
Alessia secara perlahan turun dari mobil yang membawanya, dia Sebenarnya tidak memiliki keberanian untuk datang ke pemakaman, tapi dia tidak mungkin untuk tidak datang,. memilih waktu paling akhir setelah semuanya bubar dan pelayat susah nyaris tidak tersisa disana.
Bibi pelayan, bibi Tory memberitahukan Alessia jika dia sudah bisa turun dari mobil dan masuk ke pemakaman, menaburkan bunga dan mengirim doa.
Dia cukup terkejut saat tuan Khalid ada di ujung sana, berjalan pada arah saling berhadapan dengan diri nya.
Mereka sudah menikah tapi bagaikan orang asing yang saling bertegur sapa, dinginnya laki-laki tersebut tidak tersentuh sama sekali untuk Alessia, laki-laki tersebut bahkan berulangkali berkata.
"Jangan berharap ada sedikit saja cinta di antara kuta"
"Jangan bermimpi terlalu tinggi, pada akhirnya kau dan aku bagaikan langit dan bumi yang tidak akan menyatu meski langit runtuh sekalipun"
kata-kata yang diucapkan oleh laki-laki tersebut jelas bagaikan jarum-jarum yang menusuk dirinya, persis seperti belati yang menghunus jantungnya.
dia hanya mampu mengembangkan senyumannya saat mendengar laki-laki tersebut berkata seperti itu kepada dirinya, realitanya Alessia cukup sadar diri siapa dirinya, dia mana mungkin menerima cinta dan laki-laki yang ada di ujung sana kini berjalan melangkah ke arah dirinya.
bisa dilihat bola mata laki-laki tersebut menangkap sosok dirinya, sama seperti dirinya yang menangkap sosok laki-laki tersebut yang kini berjalan semakin mendekatinya, pada akhirnya mereka berjalan seperti orang asing saling melewati antara satu dengan yang lainnya, hanya tanpa sengaja bahu tersentuh bahu melewati jalanan pemakaman di mana di sisi kiri dan kanan mereka terdapat berbagai macam kuburan.
Alessia mencium aroma laki-laki tersebut yang melewati dirinya, aroma tidak asing yang seolah-olah sering dia temui di masa lalu tapi dia lupa kapan.
hidup pada akhirnya mereka benar-benar saling melewati dan menjauh antara satu dengan yang lainnya di mana tuan Khalid berjalan menuju ke arah parkiran sedangkan Alicia berjalan menuju ke arah pemakaman baru milik nyonya Hana.
tiba-tiba satu ingatan menghampirinya, dia ingin ucapan perempuan tersebut pada masa sebelum Hana meninggal.
__ADS_1
"ada satu rahasia ingin aku beritahukan kepadamu"
perempuan itu bicara sambil menuntun telapak tangannya, membawa dirinya masuk ke dalam sebuah bangunan mewah yang ada di hadapan mereka.
Alessia sama sekali tidak tahu apa sebenarnya yang ingin diperlihatkan Hana untuk dirinya, hingga pada akhirnya mereka masuk pada satu ruangan yang cukup mengejutkan dirinya.
Gadis tersebut membulatkan bola matanya saat sadar apa yang ada didalam ruangan tersebut.
"Ini sejak awal memang milik mu, Alessia"
Dia membulatkan bola matanya saat nyonya Hana berbisik tepat disamping telinga nya.
"Kak?"
Yah ini sejak awal memang seharusnya menjadi milik dirinya.
"Nona muda?"
Bibi Tory menyentuh lembut bahu nya, membuat Alessia memecah ingatan nya.
"Disebelah sini"
Ucap wanita tersebut lagi.
__ADS_1
Alessia tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya dan bergerak menuju ke sisi kanan mereka, tapi sejenak gadis tersebut menghentikan langkah kakinya saat tanpa sadar pandangan nya mengedar didepan sana.
Alessia menatap sosok tidak asing yang berdiri di ujung sana, saling berhadapan dan saling menatap antara satu dengan yang lainnya.
Jantung Alessia seketika bergetar saat dia sadar siapa yang menatap dirinya kini, Kallan bin Khalid terlihat menggenggam erat telapak tangannya.
Alessia merasa sejenak bola mata nya menghangat, laki-laki yang dia rindukan berada disana, apa yang dilakukan nya, ada jutaan tanda tanya menghantam kepalanya.
"Tuan Muda?"
Saat bibi Tory bicara sedikit tercekat di balik telinga Alessia, seketika membuat tradisi itu menoleh lantas melesatkan tanya.
"Dia siapa, bi?"
dia menunggu jawaban dari bibi Tory dengan jantung berdebar-debar.
"Dia putra pertama nyonya Hana dan tuan Khalid, dia anak tiri anda, nona"
Hah...?!.
Alessia seketika tercekat, bola mata nya membulat dengan sempurna.
"Ya?"
__ADS_1