
Waktu jam makan siang pun telah tiba. Juni teringat akan janjinya yang akan menemui Daren di atap nanti. Saat baru saja hendak beranjak dari tempat duduknya, notifikasi pesan singkat dari ponselnya berbunyi. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan benda pipih tersebut dan melihat nama sang kekasih yang tertera di layar ponselnya. Shinta, mengirimkan pesan singkat padanya.
Jun, makan di mana?
Juni menyunggingkan senyumnya. Pria itu pun membalas pesan singkat yang dikirim oleh kekasihnya itu.
Aku ada janji siang ini. Untuk maka siang, aku telah memesankannya untukmu.
Juni berjalan menuju ke atap dengan menggunakan tangga. Hal itu sengaja ia lakukan agar lebih lama bertukar pesan pada Shinta saat di perjalanan. Sesaat kemudian. ia pun kembali mendapatkan balasan dari Shinta.
Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggu kiriman makan siang darimu.
Juni kembali tersenyum. Ia hendak membalas lagi pesan dari Shinta. Namun, pria itu mengurungkan niatnya karena ia merasa kasihan pada Daren jika harus menunggu dirinya terlalu lama di atas sana.
Juni memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu kemudian berjalan lebih cepat dari sebelumnya untuk menyusul Daren yang sudah menunggunya di atap sedari tadi.
Setibanya di sana, benar saja ia melihat Daren yang sudah lebih dulu ada di sana. Juni melangkahkan kakinya mendekat ke arah Daren, akan tetapi sesaat kemudian pria itu berdecak sebal karena terik matahari begitu menyengat.
"Aishh ... Sial! Bagaimana bisa dia mengajakku kemari di saat matahari hampir membakar kulit," gerutu Juni seraya melangkahkan kakinya mendekat ke arah Daren.
"Hei! Apakah kamu sudah mati rasa? Bagaimana bisa kamu tahan berjemur di terik matahari yang menyengat seperti ini. Seharusnya kamu mengajakku di tempat yang sedikit dingin. Apakah kamu ingin membuat kulitku terbakar?" tukas Juni yang sudah berdiri tepat di samping Daren.
"Sebaiknya kamu tutup mulutmu itu. Nikmati saja, lagi pula sinar matahari ini menyehatkan," balas Daren memejamkan matanya seraya merentangkan tangan.
"Menyehatkan? Aku tidak tahu dari mana dia belajar tentang matahari di siang hari itu menyehatkan. Tidak bisa! Ayo ikut denganku!" ajak Juni yang langsung menyeret tangan Daren begitu saja.
"Hei!! Di sini saja," tolak Daren akan tetapi ucapan pria itu tak diindahkan oleh Juni sama sekali. Ia tetap membawa pria yang pernah menjadi rivalnya itu ke tempat yang ia inginkan.
....
Di waktu yang bersamaan, Shinta tengah menunggu kiriman makanan dari Juni. Ia menyangka jika pria tersebut yang akan mengirimkannya secara langsung.
Tak lama kemudian, seorang office girl membawa plastik yang berisi makanan sembari mengulas senyumnya. Shinta merasa heran, karena hal itu mengingatkan dirinya akan Daren, pria yang selalu menitipkan makanannya dengan office girl tersebut dan juga plastik logo makanan tersebut juga sama seperti yang pernah dibelikan oleh Daren untuknya.
"Ada titipan lagi untuk Bu Shinta," ujar wanita tersebut meletakkan plastiknya di atas meja kerja Shinta.
"Ini ... apakah Daren yang mengirimkannya?" tanya Shinta.
"Pak Daren?" Wanita itu mengerutkan keningnya.
"Bukan, Bu Shinta. Ini titipan dari Pak Juni," lanjutnya.
"Juni?" Shinta membuka plastik makanan tersebut. Dan benar saja, semua makanan yang ada di dalam sana sama seperti yang dikirimkan oleh Daren sebelumnya.
