
Keesokan harinya, Shinta terbangun pagi-pagi sekali. Ia segera bersiap untuk berangkat ke kantor, karena jarak dari apartemen menuju ke kantor memakan waktu yang cukup lama.
Dengan rambut yang masih digulung handuk, Shinta mendekat ke arah meja nakas untuk mencabut charger ponselnya. Gadis itu menghidupkan benda pipih itu.
Saat benda canggih tersebut baru dihidupkan, ada banyak sekali pesan masuk. Dan Shinta pun membulatkan matanya melihat ada sekitar tiga puluh pesan beruntun dari orang yang sama. Orang tersebut tentunya tak lain adalah sang kekasih, Juni.
Shinta membulatkan matanya, ia membuka pesan tersebut satu persatu. "Astaga, Juni mengirimkan banyak pesan padaku," ucapnya sembari menepuk keningnya .
Saat Shinta semua pesannya satu persatu, ia langsung mengernyitkan keningnya. "Apakah dia kurang kerjaan?" gumam Shinta.
Bagaimana tidak? Isi pesan Juni memang sedikit aneh. Ia mengirimkan satu huruf di setiap pesan singkat tersebut. Dan huruf-huruf itu adalah nama Shinta yang ia tulis satu persatu.
Gadis itu mencoba untuk menghubungi Juni, akan tetapi kali ini nomor Juni lah yang tidak aktif. Dengan rambut yang masih digulung menggunakan handuk, Shinta langsung bergegas keluar dan segera menemui Juni.
Shinta menekan bel sembari mengetuk pintu. Namun, tetap saja tak ada sahutan dari dalam sama sekali. Shinta cukup lama menggedor-gedor pintu, tetap saja Juni tak menampakkan dirinya.
Gadis itu akhirnya menyerah, ia melirik jam yang ada di tangannya. "Jika seperti ini terus, aku bisa terlambat datang ke kantor," gumam Shinta.
Hingga akhirnya, Shinta pun memutuskan untuk pergi dari sana dan bersiap agar segera pergi ke kantor. Dirinya harus datang pagi-pagi karena memang, jarak tempat tinggalnya dengan kantor cabang cukup jauh.
.....
1 jam kemudian ....
Sinar mentari masuk melalui celah jendela. Pria yang saat ini masih meringkuk di bawah selimutnya, perlahan membuka mata, menatap ruang di sekitarnya.
Juni mengubah posisinya menjadi duduk sejenak, mengumpulkan nyawa yang belum terkumpul seutuhnya. Ia melirik jam yang ada di atas meja nakas, lalu kemudian meraih ponsel yang sudah mati karena belum diisi daya.
"Baterai ponselku habis, begitu pula dengan aku yang lemah karena tak mendapatkan kabar dari Shinta," gumam pria tersebut langsung mengisi daya ponselnya, menghubungkan ke charger.
Namun, karena rasa penasarannya, Juni menghidupkan ponselnya, dan melihat ada banyak pesan yang dikirimkan oleh Shinta pagi-pagi tadi.
"Astaga, kekasihku!" ucapnya yang sedikit bertingkah lebay.
Juni bergegas turun dari tempat tidurnya, dan segera ke unit Shinta. Ia mengetuk beberapa kali pintu tersebut, akan tetapi tak juga mendapatkan jawaban dari gadis tersebut.
Juni kembali membaca pesan-pesan dari Shinta. Dan yang terakhir, ia mengirimkan pesan yang mengatakan bahwa Shinta mengajaknya bertemu di taman kota jam 8 malam. Sepertinya gadis itu akan menyempatkan diri bertemu dengan sang kekasih.
Membaca pesan yang satu itu, membuat Juni merasa lega. Setidaknya rindu yang ia miliki ternyata berbalas. Kekasihnya itu juga ikut merasakan rindu yang sama.
__ADS_1
Juni kembali ke apartemennya, sembari memasang wajah yang cerah. Sebelumnya wajah pria itu sangat suram, sesuram tanaman yang belum disiram.
Juni segera pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Pria itu bersiap hendak bekerja, dengan memasang dasi sembari bersiul.
"Oke, semua akan baik-baik saja. Tidak usah mengkhawatirkan hal yang tidak-tidak," ujar Juni mencoba untuk menenangkan dirinya.
.....
Di lain tempat, Rania tengah memberikan ASI kepada kedua bayinya secara bergantian. Ia melihat sang suami yang hendak ke kantor bersiap sendiri, membuat Rania merasa tak enak hati pada suaminya itu.
"Mas, kamu tidak apa-apa kan bersiap-siap sendiri?" tanya Rania menatap Alvaro.
"Iya, Sayang. Aku tahu kamu lagi sibuk dengan kedua anak kita. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku," ucap Alvaro yang berjalan menghampiri sang istri, lalu kemudian mengecup kening Rania dengan lembut.
