
Beberapa hari setelah liburan bulan madu
Azzura company
Indonesia
Sherkan menatap barisan kertas-kertas yang ada di atas meja dimana Merlin mulai membeberkan beberapa hal dihadapan Laki-laki tersebut.
"Beberapa transaksi yang di manipulasi untuk kepentingan pribadi"
Ucap Merlin sambil menunjukkan beberapa lembar kertas ke arah Sherkan.
"Mereka benar-benar melakukan nya di anak cabang?"
Tanya laki-laki itu sambil mengeratkan rahangnya.
"Seperti yang kamu lihat"
Setelah menjawab ucapan Sherkan, Merlin terlihat mengeluarkan sesuatu.
"Kamu tidak akan percaya ini"
Ucap perempuan itu lagi.
"Paman mu memiliki istri simpanan lagi sekarang"
Mendengar ucapan Merlin seketika Sherkan terbelalak tidak percaya.
"Apa?lagi? sekarang?"
Tanya Sherkan cepat.
"Ya, Dia melakukan beberapa kali transaksi untuk pembelian barang-barang mewah untuk istri simpanan baru nya"
"Hah..."
Sherkan mendengus tidak percaya.
Laki-laki itu meraih beberapa lembar kertas yang diberikan Merlin, dia memperhatikan transaksi demi transaksi yang telah dilakukan oleh laki-laki tersebut.
"Ini gila"
Ucap Sherkan dengan pandangan tidak percaya.
__ADS_1
"Ada yang lebih gila lagi Sherkan"
Merlin menggeser sebuah kertas ke arah Sherkan.
"Kau akan menggila saat tahu dulu pernah ada yang memanfaatkan laki-laki itu dengan baik, istri simpanan dia yang sebelumnya"
Mendengar ucapan Merlin, Sherkan langsung menaikkan ujung alisnya.
"Suami dari bibi kedua kamu sering mengirim sejumlah uang kepada seseorang sebelum nya, tapi berhenti di tahun kemarin"
"Sumpah, aku yakin Kamu akan terkejut saat tahu siapa orang nya"
Setelah berkata begitu, Merlin terlihat mengeluarkan beberapa lembar foto pada Sherkan.
Laki-laki itu meraih foto tersebut lantas seketika rahang laki-laki itu mengeras saat dia tahu foto siapa yang ada didalamnya.
"Aku fikir kamu harus hati-hati pada paman, dia seperti nya sudah lama memperhatikan Elvitania, karena bagi nya sosok itu mengingatkan nya pada Britania"
Sherkan jelas membulat kan bola matanya, satu ingatan seketika menghantam Dirinya.
"Aku merasa agak risih soal suami bibi kedua"
Elvitania kala itu itu bicara sambil menyiapkan teh hangat untuk nya, Sherkan tengah sibuk dengan laptop nya.
"Kenapa?"
Sejenak Sherkan menghentikan kegiatan Tangan nya.
"Paman kemari?"
"Sudah sekitar 3 kali"
Sejenak laki-laki itu mengerutkan keningnya.
"Ada bibi Saimah?"
"Ada"
"Lalu paman bilang apa lagi?"
"Dia bilang ini soal perusahaan"
"Ada beberapa persoalan di perusahaan yang harus aku tanyakan, tapi aku minta agar menemui ku di malam hari sebelum jam makan malam, bukan kah aku selalu di rumah jika malam, dia tidak akan bisa bertemu dengan ku di siang hari"
__ADS_1
"Aku sudah bilang begitu"
Sang istri bicara sambil menghela pelan nafasnya.
"Aku benci cara paman menatap ku"
Lagi Elvitania mengeluh soal itu.
"Paman memang seperti itu, ketika menatap seseorang mata nya persis seperti ular yang siap menerkam seseorang, karena itu aku tidak pernah memberikan laki-laki itu hati untuk bisa berdiskusi dengan ku"
Saat itu Sherkan fikir suami bibi kedua nya mungkin menatap Elvitania karena tidak suka.
"Oh shi..t"
Seketika laki-laki itu langsung meraih handphone nya, dia mencoba menghubungi Elvitania sambil bergerak cepat keluar dari ruang kerja nya menuju ke area parkiran.
Laki-laki itu tahu kapan jadwal pergantian penjaga rumah dan makan siang mereka, Sherkan jelas mengkhawatirkan Elvitania.
********
Mansion Utama Sherkan
Jam makan siang dan 5 menit barter penjaga
Elvitania terlihat diam mematung saat dia melihat seorang laki-laki berumur tengah berdiri sambil mengulas senyuman dihadapan dirinya.
perempuan itu menundukkan pelan kepalanya saat dia sadar siapa laki-laki tersebut.
"Apa ada yang bisa aku bantu, paman?"
Tanya Elvitania pada laki-laki tersebut.
Itu adalah suami bibi ke dua Sherkan.
Belakangan laki-laki itu terus datang dan terasa begitu mengganggu bagi Elvitania.
Alasan nya sedikit tidak masuk akal, dia bilang mencari Suami nya tapi datang membawa beberapa barang-barang sambil menatap tidak enak ke arah dirinya.
Elvitania merasa sedikit cemas sebab bibi Saimah tengah keluar sejenak untuk membeli sesuatu, para penjaga tengah menikmati makan siang, dia fikir jika laki-laki itu macam-macam dia mungkin harus menyiapkan sesuatu untuk menghajar nya.
Bola mata Elvitania melirik ke arah lemari nakas yang ada di sisi kanan ruang tamu mereka.
"Tidak mempersilahkan paman mu masuk?"
__ADS_1
Laki-laki itu bertanya sambil memberikan Elvitania sebuah paper bag berwarna hitam.
Dengan ragu-ragu Elvitania menatap laki-laki dihadapan nya itu kemudian secara perlahan dia menerima paper bag tersebut dengan perasaan sedikit khawatir.