"Apakah Juni menirukan Daren," gumam Shinta yang tertangkap oleh indera pendengaran wanita yang ada di depannya.
"Maaf, Bu Shinta. Saya sempat mendengar Bu Shinta berbicara tadi. Tetapi ... Pak Daren tak pernah menitipkan apapun pada saya," ujar office girl tersebut.
__ADS_1
"Tidak pernah? Terus selama ini siapa yang selalu menitipkan makan siang padaku?" tanya Shinta.
"Semuanya atas suruhan Pak Juni, bukan Pak Daren."
Deggg ...
Shinta tertegun mendengar kalimat yang baru saja ia dengar. Ternyata selama ini, makan siang yang ia santap dengan penuh cinta dan senang hati dari Juni, bukanlah Daren. Namun, bagaimana bisa Juni hanya diam saja tanpa melayangkan protesnya sama sekali.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu Shinta."
"Terima kasih," ucap Shinta yang masih tertegun dengan fakta yang baru saja didapatnya.
"Sama-sama."
Wanita itu pun pergi dari hadapan Shinta. Sementara Shinta, memandangi makanan yang ada di depannya. Gadis itu mulai mencicipi makanan tersebut dengan mata yang berkaca-kaca.
"Selama ini dia menjauhiku bukan berarti dia membenciku. Diam-diam dia memperhatikanku. Dan aku mengira, perhatian yang diberikan padanya itu dari orang lain. Bagaimana mungkin aku sungguh bodoh tidak bisa menyadari hal sekecil ini," gumam Shinta kembali memakan makanan tersebut.
Shinta menyantap makanannya dengan lahap. Ia menghabiskan makanan tersebut yang diberikan oleh kekasihnya itu. Sesekali ia mengulas senyumnya, bahagia akan perhatian yang diberikan oleh Juni.
Juni membawa Daren ke salah satu resto yang tak jauh dari kantor. Daren selalu menolak, akan tetapi Juni tetap memaksanya.
"Bukankah sudah aku katakan, aku tidak ingin ke sini karena aku tidak lapar," ucap Daren menjatuhkan bokongnya di salah kursi.
"Aku tahu kamu tidak ingin makan karena jatuh miskin setelah menjadi pengangguran. Pilih saja, aku yang akan mentraktirmu," ujar Juni sembari membuka buku menu yang ada di hadapannya.
Juni melirik Daren setelah pria tersebut berucap seperti itu. Ia pun berdeham pelan, "Jangan yang mahal-mahal, jika terlalu mahal kamu bayar sendiri," ucap Juni.
"Dasar pelit," cecar Daren.
Mereka pun memanggil pelayan dan menunjuk makanan yang hendak ia pesan. Pelayan tersebut mencatat semua pesanan kedua pria itu, lalu kemudian berjalan menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan tersebut.
"Tujuanku ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf," ucap Daren tiba-tiba.
"Maaf karena sebelumnya aku telah membuat kesalahan yang besar," lanjut pria itu.
"Sepertinya kamu baru menyadarinya," celetuk Juni seraya mengulum senyum.
"Ck! Seharusnya kamu dengarkan dulu ucapanku hingga selesai. Sepertinya memang kebiasaan mu memotong pembicaraan orang lain begitu saja," keluh Daren menatap pria yang ada di hadapannya itu dengan tatapan sinis.
"Bisakah kita mengakhiri permusuhan ini? Aku terlalu lelah berdebat denganmu, menambah beberapa garis keriput di wajahku," ujar Juni.
Daren tertawa mendengar ucapan Juni barusan. " Bukankah wajahmu memang sudah terlihat tua? Hanya saja selera Shinta sulit di tebak, memilih seorang duda jelek dibandingkan perjaka tampan seperti ku," ucap Daren yang masih sempat memberikan ejekan pada Juni.
"Oke, kamu memang perjaka tampan. Tetapi aku adalah duda keren yang manis, tidak bosan jika dilihat meskipun itu menggunakan kaca pembesar," celetuk Juni yang tetap membanggakan dirinya.
