Istri Dingin Tuan Sherkan

Istri Dingin Tuan Sherkan
Bab 45 Y & A


__ADS_3

Rumah sakit xxxxxxx


Pusat kota


Atap gedung rumah sakit.


Yash menatap laki-laki yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu, di mana kini tangan laki-laki tersebut menerima sebuah amplop mendominasi berwarna coklat dari laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Bisa Yash lihat laki-laki itu menundukkan kepalanya kearah dirinya untuk beberapa waktu, dimana pada akhirnya Yash menerima amplop tersebut tadi.


Cukup lama Yash tidak bergeming, hingga akhirnya Laki-laki tersebut secara perlahan membuka amplop tersebut lantas melihat langsung isi dari amplop yang ada ditangan nya itu dengan gerakan yang cukup tenang.


Dimana Yash secara perlahan mulai membuka amplop di tangan nya tersebut, bola mata laki-laki itu sejenak menatap isi dari amplop itu di mana ada beberapa lembar kertas yang terdapat di dalamnya.


Ekspresi awal yang ditampilkan Yash terlihat biasa saja, boleh matanya mencoba menelisik apa isi amplop tersebut, namun di detik berikutnya bisa dilihat bagaimana ekspresi laki-laki itu tiba-tiba langsung berubah dan bola matanya membulat dengan sempurna.


Pada akhirnya Yash langsung membalikkan tubuhnya dan bergerak cepat untuk keluar dari atap gedung tersebut menuju ke arah pintu penghubung ke dalam rumah sakit, laki-laki di belakang Yas dengan cepat langsung mengejar langkahnya.


"Tuan?"


"Antarkan aku ke tempat tersebut sekarang, biarkan aku melihatnya secara langsung"


Ucap Yash kemudian dengan cepat dia sama sekali tidak lagi mempedulikan apapun di sekitarnya, maka dia tidak peduli laki-laki itu seolah-olah ingin bicara kembali kepada dirinya.


Mendapatkan perintah dari tuannya seketika laki-laki tersebut menganggukkan kepalanya, dia bergerak dengan cepat menuju ke arah depan, membiarkan dirinya melangkah mendahului menuju ke area parkiran yang ada di lantai bawah di mana mereka harus melewati pintu elevator terlebih dahulu.


Saat berada di dalam elevator Yash terlihat mengeratkan rahangnya, berbagai macam kilatan ingatan terus menerjang kepalanya.


"Apa dia tinggal sendirian di dunia ini?"


"Iya, tanpa keluarga di sekitarnya"


"Anak yatim piatu? Jadi tidak pernah dididik oleh orang tuanya? Bahkan tidak pernah diajarkan bagaimana cara untuk tidak tergiur suami orang lain? Pantas saja jika kelakuannya seperti itu"


"Ya dia anak yatim piatu"


"Katanya dia pernah tinggal di Indonesia bahkan ada yang bilang ibunya mantan seorang pelacur dan ayahnya seorang lelaki penyakitan yang tidak bisa mencari uang"


"Mereka bilang untuk bertahan hidup saat dia kecil ibunya menjual harga dirinya kepada beberapa laki-laki hidung belang"


"Bisa selidiki identitas Alessia lebih lanjut?"


"Tidak ada seorangpun yang bisa menembus untuk menyelidiki identitasnya, hanya itu informasi yang bisa didapat, sisa lainnya seolah-olah identitas nya disembunyikan dengan rapat oleh seseorang"

__ADS_1


"Seseorang?"


"Yang ada dibelakang nya"


"Bukankah terlalu aneh untung gadis seukuran Alessia mendapatkan perlindungan dari seseorang yang bahkan tidak bisa diketahui statusnya ataupun siapa pelindungnya?"


"Kami sudah mencoba untuk mencari tahu tuan, tapi tidak ada sedikitpun pintu penghubung yang bisa dijadikan patokan untuk kami masuk menyelidiki identitasnya"


"Ditambah lagi apa anda percaya? Nyonya Madhuri dan Diana juga sedang mengorek identitasnya saat ini, mereka ingin tahu siapa Alessia yang sesungguhnya namun sayangnya kedua orang itu sama sama tidak bisa mendapatkan informasi soal identitas Nona Alessia"


"Tapi.. ada Sesuatu yang sedikit aneh soal Nona Alessia, dia selalu terlihat berada di beberapa tempat secara bersamaan "


Yash memukul dinding elevator tersebut sejenak, lagi ingatan menerkam dirinya.


