Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 89. Mila Si Tetangga Baru


__ADS_3

Rania perlahan membuka matanya. Hal yang pertama ia lihat adalah wajah tampan sang suami tepat di depan wajahnya. Rania mengulas senyumnya. Tampaknya pria tampan itu kelelahan karena terlalu bersemangat semalam.


Rania menggeser tangan sang suami dari pinggang rampingnya. Ia melirik jam digital yang ada di atas nakas, telah menunjukkan pukul 05:30. Ia meregangkan otot-ototnya sejenak sebelum beranjak dari tempat tidur. Jujur saja, badannya terasa pegal-pegal akibat aktivitas panas semalam.


Rania beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju ke kamar mandi, membersihkan tubuh, mencuci wajah serta menyikat giginya. Gadis itu menatap wajahnya di cermin besar yang ada di dalam kamar mandi itu.


"Sepertinya aku terlihat lebih gendut," ucap Rania bergumam sembari memegangi pipinya.


Wanita itu sedikit menjauh dari wastafel, memindai tubuhnya melalui cermin. "Iya, aku lebih gemukan sekarang. Mungkin karena Mas Varo selalu memasakkan sesuatu untukku," lanjutnya.


"Setidaknya aku memanfaatkan waktu libur untuk berolahraga saja," ucap Rania sembari mengeringkan tubuhnya dengan handuk.


Wanita itu keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk yang melingkar menutupi dadanya. Ia berjalan dengan sangat hati-hati, tak ingin membangunkan singa yang sedang tertidur dan kembali menjadikan santapannya di pagi buta ini.


Rania segera mengenakan pakaiannya sembari melirik ke arah Alvaro yang masih memejamkan matanya. Sesekali Rania mengulas senyum, saat Alvaro tampak sedikit memajukan bibirnya dalam keadaan masih terpejam.


"Ckckck, lihatlah! Bahkan dalam keadaan tidur saja suamiku masih mesum," ucap Rania dengan pelan. Sesekali ia terkekeh geli melihat sang suami bertingkah seperti itu.


Rania kembali melirik jam yang ada di atas nakas, "Waktunya membangunkan Bima untuk bersiap ke sekolah," gumamnya.


Rania keluar dari kamar, meninggalkan sang suami yang masih terlelap dalam tidurnya.


TOKKK ... TOKKK ...


Rania mengetuk pintu kamar Bima sejenak sebelum masuk ke dalam ruangan itu. Ia melihat putranya yang masih nyenyak bergelung di balik selimut.


Rania melangkah mendekati Bima. Wanita itu menggoyang-goyangkan tubuh Bima dengan pelan. "Bima, ... Bima Sayang, ayo bangun, Nak. Sudah pagi, waktunya untuk mandi dan bersiap ke sekolah," ujar Rania.


Anak laki-laki itu pun perlahan menggeliat, lalu kemudian membuka matanya. "Sudah pagi ya, Ma?" tanya Bima dengan suara yang sedikit parau, khas orang yang baru saja bangun tidur.


"Iya, Sayang. Ayo bangun, terus mandi, sudah itu sarapan. Mama buatkan omelette sosis yang seperti kemarin ya," bujuk Rania sembari mengusap kepala putra sambungnya.


"Sosisnya banyak-banyak ya, Ma." Bima mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.


"Iya, Sayang. Sekarang Bima mandi dulu, ya ... Mama akan siapkan seragam Bima terlebih dahulu, setelah itu masak sarapan untuk Bima," tutur Rania.


"Siap, Ma." Bima mematuhi ucapan ibu sambungnya. Anak laki-laki itu beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Rania tersenyum menatap Bima yang sangat patuh. Ia pun menyiapkan perlengkapan yang akan Bima pakai nanti. Setelah semuanya selesai, wanita tersebut keluar dari kamar Bima dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Rania menyiapkan semua bahan-bahan sama seperti yang ia pelajari dari suaminya kemarin. Wanita tersebut mulai mengeksekusi bahan-bahan tersebut menjadi sebuah sajian yang lezat. Tentunya hanya omelette saja, karena untuk masakan yang lainnya, wanita itu belum menguasainya dan nanti akan ia pelajari dengan sang suami.


