
"Turunkan aku!!!"
Shinta berteriak dengan keras, hingga membuat Daren pun langsung menepi dan menghentikan mobilnya dengan cara mengerem mendadak, hingga membuat tubuh masing-masing sedikit terhempas, untung saja mereka menggunakan sabuk pengaman yang bisa melindungi tubuh mereka.
"Maaf," ucap Daren sesaat kemudian, matanya melembut dan sedikit berair.
Sementara Shinta, ia masih tak menyangka jika Daren akan bersikap seperti ini. Dirinya berteman dengan Juni sudah satu tahun lebih, akan tetapi meskipun marah, Juni tak pernah berkadar padanya. Pria itu hanya lebih memilih untuk menghindar saja.
Shinta melepaskan sabuk lengan yang membelit tubuhnya. Gadis itu hendak membuka pintu mobil, akan tetapi mobil tersebut langsung dikunci oleh Daren.
"Buka pintunya!"
"Tolong dengarkan aku dulu," ujar Daren mencoba bersikap lembut.
"Tidak ada yang perlu di dengarkan. Semuanya sudah jelas," balas Shinta.
"Aku sempat bangga pada diriku sendiri karena berhasil menjadikanmu kekasihku," tutur Daren.
Shinta yang awalnya memberontak, minta untuk dibukakan pintu, langsung menghentikan aktivitasnya dan memilih untuk mendengarkan penuturan dari Daren terlebih dahulu.
"Tetapi ... aku sakit, saat ternyata aku hanya bisa meraih gelar menjadi kekasihmu saja. Sementara di pikiranmu, dan juga di hatimu, masih mengharapkan pria lain." Suara Daren sedikit bergetar.
"Maafkan aku atas perlakuan ku tadi, akan tetapi bisakah kamu melihatku barang sedetik saja, tanpa bayang-bayang pria itu. Aku ingin kamu melihatku sebagai kekasihmu, aku juga ingin merasa dicintai olehmu. Tolong ...."
Mendengarkan penuturan Daren, membuat mata Shinta berkaca-kaca. Selama ini ia juga salah, karena telah menerima Daren, akan tetapi ia masih mengharapkan Juni.
"Maafkan aku, tidak seharusnya aku menerimamu. Sebaiknya kita ....."
__ADS_1
"Shin ... Shinta tidak, jangan katakan itu!" Daren sudah mengetahui kalimat selanjutnya yang hendak dikatakan oleh sang kekasih, itu membuatnya tak sanggup.
"Seberapa keras kita memaksanya, maka kita juga akan saling menyakiti, Daren." Shinta mencoba menjelaskan pada Daren keadaan sebenarnya.
"Tidak, Sayang. Kita bisa berusaha untuk memulainya kembali. Kita bisa berusaha lagi dan memang itu tidak mudah."
"Jangan dipaksa, Daren. Bukankah selama ini, kamu sudah merasa sesak? Aku bisa menjanjikan diriku untuk membuangnya dalam pikiranku, karena besar harapku menginginkannya. Aku tahu ini sedikit egois, akan tetapi ini lah yang ku rasakan sesungguhnya. Satu hari aku berusaha mencintaimu, sehari itu pula aku merasa tak bisa bernapas, rongga dadaku sesak hanya dengan memikirkannya," tutur Shinta panjang lebar.
"Saat bercanda tawa denganmu, senyum yang ku ukir sedikit palsu. Aku tak bisa memungkiri bahwa aku menyakiti diriku sendiri, dengan cara menerimamu," jelas Shinta menitikkan air matanya.
"Aku yakin, akan ada wanita baik yang nantinya menerimamu. Yang bisa mencintaimu lebih tulus, seperti cinta yang kamu tunjukkan padaku. Dan perlahan, kamu pasti akan melupakanku," ucap Shinta lagi.
"Tidak, Shinta. Aku menginginkan dirimu. Tolong jangan bersikap seperti ini. Maafkan kesalahanku tadi, aku benar-benar khilaf," jelas Daren yang masih mencoba membujuk Shinta agar tetap mempertahankan hubungan mereka.
"Sampai kapan? Sampai kapan kita akan terus menyakiti? Dengan mempertahankan hubungan ini, kita akan tersakiti satu sama lain. Untuk apa menghabiskan waktu pada cinta yang tak pasti? Membuang waktumu hanya untuk mempertahankan ku yang faktanya tidak mencintai mu," tutur Shinta.