"Aku hanya heran kemana kamu membuang semua uang yang diberikan oleh Hana untuk mu? Apa kau memberikan nya pada laki-laki simpanan mu?"


Kala itu dia bertanya pada Alicia sembari sedikit mencibir ke arah gadis yang ada di hadapannya itu.


Dia mendengar gosip Hana tidak sedikit memberikan uang kepada Alessia, pencetus utamanya jelas adalah Diana, di mana beberapa transaksi keuangan dilakukan oleh Hana untuk Alessia semasa hidupnya.


Meskipun dia ingin tahu kemana gadis tersebut membuang uangnya, tapi pada akhirnya rasa bencinya mengalahkan segalanya.


"Kamu bisa melihat nya dari sudut yang kamu inginkan, Yash"


"Cihhh aku tidak akan heran jika ada gadis semuda kamu yang memberikan uang mereka kepada laki-laki lain untuk bersenang-senang"


Sekejam itukah kata-kata yang dia lontarkan pada gadis itu di masa lalu?!.


Yash dimana nurani mu?!.


Laki-laki tersebut mengehela kasar nafasnya, dia mengendurkan dasinya dengan cepat.


Begitu pintu elevator terbuka dia buru-buru keluar dari sana dan bergerak menuju ke area parkiran, namun tiba-tiba satu suara mengejutkan dirinya.


"Yash?"


Buru-buru dia menoleh di mana bisa dilihat Alessia menatap ke arah dirinya dengan wajah khawatir.


"Apa ada sesuatu yang buruk di perusahaan?"


Gadis itu bertanya bingung kearah Yash  ketika melihat suaminya tersebut tampak berjalan dengan terburu-buru.


Alih-alih menjawab, Yash lebih suka membuang pandangannya, laki-laki tersebut sengaja melakukan nya, sebab dia mencoba untuk menyakinkan soal sesuatu.

__ADS_1


"Yash?"


Alessia berusaha mengejar langkah nya.


"Jaga ayah untuk ku, jangan beranjak kemana pun"


Itu seperti sebuah perintah mutlak, Alessia terlihat tidak bergeming.


Dia menatap punggung laki-laki tersebut yang menghilang dari pandangannya untuk beberapa waktu.


******


Apartemen xxxxxxx


Pinggiran kota Manhattan.


Begitu mobil Yash tiba di sebuah apartemen yang tidak begitu mencolok di salah satu kota Manhattan, laki-laki tersebut merasa cepat kilat keluar dari dalam mobil itu dan bergerak menuju ke arah apartemen.


Langkah kakinya terlihat berlarian tergesa-gesa menuju ke arah sana di mana satu orang telah menunggunya sejak tadi di dalam apartemen tersebut.


Begitu dia masuk ke dalam apartemen itu bisa dilihat seorang perempuan menundukkan kepalanya.


"Dimana dia?"


Yash mencoba bertanya dengan tidak sabaran, bola matanya berisik ke arah seluruh apartemen tersebut dan mencoba mencari tahu di mana sosok yang seharusnya dia lihat saat ini.


"Mereka bilang dia di lantai atas"


Ucap perempuan itu cepat.


Tanpa menunggu waktu pada akhirnya Yash secepat kilat melesat naik melewati tangga apartemen, dia lebih memilih tangga karena itu akan mempercepat langkah kakinya ketimbang memilih untuk naik elevator.


Akan ada banyak sekali waktu yang dimakan hanya untuk menunggu pintu elevator terbuka atau tertutup bahkan naik menuju ke lantai atas, karena itu bergerak menuju tangga dan melewati anak tangga satu persatu jelas akan mempercepat langkahnya.


Laki-laki tersebut berlarian menaiki anak tangga dimana perempuan dan laki-laki yang mengikutinya terus bergerak tepat di belakangnya.


Anggap lah Yash kali ini gila, tapi dia jelas bukan orang bodoh yang harus terus diam dan ditipu keadaan, mungkin kemarin dia tidak peduli siapapun itu Alessia, tapi semakin ke sini gadis itu seolah-olah menyimpan rahasia besar di dalam hidupnya yang membuatnya begitu penasaran pada sosok gadis tersebut.


3 bulan dia bergerak untuk mencari tahu soal Alessia, dan itu jelas bukan hal yang mudah.


Kau sebenarnya siapa?!.


Sebaris pertanyaan itu terus menghantui dirinya, dia benar-benar ingin tahu siapa sebenarnya Alessia.

__ADS_1


__ADS_2