelak tidak ada yang berubah dengan hubungan kita meskipun terpisah oleh jarak. Aku ingin kita tetap bisa saling memahami apapun yang terjadi ke depannya nanti," gumam Shinta.
Di waktu yang bersamaan, Juni menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Pria tersebut mengusap wajahnya dengan kasar. Terpikir akan ucapan Shinta yang dimutasi di kantor cabang mulai besok.
"Huh! Entahlah! Lihat saja bagaimana nantinya. Ku harap, apapun yang terjadi di kemudian hari, itu adalah jalan yang terbaik untuk kami," keluh Juni yang memilih beranjak dari tempat duduknya. Menuju ke kamar mandi, untuk mendinginkan kepala di atas guyuran air shower karena menghadapi hari yang terlalu melelahkan baginya.
.....
Di lain tempat, Bima menatap kedua adiknya yang tengah tertidur pulas. Ia benar-benar bahagia atas hadirnya kedua bayi mungil yang nantinya akan menemaninya bermain. Sehingga Bima tidak merasa kesepian lagi.
__ADS_1
"Nenek, kapan adik dan mama bisa pulang ke rumah?" tanya Bima pada Bu Isna. Ia tak melepaskan pandangannya pada kedua bayi mungil tersebut.
"Tunggu dokter yang menyuruh pulang, baru mama dan adik akan berkumpul bersama kita di rumah," timpal Bu Isna seraya mengusap puncak kepala cucunya dengan lembut.
"Tidak lama kan, Nek?" tanya Bima yang kali ini mengalihkan pandangannya pada Bu Isna.
"Tidak, Sayang. Mungkin besok mama sudah bisa pulang," balas Bu Isna.
Bu Isna menatap jam yang ada di ponsel jadulnya. Ia pun langsung terbelalak saat menyadari hari sudah malam.
"Bima, pulanglah dulu bersama kakek. Ini sudah malam dan besok Bima harus ke sekolah," ujar Bu Isna.
"Bima minta libur aja Nek," ucapnya asal.
"Tidak boleh! Bima besok harus tetap sekolah. Kalau Bima libur-libur terus, nanti Bima tidak akan masuk ke sekolah SD," timpal Rania yang mendengar percakapan antara ibunya dan juga putra sambungnya.
"Baik, Ma." Bima menunduk sembari menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Sesaat kemudian, mereka melihat keberadaan Lak Hendrawan yang baru saja hendak masuk ke dalam ruangan tersebut. Bima langsung berjalan ke arah sang kakek, menautkan jemarinya pada satu jari Pak Hendrawan.
"Kek, ayo kita pulang! Besok Bima harus sekolah," ucap Bima sembari mendongakkan wajahnya, menatap sang kakek.
"Baiklah. Kalau begitu, kami akan pulang dulu," ucap Pak Hendrawan.
Rania dan Bu Isna menganggukkan kepala. Hingga mereka berdua pun langsung keluar dari ruangan itu. Pak Hendrawan berjalan bersama Bima, menuju ke mobil.
Sepeninggal Bima dan Pak Hendrawan, kini tinggalah Bu Isna dan Rania yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Ma, Mas Varo kemana?" tanya Rania.
"Entahlah! Tadi dia keluar, tapi sampai sekarang belum juga pulang," timpal Bu Isna.
"Memangnya dia tidak bicara dengan mama? Kenapa dia pergi?" tanya Rania lagi.
"Tidak, Nak. Setelah Juni dan Shinta keluar, tak lama kemudian Alvaro juga ikut keluar. Entahlah, kenapa sampai sekarang dia belum kembali juga kemari," ujar Bu Isna.
"Apakah ada yang merindukan ku?" Terdengar suara dari ambang pintu. Bu Isna dan juga Rania pun langsung menoleh secara bersamaan.
__ADS_1
Alvaro tersenyum, masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia membawa termos kecil yang ada di tangannya. "Aku ke rumah mama dulu, mengambil ini ...." Alvaro meletakkan termos kecil tersebut di atas nakas.
"Apa itu?" tanya Rania yang merasa penasaran.
"Minuman yang baik setelah melahirkan," ujar Alvaro membuka tutup termos tersebut, lalu kemudian menunpahkan isinya ke dalam wadah gelas.
"Oh, itu namanya jamu kunyit asam," celetuk Bu Isna yang mengetahui minuman tersebut.
"Tadi ... mama berbicara dengan besan, tentang jamu itu. Rencananya mama ingin membuatnya besok, saat kamu sudah pulang ke rumah. Ternyata besan bergerak lebih cepat, membuatkan minuman itu untukmu," jelas Bu Isna.
"Yang membuatnya bibi yang bekerja di rumah, Ma. Kalau mama tidak mengerti dengan bumbu dapur. Ia tidak bisa membedakan antara jahe dan juga kunyit," ujar Alvaro sembari terkekeh geli.
"Wah, ternyata Rania dan besan sama ya. Rania juga seperti itu. Dia tidak bisa memasak, pintarnya hanya makan saja. Setelah menikah, baru lah ia belajar memasak," tutur Bu Isna sembari melirik anaknya.
"Kan sudah belajar, Ma." Rania mencebikkan bibirnya mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Bu Isna.
Alvaro hanya bisa tersenyum melihat interaksi antara ibu mertua dan juga sang istri. Pria tersebut menyodorkan minuman yang ada di tangannya, membantu Rania untuk mengubah posisinya menjadi duduk, dan menyuruh Rania untuk meminum jamu yang ia bawa itu hingga tak tersisa dalam gelasnya.
"Rasanya aneh," ujar Rania sedikit mengerutkan keningnya.
"Habiskan, Nak! Minuman itu bagus untukmu seusai melahirkan," ucap Bu Isna.
Rania pun kembali meminum setengah dari sisa yang ada di dalam gelasnya. Menghabiskan jamu tersebut hingga kandas.
"Setelah ini istirahat lah. Aku akan menjagamu di sini," ujar Alvaro menutup kembali termos tadi yang belum sempat ia tutup. Dan meletakkan gelas tadi ke tempat semula.
"Mas Varo juga istirahat lah. Mas pasti lelah sedari tadi menungguiku," ucap Rania.
"Yang dikatakan oleh Rania itu benar, Varo. Sebaiknya kamu beristirahat lah dulu. Biar mama yang menjaga Rania," celetuk Bu Isna.
"Tidak apa-apa, Ma. Aku tidak lelah sama sekali. Lelahku sudah terbayarkan saat melihat si kembar lahir dengan sehat, begitu pula dengan Rania," ujar Alvaro.
"Ya sudah, kalau begitu mama mau rebahan dulu sebentar. Pinggang mama serasa pegal," ucap Bu Isna berjalan menuju ke salah satu kursi yang ada di sana. Bu Isna pun mulai memejamkan matanya, beristirahat sejenak.
Alvaro memperhatikan Rania yang juga sudah mulai mengantuk. Wajah lelahnya terlihat jelas, karena memang perjuangannya bukan lah main-main. Mengorbankan separuh nyawanya hanya untuk membawa sang buah hati lahir ke dunia.
Tangan Alvaro bergerak mengusap puncak kepala Rania dengan lembut. Ia menyunggingkan senyumnya sembari menatap wajah lelah sang istri.
__ADS_1
"Terima kasih atas semuanya. Aku mencintaimu, Istriku."
Bersambung ...