
Tinggg ...
Notifikasi WhatsApp berbunyi, Rania yang saat itu tengah membersihkan wajahnya pun langsung meraih ponsel di atas meja riasnya.
Keningnya berkerut saat salah satu dari teman yang memiliki kontaknya tiba-tiba memasukkannya di salah satu grup kumpulan teman-teman semasa putih abu-abu dulu.
Tak lama kemudian, kembali ponselnya berbunyi. Ia melihat beberapa obrolan dari dalam grup WhatsApp tersebut.
Bella :Rania udah masuk nih.
Deva :Halo Rania.
Sintia :Guys, besok jam setengah 3 sore kumpul di Sweety Resto ya.
Dita : Sipp
Bella : Siap
Deva : Oke. Ngomong-ngomong Rania mana nih. Kita punya rencana buat reunian. Ikut yok, @Rania.
Dita : Iya Nih. Muncul dong @Rania biar bisa temu kangen.
Melihat semua beberapa orang yang langsung menandainya, membuat Rania pun mau tak mau ikut bergabung dalam percakapan mereka. Rania pun mulai mengetikkan sesuatu.
Rania : Aku lihat jadwal dulu ya, teman-teman. Kalau jadwalnya kosong, pasti aku akan ikut.
Rania menunggu jawaban dari teman-temannya itu. Namun, keningnya berkerut saat respon mereka yang membaca ketikannya itu sedikit tidak mengenakkan.
Dita : Ya udahlah, kalau tidak bisa, tidak apa-apa kok. Kami tahu kamu orangnya sibuk.
Bella : Kok gitu sih?
Deva : Maklum, dokter gigi banyak jadwal.
Rania menghela napasnya. Entah mengapa ia terjebak dalam grup WhatsApp yang isinya adalah orang-orang egois. Bukan meninggikan dirinya karena berprofesi sebagai dokter gigi, akan tetapi jam tutup klinik memang biasanya di jam 5 sore, sedangkan mereka mengajak bertemu tepatnya jam setengah 3 tentu saja sangat jauh jarak waktunya.
Rania ingin sekali keluar dari grup tersebut, akan tetapi ia masih merasa tidak enak dan semakin menjadi bahan perbincangan mereka.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan turuti permintaan mereka kali ini," ucap Rania.
Rania menghirup oksigen dalam-dalam, lalu kemudian menghembuskannya secara perlahan. Ia pun membalas ketikan teman-teman yang sedari tadi sungguh membuat dirinya langsung bad mood.
Rania : Baiklah, aku akan datang besok.
Sintia : Nah, gitu dong.
Deva : Asyiiik
Dita : Sip
Bella : Oke, ditunggu!
Rania memutar bola matanya dengan malas. Ia pun langsung melemparkan ponselnya ke atas meja. Alvaro baru saja keluar dari kamar mandi, mendapati suaminya yang tengah berwajah masam dengan bibir yang sedikit maju ke depan.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Alvaro.
"Aku kesal, Mas." Rania menimpali dengan memperlihatkan wajah masamnya.
"Kesal karena apa?" tanya Alvaro lagi yang berjalan mendekat ke arah lemari baju. Mengambil setelan piyama berlengan panjang dan langsung mengenakannya.
"Kalau begitu, ya sudah biarkan saja. Lagi pula meskipun kamu datang, nantinya kamu juga yang akan sakit hati dengan ucapan mereka di perkumpulan itu," tutur Alvaro yang baru saja selesai mengganti bajunya.
"Aku merasa tidak enak, Mas. Lagi pula aku juga sudah menyetujuinya karena respon mereka yang seperti itu," ucap Rania.
"Kamu yakin akan datang?" tanya Alvaro memastikan.
Rania mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya sudah, kalau begitu tidak usah memperlihatkan wajah kesalmu seperti itu. Sering berwajah masam akan sangat berpengaruh di wajah karena dapat menimbulkan kerutan yang membuatmu terlihat lebih tua nantinya," ucap Alvaro.
Rania berdecak kesal. Ia beranjak dari tempat duduknya dan membaringkan dirinya di atas kasur.
