
Setelah melamar Rania secara resmi beberapa hari yang lalu, Alvaro pun memutuskan untuk mengajak sang kekasih mengunjungi makam Diara, istri pertamanya. Seperti permintaan Bima yang belum sempat terlaksanakan.
"Kita sudah sampai," ujar Alvaro menepikan mobilnya.
Alvaro bersama dengan Rania dan juga Bima turun dari mobil tersebut. Rania membawa kelopak mawar serta air sedangkan Alvaro menggendong putranya untuk berjalan menuju makam wanita yang juga sampai saat ini mengisi hatinya.
"Mama, mama nanti berkenalan sama Mama Bima ya. Kata papa, Mama Bima orangnya baik, senyumnya sama persis dengan Mama Rania," ujar Bima.
"Nak, berhentilah berucap kata papa terus-menerus," sela Alvaro.
"Kan memang papa yang bilang," ujar Bima yang langsung mengundang tawa Rania.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di makam Diara. Bima turun dari gendongan ayahnya. Berjalan mendekati nisan sang ibunda.
"Mama ... mama ... Bima bawa mama baru," ujar Bima.
Rania duduk di samping Bima, "Halo, Mbak Diara. Aku Rania. Izinkan aku mengurus Bima seperti anakku sendiri. Dan aku, tidak akan menggeser posisi mbak Diara, karena bagaimanapun juga, mbak Diara adalah orang nomor satu di hatinya Alvaro," ucap Rania.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Alvaro.
"Aku tidak ingin menjadi pengganti. Bagiku, Mbak Diara tetaplah istri kamu. Aku hanya ingin, kamu membagi porsi cintamu sesuai pada tempatnya. Boleh mencintai aku, akan tetapi tidak melupakan ibunya Bima," jelas Rania dengan sangat bijak.
Alvaro menarik sudut bibirnya saat mendengar penuturan Rania. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya, memang gadis yang sangat luar biasa. Tidak salah Bima memberikan penilaian baik terhadap Rania, karena Rania berhati bak malaikat.
"Terima kasih karena telah mengerti posisi kami," ucap Alvaro.
"Iya, sama-sama."
Setelah mengirimkan do'a, Rania dan Bima menaburkan kelopak mawar di atas pusara Diara. Sementara Alvaro menyirami pusara itu dengan air.
"Sayang, kami pulang dulu. Nanti kami akan berkunjung lagi," ucap Alvaro.
"Pulang dulu ya, Mama. Dadah ... Bima sayang Mama," ujar Bima melambaikan tangannya, lalu kemudian menggandeng tangan Rania.
Ketiga orang itu pun kembali ke dalam mobil. Bima tak malu-malu memperlihatkan sikap manjanya kepada Rania, karena anak laki-laki tersebut sudah merasa nyaman.
__ADS_1
Saat di perjalanan pulang, Alvaro mendapatkan telepon dari ibunya. Pria itu pun menyematkan earphone-nya, lalu kemudian mengangkat panggilan tersebut.
"Kalian sudah pulang, Nak?" tanya Arumi.
"Iya, Ma. Ini sedang dalam perjalanan pulang," ujar Alvaro.
"Ada apa, Ma?" tanya pria tersebut.
"Kami sedang di rumah sakit. Alvira mau melahirkan," tutur Arumi.
"Rumah sakit mana? Nanti kami akan segera menuju ke sana," ujar Alvaro yang terlihat panik.
Setelah mendengar Arumi menyebutkan rumah sakit tersebut, sambungan telepon pun langsung terputus. Alvaro memutar balik mobilnya karena memang jalan ke rumah sakit dengan apartemen berbeda arah.
"Ada apa?" tanya Rania melihat ekspresi wajah Alvaro terlihat gusar.
"Alvira sedang di rumah sakit. Ia mau melahirkan," timpal Alvaro. Pria tersebut mempercepat laju mobilnya, rasa panik pun mulai menyerang dirinya saat saudara kembarnya tengah mempertaruhkan nyawa antara hidup dan mati.
"Sayang, jangan terlalu ngebut. Kita juga harus selamat sampai tujuan. Jika kamu seperti ini, kita juga bisa bahaya," ujar Rania yang mencoba menenangkan kekasihnya.
"Tepikan mobilnya, biar aku yang menyetir!" titah Rania yang tidak bisa dibantah.
