Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 189. Wanita Kedua


__ADS_3

Pagi ini, Juni tampak rapi dengan setelan kantornya. Pria tersebut mengecek penampilannya beberapa kali, menambahkan pomade pada rambutnya agar terlihat lebih rapi dan licin, bahkan lalat yang hinggap di atas rambutnya pun bisa tergelincir.


"Begini sudah pas," gumam Juni merapikan dasinya dan beranjak menjauh dari cermin berukuran besar tersebut.


Juni bersiap hendak berangkat ke kantor. Pria tersebut keluar dari unitnya. Saat membuka pintu, ia melihat Shinta yang sudah berdiri di depan pintu.


"Selamat pagi," ucap Shinta seraya memperlihatkan senyum terbaiknya.


"Pagi," balas Juni tersenyum simpul.


"Apakah kamu sudah sarapan?" tanya gadis itu.


Juni menggelengkan kepalanya. Sejak ditinggalkan oleh istrinya, Juni hampir tidak pernah sarapan di rumah. Jika sarapan pun, itu karena diantar langsung oleh Shinta, saat gadis itu pertama kali datang kemari dan menjadi tetangga Juni.


"Pagi-pagi harusnya sarapan terlebih dahulu. Apakah kamu masih berpatokan dengan kata-kata manis itu?" tanya Shinta.


"Maksudnya? Aku tidak mengerti ucapanmu. Kata manis yang mana?" tanya Juni.


"Awali pagimu dengan senyuman. Menurutku itu saja tidak cukup. Setidaknya seseorang itu mengawali paginya dengan secangkir teh atau kopi, sepiring nasi atau pun sepotong roti. Jika perut lapar, bagaimana mereka bisa berkonsentrasi?" papar Shinta.


Juni terkekeh mendengar penuturan gadis yang merupakan tetangganya sekaligus kekasihnya itu. "Iya, kamu benar. Seharusnya memang begitu," ujar Juni.


"Kalau begitu, ayo ke rumahku dulu! Aku sudah menyiapkan sepiring nasi goreng dan juga secangkir kopi untukmu!" ajak Shinta yang langsung menarik tangan Juni begitu saja.


Juni tersenyum, mendapatkan perhatian serta perlakuan yang manis dari kekasihnya. Jauh sebelum itu, ia tak pernah menyangka akan menjalin hubungan ini dengan Shinta, yang sebelumnya ia anggap sebagai teman. Bahkan memperlakukan gadis tersebut layaknya seorang adik.


Namun, setelah lama menimbang rasa, dan seiring berjalannya waktu. Sesuatu yang terjadi di antara mereka bukanlah hanya sebatas teman saja, hal itu membuat Juni sedikit menjaga jarak. Mustahil rasanya ia begitu mudah melupakan cintanya pada Sela dan menerima wanita baru begitu saja.


Setelah melihat kedekatan Shinta dengan Daren, membuat Juni seperti kebakaran jenggot. Pria itu memantapkan dirinya, untuk mengambil Shinta dari Daren.


Tak ada salahnya rasa yang kini ia punya. Apalagi Sela telah berpulang, membuat pria itu tak bisa dicap sebagai pria yang berselingkuh di belakang istrinya. Dan kini, Juni berhasil. Atas perjuangannya kemarin, ia mendapatkan kembali Shinta, wanita kedua yang ia cintai setelah Sela.


Mungkin pria lain lebih memilih, cinta pertama mereka adalah wanita yang melahirkannya. Namun, tidak dengan Juni. Bahkan pria tersebut tidak mengetahui wujud wanita yang harusnya ia panggil ibu. Karena pria tersebut tidak mempunyai siapapun. Masa kecilnya hidup di panti asuhan dan setelah dewasa, ia hidup sebatang kara.


Bertemu dengan gadis bernama Sela, membuat Juni serasa menemukan tempat berpulangnya. Menjadikan wanita itu adalah rumah baginya. Namun, sayangnya takdir berkata lain.


Juni tiba di unit Shinta, gadis itu mengajak Juni untuk menuju ke meja makannya. Mata Juni menangkap sepiring nasi goreng serta secangkir kopi yang sudah disediakan di atas meja.


"Silakan duduk!" Shinta tersenyum simpul, mempersilakan sang kekasih untuk menempati kursi yang telah di sediakan.

__ADS_1


Kedua orang tersebut menjatuhkan bokongnya secara bersamaan. Juni meraih sendok yang ada di atas meja, mulai mencicipi masakan gadis tersebut.


"Bagaimana? Apakah rasanya aneh?" tanya Shinta yang melihat kening kekasihnya terlihat berkerut seusai mencicipi masakan tersebut.


"Ini terlalu manis," ujar Juni.


"Benarkah?" tanya Shinta yang mulai mencicipi nasi goreng yang ia buat.


"Ku rasa tidak, aku menambahkan sedikit kecap saja. Ini rasanya gurih," gumam Shinta.


"Rasa nasi gorengku terasa manis karena makan di suasana romantis, serta ditemani oleh nona cantik yang selalu memperlihatkan senyuman manis. Rasanya sebentar lagi aku terkena diabetes," ucap Juni.