Di waktu yang bersamaan, Alvaro meraba di samping tempat tidurnya. Ia membuka mata, mendapati sang istri yang sudah tidak ada lagi di atas kasur.


Pria itu bangkit dari pembaringannya. Ia mengusap matanya, mengedarkan pandangannya ke kamar. Tidak menemukan keberadaan sang istri di kamar tersebut.

__ADS_1


Tak lama kemudian, hidungnya menangkap aroma lezat. Alvaro bisa menebak keberadaan Rania saat ini. Pria tersebut keluar dari kamarnya dengan keadaan topless.


Alvaro mendekat ke arah Rania yang masih berkutat dengan wajan dan kompornya. Tiba-tiba, wanita itu terkejut saat mendapati tangan kekar yang melingkar di pinggang rampingnya. Alvaro tengah memeluknya dari belakang.


"Mas, kamu sudah bangun?" tanya Rania.


"Hmmm ...." Alvaro menimpali dengan suara parau. Pria itu menjatuhkan dagunya di ceruk leher sang istri. Menghirup aroma mawar dari tubuh istrinya.


"Mas, lepas! Tidak enak jika Bima melihat kelakuanmu seperti ini," ucap Rania yang mencoba menjauhkan lehernya dari sang suami.


"Sebentar saja," ujar Alvaro yang enggan melepaskan pelukannya dari sang istri. Aroma tubuh Rania membuatnya candu.


"Mas, Bima tidak lama lagi akan keluar dari kamarnya. Sebaiknya lepaskan bukankah semalam kamu sudah mendapat ja ...."


"Mama! Apakah omelette-nya sudah siap?" seru Bima yang tengah berlari kecil langsung menuju ke dapur.


Mendengar teriakan putranya, membuat Alvaro dengan segera melepaskan pelukannya dari Rania. Ia mengusap tengkuknya mendapati putranya baru saja tiba di dapur. Sementara Rania, melemparkan tatapan tajam pada Alvaro. Seolah mengatakan bahwa Alvaro adalah manusia yang sangat tidak bisa diatur.


Bima menatap kedua orang tuanya bergantian. Ia melihat ibu sambungnya yang saat itu tengah berwajah menatap ke arah ayahnya. Sementara ayahnya ... Bima melihat penampilan Alvaro yang hanya mengenakan celana pendek selutut dengan dada terbuka.


"Papa kenapa tidak pakai baju?" tanya Bima heran.


"Tuh kan! Sudah ditegur sedari tadi tidak mau menurut!" ketus Rania pelan.


"Papa baru bangun, Nak. Papa tidak pakai baju karena merasa sedikit panas," timpal Alvaro.


Rania mengangkat piring omelette-nya, saat hendak berlalu dari sang suami, wanita itu berhenti sejenak. "Syukurin!!" tukas Rania dengan nada yang mengejek.


Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya, meletakkan sarapan untuk Bima ke atas meja. "Sarapanlah, Nak. Nanti kamu terlambat pergi ke sekolahnya," ujar Rania yang mencoba mengalihkan topik lain.


"Iya, Ma." Bima dengan sangat antusias langsung menghampiri meja makan, menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi.


Kali ini, Alvaro terselamatkan karena Rania. Alvaro memilih pergi dari sana, kembali ke kamarnya dan membersihkan diri.


"Enak?" tanya Rania saat Bima melihat Alvaro melangkah dengan cepat menuju ke kamar.


"Iya Ma, ini sangat enak. Bima suka masakan mama," puji Bima dengan sangat bersemangat.


