
Rania segera keluar dari kamarnya saat mengetahui ibu mertuanya datang. Ia tampak cantik dengan terusan berwarna abu-abu yang sedikit longgar, mengingat bahwa saat ini perutnya yang sudah semakin membesar. Serta rambut panjangnya yang diikat ponytail. Sebelumnya, Arumi meneleponnya, mengatakan bahwa hari ini ia akan mengajak Rania jalan-jalan.
Rania sangat senang, setidaknya ia bisa mengusir rasa bosannya. Pergi keluar untuk mencuci mata. Selama ini wanita tersebut hanya berada di rumah saja. Ingin sekali bepergian, akan tetapi tidak ada yang bisa menemaninya karena sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Tak lama kemudian, mobil yang membawa Arumi pun tiba di kediamannya. Arumi membuka kaca jendela, melambaikan tangannya pada sang menantu yang sudah menunggunya di teras.
"Ayo Rania!" seru Arumi tanpa turun dari kendaraannya.
Rania mengangguk, wanita tersebut beranjak dari tempat duduknya. Supir pribadi Arumi pun langsung membukakan pintu mobil untuk Rania.
"Kita mau kemana Ma?" tanya Rania menjatuhkan bokongnya di samping mertuanya.
"Entahlah. Pokoknya kita akan berkeliling dan bersenang-senang," ujar Arumi bersemangat. Rania mengulas senyum. Ia bersyukur mendapatkan mertua yang baik seperti Arumi.
Kendaraan itu pun kembali melaju, mengantarkan Nyonya-nya ke tempat yang hendak dituju.
"Kamu sudah meminta izin pada Alvaro?" tanya Arumi. Rania menimpali ucapan mertuanya dengan gelengan kepala.
"Ya sudah, kalau begitu kamu hubungi Alvaro dulu. Mama tidak ingin nantinya dia marah karena mengajakmu keluar tanpa seizinnya," ujar Arumi.
Rania mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Wanita tersebut mencari kontak sang suami, lalu kemudian menghubunginya.
"Halo ...." Terdengar suara dari seberang telepon.
__ADS_1
"Mas, aku keluar ya," ujar Rania meminta izin pada suaminya.
"Sendirian?" tanya Alvaro.
"Tidak, Mas. Berdua dengan Mama," timpal ibu hamil tersebut.
"Ya sudah, kalau begitu hati-hati di jalan. Pulangnya jangan terlalu sore," ujar Alvaro.
"Iya, Mas."
Setelah meminta izin pada suaminya, Rania pun langsung menutup panggilan tersebut. Wanita itu kembali mengalihkan perhatiannya keluar jendela.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka pun memutuskan untuk berhenti di sebuah salon langganan Arumi. Hendak mengajak sang menantu untuk melakukan serangkai perawatan serta mempercantik diri yang tentunya sudah dipastikan aman untuk ibu hamil.
Rania hanya menganggukkan kepalanya. Baru kali ini, ia merasa memiliki mertua serasa teman. Arumi langsung menggandeng tangan Rania, mengajak ibu hamil tersebut masuk ke dalam salon.
Mereka melakukan dari perawatan rambut, kaki, bahkan melakukan spa, guna untuk agar merilekskan diri, apalagi Rania dengan kondisi hamil seperti ini sangat membutuhkan hal tersebut.
"Bagaimana? Apakah kamu merasa lebih rileks?" tanya Arumi saat keduanya tengah melakukan spa dengan sedikit pijatan kecil.
"Iya, Ma. Aku merasa lebih santai dan tenang," ucap Rania sembari mengulas senyumnya.
Mereka menghabiskan hampir setengah hari berada di salon. Kali ini, keduanya pun keluar dengan penampilan lebih cantik dari sebelumnya. Keduanya berbincang-bincang dan sesekali melempar senyum. Mertua dan menantu itu pun langsung masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kita mau pulang ya, Ma?" tanya Rania saat mobil kembali melaju.
"Apakah kamu sudah ingin pulang?" Arumi balik bertanya.
"Sebenarnya sih belum." Rania menjawab seraya memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Ya sudah, kalau begitu kita lanjut ke tempat yang lainnya," ucap Arumi.
"Di mana Ma?" tanya Rania.
"Pak, lanjut ke Mall ya!" Arumi memerintahkan pada supir pribadinya. Lalu kemudian menoleh ke arah menantunya, saling melempar senyum sembari menaik turunkan alisnya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mereka pun akhirnya tiba di Mall. Arumi memasang kacamata hitamnya saat hendak masuk ke dalam Mall tersebut.
"Ma, kenapa harus pakai kacamata? Kan di dalam ruangan," tegur Rania melihat mertuanya yang berpenampilan nyentrik.
"Silau, ada matahari di dalam Mall," celetuk Arumi seraya terkekeh geli.
Rania mencoba menelaah ucapan mertuanya. Dan ternyata, ucapan Arumi memang benar.
"Bercanda," ujar Arumi sesaat kemudian melepaskan kacamatanya dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
"Ayo!" ajak Arumi menggandeng tangan Rania. Rania pun mengangguk, mengikuti langkah Arumi.
__ADS_1
Bersambung ....