"Tidak ada tapi-tapian, kamu tahu, walaupun hanya sebuah mitos, di kampungku pasangan yang hendak menikah seharusnya di larang keluar rumah karena terlalu rawan terkena bahaya. Dan dengan kamu membawa mobil seperti ini, bahaya sudah jelas di depan mata. Pokoknya aku tidak mau tahu, tepikan mobilnya sekarang!"
Alvaro pun mengalah. Ia menepikan mobil tersebut menghindari bahaya yang diucapkan oleh Rania tadi. Rania dan Alvaro turun dari mobil dan bertukar tempat.
Kini Rania yang berada di balik setir, sementara Alvaro menduduki kursi penumpang. Rania mulai melajukan mobil tersebut dengan hati-hati menuju ke rumah sakit.
Setelah berkendara sekitar 20 menit lamanya, akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit. Ketiganya langsung bergegas turun dari mobil. Sementara Bima, ia masih bingung, karena memang tidak tahu-menahu apa alasan kedua orang dewasa ini membawanya ke sini. Saat di perjalanan tadi, Bima tengah tertidur dan tak tahu apa yang sedang terjadi.
"Mama, kenapa kita ke rumah sakit?" tanya Bima pada Rania.
"Kita menjenguk Tante Alvira yang mau lahiran, Sayang." Rania menimpali ucapan Bima dengan lembut .
"Lahiran? Maksudnya dedek bayi yang ada di dalam perutnya Tante mau keluar ya, Ma?" tanya Bima dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Iya, Sayang."
"Asyik! Bima dapat adik baru!" ujar anak laki-laki itu dengan antusias sembari menggandeng tangan Rania. Sementara Alvaro, berjalan lebih cepat lagi.
"Suster, numpang bertanya, ruang bersalin ada di mana ya?" tanya Alvaro pada salah satu perawat yang ada di sana.
"Oh ruang bersalin. Lurus saja, Pak. Nanti belok ke kiri, di sanalah ruang bersalin." Suster itu menunjukkan arah kepada Alvaro.
"Baik. Terima kasih, Sus."
"Sama-sama, Pak."
Ketiganya menuju tempat bersalin yang di arahkan oleh suster. Dan benar saja, mereka mendapati Fahri tengah berada di depan ruangan tersebut.
"Di mana mama, Pa?" tanya Alvaro.
"Mama berada di dalam menemani Alvira. Kita do'a kan saja, semoga keduanya sehat."
Alvaro dan Rania pun mengangguk. Rania duduk di kursi tunggu bersama dengan Bima. Sementara Alvaro, pria tersebut terlihat mondar-mandir karena merasa panik.
Di dalam ruang bersalin, Alvira tengah bercucuran peluh sembari berjuang membawa sang buah hati untuk melihat indahnya dunia.
Jika istri-istri yang lainnya biasa di dampingi oleh suami mereka di saat-saat yang seperti ini. Namun, tidak dengan Alvira. Ia berjuang sendiri di temani oleh sang ibunda yang sedari tadi memberikan arahan serta semangat.
Cukup lama Alvira berjuang, hingga erangan panjang dari Alvira bersamaan dengan suara tangis bayi yang baru saja berhasil keluar dari rahim sang ibunda.
Alvira tak kuasa menahan tangisnya. Rasa sakit seakan seribu tulang yang dipatahkan seakan tak terasa nyeri sama sekali setelah mendengar tangisan sang buah hati yang baru saja lahir ke dunia.
"Bayinya laki-laki," ujar Dokter.
"Alhamdulillah," ucap Arumi.
Seorang perawat menggendong bayi yang kemerah-merahan itu, lalu kemudian membersihkan bayi tersebut terlebih dahulu sebelum di berikan oleh ibunya. Sementara dokter serta perawat yang lainnya, kembali menjahit robekan yang ia buat untuk membantu mengeluarkan bayi tersebut.
Setelah semuanya selesai, bayi tersebut diberikan kepada ibunya. Alvira menangis, melihat sang buah hatinya secara langsung. Air matanya terjatuh sempurna, rasa haru menyelimuti dirinya tatkala ia sudah berhasil berjuang membawa sang anak melihat dunia yang luas ini.
__ADS_1
"Wajahnya sangat mirip denganmu, Nak." Arumi berucap seraya mengelus puncak kepala bayi mungil tersebut.
Bersambung ....