
Mansion Utama Sherkan
"Non Merlin?"
Bisa Elvitania dengar suara bibi Saimah yang menyapa seseorang di depan sana.
"Sore BI, Sherkan dimana?"
"Di ruang kerja nya"
Elvitania tampak mengerutkan keningnya, dia Fikir belakangan ini perempuan dengan penampilan seksi itu terus hilir mudik di mansion mereka.
Rok pendek, pakaian kurang dasar, dandanan sedikit norak dengan gaya gemulai.
Elvitania terlihat menghela kesal nafasnya.
Perempuan itu dengan cepat kembali fokus pada pekerjaan nya, tidak ingin terlalu peduli dengan perempuan itu.
Tapi bibi Saimah seolah-olah menjadi kompor paling panas untuk dirinya belakangan ini.
"Apa seorang sekretaris harus kemari Setiap waktu nona? maksud bibi apa seorang sekretaris harus selalu ada di samping bos nya?"
Tanya bibi saimah cepat sambil sibuk membuat kan minuman dingin untuk Sherkan dan Merlin.
"Aku tidak begitu tahu, hmmm tapi saat aku bekerja di kantor dulu..."
Elvitania mencoba mengingat-ingat.
Dia dan Zahir selalu bersama, dari pagi hingga malam hari, tidak dipungkiri karena sekretaris pribadi selalu harus stand by untuk bos nya.
"Iya, aku harus selalu ada di samping bos ku"
Ucap Elvitania pelan.
"Apa tidak mengurangi kemungkinan sekretaris bisa Jatuh cinta dengan bos atau bos Jatuh cinta dengan sekretaris nya, nona?"
Tanya bibi Saimah lagi.
__ADS_1
Elvitania yang sibuk membuat puding coklat tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya, dia menoleh ke arah bibi saimah.
"Ya?"
Perempuan itu jelas mengerutkan keningnya.
Ekspresi wajah bibi Saimah langsung berubah tidak enak.
"Ahhh hahahaha bibi hanya bertanya"
Ucap bibi Saimah pelan sambil tertawa getir, dia mencoba menyentuh tengkuk nya karena tidak enak menanyakan hal tersebut pada Elvitania.
"Tapi bibi hanya sedikit khawatir, sebab mereka begitu terlihat dekat"
Lanjut wanita tua itu pelan.
Elvitania terdiam, dia fikir dulu juga dia dan Zahir saling jatuh cinta seiring berjalannya waktu.
Sejenak dia terdiam.
Jatuh cinta?!.
Merlin, gadis cantik yang lincah.
Sama lincahnya dengan dirinya di masa lalu, tanpa beban, cerewet dan smart.
Tidak ada yang tidak menyukai type perempuan seperti itu.
Tapi dia dan Merlin berbeda.
Mereka berkata itu adalah sekretaris pribadi Serkan, tapi kelakuan nya seolah-olah dia adalah kekasihnya, Perempuan itu bahkan saat bicara terdengar begitu menjijikkan.
Awal nya dia tidak begitu terganggu dengan keadaan, tapi lama-lama tindakan Perempuan itu cukup mengganggu pemikiran nya beberapa waktu ini.
Perempuan itu seolah-olah terlihat aneh, meskipun datang sambil mengembangkan senyuman nya tapi Perempuan itu tidak pernah menyapa nya.
'Aku akan mengantarkan kopi Sherkan ke ruang kerjanya, BI"
__ADS_1
Ucap Elvitania pelan.
"Ah?"
Sang bibi Saimah agak terkejut, tumben-tumbenan nona nya mau mengantarkan minuman.
"Baik, non"
Wanita tua itu menjawab pelan.
Elvitania membawa minuman Sherkan secara perlahan, masuk ke ruangan kerjanya tanpa bicara tapi satu pemandangan mengejutkan dirinya.
Perempuan itu menjongkok kan Diri nya, seolah-olah posisi nya diam-diam mencoba mencium Serkan.
Dimana Laki-laki itu tengah terlelap dalam kondisi duduk di atas kursi sofa dengan keadaan mendongak keatas.
"Apa yang kau lakukan?"
Tanya Elvitania dengan suara dingin dan datar nya.
Bola mata nya seketika menatap tajam ke arah Merlin.
Mendengar suara Elvitania yang memenuhi ruangan tersebut, seketika membuat perempuan itu terkejut.
Dia langsung membenahi posisi nya.
Bisa Elvitania lihat sherkan tersentak dari tidur nya, menatap kearah dua perempuan yang berada di posisi yang berbeda di hadapannya.
"Ada apa, Merr?"
Laki-laki itu bahkan bertanya pada perempuan itu, bukan bertanya kearah Elvitania.
"Apa kamu mulai menyimpan bunglon betina di rumah kita?"
Tanya Elvitania tiba-tiba.
"Apa?"
__ADS_1
Sherkan jelas bertanya dengan ekspresi bingung ke arah Elvitania.
Alih-alih menjawab, Elvitania lebih memilih pergi melesat dari sana.