
Malam harinya, Rania sedang berada di dalam kamar dengan ponsel yang menempel di salah satu daun telinganya. Wanita tersebut tengah berbincang dengan ibunya melalui sambungan telepon.
"Besok pagi-pagi sekali kami akan berangkat dari rumah, Ma. Dan sorenya kami harus pulang karena Bima esok harinya harus masuk ke sekolah," ucap Rania.
"Ya sudah, kalau begitu hati-hati di jalan. Sebenarnya mama ingin kalian menginap di sini dulu beberapa hari, tetapi mengingat suami yang sibuk bekerja dan Bima yang harus masuk sekolah, membuat mama pun mau tak mau harus memakluminya," ujar Bu Isna dari seberang telepon.
"Mungkin nanti, Ma. Saat Bima liburan nanti, kami akan menginap di sana beberapa hari," ucap Rania mencoba untuk membujuk ibunya agar tidak terlalu merasa sedih.
"Baiklah kalau begitu. Kalian besok hati-hati di jalan," ujar Bu Isna.
"Iya, Bu. Aku tutup teleponnya ya ... assalamualaikum," ujar Rania.
"Wa'alaikumsalam."
Rania menyudahi panggilannya. Terdengar suara pintu yang baru saja di buka. Alvaro masuk ke dalam kamarnya mendapati sang istri yang baru saja selesai berbincang dengan seseorang di telepon.
"Kamu menelepon siapa?" tanya Alvaro.
"Seseorang yang aku cintai selain kamu," timpal Rania dengan entengnya.
Kening Alvaro langsung berkerut, ia menghampiri istrinya dan menatap wajah Rania dengan seksama. "Apakah benar begitu?" tanya Alvaro dengan mimik wajah yang serius.
"Iya, mana mungkin aku berbohong," jawab Rania.
Alvaro menatap ke dalam manik mata istrinya, tak terlihat kebohongan di sana. "Siapa pria itu?" tanya Alvaro dengan tiba-tiba.
"Apa?!" Rania sedikit terkejut dengan pertanyaan suaminya.
"Siapa pria yang kamu maksud? Yang baru saja berbincang denganmu," ujar Alvaro memperjelas kalimat sebelumnya.
Rania menatap Alvaro tak percaya. Ia sungguh terkejut dengan ucapan Alvaro barusan yang menyangka bahwa Rania baru saja menelepon seorang pria. Rania pun berinisiatif untuk memanas-manasi suaminya yang tengah cemburu buta.
"Kamu tidak perlu tahu, Mas!" Rania sedikit menepis tangan Alvaro yang tengah memegang pundaknya, hanya demi memperdalam sandiwara yang tengah ia lakoni.
"Apakah yang menghubungimu adalah Dion? Apakah pria itu kembali mengusik mu?" tanyanya menatap nanar sang istri.
__ADS_1
Ingin sekali Rania tertawa terbahak-bahak mel ihat suaminya yang sudah terbakar api cemburu. Namun, wanita tersebut berusaha menahannya. Ekspresi cemburu dari pria itu, membuat Rania ingin sekali menertawakannya.
"Jawab aku, Rania! Apakah kamu memiliki pria idaman lain?"
Rania tak bisa menahan tawanya kali ini. Wanita itu langsung tertawa keras saat Alvaro menyebut dirinya memiliki pria idaman lain.
Hal tersebut tentu mengundang sejuta pertanyaan di benak pria tersebut. Ia tertegun, melihat istrinya yang tiba-tiba tertawa karena menurutnya tak ada hal yang lucu, yang patut untuk ditertawakan.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Alvaro.
"Kamu lucu, Mas!" tukas Rania yang memegangi perutnya terasa sakit akibat tertawa.
"Lucu apanya? Aku serius, Rania. Aku sama sekali tak main-main dengan pertanyaan ku," ucap Alvaro.
Rania memberikan ponselnya pada suaminya. " Kamu periksa saja sendiri siapa pria idaman lain yang kamu maksudkan tadi," ujar Rania memberikan ponselnya pada sang suami.
Alvaro pun mulai membuka layar kunci ponsel Rania. Memeriksa daftar riwayat panggilan terakhir yang ada di dalam benda tersebut. Ia membelalakkan matanya setelah mengetahui yang dikatakan oleh Rania tadi ternyata adalah mertuanya.
"Kenapa?" tanya Rania terkekeh geli.