Shinta langsung tersipu malu. Bagaimana bisa, Juni merayunya dengan kalimat seperti itu. Ia hampir saja takut jika menghidangkan masakan yang tidak seusai dengan lidah sang kekasih.


"Ini sangat enak, serius!" Juni kembali menyantap nasi gorengnya.


Shinta melihat Juni yang memakan lahap nasi goreng itu pun langsung tersenyum. "Aku serasa menjamu suamiku sendiri," celetuk gadis itu.


Juni langsung tersedak mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Shinta. Ia memukul-mukul dadanya, meraih kopi yang tak jauh dari jangkauannya. Dan ternyata ....


"Awww ... panas!" bukannya mendorong nasi yang serasa menyesakkan dada, justru minuman itu membakar lidahnya.


Juni langsung meminum air itu hingga kandas, mendorong makanan yang terasa penuh di dadanya. Pria tersebut meletakkan kembali gelas yang sudah kosong ke atas meja. Pria itu kembali menatap wanita yang ada di hadapannya.


"Untuk masalah itu ...."


"Kenapa? Apakah kamu tidak berniat untuk menjadikan aku seorang istri?" tanya Shinta yang langsung memotong ucapan kekasihnya.


"Bukan seperti itu, Shin. Dengarkan penjelasan baku dulu," ujar Juni.


"Dengan kamu berbicara seperti itu, sudah sangat jelas bahwa kamu menganggap hubungan kita ini hanya sebagai candaan saja," lanjut Shinta memberengut kesal.


"Aku memiliki rencana itu, tetapi belum saat ini, mungkin nanti," jelas Juni.


Shinta hanya diam dan mendengarkan. Kali ini gadis tersebut tidak berucap apapun lagi. Nasi goreng yang ada di hadapannya hanya diacak-acak tanpa dimakan.


"Apakah kamu marah?" tanya Juni.


Shinta hanya diam, tak menimpali ucapan kekasihnya. Ia menulikan telinganya, meskipun Juni melempari pertanyaan yang sama padanya berkali-kali.

__ADS_1


"Shinta, ...." Juni kembali memanggil kekasihnya itu, sementara si pemilik nama masih terdiam membisu.


"Sayang, ...." Kali ini, Juni mengubah panggilan tersebut menjadi sedikit lebih manis, berharap agar kemarahan Shinta mereda.


"Ya sudah, itu terserah kamu saja."


Dan ternyata, dugaan Juni benar. Meskipun jawaban Shinta terkesan dingin dan ketus, akan tetapi setidaknya gadis tersebut sudah kembali bersuara. Dengan diamnya Shinta, tentu saja membuat Juni kelimpungan.


"Bukankah pagi yang sehat itu diawali dengan sepiring nasi goreng serta senyuman? Kalau begitu makanlah dengan benar sarapanmu. Dan ... tersenyumlah!" ujar Juni mencoba membujuk kekasihnya itu agar tak lagi merajuk.


"Dasar cerewet!" cecar Shinta yang kembali menormalkan wajahnya, memaksa tersenyum pada pria yang ada di hadapannya.


Juni terkekeh melihat Shinta. Pria itu kembali memasukkan sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya seraya mengulum senyum.


Setelah selesai sarapan, kedua orang tersebut keluar untuk bersiap pergi ke kantor. Shinta dan juga Juni berjalan bersamaan masuk ke dalam lift.


"Apakah Pak Alvaro akhir-akhir ini masih sering memarahimu?" tanya Juni.


"Pak Alvaro? Dia tidak lagi memarahiku karena aku tidak membuat kesalahan. Beliau sering marah-marah karena memang murni kesalahanku. Memangnya ada apa?" tanya Shinta menatap ke arah pria yang ada di sampingnya.


"Tidak apa-apa. Aku kira kamu sering mendapatkan teguran lagi dari Pak Alvaro," ucap Juni. Ia sengaja menanyai hal tersebut hanya sekedar berbasa-basi, memastikan sang kekasih masih marah padanya atau tidak.


"Jika mendapatkan teguran, bagiku itu wajar. Kita ditegur karena salah," ujar Shinta.


Lift terbuka, keduanya keluar dari ruangan itu. Juni berjalan menuju ke parkiran. Ia melirik ke belakang, menemukan Shinta yang tak lagi mengikutinya dari belakang. Gadis itu lebih memilih berjalan kaki menuju ke jalanan terlebih dahulu.


Juni berjalan tergesa-gesa menghampiri Shinta. "Kamu kenapa? Apakah tidak ingin ikut bersamaku?" tanya Juni.


Shinta berbalik, lalu kemudian menggelengkan kepalanya. "Aku naik taksi saja, seperti biasa," jawab Shinta.


"Ikutlah bersamaku!" ajak Juni.


"Tidak apa-apa. Lagi pula aku tidak ingin orang-orang kembali berbicara tentang kita," ujar Shinta menghadang salah satu taksi yang lewat.


"Tapi ...."


"Aku pergi dulu ya!" seru Shinta memotong ucapan Juni. Gadis itu masuk ke dalam taksi, menurunkan jendela kaca sembari melambaikan tangannya pada sang kekasih yang masih mematung di sana.


"Sebenarnya aku juga tidak nyaman memiliki hubungan secara diam-diam seperti ini," keluh Juni yang kembali berjalan menuju ke mobilnya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2