Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 130. Merasa Bosan


__ADS_3

Pagi ini, Alvaro dan Bima sudah bersiap hendak berangkat. Namun, keduanya diharuskan untuk mengisi perut mereka sebelum berangkat, karena pikiran tidak fokus jika dalam keadaan lapar.


Alvaro melihat Rania yang sudah ada di sana membantu para pelayan untuk menyiapkan sarapan. Melihat hal tersebut, Alvaro langsung segera menghampiri istrinya yang tengah memegang dua piring untuk diletakkan di atas meja.


"Bukankah sudah Mas katakan, jika kamu tidak boleh terlalu kelelahan. Duduk saja di sana! Biar mas yang membawanya," titah Alvaro yang tak bisa dibantah.


Rania mengerucutkan bibirnya, lalu kemudian berjalan ke meja makan dan menduduki salah satu kursi yang ada di sana.


Alvaro pun meletakkan makanan di atas meja. Pria itu melirik istrinya, lalu kemudian mengerlingkan matanya dengan nakal, mencoba agar membujuk sang istri untuk tidak merajuk. Sementara Rania langsung membuang muka begitu saja.


Bima menyaksikan tingkah ayahnya pun memasang wajah kebingungan, membuat anak laki-laki itu bertanya-tanya.


"Papa kenapa? Kelilipan? Atau sakit mata?" tanya Bima memperlihatkan wajah polosnya.


Rania mendengar itu pun tak bisa menahan tawanya. Kali ini Bima berhasil membalikkan suasana hatinya menjadi ceria.


"Iya, Nak. Mungkin mata papamu kemasukan gajah," ujar Rania yang masih terkikik geli sedari tadi.


Alvaro memperhatikan istrinya. "Dia memang selalu saja tertawa jika suaminya teraniaya seperti ini," gerutu Alvaro.


"Mata papa sedikit perih, Nak. Ayo makanlah! Setelah ini kita berangkat," ujar Alvaro yang memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Mereka pun menikmati sarapan yang tersaji di atas meja dengan sedikit pembicaraan ringan.


"Kamu sudah merasa enakan, Sayang?" tanya Alvaro yang bermaksud bahwa sang istri tidak merasakan mual-mual lagi.


"Sudah tidak lagi, Mas." Rania menjawab sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Oh iya, kamu kapan rencananya untuk pergi ke dokter kandungan? Biar nanti kelihatan tebakan kita semalam," ucap Alvaro lagi sembari menaik-turunkan alisnya.


"Sekarang belum bisa, Mas. Biasanya terdeteksi kembar atau tidaknya itu saat menginjak usia kehamilan 10-13 Minggu. Lagi pula ini juga baru dua Minggu, Mas. Jadi belum kelihatan," timpal Rania.


"Nanti kabari Mas ya, biar Mas yang antar kamu," ujar Alvaro. Ditimpali oleh Rania dengan sebuah anggukan pelan.


Mereka telah menyelesaikan sarapannya. Kini waktunya Alvaro dan Bima pun berpamitan untuk berangkat.

__ADS_1


Seperti biasa, Alvaro berpamitan dengan mengecup kening sang istri, sementara Bima mencium punggung tangan ibu sambungnya.


"Hati-hati di jalan ya, Mas." Rania melambaikan tangannya pada kedua pria berbeda generasi yang telah bersiap untuk masuk ke dalam mobil.


Tak lama kemudian, mobil pun mulai melaju Rania menatap kendaraan yang dibawa oleh sang suami menuju ke jalanan. Setelah memastikan mereka hilang dari pandangan, Rania kembali masuk ke dalam rumah.


Di rumah, ia pun mulai merasa bosan. Ia hanya menghabiskan waktunya dengan menatap layar televisi. Wanita itu terlihat sangat jenuh menekan remote untuk mencari channel televisi dan semuanya terlihat benar-benar membosankan.


"Apa yang harus aku lakukan untuk mengusir rasa bosanku. Sungguh! Aku benar-benar merasa jenuh saat ini. Aku ingin melakukan sesuatu akan tetapi Alvaro selalu saja melarangku ini dan itu," keluh Rania.


Rania keluar dari kamarnya, mencoba turun ke bawah. Ia melihat para pelayan sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang menyapu halaman, ada pula yang menata bunga serta membuang kelopak yang telah layu.


Rania pun berinisiatif mendekati bibi yang tengah merapikan dedaunan bunga tersebut. Pelayan itu langsung menundukkan kepalanya saat menyadari kedatangan Rania.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanyanya dengan sopan.