"Aku tidak bisa melanjutkan ini semua, aku ingin mengakhirinya meskipun kamu tidak menginginkannya. Mari untuk keluar dari lingkaran yang membelenggu kita, yang membuat kita akan saling menyakiti. Kita bisa menjalin sebuah pertemanan untuk ke depannya dengan tidak saling membenci."
Tubuh Daren terasa lemas mendengar penuturan gadis yang baru beberapa hari menjadi kekasihnya. Ia juga tak menyangka, akan secepat ini kandas.
Daren kembali mengarahkan pandangannya pada gadis yang ada di sebelahnya, melihat mata gadis itu seakan meminta untuk dilepaskan saat ini juga.
Perlahan, pria tersebut membuka tombol kunci mobil yang ada sisi kirinya. Hingga akhirnya, Shinta pun keluar dari kendaraannya. Dengan begitu, semuanya telah selesai. Kisah antara Shinta dan Daren sudah tak ada lagi.
Daren tak bisa menahan Shinta lebih lama. Sudah tak ada harapan lagi baginya untuk memenangkan hati Shinta. Daren memijat pelipisnya, air mata yang sedari tadi ia tahan, menetes begitu saja. Anggaplah ia adalah pria yang cengeng. Namun, ia tak bisa lagi menyembunyikan semuanya, ini benar-benar menyesakkan dadanya.
"Haruskah secepat ini? Seharusnya kamu memberikanku waktu sebentar lagi. Hanya sebentar lagi. Apakah sebegitu kecil harapanku?" Daren tertawa, akan tetapi air mata tetap menetes begitu saja.
__ADS_1
Di waktu yang bersamaan, setelah turun dari mobil Daren, Shinta pun menghadang taksi. Gadis itu masuk ke dalam taksi tersebut.
Ia juga tak bisa membendung air matanya. Ia merasa bersalah, dan merutuki dirinya karena tak bisa menerima Daren yang begitu tulus mencintainya.
Gadis tersebut menurunkan kaca mobil, membiarkan angin menerpa wajahnya yang telah basah oleh air mata.
"Maafkan aku karena telah begitu jahat padamu. Seharusnya aku tidak seperti ini. Aku benar-benar bodoh," batin Shinta seraya menggigit jarinya. Sesekali gadis itu menyeka air mata yang menetes, akan tetapi lagi dan lagi air mata itu mengalir.
Dirinya juga merasa sedih, karena telah menyakiti hati Daren. Menyia-nyiakan pria yang benar-benar tulus mencintainya.
Tak lama kemudian, taksi itu pun tiba di gedung pencakar langit, tempat Shinta mengais rezeki. Shinta merapikan penampilannya sejenak, ia tidak ingin orang yang ada di kantor melihat matanya yang sembab. Setelah selesai, ia pun membayar tagihan taksi tersebut menggunakan uang cash, lalu kemudian turun dari kendaraan itu.
Shinta menghela napasnya, dan menghembuskannya dengan perlahan. Gadis itu mengulas senyum saat berpapasan dengan rekan kerjanya.
Shinta mempercepat langkahnya, sadar akan keterlambatan yang diperbuatnya karena terlalu lama berdebat dengan Daren tadi. Sementara pria itu ... Shinta tidak melihatnya sama sekali di kantor. Kemungkinan besar jika dia juga tidak masuk untuk hari ini.
Shinta melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Sedikit berdesakan dengan orang-orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan sempit itu.
Ia mendengar suara yang membicarakan Juni dari belakang. Shinta pun mencoba menguping pembicaraan tersebut.
"Kalian sudah melihat Pak Juni? Entah kenapa beliau berpenampilan sedikit berbeda kali ini. Dia benar-benar terlihat lebih keren dari sebelumnya," ujar wanita ke 1.
"Iya, aku sudah melihatnya. Dia jauh lebih tampan kali ini. Aku sudah punya suami, jadi tidak bisa mengejarnya. Jika aku belum punya suami, aku pasti akan mengejar Pak Juni," celetuk wanita yang satunya lagi.
"Sssttt .... ada dia di depan," bisik wanita lainnya yang menunjuk ke arah Shinta.
Shinta hanya terdiam. Tak mengucapkan apapun. Saat pintu lift terbuka, ia langsung keluar dari ruangan sempit itu.
__ADS_1
"Ku rasa lebih baik Juni berpenampilan biasa saja," gumam Shinta yang merasa cemburu.
Bersambung ....