"Ini, mama juga bawakan bekal kamu, isinya omelette karena mama cuma bisa masak ini untuk sementara waktu. Nanti mama akan lebih banyak belajar masak, supaya Bima tidak bosan harus makan omelette terus," tutur Rania.


Bima menganggukkan kepalanya sembari menyuapkan omelette ke dalam mulutnya.


Setelah menyelesaikan sarapan, Rania dan Bima pun bersiap untuk berangkat ke sekolah. Alvaro baru saja keluar dari kamarnya. Kali ini pria tersebut terlihat lebih segar dan rapi.


"Mau berangkat? Papa ikut antar ya ...," tawar Alvaro.

__ADS_1


Bima dengan cepat menganggukkan kepala. Alvaro berjalan menghampiri sang istri. Mengambil alih kunci mobil yang dipegang oleh Rania.


Saat keluar dari rumah, mereka pun berpapasan dengan tetangga baru yang ada di samping rumah.


Terlihat seorang wanita yang umurnya berkisar 30 tahun, seumuran dengan Alvaro. Serta anak perempuan yang sebaya dengan Bima.


Bima baru hendak membuka suara, akan tetapi anak perempuan itu langsung menatap sinis ke arah Bima, seolah mengisyaratkan pada Bima untuk tidak berlaku sok akrab dengannya.


"Oh, ternyata ini tetangga baru kita," ucap Rania sembari tersenyum ramah pada tetangganya itu.


"Hehe iya," ucap Wanita itu menunduk malu.


"Mau antar anak ke sekolah juga?" tanya Rania.


"Iya, Mba juga ya?" tanyanya.


Rania menganggukkan kepalanya meng-iyakan ucapan wanita itu. "Ah iya, saya Rania, dan ini suami saya, Alvaro, dan yang ini ... putra saya bernama Bima," ucap Rania memperkenalkan diri pada tetangga barunya.


"Saya Mila dan ini putri saya namanya Febby," ujar wanita itu yang juga ikut memperkenalkan diri.


Bima tidak menyangka, jika teman satu sekolahnya akan bertetangga dengannya. Teman yang sangat tidak menyukai dirinya.


Rania menatap seragam yang dikenakan oleh Bima dan anak tetangganya itu sama. "Sepertinya anak kita satu sekolahan," celetuk Rania.


"Ah iya. Seragam mereka sama. Febby, kamu kenal Bima, Nak?" tanya Mila.


Anak perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, ikut sama Tante saja. Berangkat sekolah bersama Bima ya ...." Rania mencoba menawari anak perempuan itu.


Namun, gadis kecil tersebut menggelengkan kepala dan bersembunyi di balik tubuh ibunya.


"Terima kasih atas tawarannya. Maafkan sikap anak saya, memang dia tidak mudah akrab dengan orang lain," jelas Mila.


Rania menganggukkan kepalanya, "Kalau begitu kaki duluan ya. Febby, lain kali jangan sungkan-sungkan ya sama Tante," ucap Rania.


Anak perempuan itu tak menjawab ucapan Rania. Sementara Alvaro mulai merasa tak nyaman dengan tetangganya. Entah mengapa ia merasakan sedikit kejanggalan pada wanita yang menjadi tetangga barunya itu.


"Kalau begitu, kami permisi dulu," ucap Mila yang langsung menggandeng tangan anaknya lebih dulu pergi meninggalkan ketiga orang tersebut.


Rania menganggukkan kepalanya, mereka menatap punggung tetangganya yang berjalan terlebih dahulu. "Bima kenal sama dia?" tanya Rania.


"Dia teman yang Bima ceritakan semalam, Ma." Bima mendongak menatap ibu sambungnya. Rania mengangguk paham.


"Ayo berangkat!" ajak Alvaro.

__ADS_1


Ketiga orang itu pun melanjutkan langkahnya, memasuki lift yang mengantarkan mereka ke lantai dasar.


Bersambung ....


__ADS_2