Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 73. Omelette


__ADS_3

Bima melihat bayi yang digendong oleh neneknya secara seksama. Anak laki-laki itu sedari tadi memperhatikan dan ingin sekali melihat putra pertama Alvira dari jarak dekat.


Bima menghampiri neneknya, menyentuh kaki sang nenek dengan telunjuknya berkali-kali.


"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Arumi.


"Nenek, Bima mau lihat adik bayinya. Bima mau cium," ucap Bima.


Arumi tersenyum, ia meminta kepada Alvaro untuk menggendong Bima, memudahkan cucunya itu mencium anak dari Alvira.


"Wah adik bayi," ujar Bima tampaknya takjub melihat bayi yang mungil dan masih kemerah-merahan itu.


"Pa, mau cium, Pa!" pinta Bima agar Alvaro lebih mendekat lagi.


Alvaro pun semakin mendekat, Bima telah siap memajukan bibirnya, hingga bibir tersebut menyentuh pipi merah putra Alvira.


"Tante, nama adik bayinya siapa, Tante?" tanya Bima


"Namanya Abian," timpal Alvira dengan mengukir senyum di bibir yang masih sedikit pucat.


"Adek Abian, kalau sudah besar nanti main sama Abang ya, Dek." kali ini Alvaro lah yang berbicara, mengajari anaknya bahwa Bima telah menjadi seorang kakak dengan sebutan Abang.


"Iya dek," ucap Bima menambahi.


Kali ini, anggota keluarga mereka bertambah karena hadirnya sosok mungil yang ada di tengah-tengah keluarga tersebut. Sesekali mereka melemparkan candaan untuk Bima dan juga anak dari Alvira.


Sementara Rania, gadis itu juga sudah berinteraksi baik dengan keluarga Alvaro. Tak ada rasa canggung lagi seperti sebelumnya. Dan malam itu, ditutup dengan canda tawa dari mereka. Tentunya, Alvira merasa sangat bahagia. Walaupun melahirkan tanpa suami, setidaknya masih ada keluarga yang merangkul dirinya di saat seperti ini.


.....


"Sayang, maaf ya kita pulangnya sedikit terlambat," ucap Alvaro yang merasa bersalah karena hari hampir menunjukkan pukul 11 malam, sementara mereka masih berada di perjalanan hendak menuju ke apartemen.


"Tidak apa-apa, lagi pula jika aku terlambat bangun, ada kamu yang bisa membangunkan ku melalui telepon," ujar Rania seraya mengulas senyumnya.


"Tunggu sebentar lagi ya, nanti aku akan membangunkanmu secara langsung," celetuk Alvaro. Keduanya pun langsung tertawa secara bersamaan. Tak lama kemudian, Rania meletakkan jari telunjuk ke depan bibirnya, mengisyaratkan agar Alvaro segera menghentikan tawanya.


"Ssstt ... diam. Bima lagi tidur di belakang. Nanti dia terbangun," tegur Rania.


"Iya, Sayang." Alvaro kembali fokus menatap lurus ke depan, sementara Rania, gadis itu memilih untuk melihat ke luar jendela.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun tiba di tempat tujuan. Pria itu mengarahkan pandangannya pada Rania yang telah tertidur pulas, lalu kemudian melihat ke belakang, mendapati Bima yang juga telah tertidur dengan nyaman. Alvaro pun melirik arloji yang melingkar di tangannya.


"Pantas saja. Ini sudah tengah malam," gumam pria tersebut.

__ADS_1


Alvaro hendak membangunkan Rania, tapi ia mengurungkan niatnya karena tak tega dengan kekasihnya yang memang terlihat lelah karena seharian ini mengikutinya.


Alvaro berhati-hati, sebisa mungkin untuk tidak bersuara. Namun, sesaat kemudian, Rania pun menggeliat dan membuka matanya.


"Kita sudah sampai?" tanya Rania dengan suara yang sedikit parau.


"Iya," timpal Alvaro.


"Kenapa kamu tidak membangunkan aku?" ujar Rania sembari melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya.


"Aku lihat sepertinya kamu sangat lelah. Maka dari itu aku tidak membangunkanmu," balas Alvaro.


Rania dan Alvaro turun dari kendaraan tersebut. Alvaro membuka pintu, menggendong putranya dengan sangat hati-hati. Bima pun terlihat sedikit menggeliat saat berada di dalam gendongan Alvaro. Namun, bocah tersebut tampak enggan membuka mata, masih ingin lebih lama lagi berada dalam alam mimpinya.


Keduanya berjalan menuju lift. Saat berada di dalam lift, Rania kedapatan oleh Alvaro menguap. Gadis tersebut yang baru saja sadar akan perbuatannya langsung meminta maaf.


"Maaf, aku kurang sopan," ujar Rania.


"Tidak apa-apa, Sayang. Bahkan sekalipun kamu menganga, tetap saja wajahmu terlihat cantik," celetuk Alvaro yang langsung mendapatkan sebuah cubitan kecil di lengannya yang kekar.