"Bisakah kamu membantuku untuk menghilangkan rasa bosan? Aku sungguh benar-benar merasa bosan tak melakukan apapun dan hanya duduk sembari memandangi televisi dari pagi hingga sore," ungkap Rania.


"Bagaimana saya bisa membantu menghilangkan rasa bosan itu, Nyonya?" tanya pelayan tersebut.


"Biarkan aku membantu kalian."


"Tenang, aku tidak melakukan hal yang berat-berat. Jika nanti aku merasa lelah, aku bisa beristirahat," ucap Rania.


"Berikan gunting itu, biarkan aku yang memotongnya," lanjut wanita tersebut.


Pelayan itu pun menyerahkan gunting yang ada di tangannya kepada majikannya. Rania tersenyum, ia mulai menggunting satu persatu, membuang kelopak bunga yang sudah layu.


"Rasa bosanku sedikit berkurang setelah melakukan ini," ucap Rania.


Tak lama kemudian, ia pun merasa tangannya gatal-gatal setelah memotong kelopak bunga tersebut. Awalnya rasa gatal itu hanya ringan. Namun, lama kelamaan timbul bintik-bintik merah di punggung tangannya.


Rania terkejut sembari menggaruk-garuk bagian tangannya yang terasa sangat gatal. "Duh, kenapa jadi merah-merah seperti ini," gumamnya.


Pelayan yang baru saja membersihkan dedaunan yang dipangkas oleh Rania pun terkejut, saat berjalan menghampiri Rania dan melihat ibu hamil itu tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Astaga Nyonya, ada apa dengan tangan Nyonya?" tanya pelayan tersebut terlihat sangat panik.


"Entahlah. Tiba-tiba saja tanganku merasa gatal dan timbul bintik-bintik merah seperti ini," jawab Rania yang masih sibuk menggaruk punggung tangannya.


"Ayo masuk dulu ke dalam Nyonya, biar bibi bantu obati," ujar pelayan tersebut merasa ketakutan jika sampai hal ini ketahuan oleh Tuannya, tentu saja akan berimbas padanya.


Pelayan tersebut membawa Rania masuk ke dalam. Rania memilih untuk mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum di obati oleh asisten rumah tangga tersebut.


Setelah mencuci tangannya dengan sabun antiseptik, ia pun menghampiri pelayan yang sedari tadi telah menunggunya. Mengoleskan salep obat gatal-gatal di tangan Rania.


"Jangan digaruk, Nyonya. Takutnya nanti tangan Nyonya luka dan membekas," ucap pelayan tersebut kembali memasukkan salep yang ada di tangannya ke kotak obat.


"Baiklah," timpal Rania pasrah memandangi tangannya yang sedikit mengerikan akibat bintik-bintik merah tersebut.


"Kok bisa seperti ini ya, Bi? Padahal aku tidak alergi pada bunga mawar," gumam Rania yang merasa keheranan.


"Mungkin Nyonya tanpa sengaja menyentuh ulat di salah satu daun tersebut, Nyonya. Apalagi Nyonya kan tidak menggunakan sarung tangan memotong bunga-bunga yang telah layu," timpal pelayan tersebut.


"Bi, jangan bilang-bilang sama Alvaro ya kalau aku tadi membantu bibi memotong tanaman. Nanti dia pasti akan marah padaku dan mengatakan kalau aku orang yang tidak menurut," ujar Rania.


Pelayan tersebut tampak ragu-ragu menganggukkan kepalanya.


"Janji ya, Bi. Jangan ragu-ragu seperti itu menjawabnya," protes Rania.


"Iya, Nyonya. Bibi janji untuk tidak mengatakan kejadian ini pada Tuan."


"Bagus." Rania mengacungkan kedua ibu jarinya pada pelayan tersebut.


"Oh iya, Bi. Bibi masih ada kerjaan tidak?" tanya Rania.


"Memangnya kenapa Nyonya?" tanya pelayan tersebut.


"Tolong kupasin mangga yang ada di dalam kulkas ya. Mungkin gatalnya akan segera menghilang setelah aku mengunyah," ucap Rania.


"Baik, Nyonya." pelayan itu pun langsung berjalan menjauh dari Rania, melaksanakan tugas yang diberikan oleh majikannya itu.

__ADS_1


"Apa hubungannya buah mangga dengan mengurangi rasa gatal?" batin pelayan tersebut, ia pun terkekeh mengingat ucapan Rania dan ekspresi saat dia memintanya yang terlihat benar-benar menggemaskan.


Bersambung ....


__ADS_2