Alvaro juga ikut berbaring di samping sang istri. Ia menyentuh belakang sang istri yang saat ini tengah memunggunginya.
"Sayang, nyicil yuk!" bujuk Alvaro.
__ADS_1
"Aku capek, Mas! Seharian beres-beres rumah, badanku serasa pegal-pegal semua," tolak Rania.
"Ya sudah, sini Mas pijitin," tawar Alvaro.
"Tidak usah, Mas. pijitan kamu mengarahnya ke sana," tolak Rania lagi yang sudah tahu siasat suaminya itu.
"Sebaiknya Mas tidur saja, aku juga sudah sangat lelah," lanjut Rania.
Alvaro hanya bisa mengusap tengkuknya. Ajakannya itu tak membuahkan hasil. Ia pun langsung beranjak dari tempat tidurnya.
"Loh, Mas Varo mau kemana?" tanya Rania berbalik, melihat suaminya yang baru saja turun dari atas ranjang.
"Mas belum mengantuk, kamu tidur saja duluan," ujar Alvaro yang melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.
Rania hanya bisa mencebikkan bibirnya. Ia bisa menebak, suaminya itu merajuk karena tidak diberikan hak nya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi. Saat ini Rania benar-benar merasa lelah. Seharian membereskan barang-barang membuat tulangnya serasa hendak terlepas dari tempatnya.
Rania memilih memejamkan matanya, membiarkan Alvaro yang merajuk seperti itu. Mungkin, besok Rania akan membujuknya, dengan berbagai macam cara agar Alvaro berhenti merajuk padanya. Untuk malam ini, biarkan dia beristirahat dulu tanpa diusik.
Sementara Alvaro, pria itu menuruni tangga, lalu kemudian langsung menuju ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Mengusir rasa keresahan yang sempat menghinggapi dirinya. Setelah selesai menyeduh secangkir kopi, ia pun duduk di halaman belakang, memandang langit yang bertabur bintang.
Alvaro merasa nyaman. Ia benar-benar puas membeli rumah yang menyajikan tempat-tempat yang indah seperti ini. Halaman depan dan belakangnya sangat luas. Dan bahkan pada malam hari pun tempat ini serasa nyaman dan damai.
"Aku tidak rugi mengeluarkan uang milyaran hanya untuk membeli rumah ini," ucap Alvaro.
Perlahan ia menyesap kopinya, rasa pahit dari kopi itu pun mengaliri tenggorokannya yang benar-benar terasa kering.
Cukup lama Alvaro duduk di tempat itu. Ia melirik jam yang ada di ponselnya. Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 1 dini hari.
Alvaro memilih untuk kembali masuk ke dalam rumah. Ia berjalan menuju ke dapur. Membasuh mug bekas kopinya tadi dan kembali meletakkan mug tersebut di tempat semula.
Setelah selesai, Alvaro pun kembali ke kamarnya. Ia melihat istrinya yang sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya. Pria itu menarik segaris senyum di wajahnya melihat sang istri tidur dengan sangat lelap. Ia memperbaiki selimut yang menutupi tubuh sang istri. Terdengar suara dengkuran halus Rania.
"Ternyata kamu benar-benar lelah, Istriku. Maaf karena mas sedikit bersikap egois tadi," ujar Alvaro.
Alvaro mencium kening Rania dengan lembut dan cukup lama, menyalurkan kehangatan serta rasa sayangnya yang tak terhingga pada sang istri tercinta.
Alvaro merebahkan dirinya di samping sang istri. Tangan kekarnya ia lingkarkan di pinggang Rania. Alvaro terkejut saat Rania tiba-tiba berbalik dan menabrak dadanya. Wanita itu memeluk suaminya dengan sangat erat, seakan dirinya tengah memeluk bantal guling.
__ADS_1
Alvaro terkekeh, ia mengusap puncak kepala istrinya dengan rasa sayang. "Ya, akulah tempat ternyaman mu, Rania," ucap Alvaro seraya mengembangkan senyumnya.
Bersambung ....