
Sintia, Dita, dan Juga Bella sedang berada di sebuah cafe. Kali ini mereka berkumpul tanpa Deva. Sejak insiden meminjam uang yang tak kunjung dipinjamkan oleh teman-temannya, membuat Deva menjauh dari ketiga orang tersebut.
Sintia saat itu sedang menatap layar ponselnya. Ia terpaku pada postingan yang baru saja diunggah oleh Rania di akun sosial medianya.
"Kalian sudah melihatnya?" gumam Sintia sembari memegangi mulutnya, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Melihat apa?" tanya Dita yang merasa penasaran.
"Ini ... postingan si Rania," jawab Sintia.
Mereka langsung mengecek ponselnya masing-masing. Mata mereka terbelalak saat melihat postingan Rania yang memperlihatkan hasil USG anak kembarnya.
"Ya ... syukurlah jika memang dia hamil, berarti dia bukan wanita yang mandul," ujar Dita yang kembali meletakkan ponselnya di atas meja, seraya mencebikkan bibirnya.
"Lagi pula aku sih masa bodo dengan dia. Siapa tahu juga dia hanya dijadikan mesin penghasil anak oleh suami dan mertuanya," lanjutnya memutar bola matanya.
__ADS_1
"Iya, kamu benar. Siapa tahu dia hanya dimanfaatkan oleh keluarga suaminya. Biasanya kan orang yang lebih kaya memang seperti itu. Hanya beberapa saja tulus pasti lebih banyak ke modusnya," ujar Sintia yang juga menambahi ucapan Dita.
Sementara Bella tak mengatakan apapun. Ia tak ingin ikut membicarakan tentang Rania. Cukup menjadi pendengar saja tanpa harus menambahi ucapan dari kedua temannya yang sibuk menjelekkan Rania.
Memang benar, sebaik apapun kita, akan tetap salah di mata orang lain. Contohnya saja Rania, saat ia belum hamil, teman-temannya bergunjing membicarakannya dan bahkan mengatakan bahwa wanita tidak akan berharga jika tidak bisa menghasilkan keturunan.
Dan sekarang, setelah Rania hamil dan bahkan memiliki anak kembar, teman-temannya justru mengatakan wanita itu hanya dijadikan mesin penghasil keturunan.
....
Bima teringat akan ucapan ayahnya kemarin, untuk belajar mandiri dan tidak merepotkan ibu sambungnya yang tengah mengandung. Dan Bima pun menuruti ucapan Alvaro.
Anak laki-laki itu segera melepaskan seragam sekolahnya, dan menggantinya dengan pakaian rumahan. Bima juga meletakkan tasnya di tempat biasa, bukan disembarang tempat. Hal itu dilakukannya agar nanti saat Rania memeriksa kamarnya, sang ibunda tidak harus bersusah payah lagi meletakkan peralatan sekolah Bima.
Setelah semuanya selesai, barulah ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke kamar ibunya. Bima mengetuk pintu sebelum masuk. Bima pun mulai memutar handle pintu, dan masuk ke dalam kamar tersebut.
__ADS_1
Namun, tak lama kemudian ia menggaruk-garuk kepalanya, mendapati ibunya yang tengah berbaring tidur sembari mulut menganga. Terdengar suara bising dari dengkuran Rania.
"Ternyata mama tidurnya sedikit berisik," gumam Bima.
Ia berencana memperlihatkan pada ibunya, bahwa dirinya sudah pulang dan bahkan berganti pakaian sendiri. Namun, keinginannya terpaksa tertunda karena Rania yang masih terlelap di alam mimpinya.
Mata Bima menangkap foto yang masih dipegang oleh ibunya, yang tak lain adalah foto hasil USG Rania. Bahkan, wanita tersebut masih setia memegang foto itu dalam keadaan tertidur pulas. Pertanda bahwa ia benar-benar bahagia mendapatkan anak kembar.
Bima mengambil foto itu, lalu melihatnya dengan seksama. "Ini foto apa? Kenapa gambarnya aneh sekali?" gumamnya seraya memajukan bibirnya dua centi.
Ia meletakkan foto tersebut di atas nakas. Lalu membenarkan selimut ibunya, sama seperti saat dirinya yang tengah tertidur, Rania pasti berbuat demikian.
"Tidurlah, Ma. Bima tidak akan menyusahkan mama," ucap Bima yang sesaat kemudian berjalan keluar dari kamar ibunya.
Bersambung ....
__ADS_1