"Berhenti membuatku malu!" geram Rania.


"Kenapa kamu sangat senang sekali memukul atau pun mencubit?" tanya Alvaro yang merasa penasaran. Bahkan lengannya ini, acap kali jadi umpan Rania saat dia tersipu malu.


"Tidak juga. Aku hanya penasaran saja," timpal Alvaro.


"Sekarang aku bertanya, apa alasanmu sangat senang merayuku?" tanya Rania.


"Karena aku merasa gemas melihat wajahmu yang merona."


"Nah, aku juga merasa gemas karena kamu yang selalu membuatku merona," ucap Rania.


Tingg ...


Lift terbuka. Keduanya pun langsung keluar dari ruangan sempit itu. Mereka saling berhadapan ketika sudah sampai di depan unit masing-masing.


"Tidurlah, besok kamu harus bekerja. Aku juga akan membuatkan sarapan untukmu," ucap Alvaro sembari menatap calon istrinya dengan penuh cinta.


"Tidak usah! Aku rasa aku sudah banyak merepotkanmu. Aku sarapan sendiri saja besok. Lain kali aku akan mencoba untuk belajar memasak," ujar Rania.


"Tidak! Aku tidak menerima penolakan. Besok, pasti kamu akan sarapan hanya dengan selembar roti saja, setelah itu pergi bekerja. Intinya, aku akan membuatkan sarapan untukmu," balas Alvaro yang ucapannya tak ingin dibantah.


"Baiklah, bawel. Besok aku akan sarapan di rumahmu. Jika kamu ingin mengganti menu, tidak apa-apa. Mungkin kalian juga bosan jika setiap harinya harus menyajikan kepiting saja," ucap Rania. Alasan gadis itu menolak untuk sarapan bersama karena memang Alvaro yang selalu memasak kepiting, yang merupakan makanan kesukaannya. Takutnya, Bima merasa bosan dengan menu itu, akan tetapi tidak berani mengutarakannya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memasakkan menu yang berbeda. Tidurlah! Hari sudah malam," ujar Alvaro.


Rania menganggukkan kepalanya. Gadis itu pun membuka kunci apartemennya, lalu kemudian mengarahkan pandangannya kepada Alvaro sembari berucap, "Selamat malam." Setelah itu, ia pun menghilang dari balik pintu.


Tak lama kemudian, Alvaro pun juga ikut masuk ke dalam rumahnya, bersama dengan jagoan kecil yang ada dalam gendongannya.


...****************...


Keesokan harinya, Rania telah sibuk berada di dapurnya. Ia ingin mencoba memasak, karena tak enak hati jika dirinya terus menumpang makan saja tanpa membawakan sesuatu.


"Baiklah, Rania. Sebentar lagi kamu akan menikah, setidaknya harus belajar memasak walaupun itu hanya omelette," ujar gadis tersebut bertekat kuat.


Rania berencana membuat omelette. Namun, sebelum kompor itu menyala, Rania sudah melakukan kesalahan, yaitu menumpahkan banyak minyak di atas teflonnya.


"Tunggu minyaknya panas," ucap Rania dengan penuh percaya diri jika omelette-nya akan berhasil.


Minyak sudah panas, bahkan asapnya tampak hampir mengepul, dan gadis itu pun baru memasukkan telurnya.


"Awww ...."


"Awww!!" ringis Rania yang sedikit meloncat-loncat karena minyak panas menciprat ke tangannya.


"Duh, bagaimana ini," ujar gadis tersebut.


Rania hendak mematikan kompor pun tak berani karena minyak terus menciprat kemana-mana. "Duh, aku harus minta bantuan Alvaro mengatasinya," gumam Rania yang terlihat panik.


Gadis itu segera berlari keluar, lalu kemudian menggedor pintu tetangganya yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Alvaro pun muncul melihat Rania dengan wajah yang tampak pucat pasi.


"Ada apa? Apakah ada yang mengusik mu?" tanya Alvaro yang juga ikut panik.


"Tolong aku!" ujar Rania yang langsung menarik tangan calon suaminya, lalu kemudian membawa pria tersebut ke dapurnya.


"Tolong matikan kompornya," cicit Rania.


Alvaro melihat kepulan asap, yang pastinya telur tersebut sudah berubah menjadi hitam pekat. Alvaro mendekat, dengan berhati-hati ia pun mematikan kompor itu.


"Apakah omelette-nya baik-baik saja?" tanya Rania seakan tanpa dosa.


Alvaro cukup terkejut dengan pertanyaan itu. Pria itu pun menimpali ucapan calon istrinya, " Omelette-nya baik-baik saja, hanya sedikit estetik karena warnanya yang hitam pekat."


Bersambung ....


Coba suruh Rania cicip omelette yang estetik itu😌

__ADS_1


__ADS_2