Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 108. Selamat Hari Ibu


__ADS_3

"Anak-anak, berhubung hari ini adalah hari ibu. Bu Guru minta sama kalian untuk memberikan hadiah kecil untuk ibu kalian," ucap Nana yang tengah berada di ruang kelas, berbicara dengan anak-anak didiknya.


"Coba kalian buat kartu ucapan untuk ibu kalian," lanjutnya sembari memberikan contoh sebuah kartu ucapan yang ada di tangannya.


"Di tangan Bu Guru, ini adalah kartu ucapan yang akan Bu Guru berikan kepada ibu nantinya. Dan tugas kalian, membuat sebuah kartu ucapan untuk ibu kalian masing-masing ya, Nak." Nana memperlihatkan kartu ucapan yang ia buat sendiri kepada anak muridnya.


Bima yang memperhatikan secara seksama kartu ucapan yang diperlihatkan oleh gurunya itu. Ia pun tersenyum dan mulai mempersiapkan alat tulis untuk membuat kartu ucapannya sendiri.


Bima mulai mempersiapkan semua bahan-bahan yang diterangkan oleh gurunya. Dan menuliskan sesuatu di atas kertas polos.


Sesekali ia tersenyum, membayangkan betapa bahagianya saat dirinya membuat kartu ucapan yang ditujukan untuk kedua ibunya. Ya, Bima membuat dua kartu ucapan karena mengingat dirinya memiliki dua wanita hebat yang ia panggil mama.


Nana menghampiri Bima, melihat Bima yang tampak dengan bersemangat membuat kartu ucapan yang ia suruh tadi. Keningnya mengernyit saat melihat ada dua kertas yang ia persiapkan untuk membuat kartu ucapan.


"Bima mau membuat dua kartu ucapan?" tanya Nana duduk di sebelah anak didiknya.


"Iya, Bu Guru. Kan Bima punya dua mama," jawab anak laki-laki tersebut memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Nana tersenyum, ia mengusap rambut ikal Bima. "Berarti nanti Bima mau ziarah ke tempat mama Bima?" tanya Nana lagi.


"Iya, Bu Guru. Mau kasih kartu ucapan ke mama, sekalian mendo'akan mama," ucapnya.


"Anak pintar! Ya sudah, kalau begitu silakan Bima lanjutkan. Bu Guru mau lihat hasil teman-teman yang lainnya juga," ujar Nana yang beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah siswa yang lainnya.


Kartu ucapan pun telah selesai dibuat bersamaan dengan bel yang menunjukkan waktu pulang. Bima baru selesai membuat satu kartu ucapan dan satunya lagi ia simpan di dalam tasnya.


"Nanti saja, minta sama mama atau papa untuk menemani Bima memberikan kartu ucapannya. Nanti malam Bima akan menyelesaikan kartu ucapan yang satunya dan yang satu ini buat Mama Rania," gumam Bima bermonolog sendiri.


Bima mulai membereskan peralatan sekolahnya, memasukkannya ke dalam tas. Ia pun membaca do'a bersama teman-temannya sebelum pulang. Setelah selesai, mereka satu persatu mencium tangan Nana dan keluar dari ruang kelas.


Bima melihat ke sekeliling sekolah, ia harus menunggu lagi karena jemputannya belum datang. Sementara tangannya, memegang kartu ucapan yang ia buat untuk diberikan pada Rania nantinya.


Di waktu yang bersamaan, Rania baru saja selesai menangani pasiennya. Wanita tersebut melirik jam tangan dan membelalakkan mata.


"Aku harus menjemput Bima dulu. Tadi pagi aku sudah berjanji untuk menjemputnya pulang," ucap Rania pada Hilda.


"Ya sudah, jemput saja dulu, Bu Dokter. Numpung klinik lagi tidak ada pasien," balas Hilda.


Rania melepaskan jas dokter dan peralatan lainnya yang masih melekat di tubuhnya. Wanita itu bersiap untuk menjemput Bima.


"Aku tinggal sebentar ya, jemput anakku dulu," ucap Rania berpamitan pada Hilda.


"Iya, Bu Dokter. Hati-hati di jalan!" seru Hilda menatap Rania yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Rania keluar dari klinik. Ia segera masuk ke dalam mobilnya, dan melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.


Di lain tempat, Bima duduk sendirian di taman sekolah. Anak laki-laki tersebut menunggu kedatangan Rania untuk menjemputnya.


Terdengar suara langkah kaki yang datang menghampiri, membuat Bima pun menoleh ke sumber suara. Ia mendapati Nana yang sedang berjalan ke arahnya.


"Bu Guru, ..." Bima tersenyum ke arah Nana.


"Jemputan Bima masih belum datang?" tanya Nana sembari menjatuhkan bokongnya untuk duduk di samping Bima.


"Belum, Bu Guru." Anak laki-laki tersebut menjawab disertai dengan gelengan kepala.


"Yang jemput siapa? Papa atau orang di rumah nenek?" tanya Nana.


"Tadi mama bilang, mama yang akan menjemput Bima. Soalnya Bima mau mampir ke klinik mama," jawab Bima.


"Mungkin mama lagi ada pasien, makanya dia jemput Bima agak telat," lanjut anak laki-laki itu.


"Ya sudah, kalau begitu bu guru akan temani Bima untuk menunggu mama. Tidak apa-apa kan?" tanya Nana.


"Dengan senang hati, Bu Guru." Bima menyunggingkan senyumnya.


