Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 181. Tak Semudah Itu


__ADS_3

Shinta baru saja tiba di rumah dengan menggunakan taksi. Gadis tersebut sengaja untuk menolak ajakan Juni yang ingin mengajaknya pulang bersama, agar tak ada rumor yang menjadikan Juni malu nantinya.


Shinta masuk ke dalam gedung bertingkat tersebut. Menaiki tangga lift yang akan membawanya ke lantai tempat tinggalnya.


Tinggg ...


Pintu lift terbuka, Shinta pun keluar dari ruangan sempit tersebut. Baru beberapa langkah ia keluar, gadis itu berpapasan dengan seorang pria. Pria yang pernah menjadi kekasihnya. Pria yang dalam beberapa hari ini tak terlihat batang hidungnya, dan kini pria itu pun menampakkan dirinya.


"Daren," gumam Shinta menghentikan langkahnya. Pria itu pun juga memberhentikan langkah kakinya. Menatap wanita yang saat ini masih mengisi relung hatinya, meskipun status mereka bukanlah seperti beberapa hari yang lalu.


"Kamu baru pulang?" tanya Daren mengulas senyum.


"I-iya," jawab Shinta sedikit terbata-bata. Entah mengapa rasa canggung langsung menyerangnya. Apa mungkin karena status mereka yang bukan lagi sebagai sepasang kekasih. Atau karena perpisahan kemarin yang kurang mengenakkan.


"Bisakah aku meminta waktumu sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Daren seraya mengusap tengkuknya. Sebenarnya ia merasa tidak enak hendak menyita waktu pada wanita yang notabene-nya sudah tidak berstatus menjadi kekasihnya.


Shinta menganggukkan kepalanya, tak mungkin ia menolak ajakan Daren begitu saja, ketika dirinya sudah membuat luka pada pria yang tulus mencintainya. Mungkin, jika Juni melihat ini semua, tentunya akan timbul kesalahpahaman baru. Namun, Shinta akan menjelaskan semuanya pada Juni nanti.


Daren mengajak Shinta menuju ke atap. Menurutnya tempat itu lah yang cocok untuk mengatakan apa yang hendak ia utarakan. Meskipun pada akhirnya, kata-kata yang akan ia lontarkan tidak lah lagi bermakna bagi wanita yang ada di hadapannya.


Setibanya di sana, Shinta duduk di kursi yang ada di atap. Tak lain tempat Juni mengutarakan perasaannya beberapa hari yang lalu, bertepatan pada saat dirinya putus dari Daren.


Daren duduk di samping Shinta, pria itu sedikit menjaga jarak, karena kini status mereka telah berbeda.


Cukup lama Shinta menunggu apa yang akan dikatakan oleh Daren. Mulut pria itu seakan terkunci, entah apa yang hendak ia katakan pada Shinta, tentunya membuat wanita itu menjadi penasaran dan mencoba untuk menanyakan langsung pada pria yang ada di sampingnya.


"Apa yang hendak kamu katakan?" tanya Shinta.


Daren menunduk, sekilas ia tersenyum. "Aku tidak tahu hendak mengatakan apa. Mengutarakan hal ini rasanya lidahku kelu, bibirku seolah terkunci. Padahal, aku sudah mempersiapkan beberapa hari untuk mengatakan hal ini padamu," ungkap Daren yang masih berusaha mengulas senyum walaupun hatinya bak diperas.


"Kalau begitu, aku akan menunggu sampai kamu siap untuk mengatakannya padaku," ujar Shinta yang juga membalas senyuman Daren. Ia tidak ingin Daren merasa tidak nyaman dan pada akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal tersebut. Shinta, mencoba untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


Daren menghirup napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Mencoba untuk menenangkan dirinya agar bisa mengucapkan kalimat yang sudah di ujung bibirnya ini.


"Aku akan menikah," ujar pria itu secara tiba-tiba.


Sontak Shinta terkejut, matanya terbelalak dengan penuturan Daren yang baru saja ditangkap oleh indera pendengarannya.


"Menikah?" tanya Shinta yang seolah tak percaya dengan apa yang bari saja di dengarnya. Dengan menanyakan kembali kata utama dari kalimat yang dilontarkan oleh Daren tadi.


"Iya, karena kamu tidak mau ku ajak menikah, maka dari itu aku akan menikahi orang lain saja," ujar Daren disertai dengan tawa renyah, akan tetapi berbeda dengan hati kecilnya yang masih menginginkan Shinta untuk menjadi miliknya.


"Maafkan aku. Tetapi, aku ucapkan selamat untukmu. Aku turut berbahagia atas berita itu. Dan ku harap, kamu akan menemukan kebahagiaanmu yang sebenarnya," tutur Shinta.


Daren cukup sedih saat melihat ekspresi kerelaan Shinta. Seolah tak ada raut sedih dari gadis itu saat mendengar tentang ucapan Daren yang hendak menikahi orang lain. Seolah Shinta memperlihatkan pada Daren dengan jelas, bahwa pria itu memang tak pernah sedetik pun mengisi relung hatinya.


"Tak semudah itu, Shin. Jika memang aku bisa, aku tidak akan mengambil jalan seperti ini. Menikahi orang lain adalah hal terberat. Jujur, saat ini hatiku terasa disayat saat melihat ekspresi mu yang tak menunjukkan rasa sedih sama sekali. Namun, aku sadar. Bahwa aku tak ada di hatimu, meskipun hanya sedetik saja," papar Daren dengan mata yang mulai memerah.


