
Mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun tiba di rumah sakit. Pria tersebut bergegas masuk ke dalam, bertanya pada salah satu perawat tempat Bima di rawat. Perawat itu pun langsung memberikan petunjuk pada Alvaro untuk menuju ke unit gawat darurat.
Alvaro melangkahkan kakinya sesuai dengan arahan si perawat tadi. Hingga akhirnya, ia melihat Rania yang tengah duduk sendirian di kursi tunggu dengan pandangan tertunduk.
Rania mendengar langkah kaki yang berjalan ke arahnya, membuat wanita tersebut mengarahkan pandangannya pada sumber suara. Air matanya kembali menetes saat melihat sang suami yang tengah melangkah ke arahnya.
"Mas, ...." Rania beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian memeluk tubuh Alvaro. Wanita itu menangis di dalam pelukan suaminya.
"Mas maafkan aku, aku tidak bisa menjaga Bima dengan baik. Maafkan aku, Mas." Rania berucap dengan air mata yang berlinang semakin deras. Rasa sesal pun menyelimuti diri dikala melihat wajah suaminya.
Alvaro membalas pelukan sang istri. Namun, bibirnya seakan terkunci. Hanya bisa menepuk pelan punggung istrinya dan berusaha untuk menenangkan wanita yang tengah mengandung darah dagingnya itu.
Alvaro melihat penampilan sang istri yang juga tampak kacau. Wanita itu hanya mengenakan baju daster dan terdapat noda darah di pakaiannya. Lantas, pantaskah ia menyalahkan Rania akan kejadian ini? Masihkah ia bersikap egois dan juga merasa kecewa karena Rania, padahal wanita itu juga tidak menginginkan hal ini terjadi.
"Ini bukan salahmu. Kita berdoa saja, semoga tidak terjadi apa-apa pada Bima," ucap Alvaro yang mulai membuka suara.
Pria itu sadar, tidak sepatutnya ia menyalahkan kelalaian Rania. Lagi pula sang istri dalam kondisi hamil besar dan yang terjadi merupakan musibah, bukan hal yang disengaja.
Tak lama kemudian, dokter pun keluar dari ruangan tersebut. Kedua orang itu langsung menghampiri dokter untuk menanyakan kondisi Bima.
"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Alvaro dan Rania serentak.
"Anak bapak dan ibu tidak apa-apa. Hanya ada luka sekitar tiga centi di bagian kepala dan kami juga telah menjahitnya. Pasien masih pingsan karena syok, dan sebentar lagi akan sadar," jelas dokter tersebut.
Rania dan juga Alvaro sedikit lega setelah mendengar penjelasan dokter tadi. Melihat Bima yang bersimbah darah, tentunya membuat Rania sangat khawatir. Namun, sedikit kekhawatiran itu hilang saat mendengar ucapan dokter.
"Bolehkah kami menjenguknya Dok?" tanya Rania.
"Silakan Bu. Kalau begitu saya permisi dulu," ujar dokter tersebut.
"Terima kasih, Dok."
"Sama-sama."
__ADS_1
Setelah dokter pergi, mereka berdua pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Rania berjalan menuju ke arah Bima yang tengah terbaring di atas brankar. Tangan wanita itu mengusap puncak kepala Bima. Sesekali ia menyeka air mata yang jatuh menetes begitu saja.
"Maafkan mama ya, Nak. Gara-gara mama kamu harus seperti ini," ucap Rania beranggapan bahwa semua yang terjadi pada Bima adalah kesalahannya.
Mendengar penuturan sang istri, entah mengapa timbul rasa bersalah di hati Alvaro karena sempat menyalahkan Rania akan kejadian ini. Meskipun hal itu tidak terucap oleh bibirnya, akan tetapi tindakan serta bungkamnya pria itu beberapa menit yang lalu sudah menandakan semuanya.
Alvaro memeluk sang istri," Sayang, ini bukan salahmu. Semua ini adalah musibah. Jangan terlalu menyalahkan dirimu atas kejadian ini," ujar Alvaro.
"Tetap saja, Mas. Aku seperti seorang ibu yang tidak becus menjaga anaknya," tutur Rania.
"Sssttt ... tidak boleh berkata seperti itu. Sebaiknya kamu tenang, pikirkan juga anak kita yang ada di dalam kandungan. Jika kamu terus menerus bersedih seperti ini, tentu saja Bima juga akan merasa sedih. Selain itu, berbahaya juga bagi bayi yang ada di dalam kandunganmu," jelas Alvaro.
