Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 54. Pengikut Baru


__ADS_3

Rania tengah berada dalam perjalanan menuju ke klinik. Gadis itu terjebak macet, membuat Rania semakin menggeram kesal.


"Ini semua karena duda itu! Kenapa aku selalu saja mudah tertipu olehnya. Lihat saja, aku tidak akan mau menerimanya sekalipun dia bersimpuh di hadapanku!" ketus Rania yang benar-benar kesal.


Ia kembali melirik jam tangannya. Hampir dua puluh menit lamanya gadis itu terjebak kemacetan, karena di depan sedang ada insiden kecelakaan.


Rania merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya. Lalu kemudian mencari salah satu kontak, dan menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.


"Hilda, aku akan datang sedikit terlambat. Saat ini sedang terjebak macet, sepertinya sedang ada kecelakaan," jelas Rania.


"Baiklah, Bu Dokter. Nanti aku akan memberitahukan kepada pasien untuk sabar menunggu," timpal Hilda dari seberang telepon.


"Iya, kalau begitu aku tutup teleponnya."


Rania pun langsung memutuskan panggilan telepon tersebut secara sepihak. Gadis itu kembali memusatkan pandangannya ke jalanan. Sesekali menekan klakson mobilnya karena terlalu kesal.


Di waktu yang bersamaan, Alvaro juga sedang terjebak macet. Ia melirik putranya yang tampak gelisah sedari tadi, karena bisa dipastikan dia datang terlambat ke sekolah.


"Sabar ya, Nak. Kita sedang terjebak macet parah. Nanti papa yang akan menjelaskan pada Bu Guru alasan keterlambatanmu," ucap Alvaro yang memberikan pengertian pada putranya itu.


"Baik, Pa." Bima menganggukkan kepalanya, mematuhi ucapan ayahnya itu.


Tak lama kemudian, kemacetan pun berangsur berkurang. Alvaro kembali melajukan mobilnya saat kendaraan yang ada di depannya telah melaju sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, lalu lintas pun kembali lancar seperti semula.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun tiba di sekolah Bima. Suasana di depan sudah sepi karena seluruh siswa sudah masuk ke dalam kelas.


Nana yang saat itu tengah mengajar, melihat Bima yang baru datang bersama dengan Alvaro.


"Bima terlambat?" tanya Nana dengan lembut, gadis itu menghampiri Bima.


"Maaf Bu Guru. Tadi di jalan macet," timpal Bima.


"Maaf karena terlambat. Tadi kami terjebak macet parah," ucap Alvaro yang menambahi ucapan anaknya.


"Iya, tidak apa-apa. Bima silakan duduk!" ujar Nana.


Bima pun mulai berjalan menuju ke bangkunya. Nana mengalihkan pandangannya pada Alvaro, lalu kemudian mengulas senyum.


"Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Alvaro yang ditimpali sebuah anggukan pelan oleh Nana.


Sepeninggal Alvaro, Nana pun kembali melanjutkan aktivitasnya. Memberikan beberapa pelajaran hari ini kepada anak-anak didiknya.


.....

__ADS_1


Di kantor, semua heboh karena berita tentang kedekatan antara Alvaro dan Shinta. Bahkan beberapa kali Shinta mendapatkan tatapan kebencian dari rekan kerjanya.


"Astaga, kenapa mereka menjadi seperti ini? Siapa pula yang menyebarkan berita tentang kedekatanku dengan Pak Alvaro," gerutu Shinta yang mencoba mengacuhkan tatapan sekelilingnya yang memandang dirinya layaknya kotoran.


Shinta masuk ke dalam lift, tiba-tiba ada seorang gadis yang sengaja menabrak bahunya, membuat Shinta meringis kesakitan. Ia mendelik menatap wanita yang menabraknya. Wanita tersebut justru membalas tatapan mata Shinta dengan sedikit membesarkan kedua bola matanya.


"Kenapa? Mau mengadu pada Pak Alvaro?" bentak wanita tersebut.


Shinta memilih diam sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Percuma ia meladeni wanita seperti itu karena pada akhirnya, dia juga lah yang akan kalah.


Pintu lift mulai terbuka. Shinta memilih untuk terakhir keluar dari ruangan sempit itu, karena Shinta tidak ingin kembali mendapatkan perlakuan sepeti tadi.


Desas-desus yang tengah menyebar di kantor akhirnya sampai di telinga Alvaro. Juni sang asisten melaporkan semuanya pada atasannya itu. Alvaro menanggapi berita tersebut dengan tersenyum remeh.


