Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 49. Rayuan Manis


__ADS_3

Alvaro dan Bima bersiap untuk berangkat, baru saja pria tersebut berjalan keluar dari rumahnya, mereka bertemu dengan wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari tetangganya itu.


"Bu Isna," gumam Alvaro.


"Eh, ada calon menantu. Mau berangkat ke kantor?" tanyanya sembari mengulas senyum.


"Iya, Bu. Nak, Salim nenek dulu," ucap Alvaro.


Bima pun langsung mendekat, menyambar punggung tangan Bu Isna dan menciumnya. Bu Isna yang merasa gemas, langsung mencubit pelan pipi Bima.


"Anak yang manis," puji Bu Isna.


"Kalau begitu hati-hati di jalan ya, Nak." Bu Isna menekan bel pintu Rania. Sembari sesekali melirik Alvaro.


"Ranianya sudah berangkat bekerja sedari tadi, Bu." Alvaro berkata pada Bu Isna.


"Oh, iya. Tapi, kenapa dia berangkat pagi sekali?" gumam Bu Isna.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu."


"Iya, Nak."


Alvaro menggandeng putranya, berjalan masuk ke dalam lift. Bima mendongak, menatap wajah ayahnya.


"Papa, calon menantu itu apa?" tanya Bima dengan wajah polosnya.


Alvaro mengusap tengkuknya, ia bingung harus menjelaskan bagaimana. Sementara Bima, sedang aktif-aktifnya bertanya.


"Menantu itu adalah istri atau suami dari anak," jelas Alvaro.


"Nenek tadi orang tuanya Bu Dokter kan Pa?" tanya Bima.


"Iya," timpal Alvaro singkat sembari menganggukkan kepalanya.


"Berarti papa sama Bu Dokter suami istri?" tanya Bima lagi yang sontak membuat Alvaro langsung terkejut.


"Bukan, Sayang."


"Suami istri itu apa, Pa?"


"Suami istri itu adalah perempuan dan laki-laki yang sudah menikah. Biasanya dipanggil mama dan papa," ucap Alvaro.


"Kapan papa dan Bu Dokter mau nikahnya?" tanya Bima lagi.


Kali ini Alvaro menyerah menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh anaknya. Skakmat dari Bima cukup membuatnya merasa sedikit malu.


Tinggg ....


Lift terbuka, Alvaro langsung menggandeng anaknya untuk keluar dari ruangan sempit itu.


"Pa, kenapa papa tidak menjawab pertanyaan Bima?" tanya pria kecil itu


"Papa tidak bisa menjawabnya, Nak." Alvaro membuka pintu mobil, lalu kemudian menggendong anaknya dan memasukkan pria kecil tersebut ke dalam kendaraan roda empat itu.

__ADS_1


Pria itu kembali menutup pintunya, lalu kemudian menempati kursi kemudi. Ia memasang sabuk pengamannya, akan tetapi ucapan Bima kembali membuatnya panik.


"Kalau papa tidak tahu jawabannya, Bima tanya sama nenek saja," celetuk pria tersebut.


"Jangan, Nak!" Cegah Alvaro.


"Baiklah, papa akan menjawabnya. Papa akan menikah dengan Bu Dokter, tapi nanti. Papa lihat dulu, Bu Dokter mau atau tidak menikah dengan papa," tutur Alvaro mencoba memberikan penjelasan pada putranya.


"Sekarang, kita simpan dulu pertanyaan yang selanjutnya ya. Papa takut tidak bisa konsentrasi menyetir karena Bima selalu saja bertanya," lanjut Alvaro.


"Baik, Papa."


Alvaro menghela napasnya dengan dalam. Pertanyaan Bima tersebut membuatnya kembali merasa gundah. Bagaimana tidak? Alvaro merasa Rania berubah seketika setelah bertemu dengan pria masa lalunya. Jangankan untuk menikahinya, sedangkan saat ini saja Rania terlihat mulai menjauh darinya.


"Ini semua gara-gara pria itu. Jika saja Rania tak bertemu dengannya, mungkin akan mudah bagiku untuk mendapatkan hati gadis itu," batin Alvaro dengan pandangan yang masih menatap ke arah jalanan.


.....


Di lain tempat, Rania tengah menikmati sarapan di ruangannya. Gadis itu datang lebih awal untuk menghindar dari Alvaro. Namun, sialnya saat Alvaro menawarinya sarapan, cacing yang ada di perut Rania memberontak minta agar segera diisi. Rania pun langsung berlalu dari hadapan Alvaro tanpa mengucapkan apapun, gadis itu takut, jika nanti suara perutnya yang berbunyi akan terdengar oleh tetangganya itu.


"Tumben Bu Dokter sarapan di sini," celetuk Hilda yang baru saja datang.


"Sedang ingin menikmati sarapan di sini saja," timpal Rania seadanya.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Rania.


"Sudah, sebelum berangkat tadi." Hilda masuk ke ruang ganti, mengganti bajunya dengan baju perawat .


Rania telah menyelesaikan sarapannya. Ia membersihkan semua bekas sampah dari wadah makanan tadi. Kedua gadis tersebut bersiap-siap untuk melakukan tugasnya, menyambut kedatangan pasien pertamanya.


"Bagaimana? Apakah Pak Alvaro setuju dengan pendapat saya?" tanya Juni yang memimpin jalan rapat tersebut.


