
Setelah mengantarkan Bima ke sekolah, Alvaro dan Rania memutuskan untuk berbelanja bulanan ke pasar swalayan. Mengisi waktu libur mereka sebelum kembali bekerja lagi.
Alvaro mendorong troli, sementara Rania masuk ke dalam troli yang masih kosong itu, layaknya seorang anak-anak. Sejak menikah, Rania selalu menunjukkan sikap manjanya di depan suami tercinta. Bahkan beberapa sikap manja itu, membuat Alvaro gemas pada sang istri dan ingin melahapnya lagi dan lagi.
"Mas, beli makanan ringan dulu," ucap Rania menunjuk ke arah susunan rak makanan ringan.
Alvaro pun menuruti ucapan sang istri. Ia mendorong troli tersebut menuju ke rak deretan aneka makanan ringan. Rania turun dari trolinya, mengambil banyak makanan ringan yang ada di sana.
"Sayang, ..." Alvaro menegur sang istri sembari menggelengkan kepalanya.
"Satu lagi ya, Mas? Ini juga sebenarnya masih kurang," ujar Rania.
"Jangan terlalu banyak makan ini, lebih baik makan yang sehat-sehat, seperti buah-buahan. Biasakan untuk hidup sehat," ucap Alvaro melarang istrinya membeli banyak makanan ringan itu.
Bukan karena sayang uang, Alvaro lebih mengutamakan kesehatan sang istri. Selama ini, Rania terlalu banyak mengkonsumsi makanan junk food, akan lebih baik jika Rania mulai menerapkan hidup sehat.
"Tapi Mas ...."
"Aku tidak melarangmu membeli semua ini, bahkan jika kamu mau, aku juga akan membeli semua yang ada di susunan rak ini hanya untukmu. Tapi, utamakan kesehatanmu, Sayang. Imbangi dengan makanan yang sehat, konsumsi junk food perlu dibatasi," tutur Alvaro menegur sang istri tanpa harus menyakiti perasaan wanitanya itu.
Rania menekuk bibir bawahnya ke dalam. Ia pun mengembalikan beberapa makanan ringan yang ada di dalam keranjang belanjaannya.
"Segini ya, Mas. Jangan dikurang-kurangi lagi," ujar Rania yang mencoba bernegosiasi pada suaminya. Keranjang belanjaan hampir penuh oleh makanan ringan, sementara yang ia kembalikan hanya tiga diantara banyak makanan ringan tersebut.
"Hmmm ... Baiklah," ucap Alvaro seraya menghela napasnya dengan kasar. Rania memperlihatkan deretan gigi putihnya. Ia tahu, bahwa suaminya keberatan. Namun, ia juga enggan mengembalikan lagi yang ada di dalam keranjang.
Karena keranjang satu yang telah terisi penuh oleh buah-buahan dan juga makanan ringan, Rania kembali mengambil satu keranjang kosong lagi. Kali ini keduanya mengisi belanjaan tersebut dengan sayur-sayuran dan juga daging-dagingan.
Sesekali mereka meminta pendapat, apa saja yang hendak di beli untuk mengisi kulkasnya. Setelah keranjang kedua terisi penuh, mereka pun langsung menuju ke meja kasir untuk melakukan transaksi pembayaran.
Sebelum mereka tiba di meja kasir, Rania melihat Tika bersama dengan anaknya berada di sana juga. Mantan istri Dion itu juga melihat keberadaan Rania bersama dengan suaminya. Wanita itu pun langsung menghampiri Rania.
"Kalian ada di sini juga?" celetuknya bertanya.
"Iya. Belanja bulanan, soalnya isi kulkas sudah mulai kosong," timpal Rania sembari mengembangkan senyumnya. Ia tidak ingin membenci wanita yang pernah mengambil kekasihnya dulu. Bagi Rania, Dion lah yang bersalah karena tidak bisa mempertahankan kesetiaannya. Dan sekarang, semuanya telah menjadi masa lalu.