Cukup lama Bima menunggu kedatangan ibunya. Nana menemani Bima bercerita tentang keseharian Bima. Dengan senang hati, Bima pun mulai menceritakan semuanya


Rania mengedarkan pandangannya, ia menemukan putranya yang saat ini tengah duduk berdua bersama dengan Nana yang senantiasa menemaninya di saat jemputan Bima datang terlambat.


"Mama!" seru Bima yang langsung berlarian menghampiri Rania dan menghambur ke dalam pelukannya.


"Maafkan Mama ya, Nak. Mama terlambat menjemputmu," ucap Rania yang dirundung rasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Ma. Bima bisa mengerti kok. Lagi pula Bima si sini tidak sendirian. Ada Bu Guru yang menemani Bima," ujar Bima seraya menunjuk Nana yang datang menghampiri keduanya.


"Terima kasih, karena telah menemani anak saya," ucap Rania menarik kedua sudut bibir saat matanya bertemu pandang dengan Nana.


"Tidak apa-apa, Bu. Lagi pula ini sudah menjadi tanggung jawab kami, menjaga anak ibu sebelum dijemput oleh orang tuanya," timpal Nana.


"Ma, Bima punya sesuatu untuk mama," ujar Bima mengguncang tangan Rania.


"Sesuatu? Apa itu?" tanya Rania. Ia berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Bima.


Bima langsung mengeluarkan kartu ucapan yang ia simpan di dalam sakunya. Anak laki-laki itu menyodorkan hasil karya yang ia buat tadi kepada Rania.


"Selamat hari ibu. Terima kasih karena telah menjadi mama yang hebat untuk Bima," ucap Bima.

__ADS_1


Rania tertegun, pandangannya mulai mengabur saat melihat kartu ucapan yang Bima berikan untuknya. Rania mengambil kartu ucapan tersebut dari tangan putra sambungnya. Ia melihat ucapan selamat hari ibu serta gambar sosok ibu yang menggandeng tangan putranya.


Melihat hal tersebut, Rania pun tak kuasa menumpahkan air matanya. Air mata bahagia serta haru karena perlakuan manis dari anak laki-laki yang merupakan putra sambungnya.


"Terima kasih, Nak." Rania berucap dengan bibir yang bergetar. Ia langsung merengkuh tubuh mungil Bima sembari menjatuhkan air matanya.


Rania bersyukur, ia benar-benar merasa menjadi wanita beruntung karena bisa merasakan cinta dari suami dan juga anaknya yang amat besar. Perlakuan manis dari kedua pria yang berbeda generasi tersebut membuatnya merasa menjadi wanita yang paling beruntung di muka bumi ini.


Sekalipun suatu saat nanti Rania tidak bisa memiliki keturunan, ia akan memberikan kasih sayangnya pada Bima. Dan jika suatu hari nanti ia diberikan seorang anak, maka ia juga tidak akan membedakan kasih sayang antara anak sambung dengan anak kandungnya.


Bagi Rania, Bima adalah buah hatinya. Meskipun bukan dirinya yang melahirkan Bima, akan tetapi Rania tetap akan bersikap layaknya sebagai ibu kandung untuk Bima.


Rania mencium kedua pipi gembul Bima. Sementara anak laki-laki itu, menyeka air mata yang membasahi pipi ibu sambungnya.


"Mama jangan menangis, Bima tidak mau mama bersedih karena pemberian dari Bima," ucap Bima.


"Tidak, Sayang! Mama tidak sedih. Mama justru sangat senang dan bangga menjadi orang tua untuk Bima. Mendapatkan hadiah dari Bima, benar-benar membuat mama bahagia. Mama menangis bukan berarti mama bersedih, Nak. Mama terharu karena Tuhan mengirimkan seorang putra yang luar biasa untuk mama," ujar Rania.


Bima tersenyum mendengar ucapan ibunya. "Jangan menangis lagi ya, Ma. Bima sayang Mama," ucap Bima.


"Iya, Nak. Mama juga sangat menyayangi Bima," balas Rania.


Sementara Nana, menyaksikan semua itu, ikut menitikkan air matanya. Baginya, Bima memang seorang anak yang luar biasa. Dan Rania juga adalah ibu sambung yang hebat, yang bisa memberikan seluruh kasih sayangnya pada putra sambungnya.


"Kalau begitu kami pamit dulu, Bu Nana. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena telah menemani anak saya," ucap Rania yang kembali berdiri.


"Sama-sama, Bu Rania." Nana menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyum.


"Bima pamit dulu ya, Bu Guru." Bima menghampiri Nana, mencium tangan gurunya itu.


"Iya, Sayang. Hati-hati di jalan ya," ucap Nana melambaikan tangannya pada Bima. Bima pun membalas lambaian tangan tersebut.


Keduanya masuk ke dalam mobil. Perlahan, Rania melajukan kendaraan itu untuk kembali ke klinik.


"Ma, besok mau tidak mengantar Bima ke makam mama?" tanya Bima.


"Boleh. Besok mama antar Bima ke sana. Bima pasti rindu ya sama Mama Diara?" tanya Rania.


"Iya, Ma. Bima rindu mama. Bima juga ingin memberikan kartu ucapan yang satunya lagi untuk mama di sana. Soalnya Bima kan punya dua mama," ucapnya sembari memperlihatkan wajah polosnya.


Rania tersenyum menatap putra sambungnya itu. "Baiklah, besok mama akan antar Bima ke sana, bertemu dengan Mama Diara," ujar Rania yang kembali memfokuskan pandangannya ke depan, membawa Bima untuk ikut bersamanya ke klinik.


Bersambung ....

__ADS_1


Othor mau mengucapkan selamat hari ibu untuk kalian para ibu-ibu yang hebat❤️


__ADS_2