Alvaro masih menatap ke depan, tak menanggapi pertanyaan dari Juni membuat semua orang yang ada di dalam ruangan rapat tersebut saling melemparkan bertatapan karena bingung dengan atasannya itu.


"Pak Alvaro?" panggil Juni akan tetapi tetap tak ada sahutan.


Shinta yang berada di samping Alvaro pun menyenggol lengan pria tersebut dengan menggunakan pena. Alvaro yang langsung sadar akan lamunannya pun menatap ke sekelilingnya.


"Maaf," ujar Alvaro yang membenarkan posisi duduknya.


"Lakukan apapun menurut kalian yang terbaik. Saya harap hasilnya tidak akan mengecewakan," ucap Alvaro.


Setelah mendengar persetujuan dari Alvaro, rapat pun di tutup. Pria tersebut langsung beranjak terlebih dahulu dari kursinya. Melangkah pergi dari ruang rapat tersebut.


Shinta membereskan semua peralatannya, lalu kemudian berjalan menghampiri Alvaro yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan itu. Beberapa pegawai wanita yang melihat Shinta pun mulai bergosip.


"Anak baru itu ... Apakah dia memiliki hubungan khusus dengan Pak Alvaro?" tanya pegawai berambut pendek.


"Entahlah! Aku melihat dia seperti prangko, menempel terus-menerus dengan Pak Bos," celetuk pegawai berambut pendek.


"Iya, dia seperti ingin mencari muka saja," ucap pegawai yang lainnya.


Juni yang masih berada di tempat tersebut tentu saja mendengar percakapan para wanita yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


"Apakah kalian iri?"


Ketiga wanita tersebut terlonjak kaget saat melihat keberadaan Juni di belakang mereka. Para wanita tersebut hanya menunduk, tak berani menimpali ucapan Juni.


"Dia sekretaris, dan Pak Alvaro adalah atasannya. Jadi, wajar saja jika keduanya sering bersama karena membahas pekerjaan," ujar Juni.


Pria tersebut berlalu dari ketiga wanita tersebut. Namun, baru beberapa langkah, Juni kembali berbalik.


"Perbanyak bekerja kurangi bergosip." Juni tersenyum miring lalu kemudian kembali melanjutkan langkahnya uang sempat tertunda.


Ketiga wanita itu menggeram kesal. Saat Juni sudah tak terlihat, mereka langsung mencecar sang asisten dengan kalimat-kalimat jahatnya.


Shinta mensejajarkan langkahnya dengan Alvaro. Gadis tersebut sesekali melirik ke arah pria itu. "Ada apa, Pak Bos? Sepertinya Pak Bos terlihat sedang gundah gulana," ujar Shinta.


"Sebaiknya kamu tidak usah mengurusi masalah pribadiku!" tukas Alvaro.


"Apakah ini karena tetangga sebelah?"


Mendengar hal tersebut, membuat Alvaro langsung berbalik ke arah Shinta. Menatap sang sekretaris dengan tajam.


"Tenang Pak Bos! Aku hanya ingin sedikit memberikan saran. Wanita itu sangat suka dengan hal-hal yang manis. Ya seperti memberi bunga, memperlihatkan perhatian, atau pun dengan sebuah rayuan," papar Shinta.


"Gombalan?" gumam Alvaro.


"Hmmm ...." Shinta mengangguk, membenarkan ucapan Alvaro.


"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Shinta yang berjalan menuju ke meja kerjanya. Gadis itu kembali berbalik menatap Alvaro, lalu kemudian mengepalkan tangannya dengan berkata,


"Semangat! Semoga berhasil!"


Alvaro mencerna ucapan Shinta. Ia masuk ke dalam ruangannya sembari memikirkan saran dari sekretarisnya itu.


"Rayuan?" gumamnya.


"Bagaimana cara aku merayunya?" lirihnya lagi.


Alvaro merogoh ponselnya yang ada di saku. Pria tersebut membuka sosial media, mencari kembali akun milik Rania di kotak pencarian.


Pria tersebut melihat postingan terbaru Rania, yang tak lain adalah potret mereka bertiga saat berada di sekolahan Bima.


Alvaro mengetik sesuatu di kolom komentar tersebut, akan tetapi ia sempat ragu untuk mengirimkannya. Dan mengurungkan niatnya untuk mengirim komentar di postingan milik Rania.


Namun, beberapa saat kemudian tangannya kembali mengetikkan sesuatu di papan keypad ponselnya. Ia pun mengirimkan komentar itu, lalu kemudian menutup wajahnya.


"Terima kasih atas saranmu, Shinta. Aku baru saja mempermalukan diriku," lirih Alvaro.


Rania yang saat itu baru saja selesai menangani pasien, tiba-tiba notifikasi dari ponselnya berbunyi. Rania menyentuh layar benda pipih tersebut, lalu kemudian membuka notifikasi dari sosial medianya.


Bimbim1212 baru saja mengomentari foto anda.


"Bimbim1212? Akun siapa?" gumam Rania.


Gadis itu pun langsung melihat komentar yang dituliskan oleh akun tersebut. Rania cukup tercengang saat membaca komentar berupa gombalan manis tersebut.

__ADS_1


Kameranya terlalu ke selatan, sehingga cantiknya tak bisa diutarakan.


Bersambung ...


__ADS_2