
"Apakah kamu bisa meluangkan waktumu besok?" tanya Alvaro.
"Wah, ada apa ini? Kenapa dia bertanya seperti itu? Apakah dia benar-benar akan mengajakku kencan?" batin Rania yang mulai berbunga-bunga.
Dengan dehaman tipis, serta dagu yang sedikit diangkat ke atas, Rania pun menjawab pertanyaan dari tetangganya itu.
"Jika itu hal yang penting, aku akan usahakan untuk meluangkan waktuku," timpal Rania yang kembali memasang mode sok jual mahal.
"Ini bukan hal yang terlalu penting. Ya sudah, kalau begitu lupakanlah!" ucap Alvaro.
Mendengar penuturan dari Alvaro, seketika kening Rania berkerut. Saat pria itu hendak kembali ke rumahnya, Rania langsung mencegah Alvaro dengan menahan lengan pria tersebut. Ia tak ingin menghilangkan kesempatan yang dimilikinya.
"Se-sebaiknya kamu katakan saja. A-aku pasti akan meluangkan waktuku," ujar Rania yang sedikit menurunkan gengsinya.
Alvaro melirik tangan Rania yang masih melingkar di lengannya. Rania yang sadar maksud dari lirikan itu pun segera menyingkirkan tangannya.
"Tapi ini akan sedikit merepotkan," ucap Alvaro.
"Tidak apa-apa, katakanlah!"
"Besok, aku berencana ingin mengajakmu ke sekolah Bima," tutur pria tersebut mengutarakan maksudnya.
"Sekolah Bima?" tanya Rania heran.
"Hmmm ... besok di sekolahnya akan ada pentas seni yang mengundang para orang tua. Apakah kamu berkenan datang bersamaku?" tanya Alvaro.
Rania tampak menimbang-nimbang keputusannya. "Besok pagi ya?" tanyanya kembali memastikan.
"Iya, besok pagi. Jika kamu tidak bisa, tidak apa-apa," ucap Alvaro.
"Aku bisa. Aku akan datang bersamamu besok," ujar Rania.
"Ya sudah, kalau begitu tidurlah! Besok aku akan kembali menemuimu," ucap Alvaro.
Rania menganggukkan kepalanya sejenak, lalu kemudian masuk ke dalam rumahnya. Setelah memastikan Rania masuk ke dalam, Alvaro pun juga masuk ke dalam rumahnya.
Pria tersebut menutup pintu, lalu kemudian tersenyum mengingat ekspresi dan sikap yang ditunjukkan oleh Rania tadi.
__ADS_1
"Mulutnya terkesan menolak, tetapi ekspresinya seakan tak rela untuk kehilangan kesempatan. Dengan sedikit pancingan, rasa gengsinya menjadi luluh seketika," gumam Alvaro sembari menggelengkan kepalanya. Ia menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah lengkungan yang indah.
"Gadis yang menggemaskan," lanjutnya yang kemudian melangkah menuju ke kamar.
Di waktu yang bersamaan, Rania tampak senang meskipun hanya diajak ke sekolahan Bima. "Ini awal yang baik, bukan? Dia mengajakku ke sekolahan anaknya, itu tandanya aku akan mengemban peran sebagai ibu dari anaknya?" ujar Rania dengan berbinar, memeluk boneka berukuran jumbo yang ada di kamarnya.
"Membayangkannya saja sudah membuatku senang," lanjut gadis tersebut.
Ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur, masih memeluk bonekanya dengan pandangan menatap ke arah langit-langit rumah.
"Sepertinya malam ini aku akan bermimpi indah, semoga saja besok aku tidak membuat kesalahan yang berakibat pria itu tak ingin mengajakku keluar," racau Rania.
Rasa kantuk yang sedari tadi ia tahan, kembali menyerangnya. Perlahan mata indah itu pun tertutup sempurna dengan bibir yang masih membentuk sebuah senyuman.
...----------------...
Matahari mulai menampakan sinarnya, suara kicauan burung juga terdengar bersahutan menyambut pagi yang cerah ini. Rania bersenandung kecil, keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak segar.