"Aku tidak ingin terlalu berbasa-basi mengucapkan selamat tinggal yang berujung dengan sebuah kehilangan. Jujur saja, bertetangga denganmu memang sangat mengganggu, akan tetapi melihatmu seperti ini, aku menjadi kasihan padamu," tutur Juni.
__ADS_1
"Tidak usah merasa kasihan padaku. Kasihanilah dirimu sendiri." Daren menyela ucapan Juni.
Tak lama kemudian, makanan yang tadi mereka pesan pun datang. Juni dan Daren mulai menikmati makanan yang tersaji di atas meja.
"Tolong jaga Shinta dengan baik," ucap Daren.
Juni baru saja hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya pun langsung tertahan karena kalimat yang terlontar oleh Daren.
"Tentu saja. Rasa sayangku lebih besar dari rasa sayangnya padaku. Kamu jangan mengkhawatirkan hal itu. Mulai saat ini, fokus pada dirimu saja. Aku dengar-dengar kamu akan menikah. Ku harap, kamu tidak akan menyakiti hati istrimu karena bayang-bayang kekasihku," tegas Juni.
Daren hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Pria itu kembali menyantap makanan yang ada di hadapannya.
....
Juni membayar semua makanan yang mereka santap tadi. Ia menepati janjinya, mentraktir Daren makan untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
Keduanya keluar dari resto, berjalan menuju ke parkiran. Di mana tempat Daren memarkirkan mobilnya.
"Terima kasih traktiranmu. Ini adalah traktiran untuk yang pertama kalinya," ucap Daren.
"Sekaligus yang terakhir kali," celetuk Juni.
"Sepertinya kamu sungguh takut jika kita bertemu lagi. Apakah kamu kita aku akan merebut Shinta kembali?" tanya Daren seraya terkekeh geli.
"Aku tidak takut lagi akan hal itu, karena kamu sudah menikah dan Shinta juga sudah memilihku. Hanya saja, jika kita bertemu lagi, aku harap kamu lah yang mentraktirku. Setidaknya rumus timbal balik itu masih berlaku," ujar Juni menepuk pundak Daren.
"Ku harap Shinta tidak menyesal memilih pria yang sangat perhitungan seperti dirimu," balas Daren seraya berdecih.
Keduanya terdiam, lalu kemudian saling membalas senyum. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Ku harap hubungan kalian sampai ke jenjang pernikahan," ucap Daren.
"Apakah kamu tulus mendoakan kami?" pancing Juni.
"Tentu saja. Kebahagian wanita yang ku cintai merupakan kebahagiaanku juga. Itu lah namanya cinta yang murni tanpa mengharap imbalan untuk dicintai juga," jelas Daren.
"Kamu juga Semoga saja, dengan memilih wanita itu menjadi istrimu, kamu berubah menjadi lebih baik. Kehidupan kalian rukun dan dikaruniai beberapa anak ," ujar Juni yang juga ikut mendoakan Daren.
"Terima kasih, kalau begitu aku pamit dulu." Tanpa aba-aba, Daren memeluk Juni. Kedua pria tersebut sudah terlihat saling memaafkan.
"Hati-hati di jalan," ucap Juni. Daren mengangguk, pria itu melonggarkan pelukannya lalu kemudian masuk ke dalam mobil.
Dari kejauhan, Shinta melihat kedua pria yang sering bertengkar itu telah berdamai. Gadis tersebut tersenyum, ikut berbahagia melihat Juni dan Daren telah berbaikan.
"Aku sangat senang melihat mereka yang sudah saling memaafkan. Semoga saja, untuk ke depannya, tidak ada lagi pertikaian dan setelah ini hubungan kami akan berjalan baik-baik saja," gumam Shinta.
"Dan teruntuk Daren, maafkan aku dan terima kasih karena sudah menjadi bagian dari hidupku walaupun itu sesaat," lanjut gadis tersebut.
Bersambung ....
__ADS_1