"Kenapa ekspresimu seperti itu? Apakah kamu kecewa karena aku tidak berselingkuh sungguhan. Ya sudah, besok aku akan cari pria lain," ujar Rania sembari melipat kedua tangannya ke depan.
"Tidak boleh!" tegas Alvaro.
"Kamu hanyalah milikku! Jika kamu mencari pria lain di luar sana, maka aku akan memberimu pelajaran!" ancam Alvaro.
"Apa itu?" tanya Rania menautkan kedua alisnya.
Dengan cepat Alvaro pun langsung merengkuh pinggang ramping istrinya, meraup bibir Rania dengan begitu rakus. Rania menyukai ini, hukuman yang diberikan oleh suaminya tentu saja dengan cara yang manis. Rania, melingkarkan tangannya di leher suaminya.
Mereka melepaskan ciuman itu, saat keduanya kehabisan oksigen. Napas mereka sama-sama tersengal, hanya untuk menghirup pasokan udara agar memenuhi paru-paru.
"Apakah ini adalah hukumannya?" tanya Rania sembari menjengit.
"Hukuman karena telah mempermainkan aku," timpal Alvaro.
__ADS_1
"Aku menyukainya. Apakah Mas Varo akan menambah hukumannya lagi?" tanya Rania dengan tangan yang mulai nakal, mengusap dada bidang suaminya hingga menyentuh otot-otot perut Alvaro.
"Ya ... sepertinya aku harus menambah hukumannya karena kamu telah membangunkan sesuatu yang ada dalam diriku," ujar Alvaro.
Pria itu kembali menarik tengkuk istrinya, memagut bibir ranum itu dengan begitu rakus. Pagutan yang lama-kelamaan menuntut untuk meminta lebih dari pada hanya sekedar bertaut lidah saja.
Alvaro mengangkat tubuh Rania tanpa melepaskan pagutannya. Pria itu membaringkan istrinya dengan lembut di atas kasur, menumpu tubuhnya di atas Rania dengan kedua sikunya.
"Apakah pintunya sudah dikunci?" tanya Rania menyudahi ciuman mereka.
"Jika belum, kuncilah terlebih dahulu. Aku takut nanti Bima tiba-tiba masuk ke sini, melihat ayah dan ibunya tengah bermain kuda-kudaan," sambung Rania lagi sembari terkekeh.
Alvaro pun beranjak dari tempat tidur. Pria tersebut mengunci pintunya, lalu kembali menghampiri sang istri yang sudah terbaring di atas kasur.
Gejolak yang ada di dalam dirinya serasa meletup-letup ditambah lagi dengan pakaian tidur Rania yang mengundang Alvaro untuk melahap sang istri malam ini.
Alvaro kembali melanjutkan aktivitasnya, membuat istrinya terbuai dan melayang. Suara-suara yang keluar dari mulut Rania membuat Alvaro semakin bersemangat. Ia ingin mendengarkan suara itu lagi dan lagi karena hal tersebut begitu menyenangkan baginya.
"Mas, ..." Rania menatap wajah suaminya yang seakan memberikan kode pada pria itu untuk segera menembakkan rudalnya.
Alvaro pun langsung memposisikan dirinya, hingga berhasil menempatkan rudal tersebut di wilayah yang diinginkan oleh sang istri. Merasakan sesuatu yang mendesak masuk, membuat Rania kembali mengeluarkan suara yang terdengar begitu merdu di telinga Alvaro.
Pria itu dengan bersemangat melakukan tugasnya, mencari sebuah kenikmatan dalam permainan mereka. Suara-suara berisik pun memenuhi ruangan, di bawah ruangan yang memiliki pendingin, mereka bermandikan peluh.
Setelah rudal tersebut berhasil di tembakkan, Alvaro pun langsung jatuh di atas tubuh istrinya. Keduanya tersenyum setelah berhasil mencapai puncak dari permainan mereka.
Alvaro mencium kening istrinya, menyudahi permainan panas mereka dan beranjak di atas tubuh polos yang tak tertutupi benang sehelai pun.
"Kita bersih-bersih yuk!" ajak Alvaro.
"Gendong," pinta Rania manja.
Alvaro mencubit pipi istrinya yang terlihat menggemaskan. Pria itu pun langsung menggendong tubuh sang istri, membawanya masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih.
Hingga akhirnya, di dalam sana mereka pun berhasil menembakkan kembali rudalnya. Namun, di arena yang berbeda.
__ADS_1
Bersambung ....