"Eh iya, apakah Dion menemuimu?" tanya Tika.
Alvaro menatap Tika, ia tak suka wanita itu membahas mantan kekasih sang istri di hadapannya.
"Dion? Tidak." Rania menimpali, sesekali ia melirik ke arah sang suami. Wanita itu paham dengan raut wajah tak suka yang diperlihatkan oleh Alvaro.
__ADS_1
"Semalam dia pulang. Penampilannya seperti orang gila, bajunya kotor semua dan ... seperti bukan Dion. Dia bahkan tidak mengetahui jika kamu sudah menikah, aku sedikit heran, memangnya selama ini dia kemana. Sangat aneh!" ujar Tika seraya mengendikkan bahunya.
Baru saja Rania hendak membuka suara, wanita itu mengurungkan niatnya saat mendengar dehaman dari sang suami. Rania mengarahkan pandangannya pada Alvaro.
"Maaf, jika sikap saya sedikit tidak sopan. Tapi, alangkah baiknya jika tidak membahas tentang masa lalu pada pasangan yang baru saja menikah. Jika anda ingin tersinggung dengan ucapan saya, silakan anda tersinggung." Alvaro berucap dengan tegas.
Rania cukup tertegun dengan ucapan Alvaro. Pria itu bertutur pada intinya tanpa harus berbasa-basi. Ia menunjukkan sikap tak sukanya karena sedari tadi Tika terus membahas masalah Dion.
"Oh, baiklah. Maaf jika kamu merasa tak suka," ujar Tika seraya meninggikan dagunya.
Melihat situasi yang membuat semakin tak nyaman, Rania pun langsung menengahi. "Emmm ... kalau begitu, kami permisi dulu ya. Soalnya setelah ini kami harus menjemput anak di sekolah," ucap Rania yang mencari alasan.
Tika menganggukkan kepalanya, lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda saat bertemu pasangan suami istri itu. Sementara Rania, sedikit mendorong lengan Alvaro, mengajak suaminya untuk segera pergi dari sana.
"Jujur saja, aku tidak suka jika mereka masih menyangkut-pautkan kamu dengan mantanmu itu. Kamu sudah menjadi istriku, seharusnya dia bisa menjaga sikapnya," gerutu pria itu.
"Iya, Mas iya. Sudah ya marahnya, nanti tampannya luntur setengah," ujar Rania mencoba bergurau, mencairkan suasana yang sedikit tegang.
"Sekarang, ayo kita ke kasir, bayar belanjaan, setelah itu pulang ke rumah," ajak Rania.
Alvaro menganggukkan kepalanya, "Sini, aku saja bawa troli yang itu, pasti berat. Kamu dorong yang ini saja," ucap Alvaro menukar keranjang belanjaan tersebut.
Rania pun tersenyum, ia gemas melihat suaminya yang secara terang-terangan memperlihatkan rasa cemburunya, tidak seperti biasanya. Rania mendorong troli yang telah ditukar oleh Alvaro, membawa keranjang belanjaan itu menuju ke meja kasir.
Keduanya masuk ke dalam mobil, memasang sabuk pengamannya, dan Alvaro pun mulai melajukan kendaraan roda dua tersebut menuju ke jalanan.
"Nanti mau belajar masak apa?" tanya Alvaro sembari mengemudikan mobilnya.
"Masak yang mudah-mudah saja dulu, Mas. Soalnya belajar itu kan harusnya dari hal yang mudah terlebih dahulu," timpal Rania.
"Baiklah." Alvaro menimpali sembari menganggukkan kepalanya.
"Oh iya, Bima pulangnya masih lama?" tanya Rania.
"Iya. Sekitar dua jam lagi. Kita belajar memasak sebentar, setelah itu baru menjemput Bima," jawab Alvaro.
Rania tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Ia pun kembali menatap ke arah jalanan yang tampak sedikit ramai.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, keduanya pun tiba di apartemen. Alvaro dan Rania turun sembari membawa belanjaan mereka, melangkah masuk ke dalam lift.
