Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 134. Ada Apa Denganku?


__ADS_3

Juni baru saja keluar dari ruangan atasannya. Ia melihat Shinta yang sudah berdiri di depan pintu. Pria tersebut tak berucap apapun, mempersilakan Shinta masuk dengan gerakkan tubuhnya.


Entah mengapa, Shinta merasa sedikit kecewa karena Juni yang mulai menjauh darinya. Gadis itu juga sempat mendengar rumor yang tersebar, bahwa ia dan Juni memiliki hubungan khusus


"Jahat sekali orang yang menyebarkan gosip murahan itu," gumam Shinta sembari menatap punggung Juni yang semakin lama semakin menjauh.


Shinta menghela napasnya sesaat, lalu kemudian kembali melanjutkan kegiatannya untuk menemui sang atasan, memberikan salinan dari hasil rapat tadi.


....


Tak terasa, waktu pun berjalan dengan begitu cepat. Alvaro melirik jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 7 malam. Pria itu segera membereskan dokumen yang ada di atas meja, menumpuknya jadi satu. Beranjak dari tempat duduknya, meraih jas lalu mengenakannya.


Alvaro keluar dari ruangannya. Suasana kantor mulai sepi. Namun, pandangannya terarah pada Juni yang masih ada di meja kerjanya. Alvaro pun menghampiri sang asisten.


Ketukan sepatu milik Alvaro tertangkap oleh indera pendengaran Juni, membuat pria tersebut mengarahkan pandangannya pada sumber suara.


"Pak, ..." Juni menatap pria yang sedang berjalan menuju ke arahnya.


"Kamu belum pulang?" tanya Alvaro.


"Saya baru saja hendak pulang," timpal Juni beranjak dari tempat duduknya.


Alvaro menjengit saat Juni dengan sigap langsung bergegas seusai Alvaro menegurnya.


"Jika memang tidak ada pekerjaan lagi, kenapa kamu masih berada di sini?" tanya Alvaro.


"Saya menunggu bapak."


"Menungguku?" Alvaro menunjuk dirinya dan diiyakan oleh Juni.


"Untuk apa menungguku?" tanya Alvaro heran.


"Karena saya sayang Pak Alvaro," jawab Juni dengan enteng.


Alvaro mengerjapkan matanya beberapa kali. Seakan suara jangkrik terdengar saat itu juga karena ucapan ambigu yang baru saja dilontarkan oleh Juni. Alvaro menatap ke kanan dan ke kiri, tak ada satu pun orang yang berada di sana.

__ADS_1


"Pembicaraan apa ini? Apakah kamu baru mengungkapkan perasaanmu padaku?" tanya Alvaro spontan berucap demikian.


"Hah?!" Juni sedikit menganga mendengar ucapan Alvaro.


"Sebaiknya aku sarankan untuk kamu beristirahat. Atau aku akan memberikan rujukan ke salah satu rumah sakit jiwa supaya kamu kembali normal," tutur Alvaro.


"Rumah sakit jiwa?" gumam Juni yang masih bingung dengan ucapan atasannya, sementara Alvaro juga bingung dengan ucapan sang asisten.


Alvaro memilih berjalan terlebih dahulu meninggalkan Juni, bibirnya mengucapkan kalimat-kalimat dengan suara pelan yang tak dapat ditangkap oleh Juni.


"Apakah pak bos salah mengartikan maksudku? Aku hanya berniat untuk menumpang mobilnya saja," ujar Juni sembari mengendikkan bahunya.


"Pak tunggu!" seru Juni menyusul atasannya yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkannya.


Alvaro masuk ke dalam lift. Pintu baja tersebut hampir tertutup sempurna, akan tetapi langsung ditahan oleh Juni. Pria berperawakan tinggi tersebut juga ikut masuk ke dalam lift tersebut.


Ia merasa tidak nyaman dengan ucapan yang didengarnya tadi. Pria itu menyamping, menatap sang asisten.


"Begini Jun. Aku ingin menjelaskan bahwa aku adalah pria yang normal," papar Alvaro.


"Aku bukanlah tipe pria yang menyukai adu pedang," ucap Alvaro.


"Aku juga lebih menyukai donat yang lebih manis dari pada pisang," balas Juni lagi.


Alvaro terdiam sesaat, mencerna ucapan dari asistennya. Ia berhasil mengetahui maksud ungkapan yang Juni ucapkan tadi. Gara-gara penuturan kata 'sayang' yang diucapkan oleh Juni beberapa menit yang lalu membuat otak Alvaro mencerna sesuatu dengan sedikit lamban.