"Sekarang kamu tenangkan diri dulu. Kita berdoa supaya Bima cepat sadar dan lekas sembuh," lanjut pria tersebut.
"Iya, Mas." Rania menimpali Alvaro disertai dengan anggukan kecil.
Alvaro melirik ke sekitar, melihat kursi yang ada di seberang brankar Bima terlihat kosong. Ia pun mengambil kursi tersebut dan mempersilakan sang istri untuk duduk terlebih dahulu. Rania menuruti ucapan suaminya. Ia menjatuhkan bokongnya di kursi itu. Tangannya sedari tadi menggenggam tangan Bima, berharap putranya itu segera membuka mata.
Melihat ibunya berurai air mata, Alvaro sedikit menyenggol lengan wanita yang telah melahirkannya itu. Memberikan kode pada nenek-nenek berambut coklat itu untuk tidak menangis, karena hal tersebut akan memancing tangis istrinya. Rania telah banyak mengeluarkan air mata, ia tak ingin kehamilan Rania akan terganggu dan membahayakan ibu dan anak yang ada di dalam kandungannya.
Arumi mengerti akan kode yang diberikan oleh putra semata wayangnya itu. Dengan cepat wanita tua itu menyeka air matanya, agar menantunya tak kembali bersedih.
"Maafkan Rania, Ma. Rania tidak menjaga Bima dengan baik," ucap Rania dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak Nak, ini adalah musibah. Tidak ada yang patut disalahkan atas kejadian ini. Semuanya sudah kehendak Tuhan," ujar Arumi seraya menyeka air mata yang sempat menetes di pipi mulus menantunya.
"Dokter bilang, Bima tidak apa-apa. Ia hanya mengalami luka ringan saja. Sebentar lagi Bima pasti akan segera sadar," ucap Alvaro.
"Iya, benar. Sebaiknya kita tunggu Bima sadar. Dan jangan menangis di depan Bima. Pastinya cucuku itu akan merasa sedih juga jika kita bersedih," sambung Fahri.
Yang lain pun menganggukkan kepala, membenarkan ucapan Fahri. Dan memilih untuk duduk sembari menunggu Bima hingga membuka mata.
Setelah berselang 25 menit lamanya, Bima pun mulai membuka mata. Anak laki-laki itu melihat ke sekitarnya. Tatapan kekhawatiran bercampur senyum.
__ADS_1
"Bima ada di mana?" tanya anak laki-laki tersebut.
"Sekarang Bima ada di rumah sakit, Nak. Tadi Bima terjatuh dari tangga," jelas Rania dengan lembut sembari menggenggam tangan anaknya.
Anak laki-laki itu pun tampak mengingat-ingat sejenak, lalu kemudian tersenyum. "Maafkan Bima ya, Ma. Bima tidak menuruti ucapan mama," ucap Bima.
"Iya, Nak. Jangan diulangi ya, Sayang. Jika terjadi sesuatu dengan Bima, bukan hanya mama saja yang sedih. Papa, nenek, kakek, dan yang lainnya juga ikut sedih," jelas Rania.
"Kami semua sayang Bima. Jadi, apapun yang dikatakan oleh mama, Bima harus turuti ya sayang," lanjut Alvaro.
"Iya, Pa. Maafkan Bima ya sudah membuat semuanya menjadi sedih," ucap Bima.
"Tidak apa-apa, Sayang. Sekarang Bima harus sembuh ya, supaya kita bisa kumpul lagi di rumah," imbuh Arumi.
"Iya, Nek."
Tak lama kemudian, dokter pun datang untuk mengecek kondisi Bima. Dokter mengajak Bima berbincang-bincang, Bima pun terlihat mudah akrab pada orang yang baru ia temui.
"Kondisi pasien cukup baik, besok sudah diperbolehkan untuk pulang," ucap Dokter tersebut.
"Baik, Dok. Terima kasih ya Dokter," ujar Arumi.
"Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu untuk mengecek pasien yang lainnya," ucap dokter tersebut.
"Iya Dok, Silakan." Arumi memberikan jalan pada dokter muda tersebut.
Matanya terus menatap dokter berparas menawan itu. "Dokternya tampan ya,"gumam Arumi.
"Ingat umur, Nek." Fahri membuka suara, sengaja menyebut sang istri dengan sebutan nenek agar sang istri menyadari bahwa ia tidak muda lagi.
Semua yang ada di ruangan tersebut langsung tertawa mendengar perdebatan antara dua pasangan lanjut usia itu.
Bersambung .....
__ADS_1