Tinggg ...
__ADS_1
Pintu baja tersebut terbuka, keduanya keluar dari ruangan sempit itu. Rania dan Alvaro melirik apartemen yang dihuni Rania dulu, rupanya sudah ada penghuni baru yang menjadi tetangga mereka.
"Sepertinya, apartemen sebelah sudah ada penyewa baru ya, Mas." Rania masih menatap pintu yang sedikit terbuka itu.
"Sepertinya iya. Ayo! Kita tidak mempunyai banyak waktu. Nanti mau menjemput Bima." Alvaro yang mengajak istrinya langsung masuk ke dalam.
Keduanya menyusun beberapa belanjaan yang hendak di simpan, dan menyiapkan beberapa bahan yang akan digunakan untuk praktek memasak kali ini.
Alvaro telah siap dengan apron yang melekat di tubuhnya. Ia memakaikan apron satunya lagi untuk sang istri. Mengikat tali di punggung istrinya itu, laku tiba-tiba memeluk pinggang ramping Rania dari belakang.
"Mas, janjinya ingin mengajari aku memasak kan? Bukan yang lainnya?" ujar Rania yang telah memasang siaga 1. Takut saja jika belajarnya di tunda dan berujung dengan bermain di tempat tidur.
"Iya-iya." Alvaro mencium pipi istrinya dengan gemas, lalu kemudian melepaskan pelukannya dan kembali ke tujuan awal mereka.
"Aku akan mengajarimu cara yang termudah dulu. Kemarin, kamu sempat gagal membuat omelette, maka dari itu aku akan mengajarimu cara membuat omelette." Alvaro mulai menunjukkan satu persatu bahan yang ada.
"Kali ini, kita membuat omelette sosis, karena Bima sangat menyukai sosis," ucap Alvaro.
Alvaro pun mulai menjelaskan semua bahan-bahannya. Memotong-motong bahan tersebut, mengocok telur, dan siap untuk dimasak.
"Minyaknya jangan sekilo ya," sindir pria itu. Ia teringat Rania yang menumpahkan banyak minyak hanya untuk membuat omelette.
Rania memukul pelan lengan Alvaro. "Jangan dibahas masalah itu, Mas. Aku malu," ujarnya pelan. Alvaro pun langsung tergelak mendengar ucapan sang istri.
Keduanya mulai memasak, sesekali Alvaro memberikan spatula pada istrinya, mengajarinya membalik telur tanpa harus mengenakan helm dan jas hujan seperti yang diajarkan oleh mertuanya kemarin.
Rania sangat senang saat masakan pertamanya berhasil tanpa drama gosong sama sekali. Dengan mata yang berbinar, Rania menatap omelette yang baru saja di angkat dari wajan penggorengan.
"Akhirnya, aku berhasil melakukannya," ucapnya menatap omelette-nya sembari menangkupkan kedua tangan. Sementara bibirnya, terus mengukir sebuah senyuman, seakan-akan membuat omelette adalah pencapaian yang luar biasa.
"Coba, biarkan aku melakukan lagi sendiri," ujar Rania.
Alvaro pun mengangguk, membiarkan istrinya melakukan hal itu sendirian. Alvaro mengawasi Rania, takut jika nantinya sang istri kembali gagal dan menghancurkan semangatnya lagi.
Dengan sedikit arahan, akhirnya Rania berhasil membuat omelette sendiri. Wanita itu mengangkat omelette tersebut dari wajan, dan meletakkannya ke piring.
Ia bahkan mengangkat piring hasil masakannya dengan penuh bangga. "Aku sudah bisa memasaknya, Mas. Terima kasih ya karena sudah mengajariku dengan sabar," ucap Rania.
Alvaro tersenyum, ia mendekati sang istri, lalu kemudian mengecup kening wanita itu. "Iya, sama-sama. Nanti upah belajarnya di bayar tunai ya," ujar Alvaro sembari mengerlingkan matanya dengan nakal.
"Dasar mesum!"
__ADS_1
Bersambung ....