"Baiklah, aku sangat senang jika kamu berpikiran seperti itu," ujar Alvaro merasa lega.


Juni terkekeh melihat atasannya yang menjadi salah paham karena ucapannya tadi. "Ucapan saya yang tadi bukanlah untuk menyatakan perasaan. Hanya sekedar berbasa basi untuk ...."


"Untuk apa?" tanya Alvaro menatap Juni dengan penuh curiga.


"Aku ingin menumpang saat pulang, Pak. Lagi pula kan rumah Pak Alvaro sudah pindah, dan tempatnya searah dengan apartemenku. Jadi, saya berniat untuk ikut Pak Alvaro


Alvaro hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala setelah mengetahui maksud dan tujuan Juni. Ucapan yang Juni lontarkan tadi bisa saja membuat orang lain menjadi salah persepsi.

__ADS_1


Pintu lift terbuka, Alvaro baru saja beberapa langkah keluar dari ruangan sempit tersebut. Namun, ia kembali berbalik menatap sang asisten yang berada di belakangnya.


"Sebaiknya gunakan bahasa formal saat jam kerja saja. Aku bingung dengan penggunaan bahasamu itu," ujar Alvaro yang kembali melanjutkan langkah kakinya.


Saat berada di luar, mereka melihat keberadaan Shinta di sana. Alvaro melirik ke arah Juni, sementara pria tersebut memilih untuk mengabaikannya.


Shinta tersenyum menatap Juni, lalu kemudian menundukkan kepalanya saat melemparkan pandangannya pada Alvaro. Juni terlihat benar-benar hendak menghindari Shinta.


"Berikan kunci mobilnya padaku, biarkan aku yang menyetir," ujar Juni sembari menadahkan tangannya.


Alvaro pun mengeluarkan kunci mobil yang ia simpan di dalam saku celananya lalu kemudian menyerahkan benda tersebut pada Juni.


Setelah kunci tersebut berhasil ia genggam, Juni memilih untuk berlalu dari hadapan Shinta tanpa mengucapkan apapun. Alvaro melihat interaksi keduanya, ia pun berinisiatif untuk menegur sekretarisnya itu.


"Belum pulang?" tanya Alvaro berjalan menghampiri Shinta.


"Ini baru mau pulang, Pak." Shinta mengulas senyumnya menjawab pertanyaan dari sang atasan.


"Apakah ada jemputan?" tanya Alvaro.


"Emm ... ini ... saya baru saja memesan ojek online. Mungkin sebentar lagi akan tiba di sini," ucap Shinta. Ia memilih berbohong karena tidak enak pada Alvaro. Tak ingin terlalu ketara jika dirinya menunggu Juni sedari tadi.


"Kalau begitu hati-hati di jalan. Kami pulang lebih dulu," ujar Alvaro.


Shinta menganggukkan kepalanya, lalu kemudian menatap punggung Alvaro yang mulai menjauhinya. Netranya menangkap sosok pria yang tengah berdiri di depan pintu mobil yang telah terbuka, dipersiapkan untuk sang atasan memasuki kendaraan tersebut.


Dilihatnya Juni yang kembali menutup pintu itu setelah Alvaro menduduki kursi di bagian belakang, dan pria itu mengambil alih menjadi supir dari atasannya.


Sesaat kemudian, BMW berwarna hitam itu pun melaju begitu saja dari hadapannya. Sang supir tak membunyikan klakson sedikit pun hanya untuk menyapa bahwa ia akan pergi lebih dulu.


Sejak tadi, Shinta memperhatikan gerak-gerik Juni yang langsung berubah total. Entah apa karena adanya gosip yang menyebar, atau karena Juni memang ingin menjauhinya.


Rasa sesak memenuhi rongga dada Shinta. Ia memukul dadanya dengan pelan, sementara bulir bening mulai membasahi pipi mulusnya.


"Ada apa denganku? Ayolah! Juni hanya menghindari gosip yang menyebar, seharusnya aku masa bodo dengan hal ini. Namun, mendapatinya bersikap demikian, mengapa begitu menyakitkan? Ada apa denganku? Harusnya aku tidak seperti ini," lirih Shinta menyeka air matanya sembari menarik kedua sudut bibirnya untuk mempertahankan senyumnya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2