Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 136. Masa Lalu


__ADS_3

"Mas, apakah benar gosip yang menyebar di kantor? Benarkah Juni dan Shinta berpacaran?" tanya Rania dengan antusias, terlihat bagaimana cara ia menyampaikan pertanyaan tersebut seakan menuntut jawaban yang jelas dari suaminya.


"Kamu tahu dari mana?" tanya Alvaro menatap istrinya dengan seksama.


"Ck! Tinggal jawab iya atau tidak, Mas. Kenapa harus bertanya balik," gerutu Rania sembari melipat kedua tangannya ke depan.


"Mereka tidak berpacaran." Alvaro menimpali tanpa melihat lawan bicaranya. Ia sangat muak mendengar kabar itu di kantor dan sekarang harus mendapati kenyataan bahwa sang istri juga sudah mengetahuinya.


Rania hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ia melirik suaminya membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Alvaro menepuk ruang yang ada di sebelahnya, menyuruh agar sang istri juga ikut berbaring bersama.


Rania pun beringsut maju, dan berbaring tepat di samping sang suami. Ia mengambil lengan Alvaro, lalu kemudian mendekatkan tubuhnya, membuat lengan Alvaro sebagai bantal tidur ternyaman.


"Mas, kira-kira mas mau anak berapa dariku?" tanya Rania sembari memasukkan tangannya ke dalam baju sang suami, meraba dada bidang serta otot perut dari balik pakaian tersebut.

__ADS_1


"Dulu, Mas pernah menginginkan banyak anak. Namun, sekarang Mas lebih membatasinya. Mas masih ingat, saat Diara yang menahan rasa sakitnya, akan tetapi masih sempat mengulas senyumnya. Mas benar-benar merasa tak berdaya saat melihat wajah pucatnya," ucap Alvaro.


"Melihat bagaimana pengorbanan seorang wanita untuk melahirkan anaknya, pada detik itu juga, Mas keluar dari ruangan. Langsung mencari keberadaan mama dan bersujud di depan kaki mama karena merasa sangat bersalah," lanjut Alvaro mengenang masa lalunya.


"Saat itu Bima lahir, Mas merasa sangat bahagia melihat seorang bayi tampan yang digendong oleh perawat. Namun, setelah sehari melahirkan, Diara pun pergi untuk selamanya. Dia menitipkan padaku seorang anak yang tampan menjadi pengganti dirinya. Agar aku tidak merasa kesepian meskipun tanpa kehadirannya," papar Alvaro.


Rania menyimak semua ucapan yang dilontarkan oleh Alvaro. Ia sedikit mendongak, menatap wajah suaminya. Terlihat bulir bening yang jatuh di pipinya. Rania menyeka air mata sang suami dengan lembut.


"Maafkan aku, tidak seharusnya aku seperti ini di depanmu. Tidak seharusnya aku membahas masa lalu karena ini tentu saja akan menyakitimu," ujar Alvaro seraya mengecup kening suaminya.


Alvaro langsung memberikan kecupan bertubi-tubi di puncak kepala Rania. Ia sungguh beruntung memiliki istri yang pengertian seperti Rania.


"Terima kasih ya, Sayang."

__ADS_1


"Sama-sama, Mas." Rania menimpali diiringi dengan anggukan pelan.


Alvaro melirik Rania yang masih setia berada di pelukannya. Seakan tempat itu merupakan tempat ternyaman bagi wanita tersebut.


"Sudah selesai mengajari Bima tadi?" tanya Alvaro.


"Sudah, Mas. Anakmu sangat pintar, yang dipelajari tadi ia mudah mencernanya," ucap Rania.


"Keberhasilan itu bukan semata terlihat dari anak didiknya saja, melainkan juga usaha seorang guru yang luar biasa sabar dalam mengajar," ujar Alvaro.


"Aku hanya mengajarinya beberapa menit," celetuk Rania.


"Tetap saja, kamu sudah menjadi guru Bima. Sebaiknya jangan terlalu memuji Bima secara langsung. Aku takut dia akan besar kepala nantinya," ujar Alvaro.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2