"Ah iya. Mulai sekarang, kamu jangan memanggilku Mas. Panggil aku papa, biar kita ajarkan anak kita sejak dini," sambung Alvaro.
"Iya, Papa." Rania mengucapkannya sembari mengulas senyum, membuat Alvaro merasa gemas dan menarik pelan puncak hidung Rania.
"Ya sudah, kalau begitu Mas siap-siap dulu sana," ucap Rania lagi.
Alvaro pun mengangguk, ia menjauh dari sang istri. Kembali melanjutkan aktivitasnya, mengikat dasi dengan melihat pantulan dirinya di depan cermin.
Saat baru saja membuka pintu, ia melihat Bu Isna yang berada di balik pintu.
"Nenek, ..." gumam Bima.
"Eh, Bima. Cucu nenek sudah rapi, sudah ganteng. Ayo kita sarapan dulu!" ajak Bu Isna sembari menyentuh pipi gembul Bima.
"Papa mama, Nek?" tanya Bima.
"Papa masih di kamar, mungkin masih bersiap, Sayang." Bu Isna menimpali cucunya.
"Bima sarapan nanti saja, Nek. Tunggu papa saja. Lagi pula Bima mau melihat adek terlebih dahulu," ucap Bima dengan wajah polosnya.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita turun!!" ajak Bu Isna lagi.
Bima mengangguk patuh, lalu kemudian memegang tangan neneknya, ikut turun bersama sang nenek menuju lantai bawah.
Setibanya di sana, keduanya langsung menuju ke kamar Alvaro. Bu Isna mengetuk pintu terlebih dahulu. Sesaat kemudian, pintu pun terbuka. Alvaro mengembangkan senyumnya saat melihat mertua bersama dengan putranya.
__ADS_1
"Ini ... si Bima ingin melihat adiknya-adiknya terlebih dahulu," ucap Bu Isna menjelaskan.
"Iya, Papa. Bima mau lihat adik," sambung Bima yang menambahi ucapan Bu Isna.
"Sini Nak!" ajak Rania dari dalam. Ia langsung melepaskan p*yud*ra nya. Meletakkan anaknya di atas kasur.
Bima langsung berlari dengan cepat. Ia tersenyum melihat adiknya yang tampak kemerah-merahan. Aroma minyak telon bercampur dengan bedak bayi begitu menusuk di indera penciuman.
"Adek, cium Abang dulu Dek," ucap Bima yang langsung menghampiri adiknya.
Bima langsung mencium kedua pipi bayi tersebut. Setelah mencium Dilan, kini Bima bergantian mencium pipi Delani. Bayi mungil itu terlihat sedikit menyunggingkan senyumnya dengan mata yang masih terpejam.
"Pa, lihatlah! Delani tersenyum!" ujar Bima dengan antusias sembari menunjuk ke arah sang adik.
"Itu tandanya dia senang dengan abangnya," ucap Alvaro sembari mengenakan jasnya.
"Berarti Dilan tidak senang dengan abang ya, Pa? Dilan tadi tidak tersenyum saat Abang cium," tutur Bima yang kembali melontarkan pertanyaan yang akan membuat Alvaro pusing sendiri.
"Dilan terlalu lelap dalam tidurnya, Sayang. Jadi dia tidak sadar kalau Abang menciumnya. Dilan dan Delani sangat senang memiliki Abang yang super penyayang seperti Bima," ucap Rania menjelaskan dengan lemah lembut.
"Oh, ternyata seperti itu. Bima juga sangat menyayangi adik, Ma. Bima sudah lama ingin punya adik. Dan sekarang Bima merasa sangat senang," balas Bima.
Semua orang yang ada di sana langsung mengembangkan senyumnya. Tak lama kemudian, Alvaro pun mengajak Bima untuk bersiap karena mengingat hari sudah agak siang dan Bima juga belum sarapan.
"Ayo kita sarapan dulu, Nak. Ini sudah siang, nanti takutnya terlambat sampai ke sekolah," ujar Alvaro sembari melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Ma, ayo kita sarapan!" ajak Bima
"Kalian duluan saja, Nak. Nanti mama menyusul. Mama mau jaga adik dulu," ujar Rania.
"Ya sudah kalau begitu, tapi mama jangan sampai tidak sarapan ya. Bima tidak mau nanti mama sakit," ucap Bima yang memberikan perhatiannya kepada ibu sambungnya.
"Iya, Sayang."
"Papa berangkat dulu ya, Ma." Alvaro menyodorkan tangannya pada Rania. Rania pun mengecup punggung tangan suaminya itu.
Melihat hal tersebut, Bima pun ikut menyalami ibunya. Setelah itu kedua pria berbeda generasi itu pun keluar dari kamar tersebut. Rania dan Bu Isna tinggal di kamar untuk mengurus si kembar yang menggemaskan.
Bersambung ...
__ADS_1