Ia berjalan ke lemari pakaiannya, mencari setelan yang cocok untuk dikenakannya hari ini. Satu-persatu ia mengeluarkan setelan andalannya, akan tetapi Rania merasa pakaiannya tidak ada yang cocok. Bagaimana pun juga, ia ingin tampil cantik di depan Alvaro meskipun hanya diajak ke sekolahan, bukan berkencan.
Setelah cukup memakan waktu yang lama, memadukan dress dengan ikat pinggang, serta memoles sedikit wajahnya dengan riasan agar terlihat lebih segar, dan menata rambut lurusnya yang diikat pony tail.
Rania pun telah siap dengan penampilannya. Tak lama kemudian, terdengar suara bel pintu rumahnya berbunyi. Rania mengembangkan senyumnya, ia bisa menebak bahwa yang melakukan hal tersebut tak lain adalah tetangganya.
Rania berjalan membukakan pintu. Penampilannya tampak manis dan juga anggun. Berusaha untuk meluluhkan hati pak duda, tetangga sebelah rumahnya.
Ceklekkk ...
Pintu terbuka, Alvaro melihat Rania dengan cukup kagum. Namun, pria tersebut sangat pandai bermain ekspresi. Seolah gadis yang ada di hadapannya hanya itu terlihat biasa-biasa saja.
"Kamu sudah siap?" tanya Alvaro
Rania mengulas senyum, lalu kemudian menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita sarapan dulu sebelum berangkat!" ajak Alvaro.
Bak kerbau yang dicocok hidungnya, Rania pun kembali menganggukkan kepalanya, menuruti semua ucapan tetangganya itu.
__ADS_1
Keduanya berjalan beriringan, saat memasuki rumah Alvaro, ia melihat Bima tengah menunggu di meja makan. Pria kecil itu tersenyum lebar, melihat Rania yang ikut datang ke sekolahnya.
"Asyik! Akhirnya Bu Dokter mau datang ke sekolah Bima," ujar Bima terdengar sangat antusias.
Rania mengulas senyumnya, menjatuhkan bokongnya di samping pria kecil tersebut. Gadis itu mencubit pipi gembul Bima.
"Iya. Bu Dokter ingin melihat penampilan Bima," ucap Rania.
"Silakan dinikmat," ujar Alvaro.
Rania menganggukkan kepalanya, lalu mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya. Ketiga orang itu pun menikmati sarapannya dengan tenang.
Setelah selesai menikmati sarapan, ketiganya bersiap untuk berangkat. Bima menggandeng tangan Rania, ia pun melupakan ayahnya sejenak saat bersama dengan Rania.
"Bu dokter duduknya di depan saja, biar Bima duduk di belakang," ucap Bima yang langsung masuk ke dalam mobil.
"Masuklah!" ucap Alvaro.
Rania pun langsung masuk ke dalam mobil dan menempati kursi depan, sesuai dengan ucapan Bima. Sementara Alvaro tersenyum samar, Bima berucap demikian tentu saja karena ucapan sang ayah yang sebelumnya menyarankan pada anaknya lebih aman duduk di belakang jika ada Bu Dokter. Dan Bima pun menuruti ucapan ayahnya itu. Untunglah Bima tidak mengatakannya dengan jujur, jika memang begitu, tentunya Alvaro akan kembali kehilangan muka lagi.
Alvaro mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Rania yang terlihat sangat cantik.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, mobil yang dikendarai Alvaro pun tiba di lokasi. Ketiga orang tersebut langsung turun dari kendaraannya.
Suasana sekolahan tersebut tampak ramai, para orang tua pun berbondong-bondong menggandeng anak mereka masing-masing untuk masuk ke area sekolah.
Beberapa teman Bima yang sempat mengatai Bima tidak punya ibu, langsung bungkam seketika saat melihat Bima berjalan dengan seorang wanita cantik.
"Apakah dia istrinya?" tanya salah satu wali murid.
"Mungkin saja. Lihatlah! Wanita itu benar-benar cantik!" ucap wali murid yang lainnya, menatap Rania sembari berdecak kagum.
Nana melihat kedatangan Alvaro. Ia hendak mengulas senyumnya, akan tetapi senyum itu memudar saat melihat Bima menggandeng seorang wanita cantik. Pria kecil itu tampak sangat bahagia bersama dengan wanita tersebut.
"Apakah dia yang akan menjadi ibu pengganti untuk Bima?" lirih Nana.
Bersambung ....
__ADS_1