"Ada-ada saja. Beri peringatan pada mereka yang suka menyebarkan berita yang tidak benar. Bila perlu bawa padaku, biar aku yang menegurnya atau langsung memecatnya," tukas Alvaro.


"Baik, Pak."


"Kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu!" titah Alvaro.


"Baik, Pak. Kalau begitu, saya pamit undur diri terlebih dahulu," ujar Juni yang langsung melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Alvaro kembali menatap dokumen yang ada di meja kerjanya. Ia menggeleng-gelengkan kepala saat mendengar laporan dari asistennya tadi.


Alvaro menatap layar monitornya. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Alvaro pun langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Om Sam."


"Halo, Bocah Kecil. Bagaimana kabarmu?" tanya si penelepon yang tak lain adalah Samuel.


"Baik, Om. Jangan panggil aku bocah lagi, Om. Aku sudah besar," protes Alvaro seraya terkekeh geli. Begitu pula dengan Samuel.


"Bagaimana kabar papa dan mamamu? Apakah mereka masih sering bertengkar hanya karena masalah sepele?" tanya Samuel.


"Ya begitu lah, Om. Oh iya, bagaimana kabar om di sana?" tanya Alvaro.


"Om sekeluarga dalam keadaan sehat. Sebenarnya tujuan om menghubungimu karena ingin ...."


"Pinjam uang ya, Om?" celetuk Alvaro seraya terkekeh geli.


"Dasar bocah nakal!" umpat Samuel dari seberang telepon.


"Om ingin mengajak kalian sekeluarga datang ke rumah om bulan depan tanggal 20. Anak om yang kedua akan melangsungkan pernikahannyq," ujar Samuel menjelaskan maksud dan tujuannya.

__ADS_1


"Baik, Om. Nanti akan aku sampaikan juga pada mama dan papa serta Rania," ucap Alvaro. Pria itu tanpa sadar telah menyebutkan nama yang salah.


"Rania? Siapa dia? Sepertinya kamu melupakan Alvira dengan menyebut nama Rania," ujar Samuel.


"Salah sebut, Om."


"Siapa Rania? Janda dari gang mana?" goda Samuel.


Wajah Alvaro memerah. Pria ini memang sangat akrab dengan sosok laki-laki yang pernah mencintai ibunya terdahulu.


"Gadis itu adalah tetanggaku, Om." Alvaro menimpali ucapan Samuel.


"Gadis? Tetangga? Wow! Pantas saja kamu menolak putriku. Datanglah bersama tetanggamu itu, sekalian perkenalkan om padanya," celetuk Samuel.


"Putri om? Yang mana?" tanya Alvaro.


"Fanny, dia adalah putriku, putri bungsuku. Wanita pertama yang melakukan kencan buta padamu. Apakah ibumu tidak mengatakan sesuatu padamu?" tanya Samuel.


"Tidak, Om. Aku tidak tahu jika dia adalah putri om," ujar Alvaro.


"Tidak apa-apa, lagi pula hati tidak bisa dipaksakan. Om hanya ingin menyampaikan pesan tadi ya. Om akan menunggu kedatangan kalian," ucap Samuel.


"Siap, Om."


Panggilan telepon pun terputus. Alvaro kembali menatap layar ponselnya. "Haruskah aku mengejarnya? Atau melepaskannya saja," batin Alvaro yang kembali meletakkan benda pipih tersebut di atas meja.


.....


Malam harinya ...


Rania merebahkan dirinya di atas benda yang paling membuatnya nyaman. Apalagi jika bukan kasur. Gadis tersebut mengambil ponsel yang tak jauh dari jangkauannya. Ia pun membuka laman sosial medianya, mendapatkan satu pemberitahuan yang belum terbaca.


Rania membuka pemberitahuan tersebut. Dan melihat bahwa ia baru saja mendapatkan satu pengikut baru.


Alv00 baru saja mengikuti anda.


Rania mengernyitkan keningnya. Ia melihat foto profil tersebut adalah foto bayi yang sepertinya tak asing baginya. Gadis itu pun mengklik profil akun tersebut, dan langsung beralih memperlihatkan berbagai galeri postingan pemilik akun itu.


Sontak matanya membulat saat melihat jumlah pengikut akun itu. Dan ia menggulirkan layar ponselnya, melihat sosok anak kecil yang tengah tersenyum manis menatap ke arah kamera.


"Bima? Jadi akun ini milik ...." Rania menutup mulutnya tak percaya. Gadis itu pun kembali menggulir layar ponselnya, melihat postingan tersebut satu persatu.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2