"Maafkan aku, seharusnya aku tak menunjukkan ekspresi wajah yang seperti ini. Namun, inilah adanya. Maafkan aku jika kamu merasa kecewa," ujar Shinta.


"Seharusnya aku tidak membahas ini." pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Maafkan aku, karena terlalu terbawa suasana. Seharusnya aku tidak bersikap seperti ini karena kita sudah resmi berpisah," lanjut Daren.


"Tidak apa-apa. Aku juga mengerti bagaimana perasaanmu. Seberapa hancurnya kamu karena aku yang telah memberikan harapan palsu," ucap Shinta.


"Tetapi ... inti dari semua yang ingin aku sampaikan adalah satu hal. Aku ingin kita berpisah secara baik-baik. Mungkin kemarin, aku terlalu terbawa emosi dan aku minta maaf karena telah berucap kasar dan juga berteriak padamu sebelumnya," jelas Daren yang memberanikan diri menatap wanita yang ada di sampingnya.


"Aku sudah memaafkanmu. Aku juga minta maaf atas kejadian kemarin," ujar Shinta. Sialnya gadis itu juga berkaca-kaca melihat Daren yang terlihat begitu menyedihkan.


Keduanya saling menatap, hingga air mata Daren pun terjatuh. "Ini adalah terakhir kali aku menatapmu dengan seksama," ucap pria itu, yang mengisyaratkan akan perpisahan. Dari segi ucapan, Daren tampaknya benar-benar ingin melupakan Shinta.


Shinta hanya diam, membiarkan Daren menatapnya selama mungkin. Membiarkan pria itu, merasakan kebahagiaannya sejenak. Shinta juga mengerti bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


"Shinta, tak mudah untukku melakukan ini. Tak mudah untuk melupakanmu. Namun, mulai detik ini, aku mencoba untuk menghilangkan bayang-bayang mu dari ingatanku. Meskipun sulit, aku akan berusaha semampuku. Meskipun itu sakit, aku akan berusaha untuk merelakanmu dengan pria yang juga mencintaimu. Terima kasih untuk beberapa hari ini. Terima kasih karena memberikan kesempatan untukku menjadi kekasihmu. Setidaknya aku sudah tahu, bagaimana rasanya menjadi kekasih dari wanita bernama Shinta," papar Daren panjang lebar.


Shinta hanya bisa menganggukkan kepalanya. Air matanya juga menetes melihat bulir bening mengalir di pipi Daren.


"Maaf, mungkin ini terdengar tidak pantas. Tapi ... bolehkah aku memelukmu untuk sekali saja. Bolehkah?" tanya Daren yang sedikit terdengar memelas.


Shinta beranjak dari tempat duduknya. Ia merentangkan tangannya, siap untuk dipeluk oleh Daren.


Tak menunggu waktu lama, Daren langsung beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Shinta. Pelukan Daren seakan mengisyaratkan rasa sakit sekaligus rasa cinta yang begitu mendalam. Air mata pria itu semakin deras, harus melepaskan wanita yang amat ia cintai. Namun, ia tak boleh egois, karena cinta ini hanya membuat dirinya bahagia, tidak dengan Shinta.


"Setelah ini berbahagialah Daren. Kamu bisa berbahagia tanpa aku. Kamu tahu takdir kan?" tanya Shinta. Daren menimpali ucapan gadis tersebut dengan sebuah anggukan.


"Kita sudah ditakdirkan seperti ini. Dan Tuhan juga memberikan wanita yang hendak kamu nikahi nanti akan mencintaimu dengan tulus. Aku tidak berhak mendapatkan ketulusan darimu, ada yang lebih pantas dari aku. Ada yang lebih baik dari aku. Dan kamu berhak mendapatkan itu," tutur Shinta.


Daren mulai melepaskan pelukannya. Ia menatap Shinta dengan seksama. "Kamu juga harus bahagia. Janji padaku harus selalu berbahagia," ujar Daren.


Shinta menganggukkan kepalanya, gadis itu tersenyum. Begitu pula Daren yang sudah mulai mencoba menarik kedua sudut bibirnya.


"Besok aku akan menyerahkan surat pengunduran diriku. Dan tadi siang, aku juga sudah mengosongkan apartemen yang ku sewa. Aku memutuskan untuk memulai hidup baru tanpamu. Semoga saja aku kuat," ucap Daren seraya terkekeh.


"Aku yakin, kamu pasti mampu melakukannya," balas Shinta.


"Mungkin hanya itu saja yang ingin aku sampaikan. Ayo kita turun! Lagi pula kamu pasti ingin beristirahat," ujar Daren.


Shinta menganggukkan kepala. Mereka berdua pun berbalik hendak pergi dari atap. Namun, saat keduanya berbalik secara bersamaan, mereka pun tertegun melihat Juni yang berada di belakang mereka. Juni, pria itu sedari tadi menyaksikan semuanya.


"Juni, ...." Shinta terbelalak menatap kekasihnya.


"Apakah sudah selesai kalian melakukan pertunjukan tadi?" tanya Juni dengan rahang yang mengeras.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2